
Di dalam perjalanan, Bobby dan Tuan Darwin.
"Kamu tau tentang kedekatan mereka?" Tanya Tuan Darwin tanpa menoleh ke arah Bobby.
"Iya Om, saya tau. Jasmin juga sudah minta ijin ke saya Om". Bobby menjelaskan agar Jasmin terhindar dari kemarahan papanya.
"Kenapa kamu biarkan saja Bob? Bukan maksud Om tidak percaya sama putri om sendiri, dan om tidak masalah Jasmin mau berteman dengan siapa saja, tapi dia itu calon tunangan kamu. Kalau ada yang salah paham tentang kedekatan mereka, apa yang akan kamu lakukan." Tuan Darwin menasehati Bobby panjang lebar.
"Iya om, saya mengerti. Tapi saya percaya sama Jasmin. Dia sudah dewasa om, pasti dia tau mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya." Jawab Bobby tersenyum sambil menatap ke arah Tuan Darwin. Walaupun bagaimanapun saat ini hatinya terasa nyeri, tapi ia tidak mau Tuan Darwin berpikir macam-macam tentang putrinya itu.
"Ya sudah, terserah kamu saja". Pasrah Tuan Darwin kemudian.
Setelah mengatakan itu, keduanya diam dan hanyut dalam keheningan sampai mereka tiba ke restoran yang mereka tuju.
Sementara itu, Putra yang di beri tugas untuk mengantar Jasmin segera saja setelah makan siang selesai, ia langsung mengantarkan Jasmin pulang ke rumahnya.
"Mampir dulu mas." Ajak Jasmin.
"Tidak usah Jas, nanti di cariin bapak." Tolak Putra halus.
"Kan tadi papa sedang bertemu klien mas. Ayolah, ngopi sebentar saja." Bujuk Jasmin.
"Ya sudah, tapi sebentar saja ya." Ucap Putra pasrah tidak bisa menolak.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kafe dan duduk di pojokan dekat jendela yang mengarah ke jalan.
"Mbak, tolong bikinin kopi ya, dan bawain camilannya juga". Perintah Jasmin pada seorang pekerja kafe yang kebetulan lewat.
"Baik mbak Jas."
"Kemarin pas kamu pulang dari rumah, Fadhil nyariin kamu. Katanya kenapa kamu gak tidur di sana." Ucap Putra mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Oh ya? Terus gimana mas? Apa dia nangis?" Tanya Jasmin dengan nada sedikit khawatir.
"Dia gak nangis, cuma ngambek aja. Langsung masuk ke kamar dan kunci pintu". Putra mengingat kejadian itu sambil terkekeh pelan. Jasmin yang baru pertama kali melihat Putra tersenyum, langsung terpana melihat ketampanan Putra. Karena biasanya laki-laki tersebut hanya memasang ekspresi serius.
Pelayan datang membawakan pesanan Jasmin.
"Di minum mas kopinya dan kue ini aku loh yang buat. Silahkan di cicipi. Kami menerima kritik dan sarannya yang membangun." Ucap Jasmin sambil tersenyum. Putra reflek mengacak-acak rambut Jasmin karena gemas. Tersadar, Putra langsung saja menjauhkan tangannya dari kepala Jasmin.
"Maaf, aku tidak sengaja Jas". Putra tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa mas". Jasmin membalas tersenyum.
Lama mereka mengobrol, sampai lupa kalau Putra harus bekerja. Tak tau jikalau sedari tadi ada yang memperhatikan interaksi keduanya dari jauh dengan hati yang sudah panas dingin.
Ya, Bobby setelah bertemu klien langsung saja menuju ke kafe Jasmin ingin memastikan wanitanya telah pulang ke rumah atau belum. Untung saja klien tadi langsung menyetujui kerja sama antara perusahaanya. Jadi meeting tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah sampai di depan kafe malah disuguhkan dengan pemandangan yang membuat sakit mata.
Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Putra sayang. Apa kamu tidak bisa sedikit saja memberikan cintamu padaku? Selama ini aku sudah cukup bersabar menantimu. Gumam Bobby sambil terus melihat kearah di tempat dimana Jasmin dan Putra berada.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Bobby setelah panggilannya di angkat.
"Sudah Mas, dari tadi waktu mas berangkat sama papa aku juga langsung pulang kok"! Berarti sudah sejak tadi mereka bersama.
"Ya udah kalo gitu. Sekarang kamu lagi apa?" Tanya Bobby memastikan sesuatu.
"Aku? Aku lagi duduk di depan mas, sambil lihatin pembeli yang datang". Jawab Jasmin berbohong. Padahal jelas-jelas sedang bersama pria lain.
"Oh,,gitu. Yasudah kalo gitu mas lanjut kerja lagi ya". Bobby mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Jasmin. Ternyata kamu lebih memilih berbohong sayang dari pada jujur sama aku. Monolog Bobby. Bobby memejamkan matanya dan kepalanya ia sandarkan pada setir mobilnya. Sesaat rasa perih di hatinya kembali mendera. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan kafe.
Di seberang, Jasmin yang sudah mau membuka mulutnya untuk menjawab sang kekasih, tiba-tiba bibirnya terkatup lagi karena Bobby langsung mematikan sambungan telponnya.
"Kok tiba-tiba di matiin sih. Aneh banget deh kamu mas". Gerutu Jasmin.
__ADS_1
"Siapa yang aneh Jas?" Tanya Putra penasaran.
"Ini nih, mas Bobby tiba-tiba aja mutusin telponnya". Seketika Putra terperanjat kaget. Ia lupa kalau ini masih jam kerja, dan ia malah enak-enak mengobrol dengan putri majikannya. Astaga.
"Astaghfirulloh,, udah jam berapa sekarang?" Ucap Putra sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Kenapa mas? Kok buru-buru gitu?" Tanya Jasmin penasaran karena Putra terlihat buru-buru akan meninggalkannya.
"Kita sudah kelamaan ngobrolnya Jas. Padahal ini masih jam kerja. Aku harus segera kembali ke perusahaan." Terang Putra.
"Oh, aku kira ada apa mas. Tenang aja, papa sama mas Bobby pasti masih meeting". Jawab Jasmin menenangkan.
"Iya, tapi aku harus segera kembali. Kapan-kapan kalau ada waktu, kita bisa ngobrol lagi." Ucap Putra sambil tersenyum.
"Pasti mas. Ya udah, hati-hati . Salam untuk Fadhil ya mas." Putra hanya mengangguk kemudian bergegas meninggalkan kafe menuju ke perusahaan.
Sesampainya di perusahaan, setelah memarkirkan mobilnya, Putra sudah di tunggu oleh sesama rekan kerjanya.
"Put, loe di cari Tuan Bobby. Ada apa lagi sih loe di panggil terus sama beliau? Loe buat masalah apa lagi kali ini?" Putra yang baru keluar dari mobil langsung mendapat berondongan pertanyaan dari rekan kerjanya. Ia hanya bisa mengendikkan bahunya tanda tak tau. Rekan kerja Putra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Putra.
Putra segera naik ke atas ruangan Bobby. Setelah sampai, ia langsung mengetuk pintu. Setelah di persilahkan masuk, baru ia masuk ke dalam. Di sana ia langsung disuruh duduk di sofa. Bobby pun sudah duduk sedari tadi karena memang sedang menunggu orang yang kini ada dihadapannya.
"Ada apa ya Tuan memanggil saya.?" Tanya Putra langsung yang di balas senyuman oleh Bobby.
"Begini pak Putra, saya mau bertanya sesuatu. Tapi ini bukan masalah pekerjaan, melainkan....". Bobby sengaja menjeda kalimatnya.
"Apa Tuan?" Sela Putra karena Bobby terlihat masih enggan untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa Pak Putra menyukai kekasih saya?
Deg...
__ADS_1