
“Sekarang kita akan mulai dari mana?” Tanya Mansoor sambil duduk bersekedap. Otak cerdasnya kali ini menjadi buntu tak tahu harus mengurainya seperti apa. Ia hanya bisa mengandalkan tim profesionalnya jika harus berurusan dengan hal-hal yang bersifat rahasia.
*“Santai dululah Mansoor, wajahmu yang serius itu membuat kami semua takut dan mati gaya…,” Shiddiq berusaha memecah suasana penuh kesuraman yang melingkupi mereka. Ia mengambilkan secangkir teh panas beserta beberapa kue kecil yang merupakan bagian room service* yang mereka pesan khusus di salah satu hotel bintang lima di pusat Jakarta dan menyodorkannya kepada Mansoor. Makanan manis menurut dirinya bisa sedikit meredakan urat syaraf Sheikh mudanya yang terlalu tegang itu. “Nikmatilah suasana malam Kota Jakarta yang cukup tenang namun penuh gemerlap lampu bercahaya itu. Pemikiranmu yang biasanya cemerlang pun tak akan ada gunanya jika kau mengandalkan emosi. Lagipula sejak kapan kau begitu mudah mengekspresikan emosimu itu? Kau kan terkenal dingin dan bertangan dingin serta irit bicara jika tidak ada hal yang penting untuk dibahas.”
“Sejak ia mengenai gadis bernama Mundika bint Dalmouk, Shiddiq,” Badar mewakili Mansoor untuk menjawab pertanyaan Shiddiq yang mengandung unsur sarkastik didalamnya. “Aku saja yang sehari-hari bersamanya terkejut karena tidak ada angin ataupun hujan tiba-tiba Sheikh kita ini sudah memilih calon istri setelah sekian lama membujang karena terlalu pemilih atau tepatnya malas terikat dengan yang namanya komitmen.”
“Jadi benar berita yang kudengar bahwa kau sudah bertunangan dan akan menikah dengan salah satu anak gadis dari Pak Dalmouk sang pengusaha minyak itu?” Shiddiq antara percaya tak percaya dengan pernyataan dari salah satu sahabatnya itu. Ya, mereka adalah sahabat sejak kecil dan secara turun-temurun dipasangkan sebagai pengawal dan perwakilan bisnis keluarga di beberapa negara bagi sang penguasa Dubai dan keluarganya. Dan ia cukup bangga dengan posisi itu. “Kupikir kau akan mengikuti jejak kakak pertamamu yang menikahi salah satu sepupu di keluargamu.”
“Aku juga bertanya-tanya sebenarnya mengapa ayahmu yang terkenal sangat strict dan menjunjung tinggi budaya keluargamu itu membiarkan kau bertunangan dengan gadis di luar kalangan keluarga Emir di UEA ini?” Ali tergelitik untuk bergabung dengan teman-temannya membahas tentang Mansoor.
*“Apakah ini ajang untuk meledekku Tuan-Tuan?” Mansoor tersenyum miring menanggapi pembicaraan ketiga sahabat sekaligus pengawal pribadinya. Sepertinya ada benarnya juga pendapat dari para sahabatnya itu. Ia terlalu fokus kepada Mundika karena merasa bertanggung jawab telah diberi kepercayaan oleh keluarga gadis itu untuk menjaganya mengingat status mereka yang telah bertunangan. Tak lupa ia mengambil satu buah croissant* berisi coklat yang diterimanya dari Shiddiq, persetan dengan malam hari yang menurut banyak orang waktu berbahaya untuk makan sesuatu terutama cemilan. Ia akan membakar lemaknya nanti di tempat gym yang tersedia di hotel tempatnya menginap saat ini.
“Tentu saja tidak, mana berani kami berbuat seperti itu pada Sheikh kami,” Shiddiq tertawa kecil merespon ucapan Mansoor. “Kami hanya ingin mendengar cerita tentangmu yang selama ini selalu mengedepankan dan mengutamakan logikamu diatas emosimu jika dihadapkan dengan masalah percintaan.”
“Ayahku bilang ia tak mau aku berakhir seperti orang tua Mundika yang hanya karena tradisi malah runyam jadinya,” Mansoor menjawab sekenanya. Mana mungkin ia menjelaskan secara gamblang apa yang terjadi kepada sahabat-sahabatnya itu karena sama saja membuka aib keluarga meskipun Mundika masih berstatus sebagai calon istrinya. Lagipula ia juga bersahabat dengan Majid, kakak gadis itu. “Justru beliau bahagia aku memilih gadis itu menjadi istri. Sepertinya beliau dan Pak Dalmouk berteman pada saat kuliah dulu dan punya obsesi menikahkan salah satu anak mereka yang secara kebetulan adalah aku dan Mundika.”
“Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa diantara ketiga putri Pak Dalmouk kau memilih Dokter Mundika?” Kali ini giliran Ali yang tergelitik untuk bertanya. “Kudengar gosipnya, karena ia lahir dari ibu yang berbeda budaya dan negara dengan kita membuat berita tak enak merebak di kalangan para lelaki single di negara kita dan di Dubai khususnya bahwa menikahi gadis itu akan memberikan ketidakberuntungan, bahkan kakakmu, Ahmed yang sempat menaruh hati pada gadis itu akhirnya mengurungkan niatnya dulu sebelum menikahi salah satu sepupumu.”
__ADS_1
“Ahmed kau bilang?!” Mansoor yang mendengar nama kakak lelaki pertamanya disebut terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Ali.
“Aduh, sepertinya aku salah bicara…,” Ali yang tak menyangka respon yang diberikan Mansoor segera menutup mulutnya sendiri dengan tangan. “Lupakan saja ya, apa yang kukatakan tadi.”
“Tidak, tidak, kau sudah mengucapkan sesuatu yang harus kutahu kebenarannya,” Mansoor menarik kerah kaos yang dikenakan Ali dengan kesepuluh jarinya. “Aku ingin tahu lebih banyak tentang tunanganku yang jujur baru sekelumit kehidupannya yang dapat kugali.”
“Iya-iya, tapi lepaskan tanganmu dulu dari kerah kaosku,” Ali berusaha melepaskan diri dari Mansoor. “Memangnya kau benar-benar tidak tahu?”
“Bagaimana bisa tahu, beliau yang satu ini hidupnya terlalu disibukkan dengan pekerjaan, Ali,” Badar menghela napas panjang. “Tidak pernah memperhatikan gosip-gosip disekelilingnya…”
“Aku akan menceritakan yang aku tahu tapi kuharap kau tidak terpancing emosi dan menjadi bersikap tidak hormat pada kakakmu itu,” Ali memperbaiki kerah kaosnya dan meminum air mineral dihadapannya sebelum memulai ceritanya.
***
“Begitulah yang aku tahu Mansoor,” Ali dengan penuh perjuangan menjelaskan karena bagaimanapun topik yang dibahas adalah mengenai anggota keluarga petinggi Dubai. Ia harus berhati-hati untuk menjaga privasi mereka. “Memangnya kau tidak curiga sama sekali kakakmu dulu terlalu lama mengemban jabatan sebagai Komisaris Utama rumah sakit tempat Dokter Mundika bekerja?”
Mansoor hanya menjawab dengan gelengan kepala. Mana mungkin ia tahu, berurusan dengan Mundika saja rasanya seperti keajaiban di luar logikanya sebagai manusia. Mengingat pertemuan pertama mereka tak pelak melunturkan sedikit ketegangan urat syarafnya. Mungkin injakan kaki penuh tenaga dari Mundika dulu berisi mantra cinta membuatnya tak dapat menoleh selain kepada gadis pemilik senyum nan indah itu. Lagipula hal itu sudah menjadi masa lalu kakaknya yang telah berbahagia dengan istrinya sekarang sehingga tak perlu lagi diungkit-ungkit kembali. Kali ini gilirannya untuk menyambut kebahagiaannya bersama dengan sang gadis.
__ADS_1
“Hei, mengapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu? Kau membuatku merinding!” Protes Ali.
“Bukan apa-apa,” Mansoor mengambil smartphone miliknya dari saku celana pendek yang dikenakannya sekarang karena mendengar bunyi ringtone dari benda penting untuk berkomunikasi tersebut. Dari Majid! Ada apa gerangan?
“Halo, Majid,”
“Halo Mansoor, mohon maaf aku mengganggu malammu,” Terdengar nada suara Majid bergetar karena sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Tak apa, aku juga hendak mengabari bahwa aku dan tim-ku sudah sampai di Jakarta dan akan memulai pencarian adik-adikmu,” Mansoor berdiri dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh menuju jendela kaca besar yang menunjukkan pemandangan Kota Jakarta di malam hari. Dipandanganinya ke bawah tampak gemerlap lampu kendaraan yang berlalu-lalang dari dua arah yang berbeda di salah satu icon kota bernama Bundaran Hotel Indonesia.
“Apakah kau sudah mendapat kabar dimana posisi Mundika dan Zayed saat ini?”
“Belum, tim-ku masih melacak keberadaannya,” Jawab Mansoor. “Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan?”
“Kumohon kau dapat segera menemukan Mundika dan Zayed karena Mama Artika jatuh sakit dan saat ini terpaksa dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih intensif. Sepertinya beliau terlalu stres memikirkan kedua anaknya yang berada jauh dari jangkauannya saat ini.”
“Apa?!” Mansoor spontan menoleh kearah ketiga pengawalnya. “Baik, aku mengerti, aku dan tim-ku akan segera membawa adik-adikmu pulang ke Dubai.” Ia pun segera mematikan hubungan telepon dengan Majid dan beralih kepada tim-nya. “Badar, Ali, Shiddiq, aku minta tolong kepada kalian untuk melacak keberadaan Mundika dan adiknya, Zayed dari komunikasi terakhir yang dilakukannya kepadaku. Segera!”
__ADS_1
“Yes Sir!” Ujar Badar, Ali, dan Shiddiq kompak dan kembali dengan perangkat canggih mereka masing-masing kemudian melaksanakan instruksi dari Tuannya itu. Nampaknya mereka akan bekerja keras malam ini.
***