Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Persiapan Sebelum Hari H


__ADS_3

Seminggu berlalu, orang tua Jasmin juga sudah pulang ke rumah. Terlihat di rumah orang tuanya sangat sibuk mempersiapkan acara pertunangan Jasmin dan Bobby. Ada yang mendekor taman, ruangan dan masih banyak lagi lalu-lalang orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jasmin sendiri entah apa yang di kerjakan olehnya. Bahkan ia juga belum sempat ke rumah sakit. Ia memutuskan untuk menghampiri sang mama yang ada di taman.


"Hai ma..." Sapa Jasmin pada sang mama.


"Hai princess,, gimana menurut kamu. Apa ada yang kurang?" Issabell memperlihatkan dekorasi taman kepada Jasmin untuk di nilai.


"Ehm.. kayaknya udah deh ma. Semua sempurna. Mama is the best pokoknya." Seloroh Jasmin.


"Iya dong princess, mamanya siapa dulu dong"! Sahut Issabell.


"Ma, hari ini aku mau lihat kafe sebentar ya. Bosen di rumah terus gak ada kerjaan." Ijin Jasmin pada mamanya.


"Iya princess, boleh. Tapi minta temenin Bobby ya". Perintah Issabell.


"Gak usah ma, Jasmin bisa sendiri. Nanti malah ngerepotin mas Bobby." Tolak Jasmin halus.


"Oh, tidak bisa princess. Mulai sekarang kalau princess mama ini mau kemana-mana harus di temenin nak Bobby. Eits,, tidak ada penolakan!" Tegas Issabell yang melihat Jasmin mau menyahut lagi. Jasmin hanya bisa pasrah dan mengangguk.


"Ya sudah, sekarang kamu telfon Bobby suruh temenin kamu." Perintah Issabell lagi.


"Iya ma.." Jasmin mengangguk sembari mengeluarkan benda pipih itu di dalam saku celananya.


...****************...


Sementara itu, di perusahaan...

__ADS_1


Bobby dan Tuan Darwin sedang terlibat meeting dengan para direktur dan pimpinan anak cabang perusahaan di ruangan meeting. Konsentrasi mereka pecah ketika mendengar ada deringan ponsel yang ternyata adalah milik CEO mereka. Bobby melirik sekilas siapa yang menelponnya ini. Ternyata dari sang kekasih. Bobby mendekat ke arah Tuan Darwin dan berbisik.


"Om, dari princess." Kata Bobby sambil berbisik.


"Ya sudah kamu angkat saja diluar." Bobby mengangguk lalu pamit pergi keluar. Sementara Tuan Darwin dan yang lainnya melanjutkan acara meeting nya.


"Hallo sayang, ada apa? Tumben telfon jam segini?" Tanya Bobby menyelidik.


"Hallo mas. Gini, aku mau lihat kafe sebentar mas. Terus aku minta ijin sama mama katanya suruh mas yang anterin. Padahal kan aku bisa sendiri mas. Mas pasti lagi repot banget ya?" Terang Jasmin. Bobby mendengarkan sambil tersenyum.


"Iya sayang, mas tadi lagi meeting. Ada Om Darwin juga. Tapi gak pa-pa, nanti mas ijin ke Om." Jawab Bobby.


"Tuh kan, mas lagi repot. Mana lagi meeting juga. Mama sih, di bilangin aku bisa sendiri malah nyuruh mas buat anterin aku." Gerutu Jasmin kesal.


"Udah gak pa-pa. Jangan marah-marah lagi. Sebentar lagi mas jemput kamu." Bobby menenangkan kekasihnya.


Tut.. tut.. tut.. Sambungan telfon di putus. Bobby kembali ke ruang meeting, dan memberitahukan kalau Jasmin minta di jemput. Tuan Darwin mengangguk, mempersilahkan Bobby untuk mengantar sang princess. Biar meeting Om yang handle. Sorot mata Tuan Darwin mengisyaratkan seperti itu. Bobby lantas mengangguk dan pergi ke luar ruangan menuju ke ruangannya mengambil kunci mobil serta jasnya.


Bobby bersiap untuk melajukan mobilnya pergi menjemput sang kekasih, tiba-tiba saja ia melihat Putra yang sedang mempersiapkan mobil. Ia jadi teringat bahwa Jasmin meminta untuk mengundang Putra dan keluarganya. Meskipun ada perasaan tidak rela, tapi Bobby tetap akan memberi Putra undangan agar sang kekasih tidak kecewa padanya. Ia kemudian mengambil buku undangan di kursi belakang, dan segera keluar mobil untuk menghampiri Putra.


"Pak Putra". Sapa Bobby menghampiri.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Putra sedikit terkejut karena ada sang majikannya yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Saya hanya ingin memberikan ini. Jasmin meminta saya untuk mengundang anda sekeluarga untuk menghadiri acara pertunangan kami". Jelas Bobby sambil menyodorkan sebuah buku undangan kepada Putra. Putra lantas menerima buku undangan tersebut tanpa berkedip.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk datang ya Pak Putra. Kalo gitu saya permisi dulu. Silahkan lanjutkan lagi pekerjaannya." Bobby berlalu meninggalkan Putra yang masih mematung memandangi buku undangan tersebut. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan orang yang mirip dengan istrinya itu akan bersanding dengan pria lain.


...****************...


Hari ini, Putra pulang lebih awal karena Tuan Darwin memutuskan untuk pulang ke rumah setelah meeting tadi. Kira-kira butuh dua jam lamanya meeting tadi karena memang ingin menuntaskan semua pekerjaan sebelum acara pertunangan anaknya. Dan di sinilah Putra sekarang, duduk di sofa usang di teras rumahnya sambil mencicipi kue buatan ibu mertuanya.


"Ada apa nak, gak biasanya kamu banyak melamun seperti ini?" Tanya bu Rossa dari dalam rumah dan ikut duduk di sofa seberang bersama Putra.


"Tidak ada apa-apa bu. Ini, Jasmin mengundang kita untuk hadir di acara pertunangannya." Jawab Putra sambil memberikan buku undangan yang tadi di beri oleh Bobby.


"Jadi, karena ini kamu terlihat melamun, hmm..". Tanya bu Rossa.


"Bukan begitu bu. Ibu jangan salah paham. Putra..."


"Tak apa nak, ibu ngerti perasaan kamu. Kamu tak rela kan, kalau orang yang mirip dengan istri kamu bersanding dengan pria lain?" Seloroh Bu Rossa tepat sasaran. Putra hanya diam dan menunduk. Bu Rossa tersenyum melihat Putra hanya diam saja.


"Kita tidak akan menghadiri pertunangan mereka". Bu Rossa berkata tegas.


"Tapi bu..." Putra menyela tapi menggantung melihat ibu mertuanya menatapnya dengan tegas.


"Tidak nak. Ibu tidak membiarkan kamu menghadiri acara itu. Ibu tidak bisa melihatmu terkurung dalam masa lalu. Kamu harus bisa bangkit nak. Jasmin bukan istri kamu walaupun wajah mereka sama." Ucap bu Rossa berapi-api dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sebenarnya ia tidak mau menghadiri acara pertunangan Jasmin karena takut akan bertemu dengan Tuan Darwin dan Nyonya Issa. Ia belum siap jika saja mereka memberondong pertanyaan yang sulit ia jawab nantinya. Bu Rossa juga gak mau ada musuh mantan majikannya mengetahui keberadaannya yang selama ini berhasil menyembunyikan diri selama ini. Ya, Bu Rossa dulunya adalah kepala pembantu di rumah Tuan Darwin. Karena ada suatu hal, ia mengundurkan diri menjadi pembantu. Hal yang selama ini ia tutupi rapat-rapat dan hanya ia yang tau.


"Kamu percaya sama ibu kan nak?" Tanya bu Rossa pada Putra.


"Iya bu. Putra percaya sama ibu". Jawab Putra sedikit tak rela jika tidak datang ke acara pertunangan Jasmin.

__ADS_1


"Ya sudah, ibu masuk ke dalam dulu mau istirahat." Bu Rossa lantas masuk meninggalkan Putra sendirian di teras. Putra masih belum beranjak dan masih menatap lurus ke arah jalanan entah memikirkan apa..


__ADS_2