Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
29


__ADS_3

“Aku sepertinya memang harus dapat gelas ya, karena telah melihatmu dalam posisi yang sama saat ini sebanyak tiga kali?” Mansoor menghela napas sambil berkacak pinggang melihat Mundika yang sedang melakukan terapi khusus dirinya sendiri dengan mengambang di pinggiran laut untuk menenangkan dirinya yang masih terguncang hebat atas ungkapan terdalam dari kedua orang tuanya yang selama ini berusaha ia cari kebenarannya.


“Man…Mansoor?!” Mundika yang terhanyut dalam terapi air lautnya segera membuka matanya ketika mendengar suara tak asing di telinganya. Ia segera bangkit dari posisinya dan berdiri menuju ke pinggir pantai dan duduk di kursi pantai tanpa berkata apa-apa karena jika sudah melihat ekspresi ketidaksukaan Mansoor entah mengapa dirinya segera merespon untuk mematuhi.


“Ini handuk untukmu,” Mansoor yang duduk di sebelah Mundika menyerahkan handuk putih berukuran besar kepada tunangannya itu tanpa menatap kearahnya. Sebenarnya ia masih merasa kesal karena informasi tersebut didapat pengawal khususnya itu ketika sedang mengikuti rapat untuk para petinggi di Kota Dubai. Namun entah mengapa hatinya tergerak untuk segera meninggalkan rapat tersebut dan menyerahkan kepada asistennya untuk menggantikannya sejenak dan pergi menuju kemari. Ia merasa ada hal yang sangat penting yang akan diceritakan oleh tunangannya itu.


“Terima kasih,” Jawab Mundika.


“Kali ini apa masalahmu, Mundika?” Mansoor berusaha mengendalikan emosinya untuk berkata lebih lembut kepada Mundika karena sejujurnya dirinya membenci kegiatan terapi Mundika yang menurutnya aneh itu. “Aku benar-benar takut kalau terapi yang kau lakukan itu hari ini hanyalah kamuflasemu yang berniat mengakhiri dirimu selamanya…”


“Jika aku tidak memikirkan bahwa aku masih punya iman tentu aku sudah berakhir menenggelamkan diriku selamanya, Mansoor,” Pandangan mata Mundika mengarah ke depan namun terdapat kekosongan di dalamnya. “Karena apa yang kudengar hari ini sungguh mengguncang tidak hanya ragaku namun juga jiwaku.”


“Apa maksudmu?” Mansoor yang terkejut dengan pernyataan tak terduga Mundika, mau tidak mau menoleh kearah Mundika yang masih dengan ekspresi kosongnya dengan menyisakan bekas air mata di pipi kemerahan gadis itu.

__ADS_1


“Hari ini aku sudah mendengar semua cerita tentang Baba dan Ibuku dengan saksi Paman Hakeem tentunya,” Air mata Mundika yang sempat mengering kini mengalir kembali. Rasa sesak dan emosi yang dimilikinya kembali meluap secara tiba-tiba. “Aku tidak menyangka bahwa kenyataannya lebih mengerikan dari yang selama ini dituduhkan keluarga besarku. Mengapa? Mengapa aku harus ada dengan cara seperti itu? Hanya karena Baba dan Ibu berasal dari suku, ras, budaya dan latar belakang yang berbeda sehingga harus ada kejadian yang mengerikan seperti itu. Mengapa di zaman yang sudah canggih dan modern seperti itu masih ada orang yang memandang orang lain berdasarkan latar belakang keluarga, kekayaan yang dimiliki, suku dan bangsanya? Apakah dengan hal-hal tersebut membuat orang merasa dirinya lebih baik dari orang lain? Bukankah di mata Allah kita sama dan yang membedakannya hanyalah moral, kepribadian, sikap dan perilakunya? Mengapa mereka tidak melihat bahwa cinta itu adalah sesuatu yang murni tanpa ada batasan itu semua?”


“…,” Mansoor hanya bisa terdiam mendengarkan cerita dari Mundika. Sebuah cerita yang lebih dulu diketahuinya dari Kepala Rumah Sakit karena ia ingin mengenal sosok tunangannya ini. Ia sungguh mengerti perasaan seperti apa yang dialami Mundika karena ia sendiri yang mendengar cerita tersebut merasakan guncangan yang luar biasa tak menyangka ada konflik keluarga yang luar biasa di dalam salah satu keluarga terpandang di Kota Dubai yang terkenal dengan kemodernannya yang berbalut tradisi. Dan bicara tradisi memang tidaklah mudah terlebih lagi bagi kalangan atas sepertinya. Namun secerah harapan cahaya sedikitnya mendobrak pakem kaku dimulai dari dalam keluarga besarnya sendiri. Dan sejarah itu seperti tolak ukur keterbatasan manusia yang bagaimanapun caranya, tetap Tuhanlah yang menentukan segalanya. Meskipun tradisi yang telah mangakar kuat di negaranya ini tidaklah semuanya dapat dihilangkan demi menjaga eksistensi dan keotentikan.


“Aku sekarang mengerti mengapa anggota keluarga besar Al Hassimi sangat tidak menyukai Mama, aku dan Zayed. Namun apakah kami sehina itu di mata mereka? Padahal kenyataannya, Baba, Mama Latifa dan orang tua merekalah pangkal permasalahannya di sini. Seandainya Baba tegas memperjuangkan Ibu atau tidak bertindak mengikuti hawa nafsunya dengan merelakan Ibu berbahagia dengan tunangannya dulu dan aku tak akan lahir di dunia ini, mungkin konfliknya tidak sedalam seperti saat ini. Aku merasa kehadiranku ini adalah sebuah dosa Mansoor, dosa yang tak terampuni, ibarat noda pakaian yang tak akan pernah hilang selamanya meskipun menggunakan cairan pembersih sekeras apapun untuk membersihkannya.” Mundika menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan semakin larut ke dalam tangisnya yang perlahan merenggut kekuatan fisiknya.


“Siapa bilang kehadiranmu adalah dosa?” Mansoor menatap lembut kearah Mundika. “Bagiku kehadiranmu adalah cahaya dan warna baru yang masuk ke dalam celah dunia hitam putihku yang selama ini dingin dan kaku. Dan sebenarnya aku sudah terlebih dahulu mengetahui kisahmu dari Pak Hakeem ketika beliau menanyakan kesungguhanku untuk menikahimu karena beliau sangat berharap bahwa orang yang akan menjadi suamimu adalah seseorang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi dirimu apa adanya. Jadi jangan terlalu keras pada atasanmu itu, Mundika, karena beliau benar-benar sayang padamu seperti anaknya sendiri.”


“Mengenai pertanyaanmu mengapa di zaman yang serba canggih dan modern ini masih banyak orang yang memandang orang lain berdasarkan latar belakang keluarga, kekayaan yang dimiliki, suku dan bangsanya sehingga tidak menyetujui dua insan yang saling mencinta untuk bersatu, rasanya tidak etis jika penilaianmu kepada semua orang di sini seperti itu. Buktinya aku memiliki nenek buyut yang sebangsa dengan Ibumu. Yah…, meskipun perjuangan cinta kakek dan nenek buyutku yang katakanlah tidak mudah karena terbentur perbedaan latar belakang keluarga, kekayaan yang dimiliki, suku dan bangsa serta penuh air mata, usaha dan permohonan doa kepada Sang Maha Kuasa yang tiada putusnya menunjukkan masih ada kekuatan yang lebih besar di atas manusia yang dapat mengatur segala hal yang dianggap tidak mungkin terjadi menjadi bisa terjadi.”


“Untuk kasus keluargamu, janganlah kau menyalahkan siapa-siapa terutama menyalahkan dirimu sendiri karena apa yang sudah terjadi merupakan takdir Yang Maha Kuasa yang harus diterima dengan hati ikhlas dan lapang dada. Karena jika Yang Maha Kuasa sudah berkehendak kita sebagai hamba-Nya tak bisa berbuat apa-apa,” Mansoor tersenyum tipis. “Belajarlah menerima kondisi yang ada saat ini dan berpikir bagaimana menjadi lebih baik ke depannya.”


Air mata Mundika yang sempat berhenti tiba-tiba kembali pecah karena mendengar petuah yang begitu bijak dari Mansoor. Ia merasakan perasaan cinta yang begitu besar dari tunangannya itu.

__ADS_1


“Mansoor…, kenapa kau begitu mencintaiku? Aku yang seperti ini apakah benar-benar pantas mendapatkan cintamu itu? Rasanya kau adalah sosok yang terlalu indah menjadi nyata untukku…”


“Mengapa kau berkata seperti itu?” Senyuman Mansoor semakin lebar. Ia mengangkat jari tangan kirinya dan mengusap air mata yang menetes di pipi Mundika. “Lihatlah segala sesuatunya dalam perspektif yang berbeda, maka kau akan menemukan sesuatu yang kau anggap terlalu indah untuk menjadi kenyataan dan ternyata hal itu pantas engkau dapatkan karena telah berjuang semaksimal mungkin untuk menjalani takdir hidupmu yang aku yakin tak semua orang dapat melewatinya.” Lelaki itu memberanikan diri menangkup pipi kemerahan Mundika dan menempelkan dahinya kepada gadis itu untuk menyalurkan kekuatan positif padanya. “Kehadiranmu pun awalnya aku anggap sesuatu yang terlalu indah untuk kudapat karena karaktermu sungguh berbeda dengan gadis-gadis lain yang selama ini kutemui. Aku yang terlalu biasa berdiri menjadi sosok yang dikenal sebagai salah satu anggota keluarga petinggi Dubai tentulah menarik banyak perhatian gadis-gadis tersebut yang tak hanya di kalangan keluarga besar, namun dari keluarga bangsawan di luar Dubai lainnya yang tentunya membuatku jengah dan menganggap semua perempuan adalah sama sehingga saat itu memutuskan untuk tak ingin menikah karena sudah ada kakak-kakak lelaki dan adik perempuanku yang telah memberikan mereka cucu. Hal yang tentu saja membuat kedua orang tuaku menghela napas panjang kecewa namun menghormati keputusanku itu. Tapi Yang Maha Kuasa ternyata punya rencana untuk mencairkan dinginnya hatiku dengan mempertemukanku denganmu yang langsung merebut perhatianku dan tak disangka bahwa kau adalah sosok anak gadis yang selama ini ada dalam benak Ayahku untuk dijadikan menantu karena ingin mempererat hubungan persahabatannya dengan Ayahmu yang tentu saja awalnya ditolak mentah-mentah oleh Ayahmu karena ingin kau mendapatkan sosok pasangan yang terbaik untuk anak gadis kesayangannya. Bagi Ayahmu, siapapun yang memiliki keberanian dan kesungguhan untuk menikahimu apapun latar belakangnya adalah hal paling utama berkaca dari sejarah hidupnya.”


Mundika sedikit terkejut dengan ucapan Mansoor barusan. Tak ia sangka ada hal yang selama ini luput dari pandangannya tentang kedua orang tuanya, terutama sang ayah.


“Namun aku berusaha meyakinkan Ayahmu untuk dapat diberikan kepercayaan penuh agar bisa berbahagia denganmu sehingga akhirnya beliau memberikan restunya untuk melepasmu dan menjadikanmu calon istriku dan tentu saja sebentar lagi manjadi istriku,” Mansoor yang tersadar dengan apa yang ia lakukannya karena teringat pesan dari dua sahabat sekaligus pengawalnya segera menarik diri dari sentuhan fisiknya kepada Mundika. “Sekarang lebih baik kau kuantarkan dan kupesankan sebuah kamar di hotel terdekat. Setidaknya kau punya tempat sementara jika saat ini kau tak ingin pulang sampai hatimu manjadi tenang.”


Mundika yang menyadari Mansoor menarik diri hanya bisa tersenyum tipis. Rupanya lelaki itu sadar bahwa sepasang lelaki dan perempuan yang belum terikat secara resmi harus menjaga sikapnya masing-masing guna menghindari fitnah.


“Iya…”


***

__ADS_1


__ADS_2