Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Nyaman


__ADS_3

Hari ini, setelah melakukan beberapa tes kesehatan, Fadhil di nyatakan boleh pulang setelah infus habis. Mungkin siang atau sore hari. Putra membereskan barang-barang yang di bawa ke dalam tas. Begitupun Jasmin juga ikut membantu. Jasmin belum boleh pulang sama sekali karena setiap Jasmin pamit mau pulang, Fadhil pasti menangis. Jasmin pun tak tega dan akhirnya disinilah Jasmin, masih dirumah sakit.


"Ma, kapan Fadhil pulang? Fadhil udah bosen tidur terus, Fadhil mau main di rumah." Rengek Fadhil yang terus meminta untuk pulang.


"Sebentar lagi ya sayang, nunggu infusnya habis dulu dan menanti dokter visit. Baru deh nanti Fadhil boleh pulang." Ucap Jasmin memberi pengertian. Fadhil pun mengangguk dan kembali beristirahat.


Setelah beberapa saat menunggu, infusnya sudah habis, kemudian Jasmin menyuruh Putra untuk menemui dokter.


"Mas, infusnya udah habis, mas panggil dokter sekarang saja." Ucapnya yang di angguki oleh Putra. Ia lantas bergegas ke ruangan dokter yang menangani Fadhil.


"Bagaimana dok keadaannya?" Tanya Jasmin pada sang dokter yang telah selesai memeriksa Fadhil.


"Alhamdulillah, semua sudah normal dan baik. Sekarang pasien sudah bisa pulang". Jelas sang dokter.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Mari Tuan, Nyonya." Ucap sang dokter sambil sedikit membungkuk menghormati.


"Terimakasih dokter". Jawab Jasmin dan Putra bersamaan.Sang dokter lalu melenggang pergi ke luar ruangan.


"Alhamdulillah,, akhirnya sampai di rumah juga". Ucap Jasmin setelah sampai di depan pintu rumah Putra.


"Assalamu'alaykum..." Putra mengetuk pintu sambil sambil memberi salam. Terdengar sahutan dari dalam rumah.


"Wa'alaykumsalam..." Baru saja pintu rumah di buka, Fadhil langsung menghambur ke pelukan neneknya.


"Nenek,,, Fadhil kangen sama nenek". Ucapnya.

__ADS_1


"Nenek juga kangen sama Fadhil. Gimana, Fadhil udah sembuh?" Tanya Rossa memindahi tubuh Fadhil dari atas hingga bawah.


"Sudah nek, nenek tenang saja. Karena ada mama yang merawat Fadhil. Jadi Fadhil cepat sembuh." Ucap Fadhil bersemangat. Mendengar cerita dari Fadhil, Putra dan Jasmin reflek tersenyum, berbeda dengan Rossa yang tiba-tiba saja diam. Putra yang menyadari perubahan raut wajah Rossa, mengalihkan pembicaraan.


"Sebaiknya kita masuk dulu bu, kita lanjutkan ngobrolnya di dalam. Masa ngobrolnya di depan pintu. Lagian Fadhil juga harus istirahat lagi". Rossa mengangguk, begitupun Jasmin dan Fadhil.


"Ma, temani Fadhil bobok di kamar ya". Pinta Fadhil pada Jasmin. Jasmin menoleh ke arah Putra dan Rossa uang sudah duduk di sofa ruang tamu. Putra menganggukkan kepalanya, sementara Rossa hanya diam saja.


"Saya temani Fadhil istirahat dulu mas, ibu." Pamit Jasmin pada keduanya.


"Ayo sayang." Jasmin lantas merangkul Fadhil untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah keduanya masuk ke dalam kamar Fadhil, Rossa menatap Putra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Apa kamu masih berhubungan dengan Jasmin? Tanyanya pada Putra.


"Maksud ibu?" Bukan menjawab, Putra malah balik bertanya.


"Tapi yang ibu lihat, kamu gak menganggap dia sebagai teman kamu Putra. Kamu menganggap dia lebih dari seorang teman." Putra terdiam tak berani bicara lagi.


"Dia sudah bertunangan nak, dan dia bukan Melati. Dia Jasmin!" Tegas Rossa menahan gemuruh yang ada di dadanya.


"Tapi bu, mereka masih bertunangan, belum menikah. Sebelum janur kuning melengkung, Putra akan tetap berusaha untuk mendapatkan Jasmin. Bukan maksud Putra untuk tidak setia pada Melati, tapi Putra juga harus melanjutkan hidup seperti apa yang pernah ibu bilang". Ucap Putra sedikit tertahan karena takut jika Jasmin akan mendengar obrolannya dengan sang ibu.


"Itu bukan cinta nak, tapi itu obsesi. Kamu terobsesi karena dia mirip sama istri kamu."


"Tidak bu, ibu salah. Aku cinta sama Jasmin. Putra mohon ibu restui apa yang sedang aku perjuangkan bu." Pinta Putra lirih. Rossa terdengar menghela nafas berat. Ia kemudian berdiri dan hendak pergi meninggalkan Putra. Sebelum itu, Rossa menatap Putra dengan sendu.

__ADS_1


"Terserah kamu nak, tapi kalau suatu saat nanti kamu kecewa, jangan pernah salahin ibu". Setelah mengucapkan itu, Rossa meninggalkan Putra di ruang tamu sendirian. Rossa yang sedang berjalan menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Jasmin yang baru keluar dari kamar Fadhil. Rossa hanya diam saja melihat Jasmin dan langsung berlalu begitu saja. Jasmin yang tak tahu apa-apa hanya mengendikkan bahunya.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Jasmin pada Putra yang terlihat menundukkan kepalanya sambil kedua tangannya memegang kepalanya.


"Ah,, gak pa-pa Jas. Fadhil udah tidur?" Jasmin mengangguk.


"Udah mas. Oh ya,, ibu tadi kenapa ya Mas, kok kayak aneh gitu?" Tanya Jasmin penasaran atas sikap Rossa yang tiba-tiba berubah.


"Aneh gimana maksud kamu?" Putra mengernyitkan dahinya bingung atas ucapan Jasmin.


"Ah, gak pa-pa Mas". Ucap Jasmin kemudian. Ia gak mau Putra berpikir macam-macam pada bu Rossa. Mungkin tadi hanya perasaan Jasmin saja.


"Mas, karena Fadhil udah tidur, aku pamit pulang ya." Pamit Jasmin pada Putra.


"Yasudah, kalau gitu aku antar pulang ya." Tawar Putra agar ia bisa semakin dekat dengan Jasmin.


"Emang gak ngrepotin mas?" Tanya Jasmin meyakinkan.


"Gak repot Jas, malah aku seneng bisa anterin kamu. Kamu kan juga udah rawat Fadhil sampai sembuh, jadi biarin aku anter kamu. Tapi ya hanya menggunakan motor butut ku itu." Tunjuk Putra ke depan rumah yang terparkir motor bututnya.


"Gak pa-pa mas, malah jadi pengalaman baru nanti buat aku." Jawab Jasmin tersenyum senang.


"Ya sudah, aku pamit ibu dulu ke dalam." Putra lantas berjalan menuju kamar ibunya setelah mendapat persetujuan dari Jasmin.


"Bu, Putra anterin Jasmin pulang dulu ya. Titip Fadhil bu." Tak ada jawaban dari dalam, Putra lantas langsung saja kembali ke depan untuk mengantar Jasmin. Pikir Putra, ibunya pasti mendengar pamitan dari Putra wong kamarnya saja tidak kedap udara.

__ADS_1


Setelah memastikan Jasmin naik dengan benar di atas motornya, Putra lalu melajukan kendaraannya pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. Meraka tidak tau saja, sejak tadi Rossa melihat interaksi keduanya dari dalam rumah semenjak Putra berpamitan padanya tadi. Ia terlihat menghela nafas berat.


Di dalam perjalanan, mereka_ Jasmin dan Putra_ terlibat obrolan yang mengasyikkan jika di lihat dari seringnya mereka tertawa. Mereka membicarakan berbagai hal sampai-sampai Putra dengan seluruh keberaniannya membawa tangan Jasmin untuk memeluk pinggang Putra. Jasmin tersentak kaget, tapi tidak menolak apa yang dilakukan Putra. Ia malah menenggelamkan wajahnya pada punggung Putra yang lebar dan terasa nyaman. Putra yang menyadari hal itu pun lantas tersenyum senang. Putra mengusap-usap tangan Jasmin yang melingkar di pinggangnya. Nyaman..


__ADS_2