
Sementara itu, seorang pria terlihat tergopoh-gopoh menggendong sesuatu dan tergesa-gesa menuju mobilnya. Sejurus kemudian, pria itu lantas mengemudikan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah sakit. Butuh waktu sekitar dua jam untuk pria tersebut sampai di tempat tujuan. Setelahnya, pria itu langsung membawa bayi yang berumur satu hari tersebut ke depan sebuah panti asuhan. Dan meletakkan dengan sembarang di pelataran panti asuhan.
"Maafkan aku, karena kamu harus menanggung dosa kedua orang tuamu. Selamat tinggal ". Ucap pria tersebut pada bayi yang belum mengerti apa-apa itu sambil tersenyum licik. Setelah mengatakan itu, pria tersebut gegas pergi meninggalkan bayi itu sendirian tangah malam di latar panti asuhan.
Si pria tidak menyadari, bahwa sejak keluar dari rumah sakit tadi, seseorang telah mengikutinya sampai tempat tujuan si pria. Wanita itu kemudian menghampiri sang bayi yang masih tertidur pulas walaupun di tengah dinginnya suasana malam. Setelah melihat kanan-kiri tidak ada orang, seorang wanita tersebut lalu membawa si bayi dalam gendongannya dan segera berlari meninggalkan panti asuhan agar tidak ada seorang pun yang memergokinya. Karena ia tidak mau orang lain akan berfikir bahwa ia telah mencuri bayi majikannya.
Ya, wanita itu adalah seorang kepala pembantu di rumah si bapak bayi tersebut. Ia mengetahui kalau yang di bawa si pria itu adalah anak majikannya karena ia mengetahui dari majikannya sendiri bahwa bayinya telah hilang. Dan ia tahu persis siapa yang membawa dan dalang di balik penculikan bayi tersebut.
Setelah wanita itu membawa bayi tersebut, ia berencana untuk menyembunyikannya dahulu, alih-alih menyerahkan pada sang majikan. Karena kalau sampai ia memberikan pada sang majikan, keselamatan majikan dan kedua putrinya pasti akan terancam. Mengingat siapa pria yang menculik bayi majikannya itu adalah orang yang berdarah dingin.
"Aku harus menyembunyikan bayi ini dimana? Ya Alloh, tolonglah hamba mu ini." Monolog wanita itu. Setelah berpikir agak lama, barulah ia teringat jika ia mempunyai seorang teman yang dekat dari tempatnya sekarang. Dan terlebih lagi ia juga tengah mempunyai anak kecil.
Tok tok tok
Satu kali dua kali ketukan di pintu, tidak dihiraukan oleh pemilik rumah. Maklum, tengah malam begini mana ada orang yang bertamu. Paling juga anak-anak yang sedang iseng. Pikir si pemilik rumah. Jadi merekapun meneruskan tidurnya. Tapi semakin lama, ketukan di pintu masih saja terus terdengar.
"Aduh .. siapa sih tengah malam begini bertamu. Ganggu orang tidur aja". Gerutu pemilik rumah. Setelah membukakan pintu, si pemilik rumah itu terkejut melihat siapa yang bertamu tengah malam begini sambil membawa seorang bayi.
"Astaga, Rossa. Ngapain malam-malam begini kemari? Dan itu, bayi siapa? Kamu kan gak punya anak? Kapan kamu hamilnya?" Cerocos pemilik rumah yang di ketahui bernama Ratih itu.
__ADS_1
"Udah nanti aja aku ceritain. Yang penting sekarang kamu gak mau nyuruh aku masuk? Dingin banget ini". Tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik rumah, Rossa menyelonong begitu saja masuk ke dalam rumah.
"Sekarang kamu harus jelasin ke aku". Pinta Ratih pada Rossa. Rossa terlihat menghela nafas. Baru akan memulai cerita, dari dalam rumah sudah di tegur oleh sang suami pemilik rumah.
"Siapa buk malam-malam gini bertamu?" Ridho, suami Ratih keluar dari kamar dan langsung menuju ke ruang tamu. Dia terkejut melihat temannya malam-malam gini udah sampai rumahnya.
"Rossa? Ngapain malam-malam bertamu? Dan itu, anak siapa yang kamu bawa?" Tau bahwa temannya yang bertamu, Ridho lantas menanyakan perihal kedatangan temannya itu.
"Jadi begini....." Mengalir lah cerita dari kejadian penculikan itu, sampai akhirnya Rossa berada di rumah temannya itu.
"Jadi, aku ingin menitipkan bayi ini disini sampai esok hari. Setelah itu, aku akan membawanya pergi jauh dari sini." Ratih dan Ridho mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti keadaan yang dialami si bayi tersebut. Setelah menitipkan bayi itu, Rossa segera pulang ke kediaman sang majikan. Baru besok ia akan berbicara pada majikannya pasal dirinya yang mau mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Seminggu kemudian, sang ibu bayi dinyatakan sehat dan boleh kembali pulang. Si bapak bayi juga sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan sang putri. Namun nihil. Tak ada satupun yang bisa menemukannya.
Setelah sampai dirumah,,,
"Selamat datang Tuan, Nyonya." Sapa Rossa ketika membukakan pintu.
"Terimakasih bik Ros". Jawab Nyonya Issa dan suaminya hanya mengangguk. Mereka lantas segera pergi ke kamar bayi untuk menidurkan bayinya di dalam box bayi. Nyonya Issa seketika menitikkan air matanya lagi mengingat satu putrinya yang sekarang entah dimana. Masih hidup atau sudah meninggal. Sambil mengelus-elus pipi manis putrinya yang masih tertidur lelap.
__ADS_1
"Sudahlah dek, kamu jangan nangis terus. Kasian putri kita. Orang tua dulu bilang, kalau ibu bayi bersedih, bayi juga akan ikut merasakan kesedihan ibunya. Kamu gak kasian sama Jasmin? Hmm...". Sang suami mengingatkan istrinya.
"Iya mas, maafin aku. Aku gak akan sedih lagi". Setelah mengatakan itu, pintu kamar terlihat terbuka. Bik Ros membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Nyonya, mau di taruh dimana minumannya". Tanyanya.
"Taruh meja saja bik." Bik Ros kemudian meletakkan nampan berisi itu ke atas meja. Setelahnya ia menghampiri nyonya nya dan si bayi.
"Cantik sekali nona muda. Namanya siapa Nyonya?" Tanya Bik Ros.
"Jasmin bik. Jasmin Putri Mozeela. Dan kakaknya ku beri nama Melati Putri Mozeela. Walaupun sekarang aku tak tau keberadaannya, tapi aku ingin mengenangnya melalui namanya.
"Sabar nyonya, ini ujian". Bik Ros menenangkan. Maafkan saya Nyonya, saya terpaksa menyembunyikan anak nyonya. Gumam Bik Ros dalam hati dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalo gitu saya permisi Nyah, mau beres-beres." Nyonya Issa hanya mengangguk kemudian Bik Ros berlalu keluar kamar.
Sesampainya di luar kamar, Bik Ros menghela nafas berat dan mengelus dada berulang kali menghilangkan sesak di dada. Ia kemudian berjalan menuju kamarnya dan membereskan pakaian untuk di bawa pulang kampung setelah besok ia berpamitan pada sang majikan. Jadi namamu Melati nak. Melati Putri, aku akan menjadikanmu anak ku untuk sementara sampai keadaan membaik.
Sementara itu, pria yang telah menculik bayi itu, terlihat tertawa di kursi kebesarannya. Ia tertawa sumbang karena telah berhasil menculik bayi dari orang yang sangat ia benci. Yaitu adik tirinya, anak ibunya yang beda ayah. Karena ayahnya lebih menyayangi adik tirinya itu.
__ADS_1