
"Mas,, itu tadi yang sopirnya Papa bukannya Tuan Putra ya?"
Setelah sampai di ruangan dan keduanya mendudukkan diri di sofa, Jasmin bertanya kepada sang kekasih.
Bobby menaikkan sebelah alisnya karena bingung dengan pertanyaan Jasmin.
"Tuan Putra yang mana Sayang?"
"Itu loh Mas, yang kejadian di taman tempo hari."
Bobby masih belum paham.
"Ihh,, yang anaknya manggil aku dengan sebutan Mama itu loh..!"
Jawab Jasmin sedikit kesal dan memanyunkan bibirnya ke depan karena sang kekasih tak juga paham-paham.
"Oh,, itu. Benar juga ya yang kamu bilang Sayang.
Tapi aku baru tau loh kalau Tuan Putra itu adalah sopirnya Om Darwin.
Secara, kamu sendiri kan tau Sayang, aku kemana-mana selalu bawa mobil sendiri. Jadi aku tidak tau mengenai sopir perusahaan".
Jelas Bobby sambil mengendikkan bahunya.
Jasmin hanya mengangguk dan ber oh-oh ria.
"Sayang, lusa kan weekend, gimana kalo kita cari cincin sekaligus gaun untuk nanti acara pertunangan kita?
Kebetulan jadwal aku juga lagi free".
"Boleh Mas. Emang kita mau beli dimana?
Di tempat Mama atau mau di tempat yang lain?"
Tanya Jasmin sambil memainkan benda pipih di tangannya.
"Kita beli di tempat lain aja ya Sayang.
Kebetulan aku punya rekomendasi temen yang menyediakan cincin, aksesoris sekaligus gaunnya.
Ini kan hari spesial kita, jadi aku maunya pakai dari uang hasil kerjaku. Nanti kalau kita ke butiknya Tante Issa, bisa-bisa di suruh bawa pulang semuanya Sayang dan gak mau di bayar. Aku gak mau seperti itu."
"Ya kan gak pa-pa Mas, itung-itung irit, buat persiapan nikah nanti".
Jasmin cengar-cengir.
"Gak bisa Sayang, aku gak mau di cap sebagai lelaki matre. Kamu kan tau dari dulu aku orangnya gimana. Aku akan bekerja lebih giat lagi untuk nanti persiapan pernikahan kita. Kamu gak usah khawatir, Okeh...?"
"Uhh, co cweet...!"
Ungkap Jasmin sambil kedua tangannya memegang pipi Bobby.
Keduanya lalu tergelak bersama dan berbincang-bincang sampai keduanya lupa waktu.
Sudah hampir maghrib, tibalah Bobby berpamitan kepada sang kekasih.
"Sayang, sudah maghrib, aku pulang dulu ya. Segera mandi dan istirahat."
"Kamu gak nginap disini aja Mas?" Tanya Jasmin.
"Gak usah, gak enak sama karyawan kamu. Lagian kita juga belum halal."
Bisik Bobby sambil mengerlingkan matanya menggoda Jasmin.
__ADS_1
Jasmin yang di goda pun merasa malu, pipinya merona dan telinganya terasa panas.
Tidak mau terus digoda oleh sang kekasih, Jasmin lalu mendorong Bobby untuk segera pulang.
"Ya sudah, Mas pulang aja sana".
Bobby tergelak, menyadari wajah sang kekasih sudah seperti kepiting rebus, mengakhiri menggodanya dan segera pamit pulang.
"Aku pulang dulu Sayang".
Bobby pamit dengan mengecup kening Jasmin.
Jasmin mengangguk lalu mempersilahkan Bobby keluar ruangan.
Setelah melambaikan tangannya ke arah Bobby melalui jendela kaca dan di balas olehnya, Jasmin bergegas menuju lantai atas dan bersiap membersihkan diri kemudian istirahat.
Sementara itu, disaat yang bersamaan...
Setelah mengantar Tuan Besar kembali ke rumah dan memastikan Tuannya masuk ke dalam rumah, Putra segera melajukan mobilnya kembali ke perusahaan.
Ia ingat tadi pesan dari sang Tuan Besar, untuk langsung pulang saja, karena hari ini beliau sudah tidak ada acara lagi.
Sesampainya di perusahaan, Putra lantas memarkirkan mobilnya dan menuju ke loker tempat penyimpanan tas dan langsung mengambilnya lalu bersegera pulang.
"Bro, gue pulang duluan. Tuan Besar sudah gak ada acara lagi." Seru Putra kepada teman-teman sejawatnya.
"Okeh Bro, hati-hati ya".
Yang dibalas dengan acungan jempol oleh Putra.
Putra langsung menuju ke parkiran motornya, mengeluarkan dari sana dan menstarter motornya melaju ke kediamannya.
"Assalamu'alaykum..." Seru Putra dengan malas setelah sampai rumah.
Bu Rossa sampai bingung dengan tingkah Putra, tidak seperti biasanya.
Ia lalu menggelengkan kepalanya, mungkin menantunya itu sedang capek.
Saat akan membersihkan kotak bekal makan yang dibawa Putra, Bu Rossa lagi-lagi dibuat tak percaya karena makanan yang dibawa masih utuh, setengahnya saja tidak habis.
"Ada apa dengan anak itu. Tidak seperti hari-hari biasanya. Biasanya selalu habis dan lahap. Ini setengahnya saja tidak sampai habis. Apa masakan ku hari ini tidak enak ya? Tidak juga ,,. masih sama seperti biasanya".
Gumam Bu Rossa yang mendapati menantunya itu bersikap aneh.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00.
Waktunya makan malam untuk keluarga Putra.
Makan malam di biasakan jam segitu karena kasian dengan Fadhil nanti kalau terlalu malam.
"Ayah mana Nek?"
Tanya Fadhil saat ke ruang makan hanya mendapati sang Nenek seorang.
"Ayah kamu dari tadi sepulang kerja belum keluar kamar. Coba gih kamu panggil."
"Iya Nek".
Fadhil langsung berlari ke arah kamar ayahnya.
Diketuknya perlahan pintu kamar itu.
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
"Ayah, bangun. Udah waktunya makan malam."
Teriak Fadhil dari luar.
Satu detik,, dua detik,, tiga detik.. masih belum ada jawaban.
"Yah, bangun,, Fadhil udah laper nih...!"
Fadhil sedikit meninggikan suaranya berharap sang ayah segera bangun.
Terdengar gumaman dari arah dalam kamar Putra.
"Iya, sebentar Boy.."
Fadhil lalu memutuskan untuk menunggu di meja makan bersama neneknya.
Selang beberapa menit, terdengar suara pintu kanar dibuka.
Ceklek.
Putra melangkah menuju meja makan.
Wajahnya terlihat kusut, rambutnya acak-acakan dan jangan lupakan kemeja yang sudah berantakan itu.
Bu Rossa dan Fadhil yang melihatnya sontak saling pandang dan menahan tawanya.
"Lebih baik kamu cuci muka dulu Nak. Tuh lihat muka kamu". Bu Rossa menegur.
Tanpa menjawab Bu Rossa, Putra melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Bu Rossa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sementara Fadhil sudah terkikik geli.
Mereka bertiga makan dengan lahap tanpa ada yang bersuara.
Hanya terdengar dentingan sendok di atas piring.
Setelah semuanya selesai, Bu Rossa segera membersihkan sisa makanan di meja.
Sementara Fadhil ke kamarnya untuk belajar, dan Putra ke ruang tamu untuk nonton tivi.
Melihat sang menantu masih di ruang tamu, Bu Rossa berinisiatif untuk menanyakan keadaan sang menantu, kenapa hari ini terasa begitu aneh.
"Boleh ibu duduk?"
Tanya Bu Rossa kepada Putra yang di angguki oleh Putra.
Bu Rossa lantas duduk di kursi seberang Putra.
"Sebenarnya apa yang terjadi hari ini Nak?. Ibu lihat kamu tidak seperti biasanya. Apa ada masalah?Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa cerita sama ibu. Ibu kan juga ibu kamu."
Bu Rossa memulai pembicaraan.
Putra terdengar menghela nafas berat.
Lalu menoleh ke arah ibu mertuanya.
Dan mulai bertanya.
"Bu,, apakah mendiang Melati mempunyai kembaran?"
Deg.
__ADS_1