
"Kira-kira ibu tau dimana Fadhil di rawat bu?" Tanya Jasmin dengan nada khawatir.
"Mohon maaf ibu, saya kurang tau. Sebab tadi pagi ayahnya hanya mengatakan ijin tidak masuk sekolah. Ngomong-ngomong, ibu kan ibunya Fadhil, kenapa sampai tidak tahu kalau anak ibu sakit?" Tanya sang guru menyelidik sambil memicingkan matanya. Guru tersebut tahu jika Jasmin adalah ibunya Fadhil karena dulu sebelum Melati meninggal, Melati yang sering mengantar Fadhil ke sekolah.
"E.. anu,, sa,, saya baru pulang dari luar kota bu dan langsung menjemput kesini. Ya sudah bu, kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih". Jasmin membungkuk lalu pergi meninggalkan guru tersebut dengan perasaan was-was. Ia langsung saja meraih benda pipih dari dalam tasnya dan segera memencet tombol panggilan untuk menelpon Putra.
Setelah tau dimana Fadhil dirawat, Jasmin segera saja menyuruh pak supir untuk melaju ke rumah sakit dimana Fadhil di rawat.
Sesampainya di rumah sakit, Putra sudah menunggu di lobby, dan segera mengantarkannya ke ruang rawat Fadhil. Begitu masuk ke dalam ruang rawat Fadhil, Jasmin membelalak karena ruangannya bercampur dengan orang-orang yang lagi sakit lainnya. Maklum, Putra memang bukan orang yang berada, jadi ia tempatkan Fadhil di kamar inap yang paling bawah. Matanya menangkap gerakan Fadhil yang bergerak gelisah dan tampak tidak nyaman. Jasmin lalu berjalan mendekat dan mendengar igauan Fadhil yang memanggil mama.
"Hai sayang, mama disini. Cepat sembuh ya". Jasmin mengusap sayang kepala Fadhil lalu mengecup keningnya. Seketika saja Fadhil langsung diam dan tertidur pulas.
"Mas, Fadhil di pindah ke kamar lain saja ya. Disini dia kelihatan tidak nyaman. Lihatlah, semua disini banyak orang sakit. Bukannya sembuh nanti malah ketularan lagi takutnya." Pinta Jasmin pada Putra untuk memindahkan kamar rawat Fadhil yang lebih baik.
"Maaf Jas, gak pa-pa. Biarkan Fadhil disini saja." Jawab Putra pasrah karena biaya rumah sakit yang kamar sendiri pasti mahal, pikirnya.
"Gak, pokoknya hari ini Fadhil harus pindah kamar rawat. Mas gak perlu khawatir masalah biayanya kalau yang Mas takutkan adalah itu." Tegas Jasmin pada Putra. Putra hanya bisa menghela nafasnya pasrah mendengar penuturan Jasmin.
"Baiklah, terserah kamu saja."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang Mas minta dokter untuk pindahin kamar sekarang. Biarkan Fadhil aku tunggu." Jasmin menyuruh Putra menemui dokter yang merawat Fadhil. Putra pun gegas berlalu pergi menemui sang dokter.
Setelah kepindahan ruang rawat inap Fadhil, kondisi Fadhil berangsur-angsur membaik. Sekarang saja ia sedang makan malam di suapi oleh Jasmin.
"Udah ma, Fadhil udah kenyang." Fadhil menyetop Jasmin yang akan menyuapinya lagi karena merasa sudah kenyang. Jasmin menyudahinya dan meletakkan piring ke atas nakas. Kemudian memberikan minuman ke Fadhil. Fadhil meminumnya hingga tandas. Putra yang duduk di sofa melihat interaksi keduanya merasa bahagia sampai-sampai matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca. Ia pun segera menengadahkan wajahnya ke atas supaya air matanya tidak lolos begitu saja. Dan ia juga berharap kebahagiaan ini bisa berlangsung selamanya bukan hanya kebahagiaan semu.
...****************...
Sementara itu, Bobby yang telah selesai mengerjakan pekerjaan kantor yang menumpuk, berinisiatif untuk menjemput Jasmin ke rumah Fadhil. Biasanya kalau Jasmin menjemput Fadhil ke sekolah pasti nanti akan bermain ke rumahnya Fadhil. Ia segera saja membereskan meja kerjanya dan mengambil kunci mobil serta jasnya kemudian keluar ruangan menuju mobilnya. Setelah itu, ia gegas melajukan mobilnya menuju rumah Fadhil.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaykum..." Bobby mengetuk pintu rumah Putra. Terdengar jawaban dari dalam rumah, lalu pintu pun terbuka menampilkan sesosok wanita paruh baya.
"Perkenalkan ibu, nama saya Bobby. Saya datang kesini untuk menjemput Jasmin, tunangan saya." Jawab Bobby sambil menyodorkan tangannya pada Rossa untuk di ajak berjabat tangan. Rossa lantas menerima uluran tangan Bobby.
"Saya Rossa, ibu mertuanya Putra. Mari silahkan masuk dulu nak Bobby." Ucap Rossa sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam. Bobby hanya mengangguk dan mengikuti Rossa masuk ke dalam rumah.
"Maaf sebelumnya nak Bobby, tapi Jasmin tidak ada disini dan tidak kesini hari ini." Bobby kaget. Kemana perginya Jasmin, pikirnya.
__ADS_1
"Memangnya tadi Jasmin bilang mau kesini ya?" Tanya Rossa lagi.
"Iya bu. Tadi siang dia pamit ke saya mau menjemput Fadhil ke sekolah dan sekalian mau mengantar sampai rumah begitu." Jawab Bobby. Rossa terlihat menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak. Soalnya hari ini Fadhil tidak masuk sekolah karena sakit. Anak itu sedang di rawat di rumah sakit. Terang Rossa pada Bobby.
"Apa mungkin Jasmin menyusul ke rumah sakit ya bu? Begini, mungkin tadi Jasmin memang ke sekolahnya Fadhil, dan di sana ia mendapat kabar kalau Fadhil tidak masuk lalu langsung pergi ke rumah sakit." Rossa manggut-manggut.
"Mungkin saja nak. Coba nak Bobby telfon saja agar lebih tepatnya." Rossa menasehati. Bobby kemudian langsung menelfon Jasmin, tapi sampai beberapa kali tidak juga diangkat oleh sang empunya. Bobby melihat ke arah Rossa sambil menggeleng.
"Tidak di angkat bu." Ucap Bobby.
"Ya sudah, nak Bobby coba menyusul saja ke rumah sakit. Mungkin nak Jasmin ada di sana. Fadhil di rawat di rumah sakit A." Tutur Rossa memberi tahu Bobby.
"Iya bu, terimakasih. Tetapi sebelumnya saya mau bertanya sesuatu sama ibu. Maaf kalau saya lancang." Rossa mengernyitkan dahinya pasal apa yang akan ditanyakan oleh Bobby ini.
"Tanya apa nak Bobby?" Tanya Rossa kemudian.
"Apakah Jasmin mirip sekali dengan mendiang istrinya pak Putra bu?" Rossa terlihat menghela nafas berat. Kemudian ia menatap sebuah bingkai foto yang sangat besar menghadap ke arah ruang tamu.
__ADS_1
"Nak Bobby bisa melihatnya sendiri di foto itu." Rossa menunjukkan bingkai foto itu pada Bobby. Bobby melebarkan matanya menatap penampakan yang ada di bingkai foto tersebut. Ya, Jasmin mirip sekali dengan mendiang istri Putra. Makanya Fadhil sampai memanggil tunangannya itu dengan sebutan mama. Dadanya bergetar, bergemuruh entah apa yang ada di pikiran Bobby saat ini. Antara sedih, kecewa, marah bercampur jadi satu.
"Ap..apakah mendiang istri pak Putra mempunyai kembaran bu? Dan kembarannya adalah Jasmin?" Tanya Bobby lirih tanpa mengalihkan perhatiannya dari bingkai foto itu. Rossa terlihat kaget atas pertanyaan yang dilontarkan Bobby padanya. Seakan kejadian masa lalu terlintas begitu saja di hadapannya. Apa yang nanti akan ia katakan pada Bobby yang telah menebak tepat seperti apa yang telah di ucapkan nya?