Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
Epilog


__ADS_3

“Aku masih tidak percaya bahwa kau benar-benar menjadi menantuku, Hakeem,” Dalmouk meletakkan bidak catur kuda membentuk huruf ‘L’ ke depan. “Dan parahnya Maitha dengan senang hati menyambut dan menerimamu menjadi suaminya. Ditambah lagi Mundika dan Mansoor sangat mendukungmu sehingga membuat posisiku terdesak dan akhirnya merestuimu menikahinya! Padahal aku sudah mengenal luar dalammu, bagaimana bisa kau melirik anak perempuanku itu Hakeem?! Apa kau sudah gila?! Usianya itu setengah dari usiamu Bapak tua!”


Suasana halaman rumah Dalmouk tampak begitu hangat. Pepohonan rindang seolah melindungi pemilik rumah tersebut dari teriknya sinar matahari di Dubai. Hari Idul Fitri telah datang. Seperti biasanya, seluruh keluarga akan berkumpul di rumah Kepala Keluarga dan saat ini seluruh anggota keluarga satu per satu mulai berdatangan yang dimulai dari Hakeem dan Maitha yang telah menikah setengah tahun yang lalu. Sebuah hari pernikahan yang juga bersamaan dengan hari kematian Latifa. Ya, Latifa menghembuskan napas terakhirnya setelah berhasil mendampingi putranya Majid menikahi Rabiya tunangannya kemudian diikuti dengan pernikahan Hakeem dan Maitha yang cukup menghebohkan kedua belah pihak keluarga karena perbedaan usia yang seperti ayah dan anak. Sepertinya pernikahan Maitha adalah sebuah kelegaan Latifa karena merasa hutangnya kepada Raana untuk mengantarkan salah satu putrinya menaiki jenjang kehidupan selanjutnya telah berhasil dilaksanakan sehingga dapat meninggalkan dunia fana ini dengan bahagia dan tenang. Dan tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak Mansoor dan Mundika mengikat tali janji pernikahan…


“Hehehe, ceritanya panjang Dalmouk,” Dengan santai Hakeem membalikkan posisi permainan catur kearah yang diinginkannya. “Yang pasti aku sudah menemukan belahan jiwaku seperti dirimu menemukan Artika. Asal kau tahu, anak perempuan dan mantu kesayanganmu itulah yang pertama kali memberikan ide gila itu.”


“Apa kau bilang?!” Dalmouk tak terima mendengar alasan Hakeem. Majid yang juga ada di sana bermain sepak bola bersama Zayed hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah polah dua orang tua yang seperti anak kecil itu setiap kali mereka bertemu.


“Lagipula ibu istriku itu tidak sekeras kepala seperti dirimu ketika aku meminang putrimu itu,” Ia ingat bahwa dirinya meminta izin terlebih dahulu kepada Latifa sebelum melanjutkan niatnya menikahi Maitha yang tak ia sangka dengan tangan terbuka lebar disambut oleh wanita itu. “Skak Mat!”


“Akhhhh, aku kalah!” Keluh Dalmouk dengan gusar sambil mengacak-acak gutrah di kepalanya.


“Kalau bermain catur itu jangan menggunakan emosi tapi akal Dalmouk. Kau ini semakin tua bukannya semakin sabar malah semakin mudah marah.”


“Ada apa ini, siang-siang sudah ribut?” Artika berjalan bersama Maitha, Haya dan Rabiya yang sedang hamil enam bulan membawa beberapa piring dan toples berisi kue-kue basah dan kering khas lebaran di Indonesia. Sejak kepulangan Dalmouk dan Artika pertama kali dari Indonesia yang dijamu dengan masakan dan makanan khas Indonesia oleh kedua orang tua Artika membuat pria itu ketagihan dan selalu meminta Artika membuatnya.


*“*Ini lho Artika, pria tua ini,” Dalmouk menunjuk Hakeem dengan jari telunjuknya.


“Pria tua ini suamiku, Baba,” Maitha memeluk Dalmouk dari belakang dengan mesra. Hakeem pun menyambut pelukan tangan Maitha dengan memegang kedua tangannya dan menatap tak kalah mesra kepada istrinya tersebut.


“Euh, jangan bermesraan dihadapanku dan yang lainnya!” Protes Dalmouk tak terima. “Membuat sakit mata saja!”


“Harusnya kata-kata itu kau ucapkan pada dirimu sendiri dan Artika setiap melakukan hal yang kami lakukan dihadapanku dulu,” Cibir Hakeem tak mau kalah. “Sekarang kau mengerti kan perasaanku yang seperti nyamuk di hadapan kalian berdua dulu?”


“Sudah-sudah, kalian berdua ini berhenti berdebat,” Lerai Artika. “Apa kalian tidak malu bersikap kekanak-kanakan seperti ini dihadapan yang lainnya?”


Akhirnya suara hati Majid tersampaikan juga melalui ucapan Artika dan mengacungkan jempol tangan kanannya kearah ibunya. Terima kasih Mama Artika, engkau memang yang terbaik!

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, mengapa Mansoor dan Mundika belum datang juga ya? Tidak terjadi sesuatu kan pada mereka di jalan?” Tanya Artika sedikit cemas. Bagaimanapun sejak Mundika menjadi bagian dari anggota keluarga Emir Dubai, ruang gerak anak perempuannya itu lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Bukan dikekang, namun Mundika harus selalu siap sedia mendampingi Mansoor kemanapun suaminya itu pergi dan ia sebagai ibu memaklumi.


*“Akan kutelepon dulu,” Majid mengambil smartphone dari saku kanan kandoora*-nya dan menekan nomor telepon Mansoor serta mengaktifkan speaker agar seluruh orang yang ada di halaman rumah dapat mendengar suara Mansoor dengan jelas. “Halo…”


“Halo Majid, maafkan kami,” Suara Mansoor terdengar memburu. “Sepertinya kami tidak bisa menghadiri acara keluarga di rumahmu.”


“Kenapa memangnya?”


“Sepertinya Mundika akan melahirkan anak kami hari ini.”


“Apa?!” Seluruh anggota keluarga segera menoleh kearah Majid ketika mendengarkan suara Mansoor.


***


“Oek-oek…, oek-oek…,” Terdengar suara bayi dari ruangan operasi. Ukuran pinggul Mundika yang kecil tidak memungkinkan untuk dirinya melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan mereka secara normal sehingga .


“Alhamdulillah…,” Puji syukur terucap oleh Emir Dubai dan anggota keluarganya yang lain setelah mendengar suara tangis bayi-bayi tersebut. Setelah dua tahun menanti, akhirnya Mansoor dan Mundika dikarunai keturunan juga. Bukan menunda, namun lebih menitikberatkan bahwa sejak awal pernikahan mereka berkomitmen menikmati masa berdua selama satu tahun untuk kemudian memutuskan memiliki keturunan. Tak disangka setelah kosong setahun, mereka segera diberi kepercayaan dianugerahi anak kembar sepasang.


“Baba, Mama, aku titip kedua anakku dan ingin melihat kondisi Mundika,” Setelah selesai melakukan tugasnya, Mansoor segera bergegas menuju kamar perawatan.


“Pergilah Nak,” Balas Maktoum. Tak lama kemudian, Dalmouk dan keluarga besarnya datang menghampiri Pemimpin Dubai dan anggota keluarganya tersebut.


Sementara itu di ruang perawatan…


“Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit?” Mansoor menggenggam tangan Mundika.


“Mansoor, aku berhasil melahirkan mereka dengan selamat tanpa kekurangan apapun kan?” Tanya Mundika dengan suara lemas.

__ADS_1


“Ya, kau berhasil Mundika, terima kasih atas perjuangan dan kesabarannya, terima kasih juga telah memberikan warna dalam hidupku yang monokrom selama ini,” Mansoor mengecup dalam dan lama kening Mundika sebagai hadiah bentuk cintanya kepada istrinya yang telah berjuang mengandung dan melahirkan dua buah hatinya. “Aku mencintaimu…”


“Terima kasih juga untukmu Mansoor, terima kasih sudah menjadi ksatria untukku yang selalu ada disampingku disaat-saat terpuruk dan memberikan pandangan baru terhadap semua masalah yang terjadi,” Ucap Mundika tersenyum lembut. “Aku juga mencintaimu…”


“Mari kita berbahagia, aku, kau dan anak-anak selalu bersama selamanya...”


“Sampai akhir hidup kita…”


Dia cantik dan juga lucu


Dia jujur dan juga lugu


Dia cerdas sekaligus bodoh dengan segala kekonyolannya


Dia ceria dibalik luka yang dipendamnya


Dia penuh warna tanpa meninggalkan hitam putihnya


Senyumnya memberikan bahagia bagi dunia


Dia unik dengan kekurangan yang dimilikinya


Dia indah apa adanya


Dan aku jatuh cinta pada dirinya


Tak akan kubiarkan orang lain memilikinya

__ADS_1


Karena aku terlahir sebagai “Ksatria untuk Mundika”


***


__ADS_2