Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
28


__ADS_3

Tubuh Mundika bergetar seketika ketika sebuah penyataan yang sungguh pahit ia rasakan. Bibirnya kelu namun emosinya dapat tersampaikan melalui air matanya yang mengalir tanpa disadarinya di kedua pipinya.


“Aku…, aku tidak salah dengar kan Baba?” Hanya pertanyaan tersirat penegasan atas yang didengarnya barusan dari ayahnya benar adanya atau ia hanya salah dengar.


“Tidak anakku,” Dalmouk menggelengkan kepalanya dan menatap lurus kearah Mundika yang ia yakini sangat terluka mendengarkan apa yang diutarakannya. Ia sadar bahwa hal inilah yang ditakuti oleh Artika terdengar langsung oleh anak gadisnya itu karena kemungkinan mereka berdua, terutama dirinya akan menerima caci maki dari anak yang merasa selama ini menjadi pangkal permasalahan di keluarga mereka. “Malam itu Baba benar-benar memperkosa Ibumu yang tak sadarkan diri karena di bawah pengaruh obat perangsang berkali-kali dan berharap dirinya segera hamil sehingga rencana pernikahan Ibumu dan tunangannya batal.” Dalmouk berusaha menelan air ludahnya yang terasa berat dan menghimpit dadanya saat ini. Mengeluarkan pernyataan itu sama saja membiarkan bom waktu yang selama ini ia dan Artika berusaha cegah untuk meledak namun pada akhirnya mereka pasrah bahwa bom itu sudah waktunya meledak saat ini dan bersiap untuk menerima dampak dari hal tersebut.


Mundika yang tak tahan dengan gejolak emosi yang seakan mendorong isi perutnya menuju kerongkongan segera berlari menuju kamar mandi yang berada di ruang perawatan itu dan memuntahkan semuanya sambil terus menangis dalam diam menerima kenyataan yang terjadi. Kenyataan yang lebih mengerikan dari bayangannya yang terus mememuhi benaknya selama ini.


“Bu…,” Zayed yang tampak khawatir dengan kondisi Mundika, menatap Artika dan mengeratkan genggaman tangannya kepada ibunya itu. Pantas saja selama ini kakak perempuannya itu bersikeras untuk mengetahui semua cerita tentang dirinya yang seolah selalu menjadi pusat hinaan dan cacian dari keluarga besarnya. Jika dirinya yang diposisi kakaknya saat ini mungkin akan meresponnya dengan kata-kata kasar mendekati durhaka kepada seluruh anggota keluarga yang selama ini menghinanya meskipun kenyataan yang didengarnya saat ini sangatlah berbeda. Kedua orang tuanya hanyalah korban keegoisan dan rasa bangga nama keluarga sehingga harus berakhir seperti saat ini.


“Tidak apa-apa, Zayed, Kakakmu orang yang kuat,” Artika mengusap-usap lembut tangan anak lelakinya itu seraya menenangkan putra bungsunya itu. Kisah dirinya dan Dalmouk meskipun sedikit, ia yakin cukup mempengaruhi putranya itu. Namun laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda sehingga reaksi yang dirasakan Zayed tidaklah mengguncang dunianya.


“Kenapa…?” Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya dan meyakinkan diri untuk tetap mendengarkan cerita babanya sampai selesai, Mundika kembali duduk ditempatnya semula. “Kenapa Baba melakukan semua itu?”


“Karena cinta, Mundika,” Dalmouk tersenyum lembut kearah Mundika dan Artika. “Karena terlalu cinta kepada Ibumu sehingga tanpa sadar membalutnya dengan nafsu angkara dan hanya terpikirkan jalan itu tanpa menyadari bahwa kedua keluarga kami akan terluka. Baba akui ini salah Baba sendiri yang membuat semuanya semakin menjadi rumit.”


“Lantas bagaimana ceritanya pada akhirnya Baba tak jadi menceraikan Mama Latifa dan berakhir Ibu mengandung diriku dan menjadi istri kedua Baba?” Genggaman tangan Mundika mengerat berusaha agar emosinya tidak bergejolak seperti tadi.

__ADS_1


“Latifa dan adik Dalmouk yang bernama Raana mengalami kecelakaan parah di jalan raya ketika berusaha menyusul Dalmouk mengejar Artika ke Indonesia,” Hakeem yang tak tahan lagi akhirnya memilih ikut campur dalam drama keluarga ini. “Dalmouk yang sudah berhasil dengan rencana gilanya kepada Artika kemudian kembali ke Dubai untuk mengurus surat perceraian dirinya dan Latifa. Namun niat itu menjadi batal karena baru mengetahui kecelakaan maut tersebut yang membuat kondisi Latifa terluka parah dengan sayatan di perutnya sehingga rahimnya harus diangkat untuk selamanya dan hanya Majid yang menjadi penghubung antara dirinya dan Dalmouk serta Raana yang meninggal ditempat kejadian perkara.”


“Hakeem!” Dalmouk kembali protes karena Hakeem terlalu gamblang menceritakan kisah hidupnya kepada anak perempuannya yang ia tahu pasti sangat berhati halus.


“Maafkan aku Dalmouk karena harus ikut campur dalam penjelasanmu,” Bela Hakeem tanpa merasa bersalah. “Keyakinan Dalmouk untuk menceraikan Latifa kembali goyah melihat kondisi Latifa yang lemah tak berdaya ditambah tatapan Majid dan kedua anak perempuan yang ditinggalkan Raana.”


“Maksud Paman?”


“Maitha dan Haya bukanlah kakak kandungmu melainkan sepupumu yang harus diangkat anak oleh Dalmouk dan Latifa sebagai penebus rasa bersalah Latifa yang mengorbankan nyawa Raana demi memenuhi keinginannya agar tak diceraikan oleh Dalmouk dan dengan bodohnya Dalmouk menyetujui permintaan itu setelah melihat kondisi Latifa yang seperti mayat hidup karena kehilangan salah satu organ berharganya sebagai seorang wanita.”


“Mengapa kau mengatakan aku bodoh, Hakeem?!” Dalmouk tak terima pendapat sahabatnya itu. “Itu adalah satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk menenangkan seluruh anggota keluargaku pada saat itu!”


“Aku…,” Dalmouk tak dapat berkata apa-apa mendengar penyataan Hakeem yang benar adanya.


“Atau seharusnya kau pendam dalam-dalam perasaan cinta gilamu itu pada Artika dan membiarkan Artika bersama orang lain yang bisa membuatnya berada diposisi yang lebih terhormat dibandingkan saat ini!”


“Demi Allah aku tak akan rela jika hal itu terjadi, Hakeem!”

__ADS_1


“Kalau begitu kau harus menerima konsekuensi atas semua ini, Dalmouk! Anakmu itu sekarang tak hanya Mundika dan Zayed yang perlu kau perhatikan, namun juga Majid, Maitha, dan Haya! Mereka merasa kasih sayangmu terlalu berlebihan kepada Mundika dan Zayed sehingga jurang kebencian semakin curam tumbuh di hati mereka kepada Mundika dan Zayed. Jujur aku salut dengan Majid yang luar biasa lapang hatinya menjadi anak tertua dan tulus menyayangi Mundika dan Zayed yang aku yakin dia adalah anakmu yang paling terluka namun tak pernah ditunjukkan kepada kita semua…”


“Aku tahu itu Hakeem, aku tahu! Namun aku bisa apa untuk menyelesaikan semua ini?!”


“Urailah perlahan benang kusut hidupmu itu! Ajak bicara semua anggota keluargamu dan jelaskan kenyataan sebenarnya agar kalian semua bisa hidup tenang ke depannya terutama Maitha dan Haya! Masalah mereka tidak dapat menerima kenyataan yang ada adalah lain perkara, toh mereka sudah dewasa!”


Artika hanya menghela napas melihat kelakuan dua pria baya dihadapannya ini yang bak kucing dan anjing berdebat membahas masa lalu yang tak mungkin terulang dan dirubah lagi karena sudah menjadi bagian takdir hidupnya. Ia menoleh kearah Mundika sambil mengusap kepala anak gadisnya itu.


“Sekarang kau sudah mengetahui semuanya, Nduk,” Senyuman hangat yang tulus dari Artika cukup memberikan Mundika ketenangan dalam menghadapi kenyataan yang didengarnya dan menghentikan sejenak adu mulut antara Dalmouk dan Hakeem. “Dan apapun keputusan pandanganmu kepada kami berdua akan kami terima dengan lapang dada setelah semua yang kau alami dalam 25 tahun hidupmu…”


Mundika menundukkan kepalanya dan terdiam lama membuat suasana di kamar perawatan itu menjadi lengang bercampur ketegangan yang dirasakan Dalmouk dan Artika. Dalam hati mereka berdoa penuh pengharapan bahwa anak gadisnya itu tidak membenci mereka dan mau membukakan pintu maaf selebar-lebarnya atas dosa yang mereka berdua lakukan menjadi dirinya sebagai anak yang hadir dalam kondisi yang tidak membahagiakan dan penuh keputusasaan serta kekecewaan.


“Ibu lekas sembuh ya, sehingga kita bisa berkumpul lagi bersama,” Mundika tersenyum kearah Artika kemudian berlanjut kearah Dalmouk. “Baba juga, berusahalah bersikap adil kepada Mama Latifa, Kak Majid, Kak Maitha, dan Kak Haya. Untuk saat ini biarkan aku menenangkan diri dulu agar dapat berdamai dengan hatiku atas kenyataan semuanya.” Ia berdiri dan berjalan keluar ruangan tempat perawatan Artika. Langkah kakinya semakin cepat menuruni anak tangga menuju tempat parkiran dan masuk ke dalam mobil miliknya. Dinyalakan mobil tersebut dan dijalankannya menuju tempat yang selama ini dapat menenangkan hatinya.


Pantai Kite…


Sesampainya ditempat itu, Mundika turun dari mobil yang telah diparkirnya dan berlari menuju bibir pantai kemudian perlahan menenggelamkan tubuhnya ke dalam air laut tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Ia menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan segenap emosinya yang sejak tadi ia tahan di rumah sakit karena tak mau bersikap impulsif sehingga berteriak histeris kepada kedua orang tuanya yang tentu saja akan semakin melukai perasaan mereka yang sudah lama menyimpan rasa bersalah teramat dalam pada dirinya.

__ADS_1


“Gawat! Sheikh Mansoor harus mendengar kabar ini!” Salah satu pengawal tak kasat mata yang diutus Mansoor untuk mengawasi gerak-gerik Mundika segera melaporkan kepada tuannya atas apa yang dilihatnya.


***


__ADS_2