
Maafkan aku Melati, bukan maksudku untuk menduakan mu, tapi entah kenapa hatiku berdetak dengan kencang ketika aku bersamanya. Aku seperti melihatmu kembali. Aku tak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini. Akan tetapi, kamu akan tetap tersimpan di sudut hatiku yang paling dalam...
Setelah mengatakan itu, Putra meletakkan kembali foto tersebut ke atas nakas, setelahnya ia langsung merebahkan tubuhnya untuk menjemput sang mimpi indah.
Hari ini, Jasmin sengaja bangun pagi untuk memasak makan siang dan akan diantar ke kantor. Ia melebihkan masakannya yang mana nanti akan di berikan kepada Putra juga. Mengingat ini adalah pertama kalinya ia datang ke kantor, maka nanti ia akan mengenakan pakaian yang semi formal.
Jasmin sengaja tidak memberi tahukan pasal kedatangannya ke kantor pada sang kekasih agar menjadi sebuah kejutan. Mengingat kemarin sang kekasih terlihat cuek padanya, maka kedatangannya kali ini mungkin sedikit menyenangkannya.
Sesampainya di depan kantor, Jasmin gegas masuk ke dalam dan bertanya kepada resepsionis.
"Permisi mbak, Pak Bobby nya ada?"
"Iya Nyonya, ada. Silahkan langsung saja ke ruangannya. Apa perlu saya antar?" Ucap sang resepsionis yang di ketahui bernama Ratih di name tag yang ia pakai. Walaupun Jasmin baru datang hari ini di kantor sang papa, tapi seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut telah mengetahui bahwa Nona Jasmin Putri Mozeela adalah anak dari pemilik perusahaan MZ Group sekaligus pewaris tunggal dari pasangan Tuan Darwin dan Nyonya Issabell.
"Biar saya sendiri saja mbak. Terimakasih." Jasmin kemudian langsung menuju ke lantai tempat dimana ruangan sang kekasih dengan menggunakan lift.
Sesampainya di depan ruangan Bobby, Jasmin lantas mengetuk pintu dulu.
Tok...tok...tok...
"Masuk..." Terdengar jawaban dari dalam ruangan. Jasmin kemudian membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Sesaat Jasmin terpesona melihat sang kekasih yang sedang serius berkutat dengan berkas-berkas yang menggunung di depan meja kerjanya. Ketampanannya bertambah berkali-kali lipat jika kekasihnya sedang serius seperti ini.
"Sureprize..." Bobby tersentak kaget melihat siapa yang datang. Ternyata adalah sang kekasih.
"Hai sayang. Kok gak ngasih kabar mas kalau mau main kesini? Kan bisa mas jemput". Bobby memberondong pertanyaan sambil mendekat ke arah Jasmin dan langsung memeluknya.
"Kalau aku kasih tau namanya bukan kejutan mas. Aku emang sengaja datang kesini untuk membawakan makan siang." Jelas Jasmin sambil meletakkan rantang yang ia bawa tadi.
"Terimakasih sayang. Kebetulan banget mas juga sudah lapar. Ayo kita makan sama-sama. Itu yang satu rantang lagi untuk siapa sayang?" Tunjuk Bobby pada satu rantang yang berada di sofa.
__ADS_1
"Oh, itu. Tadi kebetulan aku masak lebih mas. Dan ini aku mau kasihkan ke pak Putra." Jelas Jasmin.
Deg...
Lagi-lagi Bobby harus menahan rasa sesak yang ada di dadanya. Ia mencoba untuk tersenyum walaupun hanya setengah hati. Dan bergegas menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Selera makannya langsung hilang ketika Jasmin memutuskan untuk mengantar makanan kepada Putra tanpa mau menemaninya makan terlebih dahulu.
"Mas, aku antar ke pak Putra dulu ya". Ijin Jasmin sambil berdiri bersiap meninggalkan Bobby.
"Kamu gak mau makan sama mas dulu sayang. Kita makan sama-sama dulu ya. Setelah itu baru kamu antar ke pak Putra." Pinta Bobby berharap Jasmin akan menemaninya makan siang.
"Gak usah mas, tadi aku sudah makan sebelum kesini. Nanti setelah aku antar makanan ke pak Putra, aku langsung pulang kok mas." Jasmin menolak ajakan Bobby.
Bobby hanya bisa pasrah dan hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tanpa ada niat untuk menjawab Jasmin.
Setelah Jasmin keluar dari ruangannya, Bobby menghela nafas berat dan tidak melanjutkan makannya melainkan langsung berdiri dan menuju kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia menyibukkan diri agar tidak berpikiran yang buruk tentang sang kekasih. Rasa lapar yang tadi mendera, sekarang sudah tidak terasa lagi.
"Mas, ini aku bawain bekal makan siang. Tadi aku masak lebih, sekalian aku antar ke mas Bobby" Jasmin menyerahkan rantang berisi makanan kepada Putra.
"Ck,, non lagi panggilnya. Jasmin aja mas." Jasmin berdecak.
"Tidak bisa non, ini kan area kantor, jadi saya harus bersikap profesional. Dan lagi, nona adalah anak dari pemilik perusahaan ini." Jelas Putra.
"Gak pa-pa mas. Lagian aku juga gak mempermasalahkannya kok".
"Maaf non, tapi saya gak bisa." Tolak Putra tegas.
"Ya sudah terserah mas saja." Ungkap Jasmin pasrah.
"Ayok di makan mas, aku temenin makannya". Jasmin menawarkan akan menemaninya makan siang.
__ADS_1
"Tidak usah non. Mending non pulang saja. Tidak enak jika di lihat karyawan lain."
"Jadi mas Putra ngusir aku?" Tanya Jasmin mendelik.
"Bukan begitu non,, tapi...." Belum sempat Putra melanjutkan bicaranya, sudah di sela oleh Jasmin.
"Udah mas, gak usah kebanyakan ngobrol. Nanti jam istirahatnya keburu habis. Ini....". Jasmin membuka rantang dan mengambilkan makanan untuk Putra.
Baru dapat beberapa suap makan, tiba-tiba terdengar suara yang menyapa mereka.
"Princess,, ngapain kamu di situ sayang?" Tuan Darwin menghampiri mereka.
"Uhuk.. uhuk..." Putra tersedak makanannya sendiri sebab terkejut karena tiba-tiba ada Tuan Darwin yang menyapa Jasmin dan di belakangnya juga ada Tuan Bobby. Jasmin reflek membuka botol minuman dan segera menyodorkannya kepada Putra. Putra yang mendapat perlakuan seperti itu di depan majikannya hanya bisa menunduk serta canggung.
Tuan Darwin dan Bobby yang memperhatikan mereka berdua hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Eh Pa, mas Bobby.." Jasmin segera menghampiri sang papa dan kekasih.
"Papa dan mas Bobby mau kemana?"
"Papa mau bertemu klien. Jasmin, kamu ngapain tadi?" Tuan Darwin masih menanyakan perihal tadi.
"Em, anu pa, tadi aku bawain makan siang buat mas Bobby, karena ada lebih jadi aku kasih aja ke mas Putra. Iya kan mas?" Jelas Jasmin sambil menatap ke arah Bobby yang hanya di tanggapi dengan anggukan.
"Sejak kapan kamu kenal sama sopir papa Princess? Padahal kamu tidak pernah ke kantor papa selama ini?" Tanya Tuan Darwin sambil memicingkan matanya.
"Itu ..."
"Om, lebih baik kita segera berangkat. Klien sudah sampai di restoran." Bobby mengalihkan pembicaraan agar Tuan Darwin tak lagi menyudutkan Jasmin. Tuan Darwin mengangguk lalu berpamitan pada Jasmin.
__ADS_1
"Baiklah. Jasmin, papa pergi dulu. Pak Putra, tolong nanti antar Jasmin sampai rumah dengan selamat." Putra mengangguk hormat. Setelah itu Tuan Darwin dan Bobby bergegas pergi meninggalkan Jasmin.