Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Menjemput Sekolah


__ADS_3

"Begini pak Putra, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada pak Putra".


Deg...


Jantung Putra seperti dihantam batu besar. Mungkinkah Tuan Bobby tau aku diam-diam mengawasi nona Jasmin. Pikir Putra.


"Ada apa ya Tuan?" Tanya Putra.


"Begini, Jasmin katanya merindukan anak pak Putra. Dia ingin sekali bertemu dengan Fadhil. Apa pak Putra mengizinkan?"


Batu besar yang tadi sempat menghantam dada Putra tiba-tiba hilang, setelah mendengar penjelasan Bobby.


"Ap,, apa Tuan? Boleh sekali Tuan. Pasti Fadhil senang sekali jika bertemu dengan nona Jasmin. Apalagi Tuan tahu sendiri kalo Fadhil mengira nona Jasmin adalah mamanya." Terang Putra.


"Baiklah pak Putra, kalau begitu besok biar Jasmin yang menjemput ke sekolah Fadhil setelah itu biar dia juga yang mengantar Fadhil pulang."


"Iya Tuan, nanti saya bilang sama Fadhil."


"Tidak usah memberi tahu Fadhil dulu pak Putra, pak Putra bilang saja kepada yang biasanya menjemput Fadhil ke sekolah, bilang kalo Fadhil sudah ada yang jemput. Biar jadi kejutan untuk Fadhil."


"Oh begitu Tuan, baiklah kalo gitu. Nanti biar saya bilang sama ibu mertua saya. Biasanya beliau yang menjemput Fadhil ke sekolah."


"Iya, terimakasih pak Putra atas waktunya dan sudah memberikan Jasmin ijin untuk bertemu dengan Fadhil. Anda boleh kembali bekerja."


"Iya Tuan, sama-sama. Kalo begitu saya permisi dulu." Putra menganggukkan kepalanya lalu bergegas keluar dari ruangan Bobby, setelah memberikan alamat sekolah Fadhil dan alamat rumahnya.


Setelah benar-benar keluar dari ruangan, Putra mengelus dadanya lega. Ia tersenyum membayangkan nanti Fadhil pasti sangat senang bertemu dengan Jasmin yang dianggap mamanya itu.


*****


Malam hari di kediaman Putra.


"Bu, besok ibu gak usah jemput Fadhil ya, karena temen Putra mau sekalian jemput Fadhil dan mau antar pulang." Putra menjelaskan kepada sang mertua.


"Teman? Teman siapa Nak? Laki-laki apa perempuan?" Tanya Bu Rossa sambil bercanda .


"Perempuan bu. Itu cuma teman saja bu, ibu tidak usah mikir yang tidak-tidak." Jawab Putra kikuk.


"Emangnya kenapa kalo ibu mikir yang tidak-tidak? Kamu itu harus melanjutkan hidupmu Putra. Jangan kamu terus bersedih karena kehilangan Melati. Fadhil butuh seorang pengganti ibunya Nak." Bu Rossa menasehati Putra.

__ADS_1


"Tidak bu, belum sekarang. Mungkin nanti . Atau entah kapan. Karena terlalu banyak kenangan yang kami lewati. Tidak mudah untuk menghapusnya. Walaupun Melati telah tiada, namun ia memiliki tempat tersendiri di hati Putra Bu." Jelas Putra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Bagaimana yang terbaik nya. Tapi ingat, Fadhil masih kecil, dan masih butuh seorang ibu. Ibu masuk ke dalam dulu."


Yang dibalas anggukan oleh Putra. Bu Rossa segera meninggalkan Putra di ruang tamu.


Sementara Putra masih tetap tinggal sambil melamun kan entah apa.


Di waktu yang bersamaan. Bobby menelpon sang kekasih memberitahukan perihal besok yang akan menemui Fadhil di sekolah.


"Hallo Sayang..."


"Iya Mas,."


"Tadi Mas sudah bertemu dengan pak Putra, dia bilang dia mengijinkan kamu bertemu dengan Fadhil. Mas juga sudah bilang kalo kamu mau antar sampai rumah." Bobby menjelaskan


"Iya Mas, terimakasih ya."


"Sama-sama Sayang. Nanti untuk alamat sekolahnya Mas kirim ke hp kamu aja ya. Besok jam 10 Mas kirim sopirnya untuk jemput kamu."


"Iya Mas, sekali lagi terimakasih banyak ya Mas." Jawab Jasmin girang.


"Iya-iya, ya udah sekarang kamu istirahat. Nih Mas juga mau mandi dulu habis itu mau tidur, capek."


"Pasti Sayang, Mas tutup ya telponnya."


"Iya Mas."


Tut..tut..tut...


Sambungan telpon terputus. Jasmin senang bukan main.


"Akhirnya, aku punya kesempatan untuk menyelidiki tentang Melati. Ya Alloh mudahkanlah. Karena aku sangat yakin kalau Melati memang ada hubungannya dengan ku." Gumam Jasmin.


Klunting... bunyi notifikasi hp Jasmin berdering pertanda ada pesan masuk. Ia segera membukanya. Ternyata dari sang kekasih yang mengirimkan alamat sekolah dan alamat rumah Fadhil.


Setelah membalasnya, Ia kemudian langsung merebahkan diri di kasur dan mulai memejamkan matanya sambil tersenyum.


Keesokan paginya, seperti biasa Putra berangkat kerja sambil mengantar anaknya ke sekolah. Ia mengantar sampai depan pintu gerbang sekolah.

__ADS_1


"Belajar yang rajin boy dan jangan nakal ya".


"Siap Ayah".


Fadhil lantas mencium tangan Putra dan bergegas masuk ke dalam sekolah. Kamu nanti pasti senang boy, dijemput oleh mamamu. Gumam Putra sambil tersenyum. Putra kemudian melajukan motornya menuju ke perusahaan.


Sementara itu, Jasmin pagi ini sudah bersiap dari Subuh. Memasak aneka makanan untuk nanti diberikan kepada Fadhil. Semoga Fadhil suka. Jasmin menyiapkan sambil tersenyum senang.


Setelah dirasa semua beres, ia gegas mandi untuk bersiap-siap. Tepat jam 10, sang supir yang diperintahkan oleh Bobby, terlihat memasuki pelataran kafe. Jasmin langsung saja pergi keluar dan menghampiri mobil. Tanpa basa-basi, Jasmin langsung saja menyuruh untuk langsung berangkat saja.


"Kita langsung berangkat ke sekolah A ya pak".


"Iya Non." Pak supir membungkuk hormat kemudian membukakan pintu belakang mobil.


Mobil melaju menuju ke sekolah Fadhil. Sekitar 45 menit, mobil yang ditumpangi Jasmin telah sampai di depan gerbang sekolah Fadhil. Jasmin keluar dari mobil, lalu menuju pos satpam sekolah.


"Permisi pak, anak-anak pulang sekolah jam berapa ya?"


Pak satpam memandang curiga Jasmin dari atas sampai bawah, belum pernah melihat orang tua murid ini.


"Maaf nona, anda mencari siapa ya?"


"Ah,, saya mau menjemput Fadhil pak".


"Fadhil? Bukankah biasanya yang menjemput neneknya ya? Maaf, anda siapanya Fadhil nona?" Tanya pak satpam seperti menginterogasi.


Jasmin lantas bingung menjawab pertanyaan itu. Aduh, bagaimana ini? Gumam Jasmin sedikit resah.


"Eng,, sa.. saya mamanya Fadhil pak." Jawab Jasmin asal karena hanya itu yang terlintas di benaknya.


"Oh,, mamanya Fadhil? Maaf nona, saya hanya mematuhi prosedur sekolah ini. Jika yang menjemput bukan orang yang seperti biasa menjemput, wajib patut di waspadai."


"Iya pak, tidak apa-apa. Justru seperti itu yang membuat para orang tua tidak lagi khawatir." Timpal Jasmin.


"Sekali lagi, saya mohon maaf nona. Sebentar lagi anak-anak sudah waktunya keluar kelas". Sambil melirik jam di pos jaga satpam, pak satpam itu memberi tahu.


"Nona tunggu saja di bangku tunggu".


"Ah,, ya pak, terimakasih." Pak satpam itupun mengangguk. Kemudian Jasmin melangkah mendekat ke arah gerbang pintu masuk sambil menatap ke dalam.

__ADS_1


Baru beberapa saat menunggu, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas termasuk Fadhil. Jasmin yang tahu Fadhil sudah keluar lantas tersenyum ke arahnya. Fadhil pun sama melihat sang mama menjemput langsung berlari ke arah Jasmin dan berteriak senang.


"Mamaa...!"


__ADS_2