
"Aaaaa...." Terdengar teriakan dari salah satu kamar di rumah utama Tuan Darwin. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, terlihat ngos-ngosan dan keluar keringat sebesar sebiji-biji jagung menetes di wajah. Sang suami yang mendengar teriakan dari sebelahnya kaget dan langsung terbangun.
"Ada apa ma? Mimpi buruk lagi?" Tanya Darwin yang hanya di angguki oleh Issa. Beberapa minggu terakhir ini memang Issa sering bermimpi buruk.
"Ini minum dulu ma". Darwin menyodorkan segelas air putih dan langsung segera di minum hingga tandas.
"Sekarang mama tidur lagi. Ini masih tengah malam." Darwin lantas menyelimuti Issa sampai sebatas leher. Issa kemudian memejamkan matanya lagi. Darwin juga ikut berbaring dan masuk ke selimut yang sama kemudian memeluk Issa setelah mengecup keningnya sebentar.
...****************...
Pagi hari ini, Jasmin berencana pergi ke rumah sakit untuk menanyakan tentang foto yang ia temukan kemarin di ruang perpustakaan di rumah orang tuanya. Ia berencana mengajak Ellisa untuk menemani. Tapi karena Ellisa sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda, maka akhirnya Jasmin pergi sendiri ke rumah sakit. Ia tidak menyuruh tunangannya untuk mengantar karena ia takut ketahuan. Dengan terpaksa ia memesan taksi online untuk ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, ia segera mendaftar ke bagian dokter kandungan. Untung pagi ini Jasmin datang lebih awal, kalau tidak maka ia pasti tidak kebagian antrian. Berangkat awal saja, ia sudah mendapatkan nomor antrian ke dua puluh karena sudah banyak orang yang mendaftar melalui online. Ia lalu menunggu di kursi tunggu depan ruangan dokter kandungan.
"Nyonya Jasmin Putri". Teriakan salah satu perawat memanggil antrian Jasmin. Jasmin segera beranjak dari kursi dan segera masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam, ia langsung di perintahkan untuk duduk.
"Selamat siang Nyonya Jasmin, ada keluhan apa?" Tanya sang dokter pada Jasmin.
"Siang dokter, maaf sebelumnya dok, saya hanya mau menanyakan ini." Jasmin menyodorkan foto yang di temukan nya.
"Saya mau tanya, apakah itu foto hasil USG? Dan apa keterangan yang di dapat dari foto tersebut dok?" Tanya Jasmin tanpa basa-basi. Sang dokter terlihat mengernyitkan dahinya. Ia pandangi Jasmin dari atas sampai bawah, tidak ada tanda-tanda kehamilan dari wanita di hadapannya ini. Terus, ini foto hasil USG nya siapa? Pikir dokter itu dalam hati.
"Foto ini bukan milik nyonya Jasmin?" Tanya sang dokter.
__ADS_1
"Bukan dok, tapi itu milik mama saya" Jawab Jasmin tanpa ragu.
"Oh,, saya kira ini foto hasil USG anda, nyonya. Pantas, saya bingung kenapa nyonya menanyakan ini pada saya kalau foto ini milik nyonya". Ucap sang dokter sambil terkekeh pelan. Jasmin juga ikut tersenyum kikuk.
"Jadi gimana dok"? Tanya Jasmin tidak sabaran.
"Iya nyonya, ini foto hasil USG. Di perkirakan foto ini sudah foto lama ya, karena terlihat sudah buram." Jasmin mengangguk membenarkan.
"Dari yang saya lihat di foto ini, terdapat dua kantung. Itu berarti hasil USG nya terdapat dua bayi kembar nyonya." Terang sang dokter. Jasmin seketika terperanjat kaget.
"Ja..jadi itu artinya ada dua bayi kembar dok?" Tanya Jasmin sekali lagi.
"Iya nyonya." Jawab si dokter. Jasmin segera menormalkan mimik wajahnya yang sempat terkejut. Dan segera pamit undur diri setelah tidak ada lagi yang ingin di tanyakan pada dokter kandungan tersebut.
"Terimakasih dokter atas waktunya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Pamit Jasmin. Ia segera keluar dari ruangan setelah sempat bersalaman dengan sang dokter.
Disaat itu, ia tersentak akibat suara dering ponsel yang mengagetkannya. Ia mengambilnya di dalam tas dan segera mengangkatnya yang ternyata dari sang tunangan.
"Hallo sayang, kamu lagi dimana? Mas di kafe sekarang dan kamu gak ada. Kata karyawan kamu, kamu pergi dari pagi dan belum pulang". Bobby memberondong Jasmin dengan pertanyaan karena ia mengkhawatirkan tunangannya yang pergi dari pagi.
"Hallo mas, aku lagi di rumah sakit. Aku..."
"Kamu kenapa di rumah sakit sayang? Kamu sakit?" Belum sempat Jasmin menyelesaikan kalimatnya, sudah di potong oleh Bobby dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Bukan mas, makanya dengerin aku ngomong dulu. Jangan asal sahut aja. Aku di rumah sakit karena jenguk temen yang lagi sakit mas." Jawab Jasmin menutupi yang sebenarnya. Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana.
"Ya sudah, mas lega dengernya. Udah mau pulang belum? Mas jemput ya?" Bobby menawarkan.
"Udah mas, ini aku lagi di koridor rumah sakit." Jawab Jasmin.
"Kamu tunggu di situ sebentar, biar Mas jemput kamu. Jangan kemana-mana." Perintah Bobby.
"Tapi..." Belum sempat Jasmin menjawabnya, sudah di matikan secara sepihak oleh Bobby. Jasmin menghela nafasnya berat. Ia memutuskan menunggu Bobby di depan rumah sakit saja. Setelah beberapa menit menunggu, mobil yang di kendarai Bobby terlihat menghampiri Jasmin. Mobil berhenti, Bobby lantas segera membukakan pintu untuk Jasmin. Setelah semua masuk mobil, Bobby langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kafe.
"Siapa yang sakit sayang?" Tanya Bobby memecah keheningan.
"Temen aku mas, temen arisan." Bohongnya.
"Oh, emang sakit apa?" Tanya Bobby lagi.
"Dia sakit... dia baru melahirkan mas, iya melahirkan" Jawab Jasmin tergagap sambil tersenyum paksa. Bobby hanya menanggapi dengan anggukan saja.
Setelah sampai di pelataran kafe, mereka berdua segera turun dan masuk ke dalam kafe.
"Mbak, tolong siapin makan malam ya. Nanti antar ke kamar atas saja." Perintah Jasmin pada salah satu karyawannya.
"Iya mbak Jas". Jawabnya. Jasmin mengangguk dan langsung menyusul Bobby yang telah pergi duluan ke atas.
__ADS_1
"Mas mandi dulu aja di kamar sebelah. Nanti makan malamnya di sini aja. Udah aku suruh mbak-mbak anter ke sini." Perintah Jasmin pada Bobby. Bobby hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar di sebelah kamar Jasmin untuk mandi. Sementara Jasmin juga terlihat memasuki kamar mandinya.
Setelah Bobby selesai mandi dan berganti pakaian yang memang sengaja di simpan di kamar ini, ia memasuki kamar Jasmin. Sudah tersedia berbagai hidangan makan malam di atas meja. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, berarti Jasmin belum selesai mandinya. Pikir Bobby. Ia menanti Jasmin mandi sambil merebahkan badannya di sofa bed dan tak terasa ia malah tertidur.