Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Kedatangan


__ADS_3

"Yah, mama kok lama gak pulang-pulang sih?. Memangnya mama kemana Yah?" Fadhil bertanya pada Ayahnya perihal sang mama yang semenjak dirinya sembuh dari sakit sudah tidak menjenguknya lagi. Putra yang ditanya pun lantas terkejut.


"Mungkin mama masih repot nak, jadi belum bisa main lagi sama Fadhil." Terang Putra pada anaknya.


"Emang mama repot apa Yah? Mama kerja ya? Kalau gitu kita samperin saja Yah ke tempat kerja Mama." Fadhil memberondong Putra dengan banyak rasa penasaran.


"Kalau kita samperin mama ke tempat kerja, nanti malah ganggu kerja mama nak. Dan...." Belum sempat Putra melanjutkan ucapannya, Fadhil sudah memotong ucapannya dengan cepat.


"Fadhil gak akan ganggu mama Yah, fadhil janji Fadhil gak akan nakal di tempat kerja mama. Tapi ayo kita ke sana Yah, Fadhil kangen sama mama. Ayo Yah." Rengek Fadhil dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil menggoyang-goyangkan tangan Putra. Putra pun akhirnya tidak tega dan iapun meng-iya-kan rengekan anaknya.


"Yasudah kalau begitu, kita ke tempat mama ya, tapi Fadhil harus janji tidak akan nakal ya." Fadhil menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Fadhil ganti baju dulu, Ayah juga mau siap-siap." Perintah Putra pada Fadhil sambil mengusap kepalanya.


"Baik Yah." Fadhil bergegas berlari masuk kamar guna ganti baju. Putra yang melihat antusias anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Waktu menunjukkan jam sebelas lewat lima belas menit saat Putra dan Fadhil bersiap berangkat menuju kafe Jasmin dengan motornya. Jangan di tanya kenapa Putra pada jam segini sudah berada di rumah, sebab Tuan Darwin mendadak minta di antar pulang karena kurang enak badan. Dan Putra di suruh langsung pulang karena bos besarnya itu ingin istirahat saja dirumah.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, Putra dan Fadhil kini sudah berada di pelataran kafe. Putra memarkirkan motor bututnya sementara Fadhil memandangi kafe tempat mamanya itu bekerja. Putra sedikit mengernyitkan dahinya, lantaran di luar dan di dalam kafe terdapat beberapa orang berpakaian hitam, bahkan di bahu jalan pun juga begitu. Tak seperti biasanya. Gumam Putra dalam hati.


"Jadi di sini ya Yah, mama kerjanya? Kafe nya bagus banget Yah. Banyak hiasan lampu yang warna-warni." Celoteh Fadhil berdecak kagum dengan kafe milik Jasmin. Walaupun di luar terang, tapi orang-orang yang singgah masih bisa melihat lampu warna-warni yang berkelap-kelip di dalam kafe maupun di luar. Fadhil yang di ajak bicara pun hanya tersenyum sambil mengelus rambut Fadhil.


"Ayo kita masuk ke dalam dulu". Ajak Putra pada Fadhil. Fadhil mengangguk sambil menggandeng tangan ayahnya memasuki kafe. Sesampainya di dalam, mereka disambut oleh seorang waiters dan mempersilahkan Putra dan Fadhil untuk duduk.


"Mau pesan apa Tuan?" Tanya waiters ramah.


"Sebentar mbak, ini ada apa ya kok banyak bodyguard disini? Biasanya kan tidak seperti ini?" Tanya Putra penasaran kenapa banyak orang yang memakai baju hitam di luar maupun di dalam kafe. Sang waiters tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Putra.


"Iya mbak, sebenarnya saya kemari ingin bertemu dengan Nona Jasmin. Apakah beliau ada?" Tanya Putra. Si waiters mengernyitkan dahinya tanda bingung. Putra yang menyadari langsung menimpali lagi.


"Bilang saja Putra dan Fadhil mbak". Si waiters mengangguk lalu menjawab.


"Baik Tuan, tunggu sebentar, saya panggil Nona Jasmin dahulu." Si waiters kemudian berlalu meninggalkan Putra dan Fadhil setelah membungkukkan badannya. Ia pun bergumam sendiri, siapa sih sok-sok kenal sama Nona Jasmin. Ganteng juga sih orangnya apalagi anaknya yang gemesin banget. Tapi masih kalah sama Tuan Bobby tunangannya Nona Jasmin. Si waiters yang di ketahui namanya Dewi itu senyum-senyum sendiri sambil berjalan menuju ke ruangan bosnya.


"Hayo, ngapain senyam-senyum sendiri kaya orang gi-la tau gak. Kalau mau menggi-la, jangan bawa-bawa ke tempat kerja Dew, nanti gi-lanya nular ". Sentak Yenny yang membuyarkan lamunan Dewi. Dewi langsung saja cemberut mendengar ejekan dari teman kerjanya.

__ADS_1


"Ish, mbak Yenny apaan sih. Dewi gak gi-la kali ya mbak, Dewi masih waras nih". Balas Dewi tak terima dikatain gi-la.


"Kalau gak gi-la apa namanya orang senyum-senyum sendiri gitu?" Ejek Yenny lagi.


"Au ah gelap. Mending ke ruangannya nona bos." Jawab Dewi acuh tak acuh.


"Eh eh eh,, ngapain ke ruangan bos?" Tanya Yenny lagi.


"Terus mbak Yenny sendiri ngapain gentayangan di sini? Mbak Yenny itu alamnya di dapur, bukan di sini." Ejek Dewi tak kalah sengit.


"Gentayangan-gentayangan mbahmu. Aku disini karna mau ke tempat penyimpanan tau, karna nona bos sedang memasak buat Tuan Bobby." Jawab Yenny menjelaskan.


"Oh, jadi nona bos sedang di dapur, dan gak ada di ruangannya?" Dewi manggut-manggut.


"Emang ngapain mau ketemu bos?" Tanya Yenny balik.


"Tadi ada yang nyariin. Oh astaga, iya ya ampun, kenapa jadi lupa sih. Gara-gara mbak Yenny sih gentayangan disini jadi lupa mau ketemu nona bos." Dewi ngibrit berlari meninggalkan Yenny yang penasaran kenapa temannya itu ingin bertemu nona bos. Yenny hanya bisa geleng-geleng kepala melihat temannya yang terburu-buru ke arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2