Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Sebuah Pertemanan


__ADS_3

Seusai makan malam bersama, Putra, bu Rossa dan Jasmin terlibat perbincangan di ruang tamu. Fadhil sudah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi untuk belajar. Mereka memperbincangkan banyak hal. Mulai dari masalah pekerjaan, makanan dan masih banyak lagi sambil menunggu jemputan yang belum datang. Tiba-tiba bu Rossa pamit ke dalam untuk istirahat. Kini tinggallah Putra dan Jasmin yang masih di ruang tamu.


"Sebaiknya saya menunggu di luar saja Pak Putra. Tidak enak di lihat tetangga jika berduaan di dalam".


"Baiklah nona, mari kita tunggu di teras saja." Mereka berdua lantas keluar menuju teras dimana ada bangku yang disediakan untuk duduk santai di sana.


"Tuan..." "Nona..." Kata Jasmin dan Putra bersamaan. Mereka lantas tersenyum.


"Silahkan nona Jasmin duluan".


"Baiklah. Tapi sebelum itu, panggil dengan nama saja Pak Putra. Kan saya sudah pernah bilang."


"Iya, baiklah non... eh.. Jasmin. Anda juga panggil saya nama saja." Perintah Putra gantian.


"Saya gak enak cuma panggil nama saja. Anda kan lebih tua dari saya. Gimana kalau panggil mas aja?" Tawar Jasmin.


Jantung Putra berdetak sangat kencang tiba-tiba Jasmin mau memanggilnya dengan sebutan mas. Ada rasa bahagia di hati Putra.


"Ba.. baiklah Jasmin." Jawab putra sedikit gugup.


"Oke, karena sekarang kita berteman, jadi panggilnya aku kamu aja mas biar lebih akrab". Jasmin menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Putra. Putra menerima uluran tangan Jasmin. Lama dari mereka saling berjabat tangan tanpa ada yang mau melepaskannya. Mereka seakan tenggelam dengan mata saling berpandangan tanpa berkedip.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Bobby ternyata memperhatikan mereka berdua dari depan rumah Putra dengan pandangan yang sulit sekali di artikan. Ia terlihat menghela nafas panjang, ada sedikit nyeri di ulu hatinya dan enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Padahal tujuannya kesini tadi adalah untuk menjemput sang kekasih. Ia ingin melihat dulu interaksi kedua insan yang ada didepannya itu.


Sementara itu, Putra perlahan menggenggam erat tangan Jasmin dan mulai mendekatkan bibirnya untuk mengecup punggung tangan Jasmin. Tidak ada penolakan dari Jasmin, semakin membuat Putra terus mengecupi nya. Setelah puas, Putra baru melepaskan kecupannya di tangan Jasmin tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf kalau aku lancang. Tapi sungguh, aku seperti melihat mendiang Melati di dirimu Jas".


"Tidak apa-apa mas, wajar kalau kamu seperti itu". Ucap Jasmin sambil tersenyum malu. Disaat tangan saling menggenggam dan beradu pandang, tiba-tiba terdengar deheman keras membuyarkan keduanya.

__ADS_1


"Ehhmm,, sayang.." Jasmin dan Putra reflek melepaskan genggaman tangan mereka.


"M... mas Bobby? Se... sejak kapan mas datang?" Tanya Jasmin gugup sambil menghampiri Bobby yang berjalan ke arahnya. Bukannya apa-apa, Jasmin takut kalau sang kekasih melihat mereka tadi dan menyebabkan kesalahpahaman.


"Baru aja sayang. Maaf ya lama, soalnya tadi jalanan macet dan ini untuk Fadhil." Bobby menyerahkan sebuah paper bag yang berisi makanan kepada Putra sambil tersenyum. Terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Terimakasih Tuan.." Putra menerimanya yang di angguki oleh Bobby.


"Sudah siap?" Bobby mengalihkan pandangan ke arah Jasmin.


"Sudah Mas,, ayo kita pulang sekarang". Jasmin mengambil tasnya dan segera menggandeng tangan Bobby.


"Mas Putra, nitip salam untuk Fadhil ya." Ucap Jasmin ke Putra yang di angguki oleh Putra.


Deg... Mas?? Sejak kapan Jasmin memanggil Putra dengan sebutan mas? Bobby segera menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin berfikir yang macam-macam.


"Segera istirahat, jangan lupa mandi dulu dan minum susu". Ucap Bobby sambil mengacak rambut Jasmin.


"Iya mas, terima kasih." Bobby lalu segera bergegas meninggalkan Jasmin menuju mobil. Jasmin mengernyitkan dahinya. Ada yang tidak biasa dari sikap Bobby. Biasanya kekasihnya itu selalu mengecup puncak kepalanya sebelum berpisah, tapi malam ini dia seakan acuh.


"Mas..." Bobby menghentikan gerakannya membuka pintu mobil.


"Hmm.." Bobby menoleh ke arah Jasmin dan hanya menanggapi dengan deheman.


"I love you". Jasmin memancing.


"Me too" Balasan Bobby dengan tersenyum. Kemudian ia langsung masuk ke mobil dan segera melajukan kendaraannya pulang ke apartemen.


Setelah mobil yang Bobby kendarai hilang dari pandangan, barulah Jasmin masuk ke dalam kafe.

__ADS_1


Mas Bobby kenapa sih, tumben hari ini beda banget. Ah.. mungkin karena banyak pekerjaan di kantor. Gumam Jasmin.


Sementara itu, Bobby yang telah tiba di apartemen miliknya segera mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ia kemudian memejamkan matanya sejenak menghilangkan rasa sesak yang dari tadi telah ia tahan sekuat tenaga. Tahan Bob, sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Jasmin. Jangan kamu mikir yang tidak-tidak padanya. Atau kamu nanti akan menyesal. Monolognya menenangkan diri.


Di rumah Putra.


"Yah, mama mana?" Putra yang baru masuk kedalam rumah setelah mengantar kepulangan Jasmin dan Tuan Bobby di hadang oleh anaknya yang bertanya tentang mamanya.


"Mama sudah pulang boy. Sekarang kamu tidur. Ini sudah malam. Besok kan sekolah."


"Yah... kok pulang sih Yah? Kenapa gak tidur bareng sama kita disini." Protes Fadhil.


"Gak bisa dong sayang. Gini, mama Jasmin itu bukan mama Melati. Jadi mama Jasmin gak bisa tidur disini."


"Gak mau, pokoknya Fadhil mau mama". Sambil menghentak-hentakkan kakinya, Fadhil berlari meninggalkan Putra menuju ke kamarnya. Masuk kedalam lalu menguncinya dari dalam. Putra gegas menyusulnya dan berdiri di depan pintu.


"Fadhil... sayang ...". Tidak ada sahutan. Putra mendesah panjang. Bu Rossa yang mendengar ribut-ribut dari dalam kamarnya, segera keluar menghampiri menantunya.


"Ada apa Put, kenapa Fadhil teriak-teriak?" Tanya Bu Rossa sedikit khawatir.


"Itu tadi Fadhil merengek kenapa mama Jasmin tidak tidur disini. Putra coba kasih tau kalau mama Jasmin itu bukan mama Melati jadi tidak bisa tidur disini, eh... Fadhil malah ngamuk bu." Cerita Putra pada bu Rossa.


"Oh ... ibu kira kenapa. Ya sudah, besok ibu coba kasih pengertian sama Fadhil. Sekarang kamu istirahat saja."


"Baiklah bu. Kalau gitu Putra ke kamar dulu bu." Yang di balas anggukan oleh bu Rossa. Bu Rossa memperhatikan punggung menantunya itu dengan iba. Terlihat ia menghela nafasnya berat. Kemudian ia segera masuk ke dalam kamar untuk kembali beristirahat.


Didalam kamarnya, Putra belum juga bisa memejamkan matanya teringat kejadian tadi saat dia mengecup punggung tangan Jasmin. Putra senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang di mabuk cinta. Atau mungkin seperti orang gila. Mungkinkah kami bisa dekat. Tapi kami bagaikan langit dan bumi. Dia adalah anak majikan mu Putra. Gumam Putra.


Putra mengambil sebuah bingkai foto di atas nakas. Di usapnya foto itu kemudian diciumnya.

__ADS_1


__ADS_2