Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Sakit


__ADS_3

Tok... tok... tok.


"Boy, waktunya bangun." Suara ketukan terdengar di pintu kamar Fadhil. Putra membangunkan anaknya untuk segera bangun karena waktunya pergi ke sekolah. Beberapa kali mengetuk tapi tak ada jawaban, Putra lantas langsung masuk saja ke dalam. Masih tidur, tak biasanya anaknya itu bangun kesiangan.


"Boy, bangun udah pagi". Putra membangunkan Fadhil dengan mengusap lembut pipi gembul Fadhil. Betapa terkejutnya ia merasakan suhu tubuh Fadhil yang sangat panas. Ia mengecek seluruh tubuh Fadhil dan terasa panas semua. Ia lalu membalik badan Fadhil yang semula miring menjadi terlentang. Bibir pucat, tubuh menggigil dan lagi, menyebut-nyebut mamanya.


"Mama,,, mama,,,mama,,,".


"Ya Alloh sayang, kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya." Tanpa menunggu persetujuan Fadhil, Putra segera menggendong Fadhil dan segera ke luar kamar untuk segera pergi ke rumah sakit.


"Bu,, ibu.." Teriak Putra memanggil ibu mertuanya.


"Iya nak, ada apa teriak-teriak seperti itu? Fadhil kenapa?" Saat tau Putra menggendong Fadhil, Bu Rossa segera menghampiri.


"Badannya panas banget bu. Tolong ibu persiapkan kebutuhan Fadhil. Aku akan membawanya dulu ke rumah sakit, nanti ibu menyusul ke sana segera ya." Pinta Putra.


"Iya iya nak, cepat bawa cucu ibu ke rumah sakit." Jawab Bu Rossa sambil mengangguk. Putra langsung berlari meninggalkan rumah dan mencegat taksi untuk mengantar ke rumah sakit. Karena ia tidak mungkin membawa Fadhil dengan motor bututnya.


"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?" Putra langsung bertanya pada dokter yang baru keluar dari kamar dimana Fadhil dirawat. Dokter itu tersenyum dan mengatakan keadaan Fadhil.


"Anak bapak hanya demam saja. Sepertinya dia juga merindukan mamanya. Karena sepanjang pemeriksaan tadi, anak bapak selalu memanggil mamanya." Dokter tersenyum lagi.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap sang dokter.


"Terimakasih dok." Dokter tersenyum sambil mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Putra. Kemudian Putra lantas masuk ke dalam kamar rawat Fadhil, dan duduk di kursi sebelah brankar Fadhil. Ia mengusap sayang puncak kepala Fadhil dan mengecup keningnya. Putra sempat berfikir, perlukah ia menghubungi Jasmin untuk dimintai tolong menghibur Fadhil? Putra berkecamuk dengan pemikirannya sendiri sampai-sampai ia tak tahu Bu Rossa sedari tadi memanggil-manggil tapi tak ada sahutan. Bu Rossa lantas menepuk bahu Putra yang mana membuat Putra terperanjat kaget.

__ADS_1


"Ibu... Udah sampai?" Tanyanya kemudian.


"Sudah dari tadi. Tapi kamu di panggil-panggil gak nyaut. Jangan kebanyakan ngelamun di rumah sakit, gak baik nak." Ucap Bu Rossa yang bahkan melupakan keadaan cucunya karena menasehati Putra.


"Oh ya,, gimana keadaan cucu ibu?" Tanyanya kemudian.


"Fadhil baik-baik saja bu. Dia cuma demam". Jawab Putra sekilas tanpa memberitahu kalau sebenarnya Fadhil yang merindukan kehadiran mamanya.


"Ya sudah kalau gitu, nih kamu sarapan dulu. Tadi pagi kamu belum sempat sarapan kan?" Bu Rossa menyodorkan rantang makanan kepada Putra.


"Nanti saja bu, Putra belum lapar." Jawabnya.


"Gak usah nanti-nanti nak, nanti penyakit maag kamu bisa kambuh. Siapa nanti yang akan jagain cucu ibu?" Perintah Bu Rossa tidak bisa di ganggu gugat.


"Iya bu, Putra mau mengabari ke sekolah Fadhil dan tempat kerja Putra dulu. Setelah itu Putra akan makan. Putra keluar dulu bu."


Sesampainya di luar, Putra segera menghubungi wali kelas Fadhil dan setelahnya meminta ijin ke kantor bahwa hari ini tidak masuk kerja. Setelah semua beres urusan ijinnya, Putra berniat masuk lagi ke dalam kamar rawat Fadhil, tapi ia teringat ucapan sang dokter kalau Fadhil mungkin rindu dengan mamanya. Ia kemudian mengambil ponselnya lalu menggeser nomor Jasmin. Baru akan memencet tombol panggilan, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi wanita yang mirip istrinya itu karena takut mengganggu dan membuat majikannya marah. Ia lalu langsung masuk lagi ke dalam ruang rawat Fadhil.


"Mama... mama...mama..." Racau Fadhil di dalam tidurnya. Bu Rossa yang menunggu pun reflek menoleh ke arah cucunya. Ia berusaha membangunkan Fadhil.


"Bangun sayang, nenek disini." Ucap Bu Rossa sambil mengelus puncak kepala Fadhil. Fadhil terus saja meracau, tatkala Putra kembali masuk ke ruang perawatan.


"Putra, anak kamu mengigau terus dari tadi. Ibu takut dia kenapa-napa." Bu Rossa terlihat begitu khawatir melihat keadaan cucunya.


"Tidak apa-apa bu. Tadi dokter bilang, dia hanya demam biasa dan hanya sedang merindukan mamanya. " Jawab Putra menatap anaknya yang terbaring lemah di atas brangkar. Bu Rossa hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Sebaiknya ibu pulang saja. Nanti ibu kecapean." Pinta Putra menyuruh ibu mertuanya untuk pulang.


"Kamu makan dulu, setelah kamu makan, ibu baru mau pulang." Jawab Bu Rossa tanpa penolakan yang di angguki oleh Putra dan segera mengambil rantang makanan yang di bawa ibunya lalu segera memakannya sampai habis.


...****************...


"Mas, aku boleh ketemu sama Fadhil gak? Aku kangen main sama dia". Jasmin menelpon tunangannya meminta ijin untuk bertemu dengan Fadhil. Entah mengapa, ia begitu merindukan bocah itu saat ini.


"Boleh sayang. Mas antar ya". Tawar Bobby di seberang sana.


"Gak usah Mas, mas kan lagi sibuk. Aku nanti mau langsung ke sekolahan dia aja mas. Jam segini sudah mau waktunya pulang." Jasmin menolaknya.


"Ya sudah kalau gitu kamu diantar supir aja ya. Mas kirim supir ke rumah sekarang." Perintah Bobby telak tak ada penolakan.


"Iya mas, makasih". Angguk Jasmin walaupun yang di seberang sana tak mengetahui anggukan Jasmin.


Beberapa menit berlalu, sopir yang di utus oleh Bobby sudah menjemput nona nya. Mereka lantas saja segera pergi menuju ke sekolah Fadhil sekalian menjemputnya. Jasmin senang sekali hari ini ia bisa bertemu lagi dengan Fadhil sejak pertemuan mereka satu bulan yang lalu sebelum acara pertunangannya dengan Bobby.


Sesampainya di sekolah Fadhil, waktunya pas sekali dengan anak-anak yang pada berhamburan keluar ruangan mereka masing-masing. Jasmin keluar dari mobil dan mendekat ke gerbang sekolahan. Tapi ia tidak mendapati Fadhil keluar-keluar dari ruangannya padahal anak-anak yang lain sudah keluar semuanya. Hanya tersisa para guru yang berdiri di depan pintu kelas masing-masing. Lalu, dimana Fadhil? Apa dia tidak masuk sekolah? Gumam Jasmin dalam hati. Dari pada penasaran, ia bertekad menanyakan keberadaan Fadhil pada guru yang berdiri di depan ruang kelas Fadhil.


"Permisi bu, bisa bicara sebentar?" Ucap Jasmin pada seorang guru.


"Iya ibu, ada yang bisa saya bantu?" Guru itu menjawab.


"Saya sedang menunggu Fadhil, tapi dari tadi dia tidak terlihat keluar dari kelasnya bu" Tanya Jasmin.

__ADS_1


"Oh, Fadhil hari ini ijin tidak masuk bu. Anaknya sedang sakit". Jawab guru itu.


Deg..


__ADS_2