Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
33


__ADS_3

“Ukkhhhhh…,” Mundika mengaitkan kesepuluh jarinya dan mengangkat kedua lengannya ke atas untuk memberikan peregangan kepada tubuhnya setelah hampir setengah hari dirinya berkutat dengan pekerjaannya melayani berbagai keluhan para pasien yang datang di hari ini. Tak disangka bahwa jumlah pasiennya yang melakukan konsultasi begitu membludak hingga jam makan siang pun terlewatkan olehnya. Namun tak satu pun keluhan yang dirasakannya melainkan rasa syukur yang tak terhingga telah diberikan kepercayaan untuk berusaha menyembuhkan penyakit yang dikeluhkan mereka. Hari-hari damai yang sangat ia inginkan untuk hadir dalam hidupnya akhirnya dapat terjadi. Rasanya seperti mimpi bahwa dirinya dapat merasakan ketenangan yang sangat ia dambakan selama ini setelah depresi dan tekanan batin dalam menjalani hidupnya ini dengan terus bersikap bahwa dirinya baik-baik saja. Ia sekarang benar-benar memiliki keluarga yang benar-benar bahagia tidak hanya tampak luarnya namun juga di dalamnya. Dapat memeluk kedua kakak perempuannya dengan sepenuh jiwa dan bercanda riang gembira seakan tidak pernah ada badai perselisihan diantara mereka. Dapat melihat kakak lelakinya lebih banyak tersenyum dan terbuka untuk menyampaikan rasa. Melihat tatapan lebih hangat dari Babanya kepada Mama Latifa. Ah…, sungguh surga dunia…


Harapannya semoga kebahagiaan ini dapat dirasakannya selamanya meskipun ia akan memiliki dunia baru yang akan dipijaknya sebentar lagi. Sebuah dunia yang menurut kata banyak orang berbeda dari yang selama ini dijalani single seperti dirinya. Sebuah dunia yang akan diarungi dirinya bersama Mansoor sebagai nahkoda utamanya dengan penuh ibadah dan pahala di dalamnya. Ia sudah tidak sabar untuk hal itu. Semoga tak kalah berwarna dengan dunianya saat ini. Semoga…


“Mohon maaf Nona, praktek Dokter Mundika sudah selesai hari ini sehingga kami tidak menerima pasien lagi.”


“Saya sudah membuat janji dengan Dokter Mundika sebelumnya!”


“Tapi Nona, nama anda tidak terdaftar di data kami sebagai pasien Dokter Mundika hari ini.”


“Jika kau tidak percaya silahkan bertanya pada Dokter Mundika.”


Sayup-sayup terdengar suara perdebatan kecil antara perawat yang bertugas bersamanya hari ini dengan seorang wanita yang membuatnya tergerak untuk bangkit dan posisi duduknya sekarang untuk menuju kearah suara tersebut. Didapatinya seorang gadis muda sebaya dengan usianya yang sekilas tampak mirip dengan seseorang namun siapa ya?”


“Nah, kau lihat sendiri kan bahwa Dokter Mundika datang sendiri menghampiriku,” Ucap gadis itu penuh percaya diri.


“Anu…, mohon maaf, anda siapa ya?” Tanya Mundika dengan polos membuat gadis itu merasa malu dengan ucapannya sebelumnya dan melihat perawat yang sempat berdebat dengannya tadi tertawa kecil.


“Kau…, apakah kau lupa dengan janjimu pada kakak lelakiku agar menyisihkan waktumu untuk bertemu denganku?” Gadis itu berkacak pinggang kesal sekaligus malu karena merasa diabaikan oleh Mundika. Pikiran negatifnya kembali terputar mengingat ucapan dari dua saudari tunangan kakaknya itu. “Aku Sheikha Maryam, adik dari Sheikh Mansoor!”


“Ap, apa?!” Mundika tersentak kaget ketika gadis dihadapannya saat ini menyebutkan namanya. Ia hanya bisa merutuk dirinya sendiri karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa dengan janji yang dibuatnya. Ampun…, bagaimana ia bisa lupa?!

__ADS_1


“O iya, aku lupa bilang, adik bungsuku yang tidak ikut dalam acara pertunangan kita dulu ingin menemuimu dan lebih mengenal dirimu,” Mansoor mengingatkan Mundika akan permintaan adik perempuan satu-satunya. “Dia ingin memastikan bahwa kau pantas menjadi kakak iparnya. Apa coba maksud ucapannya itu seolah meremehkan diriku yang tak pandai menilai calon pendampingku?”


Mundika hanya tertawa kecil melihat ekspresi kesal dari Mansoor.


“Aku paham sekali mengapa adik perempuanmu itu ingin bertemu denganku dan kupastikan ia pasti akan mengintrogasiku,” Mundika berusaha menyamakan langkah kaki Mansoor yang besar dan cepat agar dapat menyelaraskan irama. Dengan tinggi tubuhnya hanya sepundak lelaki tersebut merupakan sebuah perjuangan yang akan berakhir ia selalu berada diposisi belakang. “Jangankan adikmu, orang lain saja dengan melihat latar belakang diriku sudah pasti bertanya-tanya bagaimana seorang Sheikh Mansoor bisa memilihku sebagai calon istrinya.”


“Mulai deh playing victim-nya,” Entah mengapa Mansoor tidak menyukai sifat gelap Mundika yang tanpa gadis itu sadari menurunkan kualitas terbaik yang dimilikinya. Ia hanya ingin gadis itu lebih mensyukuri apa yang telah diraih dan dimilikinya sekarang tanpa harus menoleh kembali belakang dan akan membuka kembali luka lama yang ia berusaha bantu sembuhkan. “Ingat, itu adalah perjalanan hidupmu di masa lalu yang menjadikanmu seperti ini dan akan memiliki suami sepertiku adalah hadiahmu setelah berjuang menghadapi semua itu.”


“Iya juga ya, hehehe…,” Mundika tersenyum lebar menyadari dirinya yang hampir saja kembali terjebak masa lalu.


“Pesanku untuk menghadapi adik perempuanku itu kau harus ekstra sabar karena dia adalah anak bungsu dan satu-satunya perempuan di keluargaku sehingga sikap manja dan terkadang seenaknya sering muncul. Kuharap kau mau memakluminya…”


*“Astagfirullahaladzim*…, maafkan aku Maryam, atau kau ingin kupanggil dengan Sheikha Maryam?” Mundika segera menghampiri Maryam. “Bu Sarah, saya minta maaf lupa memberitahumu bahwa saya sudah punya janji dengannya.” Ia pun tak lupa menjelaskan kepada Sarah, perawat yang mendampinginya hari ini.


*“Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di Coffee Shop* rumah sakit ini? Sekalian kita ngobrol-ngobrol sambil menunggu jam visit-ku ke para pasien dimulai. Kira-kira satu setengah jam, cukuplah…,” Mundika segera melepas jas dokternya dan menggantungnya di tiang gantungan kemudian mengambil tas kecil berisi dompet dan smartphone miliknya yang selalu dibawanya ketika sedang praktek. “Jika Pak Kepala mencari saya, mohon disampaikan bahwa saya menghilang sejenak dari peredaran untuk menemani tamu khusus saya ini.” Ia merangkul lengan kanan Maryam sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Sarah sehingga membuat suasana yang sebelumnya serius dan tegang kembali mencair.


“Ayo Maryam, kue coklat disana enak lho, cocok sekali dengan kopinya.”


***


“Kau yakin akan terus menggandeng lengan kananku?” Pertanyaan Maryam memulai pembicaraan setelah mereka berhasil keluar dari ruang praktek Mundika tanpa kegaduhan.

__ADS_1


“Apakah kau merasa keberatan dengan tindakanku ini?” Tanya Mundika sambil tersenyum menatap Maryam.


“Umm…, tidak juga sih,” Maryam mengangkat kedua bahunya. “Hanya ingin memastikan bahwa kakak lelakiku tidak salah memilih calon istri.”


“Penilaianmu tentangku tidak akan dapat kau lakukan hanya dalam waktu satu hari Maryan, karena aku tak berhak menceritakan diriku sendiri seolah melebih-lebihkan atau merasa bangga akan diri ini,” Mundika kembali menatap lurus ke depan menuju Coffee Shop. “Hanya perjalanan waktu intensitas pertemuanmu dengankulah yang akan menjawabnya. Jikalau ada orang terdekatku yang membicarakan keburukan tentangku hanya permohonan maaf yang bisa kusampaikan kepadamu karena tanpa mereka sadari telah menjelekkan keluarganya sendiri.”


“Jadi maksudmu kau sudah tahu?”


“Sebelum kenekadan kakak lelakimu itu untuk melamarku, aku sudah tahu bahwa banyak dari para lelaki yang mendekatiku mundur secara teratur dari rencana meminangku hanya karena mendengarkan dari sisi negatif yang disampaikan tentangku dan aku pun sudah tahu siapa saja yang melakukannya. Aku hanya bisa memaafkan mereka karena bagaimanapun mereka adalah kedua kakak perempuan yang kusayangi hanya karena masalah dalam internal keluarga kami yang serumit benang kusut sehingga membutuhkan kesabaran dalam mengurainya.”


Maryam hanya diam menyimak ucapan dari Mundika.


“Mungkin ini yang dinamakan takdir, kehadiran kakak lelakimu itu sangat membantuku menemukan siapa jati diriku yang sebenarnya dengan menerima keadaanku ini dan membantuku juga dalam menyelesaikan satu per satu permasalahan dan pertentangan batinku dalam menghadapi anggota keluargaku.” Pancaran mata penuh kehangatan dan ketulusan tertangkap oleh kedua mata besar Maryam. “Kakakmu berbeda dari semua yang pernah menyapa rasa yang nyaris kupupuskan hingga tiada. Mungkin itu sebabnya aku bisa menjatuhkan hatiku padanya. Dibalik sisi dinginnya, ada kehangatan nyata yang merasuk sukma bahwa aku bisa percaya akan aman dan bahagia jika bersama dengannya. Yah…, meskipun terkadang kata-kata yang diucapkannya terlalu eksplisit setajam pedang hingga membuatku ternganga. Tapi aku menghargai kejujuran yang dimilikinya…”


Maryam yang awalnya dingin perlahan tersenyum mendengarkan ucapan dari calon kakak iparnya itu. Ucapan dengan esensi yang sama pernah ia dengar dari kakak lelakinya itu ketika dirinya mempertanyakan alasan mengapa ia memilih Mundika bint Dalmouk sebagai calon istrinya.


“Mama…, Mama, bertahanlah! Kumohon jangan meninggalkan kami seperti ini,” Tiba-tiba keheningan yang dirasakan Mundika dan Shaikha terpecah oleh suara Majid, Maitha dan Haya yang melintas bersama brankar dorong tempat tidur dimana Latifa terbaring tidak sadarkan diri. Ia merasakan firasat yang tidak enak akan hal itu. Ya Allah, semoga firasatnya salah…


“Maafkan aku Maryam, sepertinya aku terpaksa menunda pembicaraan kita,” Mundika melepaskan genggaman tangannya dan berlari menuju Majid dan Latifa. “Aku akan menebusnya lain kali.”


“Tapi…” Belum sempat Maryam merespon, Mundika telah menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


***


__ADS_2