
Makan siang selesai, meja sudah di bersihkan, piring kotor pun telah di cuci. Fadhil juga sudah pergi ke kamar untuk tidur siang. Kini tinggallah Bu Rossa dan Jasmin yang duduk saling bersebelahan di ruang tamu.
"Kita belum berkenalan nak. Perkenalkan, nama saya Rossa. " Bu Rossa menyodorkan tangannya yang segera di sambut oleh Jasmin.
"Saya Jasmin Putri Mozeela, ibu bisa panggil saya Jasmin."
Sudah ku duga. Gumam Bu Rossa.
"Jadi, apa yang membawa nak Jasmin datang kesini?" Bu Rossa tanpa basi-basi menanyakan perihal kedatangannya.
"Saya minta maaf sebelumnya Bu, jadi begini...." Mengalir lah cerita saat pertama kali ia bertemu dengan Fadhil yang langsung memanggilnya mama waktu itu.
"Selepas kejadian itu, saya agak tidak tenang Bu. Mungkinkah orang yang tidak kembar bisa memiliki wajah yang sama persis? Dan juga, saya merasa di dekat Fadhil, saya begitu menyayanginya walaupun baru pertama kali bertemu, saya merasa sangat dekat dengan Fadhil." Jasmin menjelaskan panjang lebar.
"Tentu saja bisa nak Jasmin. Apa nak Jasmin belum pernah mendengar, bahwa diri kita ini masing-masing memiliki 7 kembaran yang tersebar di dunia?" Bu Rossa menjawab dengan tenang.
"Tapi Bu.." Jasmin tidak meneruskan perkataannya karena Bu Rossa menyela ucapannya.
"Apa yang nak Jasmin cari?" Bu Rossa bertanya sambil tersenyum.
"Maaf ibu kalau saya lancang. Saya sudah meminta dokumen mbk Melati kepada Tuan Putra." Jasmin menunduk sambil meremas tangannya.
Terdengar helaan nafas dari Bu Rossa.
"Ibu jangan salah paham. Saya yang meminta Tuan Putra untuk meminjamkan dokumen itu. Karena saya sangat penasaran tentang hal ini bu." Jasmin menggenggam tangan bu Rossa. Bu Rossa pun balik menggenggam tangan Jasmin.
"Ibu tahu apa yang ingin kamu ketahui nak, tapi percayalah, Melati bukan saudara kembar kamu." Bu Rossa menepuk-nepuk tangan Jasmin sambil tersenyum.
"Tapi Bu, tanda lahir di punggung kami pun sama!" Sekilas Bu Rossa terkejut, tapi segera menormalkan mimik wajahnya kembali agar terlihat biasa saja.
"Tanda lahir itu banyak yang memiliki nak, bukan Melati atau nak Jasmin saja yang punya. Ibu tahu kegelisahan mu ini, tapi lebih baik buang jauh-jauh pikiran itu. Karena kalian memang bukan saudara kembar. Kalau nak Jasmin ingin menemui Fadhil, ibu tidak akan melarangnya. Nak Jasmin bebas bertemu dengannya kapan saja." Jasmin mendesah kecewa. Apa yang selama ini dia pikirkan ternyata tidak sesuai kenyataan.
__ADS_1
"Iya bu, terimakasih. Maafkan Jasmin sekali lagi bu." Ucap Jasmin lesu.
"Iya tidak apa-apa nak. Nak Jasmin tidak usah khawatir." Jawab Bu Rossa menenangkan. Dalam hati ia terlihat tidak tega, tapi biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Setelah agak lama mengobrol, mereka sampai lupa waktu, tiba-tiba saja sudah sore.
"Kalau begitu saya permisi pulang saja bu." Jasmin berpamitan hendak pulang.
"Nanti saja nak, tunggu makan malam disini dulu. Fadhil juga belum bangun. Nanti dia nyariin kamu, mungkin sebentar lagi Putra juga pulang." Cegah bu Rossa agar Jasmin mau tinggal sebentar lagi. Karena sejujurnya Bu Rossa juga merindukan Melati, jadi hadirnya Jasmin disini sedikit mengurangi kerinduannya.
"Kalau begitu saya minta izin sama calon tunangan saya dulu bu." Ijin Jasmin pada bu Rossa sambil mengeluarkan benda pipih di dalam tasnya.
Deg... Jadi Jasmin sudah mau bertunangan? Sama siapa? Pikir bu Rossa dia akan menjodohkan Jasmin dengan Putra.
"I... iya nak. Ibu tinggal ke dapur sebentar ya." Yang di angguki oleh Jasmin.
Jasmin lantas segera memencet tombol panggilan pada nomor sang kekasih.
"Belum mas, ini jadi neneknya Fadhil suruh nunggu dulu sampai makan malam, Fadhil juga belum bangun, kalo aku pulang sekarang takutnya nanti dia nyariin aku. Gak pa-pa kan mas?" Tanya Jasmin hati-hati takut sang kekasih marah.
"Ya udah gak pa-pa sayang. Nanti mas jemput setelah makan malam. Kebetulan mas masih ada sedikit pekerjaan di kantor."
"Gak usah mas, kan ada pak supir tadi. Mas selesai in aja kerjanya." Tolak Jasmin halus.
"Gak pa-pa sayang, nanti pak supir biar mas suruh pulang aja."
"Ya udah terserah mas aja. Makasih ya mas." Ucap Jasmin pasrah.
"Iya sayang, i love you."
"Ya mas, me too". Tut...tut...tut... Sambungan telpon terputus, Jasmin kemudian masuk ke dalam dapur ingin membantu bu Rossa memasak.
__ADS_1
"Bu, aku bisa bantu apa?" Tawar Jasmin.
"Tidak usah nak. Lebih baik kamu bangunin Fadhil dulu dan suruh dia mandi."
"Baiklah bu, aku bangunin Fadhil dulu." Yang di angguki oleh bu Rossa.
Setelah sampai di kamar Fadhil, Jasmin langsung masuk saja karena memang pintunya tidak di kunci. Di dalam kamar, Jasmin mengamati ke sekeliling kamar, tampak sederhana. Kemudian matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja belajarnya Fadhil.
Jasmin meraih bingkai foto itu, terlihat di sana ada mbk Melati, Fadhil dan Putra. Mereka tampak bahagia walaupun hanya dalam kesederhanaan.
Maafkan aku mbak, bukan maksudku untuk mau menggantikan mbak Melati di hati Fadhil dan semua keluarga mbak. Tapi aku merasa sangat dekat dengan Fadhil. Aku harus gimana mbak?
Tak terasa butiran bening jatuh membasahi pipi Jasmin. Eh,, kenapa aku tiba-tiba nangis gini ya? Gumam Jasmin. Tanpa disadari Jasmin, Fadhil sudah bangun dari tidurnya dan langsung bertanya pada Jasmin.
"Ma, kenapa mama nangis?" Panggilan Fadhil membuyarkan lamunan Jasmin. Segera saja ia mengusap sisa air matanya dan segera mengembalikan bingkai foto tadi ke tempat semula.
"Ah,, mama gak pa-pa sayang. Tadi cuma kelilipan debu. Tapi sekarang sudah tidak lagi kok!" Elak Jasmin sambil tersenyum.
"Ya sudah sekarang Fadhil bangun, terus mandi. Udah mau maghrib ini." Ajak Jasmin mengalihkan pembicaraan.
"Baik ma". Fadhil segera bangun dan bergegas keluar kemudian langsung menuju kamar mandi yang diikuti Jasmin di belakangnya.
Sementara menunggu Fadhil mandi, Jasmin membantu bu Rossa yang sedang menata makanan di meja. Terdengar bunyi suara motor berhenti di depan teras. Jasmin mengalihkan pandangannya menoleh ke sumber suara.
"Assalamu'alaykum..."
"Wa'alaykumsalam..." Jawab bu Rossa dan Jasmin bersamaan.
Deg... Seketika Putra menghentikan jalannya untuk melihat siapa yang ada di rumahnya. Jasmin? Sejak kapan dia disini?. Apa dari tadi sejak menjemput sekolah Fadhil?. Berbagai macam pertanyaan terlintas di benak Putra. Jantungnya berdegup dengan kencang saat manik matanya bertemu dengan manik mata Jasmin.
"No.. nona Jasmin, anda belum pulang?" Tanya Putra gugup.
__ADS_1
"Belum Tuan, karena ibu mengundang saya untuk makan malam disini." Terang Jasmin.