
What???
Itukan butik inspirasi ku selama ini. Ternyata mamanya Jasmin yang punya.
"Jas, kamu hutang penjelasan sama aku".
"Penjelasan apalagi Ell,,? Udah ah, aku mau balik dulu. Bye... nanti kita kontekan aja".
Jasmin pamit sambil memeluk sahabatnya erat.
Setelah saling tukar nomor telepon, mereka akhirnya berpisah.
Ellisa mengantar sampai depan butik sambil melambaikan tangannya kepada sahabatnya.
Jasmin juga pun terlihat sama melambaikan tangannya.
Kemudian Bobby melajukan mobilnya membelah jalanan.
"Kita mampir kemana lagi Sayang?"
Tanya Bobby sambil sekilas menatap ke arah sang kekasih.
"Kita pulang aja ya Mas, aku udah capek banget".
"Okeh,, kamu tidur aja dulu, nanti aku bangunin setelah sampai kafe."
Bobby mengusap sayang rambut Jasmin.
Jasmin hanya mengangguk meng-iyakan perintah Bobby.
Hari sudah sore, ketika mobil Bobby sampai ke pelataran kafe.
"Mas gak mau mampir dulu, mau makan dulu atau minum dulu?"
"Gak usah Sayang, kamu istirahat aja"
Bobby mengusap pipi Jasmin lalu mencium keningnya.
Setelah itu Bobby bergegas menuju mobil dan pulang ke apartemennya.
*******
Sementara itu,, keesokan paginya.
"Bu, kami berangkat dulu."
"Iya Nak, hati-hati. Fadhil sekolah yang pinter ya".
"Siap Nek!". Seru Fadhil sambil mengangkat tangannya membentuk tanda hormat kepada sang nenek.
Mereka akhirnya berangkat setelah berpamitan.
Setelah mengantar Fadhil, Putra bergegas melaju ke arah seperti biasanya sebelum berangkat ke kantor.
Yaitu mampir ke kafe Jasmin hanya untuk sekedar melihat dari jauh.
Sampai di sana ia melihat Jasmin sedang membantu para karyawan menata peralatan kafe.
Setelah Putra memastikan bahwa melihat Jasmin di kafe, ia lantas melajukan motor bututnya ke arah perusahaan.
Tanpa ia sadari, setiap ia mangkal ditempat itu, Jasmin selalu memergokinya.
"Dia lagi... Sebenarnya sedang apa dia di sana? Dan menunggu siapa? " Gumam Jasmin.
"Apa besok aku temuin aja ya, jangan-jangan anaknya nyariin aku lagi?"
Pikir Jasmin, Fadhil sedang merindukan mamanya, jadi dia gak berani datang ke kafe untuk meminta bertemu dan hanya sekedar melihat dari jauh.
Matahari akan kembali ke peraduannya, kini saatnya seluruh karyawan perusahaan terlihat segera meninggalkan perusahaan.
__ADS_1
Termasuk salah satunya Putra.
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia juga bergegas untuk pulang.
Tak lupa ia mampir ke kafe hanya untuk melihat Jasmin.
Putra memarkirkan motornya, di sebuah pohon yang rindang.
Baru saja mematikan motor bututnya dan melepaskan helm nya, ia di kejutkan oleh tepukan keras di pundaknya.
Bugh...
"Sebenarnya apa yang Tuan Putra lakukan disini?"
Seru Jasmin mengagetkan Putra.
Belum juga turun dari motor sudah dikagetkan saja.
"Maaf Nona, sa.. saya hanya ingin istirahat sebentar disini."
Sahut Putra dengan agak gugup.
"Kalau hanya ingin istirahat, kenapa tidak masuk saja ke dalam kafe Tuan?"
Dan juga, kenapa mangkal disini setiap pagi hari dan sore hari?"
Sebenarnya, apa yang Tuan tunggu?"
Putra yang diberondong pertanyaan seperti itu, langsung terkejut sekaligus kaget.
Sejak kapan Jasmin tahu kalau ia diam-diam mengawasinya.
"Maafkan saya Nona sebelumnya, tapi saya masih memikirkan bahwa mendiang istri saya memiliki wajah yang sama dengan Nona, maka dari itu saya ingin melihat Nona dari jauh. Sepertinya saya menemukan istri saya kembali pada diri anda Nona."
Jelas Putra panjang lebar sambil terlihat gugup.
"Kalau begitu, kita ngobrol di dalam saja Tuan, tidak enak kalau dijalan begini. Mari Tuan.."
Jasmin mempersilahkan Putra untuk duduk disalah satu bangku, sementara Jasmin terlihat memesankan minuman dan makanan untuk tamunya.
"Tuan..."
"Putra, panggil Putra saja".
Putra menyela bicara Jasmin dan Jasmin hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Putra, apa kamu bekerja di kantor Papa?"
Tanya Jasmin yang seketika membuat Putra mengerutkan keningnya.
"Maksudku di perusahaan MZ Group?"
"Oh,, jadi anda adalah putri Tuan Darwin?"
Jasmin mengangguk membenarkan.
"Aku tau pas kamu lagi anterin Papa kesini."
"Iya Nona, saya adalah supir Tuan Darwin."
"Tak perlu pakek embel-embel Putra, panggil Jasmin aja, biar tambah akrab."
"Oh, baiklah kalo gitu."
Makanan dan minuman yang dipesan Jasmin telah datang.
"Minum dan makanlah dulu, ini salah satu menu favorit disini."
"Terimakasih".
__ADS_1
"Tak perlu sungkan. Oh ya, gimana kabar Fadhil? Apa dia masih mencari-cari mamanya?
Sambil meminum minumannya Putra menggelengkan kepalanya.
"Sejak pertemuan denganmu waktu itu, dia tak lagi mencarinya. Mungkin sempat bertemu denganmu itu sedikit mengobati rasa rindunya kepada mamanya."
Putra sedikit berkaca-kaca menceritakannya.
"Aku turut prihatin. Kalau sewaktu-waktu Fadhil ingin bertemu, kamu ajak aja dia kemari. Dia pasti seneng banget."
Seloroh Jasmin bersemangat.
"Apakah boleh? Aku takut akan merepotkan mu nanti".
"Tidak apa-apa. Fadhil anaknya baik dan penurut menurutku.
Putra mengangguk.
"Aku boleh tanya satu hal?"
Putra langsung menatap Jasmin.
"Apa yang mau kamu tanyakan?".
"Emm,, apa mendiang Melati punya kembaran? Kamu jangan salah paham dulu, karena aku sebenarnya juga penasaran kenapa wajahnya bisa mirip denganku."
"Aku sebenarnya sudah tanya ke ibunya Melati, tapi beliau bilang dia hanya anak tunggal, gak ada yang kembar".
Putra menjelaskan.
"Aku juga heran kenapa dia bisa mirip denganku, padahal yang terlahir kembar pun terkadang tidak bisa sama persis, pasti ada bedanya. Aku mau tanya sama kedua orang tuaku juga gak mungkin, karena aku juga anak tunggal. Nanti mereka bisa mikir yang gak-gak sama aku."
Putra hanya mengangguk mendengar penuturan Jasmin.
Sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Dia seperti melihat Melati kembali dan ingin terus berada di sampingnya.
"Betewe,, bisa gak kamu perlihatkan biodata Melati sama aku. Ya hanya untuk melihat saja."
Tampak ragu, akhirnya Putra meng-iyakan permintaan Jasmin.
"Besok akan aku bawa sebelum berangkat bekerja dan akan aku serahkan padamu".
"Terimakasih ya.."
"Sama-sama, kalo gitu aku pamit dulu, sudah malam, nanti Fadhil nyariin aku."
Pamit Putra sambil berdiri dari duduknya.
"Iya, hati-hati, salam buat Fadhil."
Yang dibalas anggukan oleh Putra.
Ia lantas melangkahkan kakinya menuju tempat motornya tadi diparkir, dan bergegas melajukan motornya menuju ke rumahnya
Di sepanjang perjalanan, Putra hanya senyum-senyum sendiri mengingat pertemuannya dengan Jasmin dan berbagi cerita sambil ngobrol.
Ia seperti menemukan lagi belahan jiwanya.
Dan rasa kerinduannya kepada Melati, sedikit terobati dengan pertemuan ini.
Kenapa aku jadi seperti orang yang lagi kasmaran seperti ini ya, ingat Putra dia itu anak bos mu, gak level sama kamu yang hanya sebagai supir.
Monolog Putra dalam hatinya.
Ia sampai menggeleng-geleng kan kepalanya agar tak berpikiran macam-macam.
Sadar Putra sadar, dia sudah ada yang memiliki.
__ADS_1
Putra hanya bisa tersenyum getir.