
Setelah memarkirkan mobil miliknya di salah satu slot parkir khusus dokter di rumah sakit tempat dirinya bekerja, Mundika segera berlari masuk menuju lift yang biasanya akan mengantarkan dirinya ke ruang rapat tempat ia harus segera menghadirinya pagi ini sebelum Kepala Rumah Sakit dan Mansoor, sebagai pengawas hadir di ruang rapat. Ia yang kini berstatus sebagai tunangan salah satu anak Emir Dubai harus bisa menjaga sikapnya agar tidak mencemarkan nama baik calon suaminya itu. Kau tak mau membuat masalah untuk kesekian kalinya kan Mundika?! Cukuplah sudah drama yang terjadi selama ini…, ini saatnya kau fokus dengan kehidupan baru yang akan menyambutmu dalam hitungan minggu ke depan.
Langkah kaki Mundika semakin kencang ketika jam tangan berwarna pink fanta yang melingkar pas di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 09.50 waktu Dubai. Ia spontan berteriak ketika melihat lift yang dihadapannya mulai menutup dan… tentu saja suaranya yang nyaring itu menarik perhatian orang-orang disekelilingnya untuk mengarah kepadanya. Baru saja membuat janji untuk dirinya sendiri, eh, sudah melanggarnya saja… haduuhhh…
“Tunggu, jangan ditutup dulu! Aku bisa mati jika tidak menaikinya!”
Sebuah tangan menghalangi pintu lift hany hampir tertutup tersebut sehingga kembali terbuka dan memberikan kesempatan Mundika untuk masuk ke dalamnya. Dengan napas yang masih terengah-engah ia mengelus dadanya tanda sedikit kelegaan.
“Terima kasih,” Ucap Mundika tanpa memperhatikan siapa sosok yang menolongnya tadi. Tidak terbayang jika ia harus melewatkan lift di waktu saat ini karena sudah pasti kata terlambat mengikuti rapat dan tatapan setajam pisau pasti akan diarahkan Mansoor kepadanya yang akan menanti. Membayangkan tatapan itu diperlihatkan kembali kepadanya sejak terakhir ia dijemput oleh tunangannya itu ke Indonesia, sudah membuat bulu kuduknya merinding seolah ia adalah tersangka pembuat onar yang harus dihukum berat. Ia kini sadar bahwa memancing kemarahan dari orang yang irit bicara seperti Mansoor itu adalah hal terakhir yang akan ia lakukan. Sepertinya akan lebih baik jika ia berkompromi dengan lelaki tersebut demi kelanggengan rumah tangganya kelak.
“He-em!”
Terdengar suara dehaman yang tak asing bagi Mundika. Namun siapa ya? Mansoor? Masa iya? Ah, paling ini hanya halusinasinya semata karena pagi-pagi dirinya dipaksa olahraga berlari hanya karena bangun terlambat…, atau karena sejak tadi dirinya sibuk memikirkan lelaki itu?
“He-em!” Suara dehamannya terdengar semakin keras dan jelas disamping Mundika membuatnya mau tak mau segera menoleh kearah suara tersebut.
“Mati aku!” Ucap Mundika tanpa sadar sambil menutup mulutnya ketika melihat Mansoor dengan ekspresi datarnya menoleh kearah dirinya.
“Tadi kau berucap apa?” Tanya Mansoor penuh selidik dengan mencondongkan tubuhnya kearah Mundika membuat gadis itu merasa tersudut dan mati gaya.
__ADS_1
“Hanya…umpatan untuk diriku sendiri kok…,” Jawab Mundika terbata-bata sambil terus merutuki ucapannya tadi.
“Benar?”
“Oh, ayolah Mansoor, tatapan matamu itu membuatku seolah jadi terdakwa yang telah berbuat kesalahan besar,” Lanjut Mundika dengan spontan karena merasa terdesak.
Sontak terdengar tawa tertahan dari dua pengawal Mansoor dan Hakeem yang juga berada di dalam lift tersebut. Baru kali ini ada orang yang berani berkata jujur kepada Mansoor sesantai itu tanpa ada rasa segan dan takut seperti kebanyakan orang yang bertemu dengan pemuda dingin itu.
“Kau…,” Mansoor tak dapat melanjutkan kata-katanya selain berusaha menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi tunangannya itu karena gemas jika tak mau mendapat tatapan tidak mengenakkan dari Hakeem yang secara tidak langsung seperti perwakilan orang tua gadis itu untuk menjaganya. “Ya sudahlah…,” Hanya hembusan napas keras yang terdengar dari lelaki itu.
“Aku bukannya ingin terlambat Mansoor,” Rengek Mundika sambil menarik sisi kiri kandoora putih yang dikenakan Mansoor. “Kau mengerti kan perasaan kelegaanku setelah bisa menyelesaikan masalah kusut keluargaku, efeknya ya begini, hidupku jadi merasa lebih santai dan akhirnya jadi terlambat…,” Entah sejak kapan Mundika mulai tidak malu menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya kepada Mansoor. Ya, sisi feminin-nya yang manja setelah selama ini ia tekan habis agar hanya menunjukkan kekuatan dan ketegarannya. Mungkin karena Mansoor dapat dipercaya untuk menggenggam hatinya…
Ya Allah, mengapa gadis ini manis sekali sih? Bertahanlah Mansoor…, bertahan! Ingat pada janjimu sendiri! Mansoor mengepalkan kesepuluh tangannya demi menjaga kewarasan dan wibawanya dihadapan Kepala Rumah Sakit dan dua pengawalnya yang ia tahu pasti sedang menahan tawanya melihat sikapnya saat ini.
“Eh?” Mundika tersentak kaget mendengar pernyataan dari Hakeem. Seolah memori lama yang sempat tertimbun lama dengan memori lainnya mencuat untuk meminta perhatian lebih darinya saat ini. Dan sebuah ide pun muncul di kepalanya.
“Makanya Pak Kepala, carilah istri baru dan lekas mempunyai keturunan dengannya sehingga kau tidak akan meninggal sia-sia dan mengurusi kami pasangan muda ini,” Ledek Mansoor.
“Memangnya mencari istri sama seperti membeli barang apa? Tidak semudah itu anak muda!”
__ADS_1
Mansoor pun hanya meresponnya dengan kekehan kecil di bibirnya untuk mengalihkan gejolak ingin bermesra dengan Mundika.
“Pak Kepala, bagaimana jika engkau menikahi Kakak saya yang bernama Maitha?” Ide spontan dari Mundika sontak membuat Hakeem dan Mansoor serta kedua pengawalnya menoleh kepadanya.
“Wah, ide yang bagus itu!” Lanjut Mansoor.
“Pak Kepala tidak perlu khawatir, kakak perempuan saya itu sudah banyak berubah, dan saya rasa tidak ada salahnya menjodohkannya dengan Pak Kepala,” Mundika tersenyum puas dengan ide cemerlangnya itu.
“Kau ingin membuat Babamu mati berdiri jika memiliki menantu yang seumuran dengannya hah?” Protes Hakeem.
“Ya tidak begitu juga Pak, namun entah mengapa saya merasa Bapak akan cocok dengan kakak saya itu. Ayolah Pak, dicoba dulu berkenalan dengan Kak Latifa, saya akan membantu meyakinkan Baba dan Kak Majid, ya Pak, ya Pak,” Tatapan Mundika penuh mohon kearah Hakeem. Sebuah tatapan maut untuknya karena tak dapat menolak apapun ketika anak didik kesayangannya itu sudah merajuk dan keras kepala akan kemauannya. “
Mendengar permohonan Mundika yang seperti rengekan anak kecil membuat kepala Hakeem mendadak pusing.
TING! Terdengar suara lift yang menandakan bahwa tujuan mereka telah sampai.
“Daripada kau mengurusiku, lebih baik sekarang kita fokus ke acara rapat hari ini,” Elak Hakeem berusaha menghindari topik yang digelontorkan Mundika seenaknya.
*“*Ah, Pak Kepala, jangan menghindar!” Mundika menyusul Hakeem yang telah berjalan keluar lift seolah tak mau menyerah. Mansoor yang melihat adegan tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Disisi lain ia bersyukur Mundika bisa jujur pada dirinya sendiri, disisi lain kejujuran itu membuat gadis itu semakin menarik di matanya dan terkadang menyiksanya karena harus bisa sebisa mungkin mengendalikan diri kalau tidak mau ditegur oleh ayahnya lagi.
__ADS_1
Dan Seperti Mundika katakan, memang banyak hal yang telah berubah dan membaik di sekeliling Mundika. Setidaknya tetap terbesit rasa syukur tak terkira karena masalah keluarganya telah selesai. Bagaimanapun juga, keluarga Mundika akan menjadi bagian dari keluarganya...
***