
"Bapak, Ibu, aku diterima bekerja sebagai Engineer salah satu perusahaan minyak di Dubai!" Artika berteriak kencang sambil menuruni tangga menuju ruang keluarga yang berada di lantai dasar dari rumah bertingkat dua dan bergaya minimalis dengan suasana Jawa yang begitu kental pada ornamen di dalamnya yang nan asri di pinggiran kota Jakarta.
"Akhirnya impianku bekerja di luar negeri tercapai! Di Dubai lagi!" Artika memeluk ibunya yang baru saja meletakkan camilan berupa sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hitam panas dihadapan suaminya yang sedang membaca koran hari Sabtu pagi ini. Tak lupa dirinya memeluk ayahnya. Bagaimana tidak senang, impiannya untuk bekerja pada perusahaan di Timur Tengah yang kaya akan minyak bumi merupakan cita-citanya sejak dulu. Ia bukannya tidak puas dengan karir sebagai engineer di salah satu BUMN yang bergerak dibidang minyak bumi dan gas, namun ini lebih seperti memenuhi passion yang selama ini membuncah di dalam hatinya.
"Oalah Nduk, Nduk, tak kiro opo...get-geti wae...," Jayanti menghela napas sambil menghelus dada dan duduk di sofa yang ada di sebelah kanan tempat suaminya, Janitra duduk. Ia mengambil remot televisi dan menyalakannya.
"Bapak dan Ibu menyetujuinya kan?" Artika menatap penuh permohonan.
"Apa ndak sebaiknya kamu tetap di Indonesia? Toh karirmu juga sedang menanjak, sementara nek kamu kerja di Dubai, disana kamu tidak kenal siapa-siapa," Jayanti menanggapi pertanyaan Artika. "Mas mu Hadyan sudah memilih bekerja pada perusahaan minyak di Amerika sana, lantas apakah kamu tega meninggalkan Bapak dan Ibu berdua dengan hanya ditemani Simbok De disini?"
"Tapi Bu, meskipun karirku bagus disini, bayang-bayang Ayah sebagai salah satu pejabat perusahaan membuatku harus mandiri dan bekerja di luar negeri khususnya Dubai adalah kesempatanku untuk menunjukkan kepada keluarga besar kita bahwa aku memang benar memiliki kemampuan tanpa bantuan Bapak," Artika menggunakan jurus ampuhnya sebagai anak bungsu keluarga Hadiwijaya merajuk kepada ayahnya jika ibunya sudah mulai menunjukkan ketidaksetujuannya setiap kali dirinya mengambil keputusan untuk masa depannya. "Lagi pula disana aku tidak akan mengkhawatirkan masalah gaji dan tempat tinggal karena fasilitas yang diberikan sangat lengkap dan aku akan bisa mengenal banyak orang yang berbeda bangsa dan negara sehingga bisa membuka wawasanku lebih luas. Ditambah lagi Dubai itu kota Timur Tengah yang modern kok bu, jadi Inshaa Allah aman dan damai. Bapak setujukan dengan pendapatku ini? Jadi mohon diperbolehkan ya Pak...boleh ya..."
Janitra melipat koran yang sejak dari dibacanya dan meletakkannya di meja yang berada dihadapannya. Ia akui Artika adalah kelemahannya, terlebih lagi jika anak perempuan yang dulu sangat dinanti-nanti selama sepuluh tahun sejak putranya lahir ini sudah mengeluarkan jurus mautnya. Mau tidak mau ia akan menyetujuinya. "Sudahlah Bu, diizini saja anak kita ini bekerja di luar negeri sana. Toh banyak juga orang Indonesia yang bekerja ditempat itu dan Bapak yakin Artika bisa menjaga dirinya. Ingat yo Nduk, ojo lali karo toto kromomu, kalau perlu kamu tunjukan bahwa kita adalah bangsa yang beradab sehingga tidak bisa diremehkan oleh bangsa lain."
"Terima kasih Bapak," Artika memeluk erat Ayahnya. "Artika sayang sama Bapak!"
"Anak ini, kalau sudah ada maunya saja, pasti ngejar terus," Jayanti pun akhirnya mengalah dan menuruti kemauan suami dan putri bungsunya itu. Ia mengusap-usap mahkota hitam milik Artika. "Iyo Nduk, Ibu ngalah, sing penting kamu bahagia dan tidak lupa pesan yang disampaikan Bapakmu itu. Jangan lupa selalu berkirim kabar dan jika sudah diizinkan cuti kamu pulang ke rumah sini ya untuk menjenguk Bapak dan Ibu."
"Siap Ibuku sayang," Artika mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya ke dahi kanannya seolah memberi hormat kepada sang Ibu. "Terima kasih telah memberikan restunya, Artika akan selalu menjaga amanah Bapak dan Ibu...,” Ia pun memeluk kedua orang tuanya.
***
__ADS_1
"Kau beneran akan pindah pekerjaan ke Dubai? Enggak sayang sama karirmu disini?" Tanya Ayu sambil mengambil potongan dark chocolate cake yang dipesannya.
"Hu-um," Jawab Artika santai sambil menikmati matcha latte dingin ukuran venti favoritnya. "Enggak sayang sama sekali. Aku malah senang akhirnya bisa tinggal jauh dari orang tuaku untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri."
Saat ini mereka sedang berada di sebuah kedai kopi salah satu mall bagian pusat Jakarta.
"Lantas hubunganmu dengan Indra bagaimana? Mau kau putuskan begitu saja?"
"Aku sudah membicarakan masalah ini secara baik-baik dengannya, dan kami memutuskan untuk jalan masing-masing karena ia tidak sanggup menjalani hubungan secara LDR dan mengikuti ambisiku."
"Ya ampun, dan kau menjawabnya dengan santai sekali?" Ayu tak habis pikir dengan sepupu dekatnya ini. Hubungan kekasih dengan Indra yang sudah berjalan dua tahun bak angin lalu putus begitu saja. Ia sadar bahwa sepupunya ini adalah sosok yang sangat ambisius dalam mengejar cita-citanya. Namun jika sampai mengorbankan perasaannya ini sungguh berlebihan menurutnya. "Kau anggap apa hubunganmu dengan Indra? Lagian juga apa bagusnya tinggal dan bekerja di Dubai?"
"Kau akan mengerti jika berada diposisiku yang merupakan putri bungsu," Artika menjawab dengan tenang karena hal ini sudah dipersiapkan semuanya secara matang. Ayu tidak tahu bahwa Indra adalah sosok yang otoriter sehingga membuat dirinya sesak selama menjalankan hubungan mereka. Salah satu alasan untuk memutuskan hubungan ini adalah dengan ia menjauh ketempat yang tak mungkin dijangkau Indra mengingat phobia naik pesawat yang dialaminya. "Lagian juga perusahaan tempatku bekerja di Dubai adalah tempat impianku selama ini. Jadi aku merasa harus meraihnya untuk membuka pintu masa depanku yang entah seperti apa..."
"Terima kasih Ayu, kau memang sepupuku yang terbaik. Nanti kalau kau ada waktu akan kuajak menjelajah Dubai dan sekitarnya."
"Eh, ngomong-ngomong, jangan-jangan jodohmu orang Dubai lagi, Arab pula," Ledek Ayu. "Mereka kan terkenal dengan ketampanannya."
"Ish, aku masih suka produk lokal Yu, nggak suka sama yang Arab kayak gitu meskipun disana aku akan bekerja untuk mereka," Artika mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "Seperti Bapak dan Ibuku bilang, aku harus tetap menjunjung tinggi adat istiadat dari keluarga kita..."
"Hati-hati dengan omongan, nanti berbalik sendiri lho..."
__ADS_1
"Jangan sampai Yu, amit-amit, aku hanya ingin punya hubungan profesional saja dengan mereka."
Ayu dan Artika tertawa lepas. Itu adalah terakhir kalinya ia melihat sosok sepupunya bersikap bebas dan ceria seperti itu. Sambil menatap foto usang yang menunjukkan keakrabannya dengan Artika dulu, Ayu menatap sedih ketika mengingat masa lalunya bersama sepupunya itu. Ia tak menyangka ucapan yang ditolak mentah-mentah oleh Artika benar menjadi berbalik padanya. Sepupunya jatuh cinta pada lelaki asli Dubai dengan drama yang berakhir ia harus meninggalkan orang tuanya secara tidak menjunjung tinggi tata krama yang selama ini sangat dibanggakan olehnya dan mengikuti lelaki itu dengan menjadi istri keduanya.
"Sudahlah Yu, jangan memberatkan pikiranmu mengenai Artika lagi," Randi menggenggam tangan kiri Ayu. Luka-luka akibat kecelakaan sudah kembali pulih dan kini saatnya mereka harus kembali ke Indonesia. "Kau tak bisa terus-menerus memikirkan kehidupan Artika dan jalan yang telah dipilihnya. Bahkan kakaknya Hadyan sudah menyerah untuk hal itu dan menganggap adiknya itu sudah lama tiada. Bukankah Artika sendiri sudah menyampaikan suara hatinya beberapa hari yang lalu ketika berkunjung ke sini?"
"Tapi Mas, aku ingin keponakanku tahu bahwa mereka mempunyai kakek dan nenek yang berharap suatu ketika dapat dijenguk oleh mereka. Aku ingin mengembalikan keluargaku utuh kembali..."
Randi hanya menghela napas panjang menghadapi kegigihan istri tersayangnya itu. Ia memaklumi bahwa Artika adalah saudara kesayangan Ayu mengingat dirinya adalah anak tunggal. Tapi dengan kejadian kecelakaan yang terjadi ini menurutnya adalah peringatan bahwa Ayu harus menghentikan niatnya itu dan fokus kepada keluarga kecil mereka. Sudah cukup pengorbanan yang istrinya itu lakukan demi Artika yang mungkin saja tidak menganggapnya itu ada.
"Selamat sore Bu Ayu," Kunjungan Mundika beserta beberapa perawat menjadi penyelamat perdebatan antara Randi dan Ayu.
"Selamat sore Dokter," Balas Randi. "Apakah Dokter kemari ingin mengabarkan bahwa istri saya ini sudah sembuh dan siap untuk kembali pulang ke negara kami?"
"Bapak sudah tahu ya," Mundika sedikit terkejut dengan ucapan Randi namun ia berusaha menutupi dengan senyum profesionalnya sebagai dokter. "Itu benar, besok pagi Bu Ayu sudah dapat keluar dari rumah sakit. Selamat ya Bu Ayu, semoga Ibu kedepannya lebih berhati-hati lagi sehingga tidak terjadi kecelakaan yang sama."
"Syukurlah kalau begitu," Jawab Randi penuh kelegaan karena mereka berdua dapat segera kembali ke Indonesia secepatnya dan melupakan apa yang terjadi disini.
Ayu sedikit tidak rela jika ia tak dapat berkomunikasi lagi dengan keponakan dihadapannya. Ia pun memohon untuk dapat ditinggalkan dan berbicara hanya berdua dengan Mundika sebelum ia tak dapat melakukannya lagi. Setidaknya ia harus berusaha sampai detik terakhir.
"Aku sudah bertemu dengan sepupuku Artika, dan darinya aku mendapat informasi bahwa aku memiliki dua keponakan, perempuan dan lelaki. Untuk yang perempuan aku sudah melihatnya dan ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas dengan segudang prestasi sama seperti Artika sewaktu muda."
__ADS_1
Mundika terkejut dalam diam sambil mendengarkan curahan hari bibinya itu. Ia tak menyangka Ibunya akan datang menjenguk sang bibi dirumah sakit.