
"Ehhmm...!
Terdengar deheman keras dari Bobby.
Seketika itu, Jasmin melepaskan jabatan tangannya dari Putra.
"Oh.. dan ini Bobby, pacar saya".
Sambil menggandengkan tangannya ke tangan Bobby, Jasmin mengenalkan pacarnya ke Putra dengan sedikit kikuk.
"Bobby...." Seru Bobby tersenyum sambil menjabat tangan Putra.
"Putra... Senang berkenalan dengan Tuan dan Nona".
"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan Putra.
Masih ada yang perlu kita kerjakan".
"Fadhil, Om sama Tante pulang dulu ya," Pamit Bobby.
"Tapi Fadhil mau pulang sama mama.." Rengek Fadhil.
"Tante sama Om masih ada urusan Sayang, Fadhil pulang dulu sama ayah ya.
Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi.
Katanya Fadhil mau nurut sama Tante??"
Jasmin memberi pengertian kepada Fadhil dengan lembut.
"Tapi janji ya ma, kita ketemu lagi.."
"Iya sayang, Tante janji."
Sambil menyodorkan jari kelingking, Fadhil meminta pinky promise kepada Jasmin.
Jasmin menerima uluran tangan Fadhil sambil tersenyum.
"Yasudah, kalau begitu Tante sama Om pamit dulu ya, Tha-tha Fadhil.."
Jasmin dan Bobby melambaikan tangannya kearah Fadhil, dan dibalas juga oleh Fadhil.
Bobby segera menarik pinggang kekasihnya menuju mobil dimana mereka parkir tadi.
Sementara itu, Putra yang masih melihat sepasang kekasih tersebut sampai hilang dari pandangan, tersentak karena sang anak mengajak pulang.
Sesampainya di sebuah rumah sederhana, Putra memarkirkan motornya di teras, dan mengajak anaknya untuk segera masuk.
"Assalamu'alaykum ...."
"Wa'alaykum salam,,,"
Terdengar jawaban dari dalam rumah.
"Kalian dari mana saja? Ibu khawatir terjadi apa-apa sama kalian".
"Kenapa gak ngabarin Ibu?"
Cecar wanita paruh baya yang baru saja keluar dari arah dapur.
Ibu paruh baya itu adalah ibunya Melati, mertua Putra dan juga Neneknya Fadhil.
Wanita yang bernama Rossa itu telah sejak lama tinggal bersama Melati dan Putra, karena hanya tinggal seorang diri.
Karena tidak tega, Melati pun membawa serta Rossa untuk tinggal bersama atas ijin suaminya, Putra.
Dan semenjak Melati meninggal, Putra menyuruh agar tetap mau tinggal bersama dengannya agar bisa merawat cucunya.
__ADS_1
Rossa pun menyetujuinya, karena sejujurnya ia tak bisa jauh dari cucu kesayangannya.
"Maaf Ibu, tadi kami dari taman. Karena keasikan bermain jadi kami lupa waktu. Ibu kan tau sendiri, jarang-jarang Putra ada waktu longgar".
Ya, selama bekerja sebagai supir perusahaan, Putra harus selalu siap standby apabila mengantar sang bos kemanapun ia pergi.
Seperti mengantar bertemu client, makan siang ataupun ke luar kota.
"Yasudah, sekarang Fadhil mandi dulu, nanti kita makan malam bersama".
"Kamu juga Putra, sebelum malam cepat mandi"!
"Siap Nek,,,Siap Bu"!. Jawab Putra dan Fadhil serentak.
Putra dan Fadhil segera beranjak menuju kamar masing-masing.
Mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah keduanya sampai didepan pintu kamar mandi, Putra dan Fadhil saling berpandangan.
Siapa nanti yang akan mandi duluan.
Karena memang kamar mandinya hanya satu dirumah sederhana tersebut.
"Hai Boy, mau mandi bareng sama ayah?"
Fadhil pun mengangguk antusias.
"Lets go..." Seru keduanya sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Rossa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kekompakan anak dan ayah tersebut.
Sementara itu, didalam sebuah mobil mewah, terlihat Jasmin dan Bobby nampak fokus dengan pikiran masing-masing.
Jasmin yang menatap ke arah jalanan, dan Bobby yang fokus menyetir sesekali melirik ke arah Jasmin.
"Sayang, kamu kenapa??"
Tanya Bobby memecah kesunyian keduanya.
Sambil menggenggam tangan Jasmin, sesekali melirik kearah jalanan dan wanitanya.
"Aku gak kenapa-napa Bob.., cuma ke capek an aja, pengen segera istirahat."
Terang Jasmin menoleh kearah Bobby sambil tersenyum.
Padahal Jasmin kepikiran kejadian tadi.
Tidak mau sampai Bobby tau, jadi dia terpaksa berbohong.
Jasmin gak mau Bobby mengira yang tidak-tidak mengenai Jasmin.
"Yasudah, kamu tidur aja dulu, nanti setelah sampai kafe aku bangunin".
Yang langsung di angguki Jasmin sambil mengelus puncak kepala Jasmin.
Jasmin memang tinggal di kafe yang ia kelola.
Rumah berlantai dua itu, dirubahnya menjadi kafe.
Lantai bawah untuk kafe, dan lantai dua untuk kantor dan kamarnya.
Ia tak mau tinggal bersama kedua orang tuanya karena memang sejak kuliah, Jasmin terbiasa mandiri dan tidak mau menggunakan fasilitas yang diberikan Papanya.
Sejak kuliah ia sudah mendirikan kafe itu.
Kafe bertema anak muda yang kekinian, membuat para pengunjung betah berlama-lama di kafe yang notabene para anak-anak muda zaman now.
__ADS_1
Disediakan jaringan internet gratis, membuat para anak-anak yang kehabisan kuota bisa mendapat wifi gratis.
Selain itu, makanan dan minuman yang tersedia juga pas di lidah dan juga pas di kantong para anak-anak kuliahan.
Apalagi yang sedang kanker alias kantong kering dan uang saku pas-pasan.
Maka tak heran jika setiap hari kafe "D' Green" begitulah nama kafe nya, selalu di padati pengunjung, terutama anak-anak muda.
Kafe "D' Green" buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 21.00 malam.
"Sayang, bangun. Sudah sampai".
Begitu sampai di pelataran kafe, Bobby membangunkan sang kekasih.
"Eng... yasudah aku masuk dulu ya. Kamu gak mau mampir dulu?"
"Besok aja sayang, masih banyak yang harus aku kerjakan".
Sambil mengecup puncak kepala Jasmin, Bobby menyuruh untuk segera masuk.
Dan di angguki Jasmin.
Setelah Jasmin masuk ke dalam kafe, Bobby perlahan meninggalkan pelataran kafe menuju apartemen yang ditinggalinya.
Sesampainya di kamar, Jasmin lantas membaringkan tubuhnya di kasur single miliknya.
Menatap langit-langit kamar sambil mengingat kejadian sore tadi di taman.
"Putra, kenapa jantung ku berdetak kencang saat berada didekatnya?" Monolog Jasmin.
"Aargh... sial. Kenapa kalau di dekat Bobby aku merasa biasa saja, padahal kan dia calon tunangan aku."
Bingung Jasmin sambil mengacak-acak rambutnya.
Jasmin beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan pikirannya.
Mungkin dengan mandi pikirannya akan fresh dan tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya bingung tadi.
Setelah setengah jam ritual mandinya, Jasmin keluar kamar mandi dan duduk di meja rias.
"Kenapa wajah ku mirip sekali dengan Melati?" Sambil mengamati wajahnya di depan cermin hias.
"Apa aku punya saudara kembar?"
"Tapi tidak mungkin. Aku kan anak tunggal".
"Masa iya kalau gak kembar bisa mirip seperti itu sih?"
Sambil mengeringkan rambutnya, Jasmin masih kepikiran dengan Melati.
"Apa aku cari tahu saja ya?"
"Tapi mau cari tau dimana?"
"Gak mungkin kan aku tanya Papa dan Mama?"
"Nanti mereka bisa curiga."
"Apa aku menemui Putra saja ya, dan mencari tahu identitas Melati".
"Argh... sial, sial, sial!"
Jasmin terus bermonolog sendiri akibat kejadian tadi.
Pikirannya terus berkecamuk menerka-nerka siapa itu Melati.
Kenapa wajahnya begitu mirip sekali??
__ADS_1