
Sementara itu, setelah mengantarkan Putra ke luar kafe, Jasmin langsung menuju lantai dua kamarnya.
Merebahkan badannya ke kasur single miliknya dan mulai berpikir.
"Mulai besok, setelah Putra ngasih dokumen Melati, aku akan mulai penyelidikannya. Tapi aku mau minta tolong pada siapa? Dan darimana aku mulainya?"
Jasmin pusing sendiri dibuatnya.
Terbersit satu nama,,
"Ellisa.., ya Ellisa pasti mau membantuku".
Pekik Jasmin dan langsung menyambar benda pipih itu dan mulai menghubunginya.
"Hallo Ell, kamu ada waktu gak?"
"Hallo Jas, ada apa?
"Aku mau kita ketemu, apa kamu bisa?"
"Kapan? Sekarang?"
"Besok aja Ell, aku mau cerita sesuatu".
"Oh,, Ok, mau ketemu dimana?
"Kamu dateng ke kafe aku aja ya, biar lebih privasi".
"Ok sip.."
"Ya udah, makasih ya Ell, aku tutup dulu.. Bye..".
Tanpa menunggu jawaban Ellisa, Jasmin langsung mematikan sambungan telponnya.
Dan mulai beranjak ke kamar mandi untuk mandi karena ternyata sudah malam.
Diseberang sana, Ellisa yang diputus telfonnya secara mendadak menggerutu tidak jelas.
"Kenapa nih anak,, apa begitu penting ya sampai ngajak ketemu? Besok aja deh langsung aku tanyain".
Keesokan paginya, sesuai janjinya, Putra membawa dokumen yang berisi tentang Melati, mulai dari biodata dan apapun yang ada hubungannya dengan Melati dibawa semua oleh Putra.
Ia mampir ke kafe dulu sebelum berangkat menuju ke perusahaan.
"Ini, sesuai yang aku janjikan".
Putra menyodorkan map agak besar kepada Jasmin.
"Terimakasih Put.."
"Sama-sama. Nanti kalo kamu kesulitan atau ada yang gak ngerti, kamu bisa tanya sama aku."
"Iya, terimakasih sekali lagi."
Putra gegas menuju ke perusahaan setelah mengantarkan dokumen milik Melati.
Jasmin juga segera meletakkan dokumen punya Melati di laci kamarnya.
Sementara ia menunggu sahabatnya datang, ia membuka map itu lalu membacanya dengan seksama.
Setelah selesai, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak percaya.
Bagaimana mungkin tanggal lahirnya pun sama.
__ADS_1
Dan ada sebuah tanda lahir di punggung pun sama.
Apakah kami kembar, pikir Jasmin.
Sebaiknya aku nunggu Ellisa bagaimana baiknya nanti.
Sesuai rencana juga, Jasmin dan Ellisa bertemu.
Ellisa datang ke kafe tepat jam 10.00 dan sudah ditunggu oleh Jasmin.
"Kafe mu ramai juga Jas, dan terasa nyaman. Cocok untuk tempat nongkrong anak-anak muda".
"Iya dong, siapa dulu yang punya".
Ellisa hanya manggut-manggut.
"Kita langsung ke lantai atas aja ya, ke kamar ku".
"Ok."
Jasmin dan Ellisa segera naik ke lantai atas.
Sesampainya di sana, Jasmin mempersilahkan Ellisa duduk di sofa sementara ia memesan minuman dan makanan ke dapur.
Setelah Jasmin membawa makanan dan minuman dari dapur, ia langsung mengunci pintu kamarnya agar tak ada yang bisa masuk atau mendengar obrolan mereka.
"Sebenernya apa yang mau kamu omongin sih Jas, sampai-sampai pintu kamar kamu kunci segala" Tanya Ellisa penasaran dengan apa yang dilakukan Jasmin.
Tanpa banyak kata, Jasmin langsung saja membuka laci lemarinya dan menyodorkan sebuah map kepada Ellisa.
"Ini apa Jas?"
"Kamu coba buka aja".
Setelah beberapa detik berlalu, Ellisa terlihat memelototkan matanya sambil membungkam mulutnya sendiri tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya ini.
"Ini,,, siapa Jas? Saudara kembar kamu? Kok aku gak pernah lihat? Setahu ku Kamu kan anak tunggal Jas.."
Ellisa langsung saja memberondong pertanyaan kepada Jasmin karena rasa penasarannya.
"Ihh,, satu-satu dong Ell nanyanya. Gimana aku mau jawab coba". Jasmin menggerutu.
Ellisa hanya memutar bola matanya malas.
"Buruan cerita sebelum sahabatmu ini mati karena penasaran"! Tegas Ellisa.
Jasmin menghela nafas berat sebelum memulai ceritanya.
"Jadi gini, beberapa waktu yang lalu, aku sama Bobby pergi ke taman. Nah, pas Bobby lagi beli es krim ke kedai, tiba-tiba ada anak kecil yang manggil-manggil aku mama. Ya aku kaget dong, setelah aku tanya mama si bocah pergi kemana, dia jawab kata ayahnya mama udah pergi ke surga. Aku juga heran dong, kenapa tuh si bocah manggil aku mama?.
Selang beberapa menit kemudian, tuh ayahnya si bocah nyamperin, dia reflek meluk aku tau gak Ell.
Aku syok banget waktu itu, kata dia kenapa aku gak pakek hijab, syukurlah kita bertemu lagi gitu.
Aku bingung banget waktu itu.
Untung aja Bobby segera nyamperin dan ngasih tau tuh ke ayahnya si bocah kalau aku pacarnya.
Dia kelihatan syok banget."
"Jadi tuh ayahnya si bocil ngira kalo kamu itu istrinya gitu ya?"
Jasmin mengangguk.
__ADS_1
"Iya, makanya tuh si bocah kira-kira juga ngira kalo aku tuh mamanya ".
"Kasian banget tuh bocil".
"Namanya Fadhil Ell,,".
"Terus kamu dapet dokumen itu dari mana?"
"Jadi sebenernya ayahnya Fadhil itu bekerja di perusahaan Papa, lebih tepatnya sopirnya Papa. Aku tau dia diem-diem ngawasin aku dari jauh di depan kafe ini. Kemarin aku pergokin dia kenapa ngawasin aku katanya dia hanya rindu dengan sosok istrinya, Melati. Nah, maka dari itu aku pinjem datanya Melati dari dia. Untung aja dia kasih. Aku bilangnya sih mau lebih tau aja tentang Melati kenapa dia mirip sekali denganku."
"Oh,, jadi ceritanya sekarang kamu mau selidikin tuh si Melati?"
"Iya Ell, bantuin aku ya. Aku gak tau mau minta bantuan ma siapa lagi."
"Kenapa kamu gak coba tanya aja ma kedua orang tua kamu Jas, mungkin mereka tau."
"Aku gak mungkin cerita ini ke mereka Ell. Kamu kan tau sendiri kalo aku anak tunggal, nanti mereka kira aku gak percaya sama mereka".
"Oke oke, sekarang hal pertama yang mau kamu lakuin apa Jas?"
Jasmin menggeleng pasrah.
"Aku belum tau Ell".
"Kamu cari tau dulu dari orang yang terdekat Melati. Suaminya, anaknya atau ibunya dulu."
"Kalau Putra dah gak mungkin Ell, soalnya kemarin aku dah tanya sama dia".
"Ya sudah, kalau gitu kamu cari anaknya atau gak malah sama ibunya Melati langsung."
Ellisa memberi saran.
"Oke, kalo gitu besok aku datengin aja ke sekolahnya Fadhil atau langsung ke rumah ya Ell enaknya?"
"Kamu jemput ke sekolah, terus kamu anterin dia pulang. Gimana?"
"Oke, bagus juga ide kamu".
Tiba-tiba terdengar suara hp berdering milik Jasmin yang ternyata dari sang kekasih.
Jasmin lekas mengangkat panggilan tersebut dan menempelkannya di telinga.
"Iya Mas, ada apa?"
"......"
"Aku di rumah Mas, sama Ellisa tadi dateng kesini".
"....."
"Oh, oke aku tunggu. Bye..."
Jasmin mematikan sambungan telfonnya.
"Cie cie,, yang mau di apelin sama tunangannya.Jomblo mah lewat.."
Jasmin tersenyum malu-malu.
"Apaan sih kamu, makanya nyari jodoh, jangan nyari duit aja taunya."
"Ah, elah, kamu kan tau sendiri gimana perjuangan aku selama ini biar bisa seperti sekarang Jas".
"Iya iya, udah ah, sekarang mending kita ke bawah, nungguin mamasku.
__ADS_1
Jasmin segera membereskan dokumen-dokumen milik Melati dan kembali di masukkan ke laci agar tidak ada yang mengetahuinya.