Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
15


__ADS_3

"Mundika..."


"Zayed..."


"Pulanglah Nduk, Nak..."


"Pulang..."


Artika terus saja meracau dalam setengah sadarnya membuat Dalmouk semakin khawatir akan kondisi istrinya itu. Ia sudah memanggil dokter keluarga untuk mengecek Artika namun dokter tersebut belum datang juga. Ia menggenggam tangan kanan Artika dan sesekali mengusap mahkota hitam miliknya, berusaha memberikan kekuatan bahwa wanita yang dicintainya itu tidak sendiri. Ini sudah kesekian kalinya Artika pingsan setelah mendengar kabar kedua anak mereka pergi ke Indonesia dan baru mengabari setelah keduanya mendarat disana.


"Istriku..., belahan jiwaku...," Bisik Dalmouk. "Sadarlah sayang, kau kuat menghadapi ini karena ada aku di sini...,” Ia sedih dengan hal yang menimpa Artika dan anak-anaknya. Mengapa semuanya menjadi serumit ini. Padahal ia dan Artika sudah mempersiapkan diri untuk menceritakan semuanya kepada Mundika agar anaknya itu tidak melanjutkan tindakan nekadnya. Namun rupanya gadis itu selangkah lebih maju dan lebih nekad dari apa yang diduganya.


"Beristirahatlah Dalmouk," Latifa mengusap lembut punggung suaminya. "Kau juga harus menjaga kesehatanmu, biarkan aku yang menjaga Artika sampai Dokter Hakeem datang.”


"Aku tidak mau, biarkan aku bersama Artika saat ini...," Dalmouk memberikan tolakan dan tepisan halus nan pelan kepada tangan Latifa, namun tak ada amarah di dalam diri Latifa karena ini adalah konsekuensi yang harus ia tuai. Seandainya waktu boleh diulang, tentu cerita mereka tidak akan seperti saat ini. Namun jika berbicara seandainya, hal itu sama saja dengan menyalahkan Yang Mahakuasa akan takdir yang diberikan oleh-Nya dan itu hanya akan menambah dosa-dosanya yang telah lalu. Ia pun memilih menyingkir dari kamar itu dan mendapati Majid di depan pintu.


"Apakah Mama akan terus-terusan merasa bersalah seperti ini?" Tanya Majid menatap nanar kearah Ibunya. Ia sudah cukup dewasa mengetahui masa lalu orang tuanya dan hanya bisa bersikap bijaksana dalam menghadapinya. “Aku sedih melihat ibuku seperti ini, tak berdaya dan seolah menjadi orang ketiga diantara Baba dan Mama Artika. Baba harusnya bisa lebih adil untuk membagi perasaan cintanya pada Mama dan Mama Artika...”


Latifa hanya tersenyum lemah dan mengusap pipi anak lelakinya itu. Satu-satunya anugerah yang sangat ia syukuri karena memilikinya. "Tidak apa-apa Nak, tidak apa-apa, ini adalah takdir yang harus Mama jalani karena telah banyak berbuat egois di masa lalu. Yang harus Mama lakukan hanya bisa menerimanya dengan ikhlas. Terima kasih atas jiwa besarmu sudah mau menghormati Artika sebagai seorang ibu dan menyayangi Mundika serta Zayed layaknya adik untukmu." Ia berusaha tegar untuk tidak memperlihatkan perasaan remuk redam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ma..."


"Ngomong-ngomong dimana Haya dan Maitha? Mama tak melihat mereka dari tadi," Tanya Latifa berusaha mengalihkan topik pembicaraaan.


*"Mama kan tahu mereka tidak akan pernah perduli dengan hal apapun mengenai Mama Artika dan anak-anaknya, mereka malah sibuk hang* out dengan teman-temannya diluar," Majid menghela napas jika ditanyai mengenai kedua adik perempuannya itu. "Aku sendiri bingung mengapa mereka tidak bisa seperti Mundika dan Zayed yang tetap bersikap hormat dan sopan kepada Mama? Apakah mereka merasa lebih baik dibandingkan kedua adiknya meski beda ibu? Lagipula sebenarnya mereka kan..."


"Mereka adik-adikmu Majid," Belum sempat Majid melanjutkan ucapannya, Latifa segera memotong sehingga membuatnya memilih untuk tidak melanjutkan. "Bagaimana? Apakah kau sudah mendapat kabar dari Sheikh Mansoor mengenai keberadaan Mundika dan Zayed?"


Majid hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Terakhir kutelepon dia segera berangkat ke Indonesia menyusul Mundika dan Zayed yang telah tiba duluan disana."


"Mama tak perlu khawatir, kita serahkan semuanya kepada Mansoor dan timnya, aku yakin ia dapat segera menemukan keberadaan Mundika dan Zayed," Majid memeluk Latifa untuk menenangkannya. “Mansoor itu tipikal pejuang tangguh. Ia tak akan menyerah sebelum menemukan target yang dituju. Buktinya dari sekian lelaki yang jatuh hati pada Mundika, hanya dia yang berani dan nekad melamarnya.”


“Semoga...,” Ujar Latifa harap-harap cemas.


“Inshaa Allah...,” Jawab Majid mantap.


“Mohon maaf kedatangan saya terlambat,” Hakeem menghampiri Majid dan Latifa.

__ADS_1


“Syukurlah Dokter Hakeem akhirnya datang, mari Dokter, saya antarkan ke dalam untuk segera memeriksa Artika,” Latifa mempersilahkan Hakeem masuk ke dalam kamar Artika. Lelaki itu tak menyangka bahwa izin cuti yang dadakan diajukan Mundika rupanya berbuah malapetaka membuat ibu dari anak didiknya harus terbaring lemas diranjang karena shock anaknya mengambil keputusan nekad untuk ke Indonesia terlebih lagi membawa Zayed, adiknya yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas.


Indonesia...


Sebuah negara yang sangat tabu diucapkan di hadapan Mundika. Padahal ia sengaja menceritakan segalanya tentang gadis itu agar Mansoor, calon suaminya dapat mencegah niat yang mungkin akan membuat Mundika bisa membatalkan pernikahan mereka karena merasa tidak pantas bersama pemuda itu. Ia hanya berdoa semoga saja hal yang ia takutkan tidak akan terjadi. Mundika dan Mansoor adalah anak baik-baik, semoga jalan jodoh mereka selalu diberikan kemudahan dan kelancaran karena mereka berdua berhak untuk berbahagia bersama tanpa harus dibayang-bayangi masa lalu hadirnya Mundika yang cukup membuat murka tidak hanya dari pihak keluarga besar Artika namun juga pihak keluarga besar Dalmouk jika saja Latifa akhirnya berbesar hati untuk bersedia mengalah dan menerima Artika sebagai istri kedua suaminya itu. Mengingat kejadian itu rasanya seperti baru terjadi kemarin dan sekarang seolah tercuplik kembali bahwa ada hal yang masih butuh diselesaikan agar tidak ada ganjalan lagi kedepannya. Ah, daripada memikirkan hal yang belum tentu terjadi, lebih baik ia memfokuskan diri untuk menyembuhkan dan memberikan sugesti agar Artika tenang.


***


"Akhirnya sampai juga,” Jawab Shiddiq sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. “Tak kusangka langit Indonesia kurang ramah pada kita...”


Mansoor tidak terlalu memperdulikan ucapan Shiddiq dan memilih berjalan menuju bagian imigrasi. Dalam hatinya dapat bernapas sedikit lega setelah kakinya menjejak bumi Indonesia. Ia segera mengaktifkan smartphone miliknya untuk menghubungi Mundika namun tak diangkat oleh sang gadis. Hari sudah menjelang tengah malam waktu setempat. Ia hanya menepuk dahinya baru menyadari perbedaan waktu tiga jam antara Dubai dan Jakarta. Pantas saja di sini sudah sangat gelap. Sepertinya ia harus menginap malam ini di hotel sambil menunggu kabar dari tim yang diutusnya.


Mundika... Mundika...


Apa yang telah kau lakukan padaku sehingga membuatku untuk tak bisa lengah sedikitpun melepaskan pandanganku padamu?


Apakah ia sebenarnya tanpa sadar telah membuka kotak pandora yang seharusnya tetap tersimpan rapat ditempatnya? Jangan-jangan ini salahnya sendiri yang membuat hidupnya yang semula biasa saja menjadi luar biasa tidak tenangnya karena membiarkan sudut hatinya membuka rasa?


Ah, memikirkannya saat ini hanya akan membuatnya tambah sakit kepala setelah beberapa kali turbulensi yang ia alami ketika pesawat pribadi miliknya melewati zona udara Pulau yang bernama Sumatera. Ia lebih baik beristirahat sekarang dan membahas langkah selanjutnya esok hari. Berharap kali ini ia bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan mimpi buruk karena terlalu khawatir tentang Mundika.

__ADS_1


***


__ADS_2