
Hari berganti hari, siang telah berganti malam. Hari ini adalah hari yang sudah di tunggu-tunggu semua orang. Hari pertunangan seorang CEO muda Bobby Hieronusha dengan anak pemilik perusahaan ternama Mozeela Group, Jasmin Putri Mozeela.
Terlihat para tamu undangan telah memasuki rumah utama dan langsung menuju ke tempat berlangsungnya acara. Jasmin terlihat celingak-celinguk menunggu kedatangan seseorang. Bobby yang melihatnya langsung menghampirinya.
"Sayang, kenapa masih di sini? Kita ke dalam ya. Acaranya sebentar lagi di mulai". Ajak Bobby pada Jasmin.
"Sebentar lagi mas." Jasmin terlihat gelisah saat tau acaranya akan dimulai dan orang yang di tunggu belum juga nampak batang hidungnya. Ya, ia menunggu kedatangan Putra dan keluarganya.
"Kamu lagi nunggu siapa sih sayang? Ellisa juga udah datang dari tadi. Semua undangan juga udah datang sayang." Jelas Bobby yang melihat Jasmin masih terlihat menunggu seseorang.
"Aku nunggu Fadhil mas. Mas udah kasih undangan ke mas Putra kan? Kenapa mereka belum datang mas?" Jasmin mencurigai Bobby pasal tidak datangnya Putra ke acaranya.
Deg...
Seketika hati Bobby terasa nyeri di tuduh sang kekasih sendiri. Ia tidak habis pikir dengan kekasihnya yang masih memikirkan orang lain di acaranya mereka berdua.
"Sudah sayang, mas sudah kasih undangannya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan sendiri pada orangnya." Bobby menjelaskan dengan hati berdenyut.
"Tapi kenapa mereka belum datang mas?" Selidik Jasmin pada Bobby. Bobby hanya bisa menghela nafasnya berat dan mengendikkan bahunya.
"Princess, Bobby, kenapa kalian malah ngobrol disini? Acaranya sudah mau mulai ini." Tuan Darwin memanggil mereka berdua untuk segera masuk ke dalam. Bobby menarik Jasmin untuk mengikutinya masuk ke dalam. Jasmin dengan berat hati menuruti Bobby dan papanya masuk ke dalam.
Terdengar tepuk tangan meriah dari tamu undangan yang hanya dari kerabat dan keluarga saja. Bobby, Jasmin serta ke dua orang tua Jasmin berdiri di depan semua tamu undangan dan setelahnya memberikan sepatah dua patah kata sambutan.
Setelah selesai dengan sambutan dari tuan rumah, acara selanjutnya yaitu memasangkan cincin pertunangan. Bobby terlihat antusias memasangkan cincin di jemari lentik sang tunangan. Jasmin tidak fokus melihat pemasangan cincin di jarinya itu karena ia terus menatap ke arah pintu masuk, berharap Putra dan keluarganya akan datang.
__ADS_1
Kini giliran Jasmin yang harus memasangkan cincin di jari Bobby. Bobby yang melihat Jasmin tidak fokus, segera memanggil dan menyadarkannya.
"Sayang,, sayang,,". Jasmin terkesiap lalu menatap ke arah Bobby.
"Sekarang giliran kamu". Bobby memberi tahu Jasmin bahwa sekarang giliran dirinyalah yang memasangkan cincinnya. Jasmin kemudian meraih cincin dan segera memasangkannya pada tunangannya.
Tepuk tangan yang meriah sekali lagi mereka persembahkan pada pasangan yang telah resmi bertunangan. Bobby tak lupa mengecup kening Jasmin sebagai pertanda bahwa acara pertunangan telah selesai dan di lanjut dengan menikmati hidangan yang telah tersaji.
Di sudut taman, mereka semua tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memandang mereka dengan tatapan seringaian liciknya. Kalian kali ini boleh bersenang-senang di atas penderitaan ku. Sebentar lagi, kebahagiaanmu akan aku ganti dengan deraian air mata. Monolog orang yang menyamar sebagai pelayan katering, makanya ia bisa lolos dari penjagaan pengawal di rumah utama Tuan Darwin.
"Mas, aku balik ke kamar dulu ya." Pamit Jasmin pada Bobby.
"Iya sayang, nanti mas susul kamu. Mas masih mau menyapa kerabat papa dulu". Jasmin mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Bobby. Ellisa yang mengamati perubahan wajah Jasmin segera saja mengikutinya sampai ke kamarnya.
"Kok gak di angkat sih. Gini Ell, aku kan udah ngundang mas Putra untuk datang ke acara pertunangan ku, tapi sampai sekarang gak dateng-dateng. Telfonnya juga gak di angkat-angkat dari tadi. Kenapa ya Ell?" Jasmin jadi was-was sendiri.
"Eh busyet dah! Gue kira ada apa loe celingak-celinguk, mondar-mandir, tau-taunya lagi nungguin pria lain!. Inget Jas inget, loe itu udah tunangan sama Bobby. Gak pantes tau gak masih nungguin pria lain". Gerutu Ellisa yang kesal dengan tingkah aneh Jasmin.
"Dia bukan pria lain Ell, dia tu temen aku. Wajarlah kalo aku nungguin dia." Terang Jasmin tak terima Putra di sebut pria lain.
"Sejak kapan loe punya temen dari karyawan om Darwin?" Selidik Jasmin.
"Ya.. ya.. kita berteman kan gak harus pandang siapa kita dan siapa dia Ell. Kita berteman tidak harus pilih-pilih juga kan?". Jasmin mencoba mengelak. Ellisa memicingkan mata curiga.
"Jangan bilang loe...". Ellisa tidak melanjutkan ucapannya karena sudah di sahut oleh Jasmin.
__ADS_1
"Apaan sih. Jangan mikir yang macam-macam ya. Awas aja lu!" Ancam Jasmin yang di sambut tawa cekikikan Ellisa.
"Ya udah, bantuin nih." Jasmin menyuruh Ellisa untuk membantu mengganti pakaiannya. Ellisa patuh.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok sang tunangan yang masih berbalut jas yang tadi di kenakan pada saat acara. Untung Jasmin sudah selesai mengganti bajunya.
"Sayang, mas pulang dulu ya." Pamit Bobby pada Jasmin yang ingin pulang ke apartemen karena acara sudah selesai dan semua tamu undangan juga sudah pulang.
"Kok pulang mas? Nginep sini aja. Kan banyak kamar juga. Lagian ini udah malem. Mas pasti capek kan?" Jasmin menghalangi Bobby untuk pergi.
"Ya sudah, kalo gitu mas istirahat di kamar tamu ya. Kamu segera istirahat. Ells, kamu juga segera istirahat." Pamit Bobby. Jasmin hanya menganggukkan kepalanya.
"Siap Boss!" Ellisa menanggapi dengan mengacungkan jempolnya.
...****************...
Di lain tempat, pada saat yang bersamaan...
Putra yang masih duduk di teras sambil sesekali menyesap kopi yang tadi di buatnya, melirik ke arah telpon genggamnya yang sedari tadi berdering. Ia sengaja tidak mengangkatnya karena ia tahu, Jasmin pasti akan menanyakan perihal ketidak datangannya pada acara pertunangannya. Ia terlihat menghembuskan nafas dengan gusar. Alasan apa yang nanti akan di berikan nya pada Jasmin kalau nanti mereka bertemu.
"Dari tadi hape bunyi terus kenapa gak kamu angkat nak?" Bu Rossa yang mendengar dari dalam rumah menanyakan perihal ponsel yang dari tadi berdering tapi tak kunjung di terima oleh Putra.
"Dari Jasmin bu. Biarkan saja. Mungkin mau menanyakan perihal kedatangan kita." Jawab Putra. Bu Rossa hanya mengangguk, setelah itu ia melenggang pergi ke dalam lagi. Putra masih larut dalam pikirannya. Apa kamu bahagia Jasmin. Aku ikhlas jika kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu cintai. Walaupun kamu bukan istriku, tapi kenapa sepertinya aku tidak rela...
__ADS_1