
Kakek tersebut memandang ke benda pipih yang dipegang Putra, sekilas melihat ke arah Putra dan sekilas memandang ke arah foto. Dalam hati kakek tersebut bingung, bukankah anak yang didalam foto itu sudah bersama kedua orang tuanya? Ya, tadi kakek itu melihat anak yang didalam foto sudah bersama kedua orang tuanya. Yang mungkin kakek itu melihat Fadhil bersama Bobby dan Jasmin, sehingga menganggap anak itu adalah anak mereka. Dan disini kok ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya. Pikir Kakek tua itu. Dan Kakek tua itu berpikir bahwa lelaki dihadapannya ini adalah seorang penipu yang mungkin sedang mengincar anak-anak untuk kemudian dijual atau diperbudak menjadi pengemis jalanan. Oh jangan sampai itu terjadi. Kakek tua itu bergidik ngeri sendiri.
Sementara itu, Putra seolah kebingungan mengapa kakek tua ini termenung dan bergidik setelah Putra menunjukkan foto anaknya. "Kek Kakek, apa Kakek tau anak saya ada dimana?" Tanya Putra kembali membuyarkan lamunan sang Kakek tua. " Tidak, aku tidak mengetahuinya!" Jawab Kakek tua tegas membuat Putra sedikit terperanjat kaget karena ucapan keras sang Kakek tua. Lalu Kakek tua itupun bergegas pergi setelah menjawab pertanyaan Putra. Putra kembali termenung, "Dimana ayah harus menemukanmu nak?" Batin Putra putus asa. "Mas mas, tadi saya tau ada anak-anak kecil yang memanggil-manggil mamanya ke arah sana mas." Seorang ibu-ibu menghampiri Putra membuyarkan lamunan putra. "Ap.. apa bu?" Putra terkesiap kaget. "Tadi ada anak kecil umur 5 tahunan berlari-lari manggil mamanya kearah sana mas." Ulang ibu-ibu tersebut sambil menunjuk ke arah utara. Putra langsung saja menunjukkan foto dalam benda pipih itu. "Apa anak ini bu?" Tanya Putra. "Iya mas bener anak ini, coba saja kearah sana tadi dia berlari kearah sana mas." Putra tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Dan langsung saja berlari secepat kilat menuju kearah yang disebutkan ibu-ibu tadi setelah mengucapkan terimakasih.
Sementara itu, Jasmin yang sedang memeluk Fadhil perlahan-lahan menguraikan pelukannya. Dan berniat bertanya pada anak tersebut kemana ibunya sebenarnya pergi. "Sayang, emangnya mama Fadhil kemana nak? Apa ayah pernah cerita ke Fadhil kemana mama pergi?" Fadhil saat itu juga menatap Bobby dan Jasmin bergantian, seolah ragu apa yang nanti akan Fadhil ceritakan. "Jangan takut sayang, Om dan Tante bukan orang jahat kok, nanti kalo kamu cerita mungkin Om dan Tante bisa bantu kamu mencari mama kamu". Jasmin pun menganggukkan kepala seraya mengusap lembut rambut Fadhil. "Kata ayah, mama pergi ke surga Om, karena Alloh lebih sayang mama, jadi mama dipanggil duluan".
Bobby dan Jasmin terkejut bersamaan dan saling pandang. Tidak menyangka bahwa ibu dari anak itu telah meninggal, tapi kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan mama? Apa sebegitu miripnya dirinya dengan ibu si bocah? Atau karena saking rindunya si bocah dengan ibunya maka menganggap orang lain seakan-akan ibunya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Jasmin. "Tapi Fadhil senang sekarang karena telah menemukan mama disini, jangan pernah pergi lagi ya ma.." Pinta Fadhil dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jasmin kemudian menatap Bobby, meminta petunjuk apa yang sekarang harus dirinya lakukan melalui isyarat bibir.
"Yasudah sayang, sekarang dengerin Om ya, kalo Fadhil mau manggil Tante Jasmin dengan sebutan mama, berarti Fadhil harus janji mau nurut apapun perkataan mama ya Fadhil."
__ADS_1
"Bobby, kamu apa-apa an sih?" Belum selesai Bobby berbicara dengan Fadhil, tiba-tiba Jasmin menyela ucapannya karena ucapan sang kekasih yang terdengar konyol. Apa, dipanggil mama? Tidak, tidak, tidak, apa Bobby mau menjadikan anak itu tergantung padanya? Tidak!!. "Apa yang kamu lakukan Bob? Apa kamu mau anak ini menjadi ketergantungan padaku nantinya? Gimana nanti kalo aku diajak pulang kerumahnya, atau dia mau pulang bersamaku? Jangan asal bicara dong Bob, gimana sih!" Cecar Jasmin kepada Bobby sambil berbisik dan masih memberikan ekspresi senyum ke arah sang bocah.
"Maka dari itu sayang, aku mau dia nurutin perkataanmu supaya kembali ke ayahnya. Kalau nanti dia bisa berjanji kan dia gak bakal gangguin kamu". Apa yang dibilang Bobby memang ada benarnya, kalau si bocah menuruti kata-katanya kan dia bisa menyuruh pulang kerumah ayahnya.
"Yasudah, terserah kamu!" Pasrah Jasmin sambil memijat keningnya yang tiba-tiba pusing memikirkan si bocah ini.
Bobby pun menyuruh Jasmin untuk berbicara kepada Fadhil agar mau diantarkan pulang kerumahnya. "Sekarang giliran kamu yang membujuk dia supaya mau pulang kerumahnya. Dia sudah berjanji mau menuruti kamu kan?" Paksa Bobby. Walaupun sedikit ragu dan terpaksa, Jasmin menuruti perkataan Bobby dan membujuk si bocah. Sambil duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Fadhil, Jasmin berkata dengan lembut. "Sayang, sekarang Fadhil pulang dulu ya, nanti Tante sama Om anter sampai rumah ya. Apa Fadhil masih ingat rumah Fadhil dimana??"
Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya, Fadhil mengingat-ingat alamat rumahnya, terlihat berfikir keras tapi belum ada tanda-tanda bocah itu menunjukkan rumahnya.
__ADS_1
Bunyi ponsel terdengar nyaring membuyarkan konsentrasi si bocah mengingat-ingat alamat rumahnya. "Sayang, aku angkat telfon dulu ya, ini dari client." Jasmin menganggukkan kepalanya dan Bobby langsung pergi meninggalkan Jasmin dan bocah itu sambil mengarahkan benda pipih itu ke telinga.
Ya, Bobby adalah seorang CEO di perusahaan papanya Jasmin dimana Putra bekerja. Bobby dulunya adalah karyawan biasa, tapi karena kegigihannya dan kecerdasannya dia bisa naik ke posisi ini. Karena memang papanya Jasmin menyukai kinerja dari Bobby dan tidak pernah mengecewakannya. Makanya, papa Jasmin memercayakan perusahaan pada Bobby sekaligus memercayakan anaknya kepada Bobby.
Sementara Bobby mengangkat telfon, Fadhil masih bersama Jasmin. "Fadhil gak ingat rumah Fadhil ma, aku mau bersama mama aja, gak mau pisah lagi sama mama ". Rengek Fadhil sambil terisak dan air mata yang sudah mengucur.
Karena tidak tega akhirnya Jasmin membawa Fadhil ke pelukannya sambil menepuk-nepuk punggung Fadhil. "Ssst,,, jangan nangis lagi ya Tante masih disini kok bersama Fadhil ".
Dari kejauhan, Putra berlari menghampiri Jasmin dan Fadhil sambil berteriak, "Fadhil....!". Fadhil reflek mendongak kearah depan. "Ayah....!" Sambil menghapus sisa air matanya, Fadhil langsung berlari menghambur kepada Putra. Putra tak menutupi rasa bahagianya setelah anak yang beberapa saat lalu menghilang, kini telah dipeluknya. Setetes cairan bening kini turut membasahi pipinya.
__ADS_1