
Mundika tak dapat menghentikan senyumnya setiap kali mengingat tingkah Mansoor yang aneh tak terkendali tadi. Seolah lelaki itu baru saja mendapatkan berita yang terdengar mengerikan tentang dirinya. Bukankah ia sudah tahu resiko yang akan dia terima ketika memutuskan untuk menjadikannya istri? Kaget juga dirinya ketika lelaki itu justru meyakinkannya bahwa ia akan ada untuk dirinya bagaimanapun keadaannya. Pernah membuat perbuatan baik apa dirinya bisa mendapatkan lelaki sepemberani dan senekad itu?
Akan tetapi justru itulah yang selama ini ia cari dari seorang lelaki. Ia bukannya tidak tahu bahwa cukup banyak lelaki yang berusaha untuk mendekatinya dan melamarnya kepada kakak tertuanya, Majid. Namun dengan segala tipu daya kedua kakak perempuannya membuat para lelaki itu mundur. Yang ia tak habis pikir adalah lelaki yang ia idamkan tersebut adalah salah satu anak dari Emir Dubai. Mau tidak mau banyak hal yang akan dikompromikan dirinya dengan lingkungan keluarga barunya. Berbicara tentang calon keluarga barunya, ia sadar bahwa dirinya belum kenal siapa-siapa selain Ahmed dan Mansoor serta kedua orang tuanya. Bagaimana saudara perempuan mereka? Apakah mereka dapat menerima dirinya yang berbeda ini? Atau mereka akan bersikap seperti Maitha dan Haya? Mengingat kedua kakaknya itu dirinya menjadi sedih kembali. Sudahlah, toh pada suatu masa nanti ia percaya kedua kakak perempuannya itu akan menyayanginya seperti dirinya yang sangat menyayangi keduanya.
"Hayo, melamun saja, makanan yang kau pesan sudah mulai dingin," Tegur Rabiya dihadapannya. "Calon pengantin itu harus berbahagia, tidak boleh menopangkan wajah seolah sedang bersedih. Nanti tunanganmu menghampirimu lagi lho untuk menanyakan mengapa kau begini?"
"Dia tadi memang berkunjung ke ruang kerjaku Rabiya dan membuatku tersenyum sambil mengawang ke duniaku sendiri hingga lupa kau ada di sini," Mundika mengambil sendok dan mulai memakan bakso yang dipesannya tadi. Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya ia dan Rabiya memutuskan untuk makan malam dengan menu di sebuah restoran yang menyediakan masakan khas Indonesia. "Dan aku sedang tidak sedih sama sekali, malah bahagia."
"Aku iri padamu Mundika, mendapatkan lelaki seperti Sheikh Mansoor bin Maktoum, bukan karena ia putra Emir Dubai, namun tindakannya itu sungguh gentle terhadap perempuan," Rabiya melanjutkan. "Padahal jika melihat penampilannya yang dingin itu tak tampak sama sekali ia begitu perduli padamu. Seandainya aku juga dilamar oleh lelaki seperti Sheikh Mansoor..."
Mundika menoleh ke arah belakang Rabiya dan tampak mengenali dua lelaki yang berjalan kearahnya.
"Kalau kakak lelakiku Majid yang melamarmu bagaimana Rabiya?" Mundika tersenyum penuh makna. “Apakah kau bersedia menerima?”
"Hahaha, jangan ngaco deh," Ujar Rabiya memukul sendoknya ke kepala Mundika. Mereka berdua telah bersahabat sejak masuk kuliah di Kedokteran. Insiden pertolongan yang dilakukan Mundika padanya ketika ibunya mendadak terserang penyakit jantung merubah pandangannya terhadap gadis di hadapannya ini. Status Mundika yang lahir dari istri kedua Pemimpin keluarga Al Hassimi serta dari negara jauh di Asia Tenggara membuat dirinya sempat antipati padanya, namun tak sedikit pun Mundika membenci dirinya yang tidak menyukainya dulu. Jika dipikir-pikir, mengapa ia bisa menerima hasutan tidak bertanggung jawab seperti itu? Bukankah tidak ada seorang anakpun yang tahu dan menginginkan lahir dari orang tua seperti apa? Gadis ini justru menunjukkan tata krama yang luar biasa baik melebihi bangsawan di UEA pada umumnya. Ia begitu tata, sederhana, membumi, dan berdedikasi sehingga meskipun ada yang tidak menyukainya karena latar belakangnya, lebih banyak lagi yang mengagumi dan menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Mana mungkin kakak lelakimu yang tampan dan hebat itu memilihku jadi istri, saingannya terlalu banyak! Belum lagi kedua adik perempuannya. Denganmu yang saudara sekandung saja begitu apalagi denganku yang notabennya orang luar..."
Mundika tahu benar bahwa kakak lelakinya menaruh hati pada sahabatnya ini. Namun karena kesibukannya sebagai calon pengganti babanya di perusahaan, membuatnya jarang punya waktu untuk urusan pribadinya. Ia sendiri pun jarang bertemu muka dengan kakak lelaki yang sangat dia hormati dan kaguminya tersebut. Dan momen malam ini adalah waktu yang tepat membalas kebaikan dan kasih sayang yang telah begitu banyak diberikan Majid untuknya.
"Kak Majid, Zayed," Mundika berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Majid dan Zayed yang berdiri tepat di belakang Rabiya. Ia menyalami tangan kanan Majid sebagai tanda hormat dan mencium kening adiknya Zayed sebagai tanda kasih sayangnya kepada adik bungsunya itu. Ya, ia sudah merencanakan pertemuan kakak lelakinya dengan sahabatnya, Rabiya.
Rabiya terdiam mematung ketika Mundika dengan santainya menyambut kedatangan Majid dan Zayed. Ia sungguh malu, ingin rasanya ia melarikan diri dari tempat itu sekarang karena dirinya yakin bahwa Majid mendengar pembicaraan antara Mundika dan dirinya.
"Maaf ya Rabiya, aku sengaja memberi surprise mempertemukanmu dengan kakak lelakiku," Bisik Mundika ditelinga Rabiya membuat wajahnya memerah. "Kalian sehati, kakakku jika ingin diperkenalkan denganmu dan baru sekarang ada waktu. Kudoakan semoga diberikan kemudahan dan kelancaran...”
Mundika kembali duduk dan memberikan waktu untuk Majid dan Rabiya bertukar nomor telepon. Ia berdoa dalam hatinya semoga kedua orang yang disayanginya dapat merengguk kebahagiaan yang sama dengan dirinya dan Mansoor.
"Apa yang sedang dilakukan kekasih hatiku ini seorang diri di sini?" Suara Dalmouk dari belakang mengejutkan Artika.
"Dalmouk?"
__ADS_1
"Ah, foto-foto putri kecil kita rupanya...," Dalmouk ikut duduk disebelah Artika dan membiarkan kepala Artika bersender di pundaknya. "Tak terasa ia sudah dewasa dan dua bulan lagi akan memulai hidup barunya sebagai seorang istri..."
"Iya," Artika tiba-tiba terdiam membuat Dalmouk bingung. Jika istrinya itu merajuk dengan menyenderkan kepalanya pada bahunya hal itu menunjukkan bahwa ada suatu masalah yang mengganjal dihatinya dan membutuhkan dirinya untuk membantu dalam mencari jalan keluarnya.
“Ada apa?” Dalmouk mengusap mahkota hitam milik Artika.
“Apakah yang kita lakukan selama ini sudah tepat Dalmouk? Apakah menyembunyikan kesalahan kita dimasa lalu terhadap Mundika baik kita lakukan?” Pandangan mata Artika nanar dan mulai menggenang. “Apakah tidak sebaiknya kita yang menceritakannya terlebih dahulu daripada ia tahu dari orang lain?”
“Mengapa kau berpikiran seperti itu?”
“Sepertinya Yang Mahakuasa mulai menegur kita karena tiba-tiba harus dihadapkan bahwa salah satu pasien yang dirawat anak kita itu adalah sepupuku Dalmouk, dan nampaknya anak kita tahu hal itu,” Air mata Artika mulai menetes tak tertahan. “Aku sudah meminta kepada sepupuku itu untuk tidak mengatakan apapun dan ia sudah berjanji padaku akan menyimpan rahasia ini. Namun apakah kau tidak berpikir bahwa anak kita diam-diam menyelidiki dan nekad untuk tahu? Aku takut Dalmouk..., aku takut Mundika akan membenci kita berdua dan dirinya sendiri karena merasa ucapan yang selalu dilontarkan Maitha dan Haya untuk menekannya ada benarnya. Kejadian itu membuatku secara tidak langsung merebutmu dari Latifa dengan cara yang tidak baik...”
Dalmouk yang tak kuasa melihat Artika menangis segera memeluk erat belahan jiwanya itu.
“Itu tidak benar Artika, akulah yang salah karena telah membuatmu berada di posisi yang kedua padahal dulu aku menjanjikanmu untuk menjadi yang pertama dan terakhir, kumohon jangan salahkan dirimu sendiri...,” Dalmouk mengusap air mata Artika yang terus mengalir tanpa henti. “Aku juga yang salah telah membuatmu menjadi anak yang durhaka karena memaksamu meninggalkan kedua orang tuamu. Jadi kumohon jangan kau tanggung seorang diri. Ada aku yang akan mendampingimu dan menjelaskannya. Bersabarlah hingga Mundika dan Mansoor menikah...”
__ADS_1
Tanpa Dalmouk dan Artika sadari Latifa mendengarkan pembicaraan mereka memegang perutnya yang memiliki bekas luka sayatan besar pertanda ia pernah mengalami luka yang serius. Ia pun ikut menangis mendengarnya. Tak cukupkah tuaian dari keegoisannya dulu karena ingin memiliki Dalmouk dan memisahkannya dari tulang rusuk aslinya? Bukankah pada akhirnya belahan jiwa tersebut dapat bersatu? Namun mengapa sampai sekarang ia merasa tetap menjadi tokoh antagonis dalam keluarga ini? Harus dengan cara bagaimana lagi ia menebus kesalahan fatalnya dulu sehingga ia bisa lega dan menjalani masa tuanya dengan tenang dan bahagia?
***