
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Bobby langsung masuk ke dalam kafe, melihat sekitar mencari dimana letak sang kekasih.
Tak lama, lambaian tangan dari Jasmin di sebelah pojok kafe menghentikan pencariannya.
Bobby gegas menuju meja sang kekasih dan sahabatnya yang sudah menunggu.
"Maaf sayang lama, tadi mampir beli ini dulu."
Bobby langsung menyodorkan paper bag berisi martabak manis kesukaan Jasmin.
Dan setelah itu mengecup puncak kepala Jasmin.
"Makasih Mas.."
"Woy,, ada jomblo disini. Jangan pamer kemesraan!"
Ellisa menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Makanya nyari pacar, jangan sibuk mulu nyari duit!" Bobby menimpali.
"Udah ah, mending kita makan dulu, udah waktunya juga. Perut udah laper."
Jasmin menengahi sambil meraba perutnya yang terasa lapar.
"Mbak, tolong siapin makan untuk kita bertiga ya".
Jasmin memanggil salah satu pelayan kafenya.
"Siap mbk..".
Sambil menunggu makanan datang, mereka bertiga mengobrol santai.
"Tumben Mas kesini siang, gak ada kerjaan di kantor??"
Jasmin memulai pembicaraan.
"Iya nih, kerja woy, biaya nikah mahal tau gak"! Ellisa menyahut.
Yang di marahi diem aja sambil tersenyum.
"Kebetulan tadi ada meeting disekitar sini. Terus dari pada aku balik kantor, mending aku kesini sambil makan siang dan..."
Belum sempat Bobby meneruskan perkataannya, sudah di sahut oleh Ellisa.
"Cih, bilang aja mau yang gratisan!".
Cibir Ellisa sambil tangan bersedekap.
Jasmin memelototi Ellisa yang berbicara seperti itu.
"Gak gitu juga kali Ells,, aku kesini bukan cuma untuk makan, tapi mau ketemu sama calon tunangan aku. Kalo iri bilang bos".
Bobby tersenyum mengejek.
"Ih,, dasar kamu ya bucin"!
Ellisa tampak tak terima di bilang iri dengannya yang belum punya pasangan.
"Udah-udah, mending kita makan aja dulu, tuh makanannya udah dateng. Entar dilanjutin lagi berantemnya setelah makan, biar tambah tenaganya."
Jasmin menggelengkan kepalanya heran melihat sang kekasih dan sahabatnya selalu tidak akur kalo ketemu.
Mereka makan dalam diam.
Tidak ada yang berbicara saat makan.
Itulah yang selalu diterapkan oleh kedua orang tua Jasmin.
Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
"Alhamdulillah,, kenyang... Makasih ya Jas untuk makan siangnya. Sering-sering aja deh pokoknya."
__ADS_1
Jasmin hanya mengangguk.
"Siap deh..".
"Kalo gitu aku pamit duluan ya Jas, Bob, soalnya sore nanti aku ada ketemu sama klien."
"Kok buru-buru Ells, baru aja kita ketemu."
Bobby menanggapi.
"Habis ini aku meeting Bob, kalo gak pasti aku disini sampek sore. Ya udah, see you ya Jas."
Ellisa memeluk Jasmin.
"Hati-hati El, gak mau aku anterin?"
Tawar Jasmin.
"Gak perlu Jas, aku bisa sendiri. Bye-bye.."
Ellisa melambaikan tangannya ke arah Jasmin dan Bobby yang dibalas juga dengan lambaian tangan keduanya.
Setelah memastikan Ellisa menghilang dari pandangan, Bobby dan Jasmin kembali duduk.
"Udah lama tadi Ellisa?"
Bobby bertanya.
"Udah dari jam 10 tadi Mas. Aku yang minta dia kesini. Kita ngobrol dikamar, maklum lah Mas, udah sejak SMA kita lost kontak."
Bobby mengangguk.
"Mas,,.."
Bobby hanya menanggapi dengan deheman.
"Boleh gak aku ketemu sama Fadhil?"
Tanya Jasmin sambil menunduk takut-takut.
"Gak tau Mas, tiba-tiba aja aku teringat Fadhil, dan pengen ketemu sama dia."
Ungkap Jasmin yang memang sebenarnya ia juga merasakan hal itu dan juga mau menyelidiki pasal Melati.
"Kapan Sayang? Biar Mas antar ya?"
"Ng.. Gak usah Mas. Mas kan lagi sibuk. Rencananya besok sih Mas, sekalian mau aku jemput dia di sekolah terus aku anterin dia pulang."
"Emang kamu tau Fadhil sekolahnya dimana dan dimana alamat rumahnya?"
Tanya Bobby sambil memicingkan matanya.
"Belum sih Mas, makanya dari itu, Mas besok di kantor tanya sama Tuan Putra ya. Mas bilang kalo aku mau jemput dia gitu. Gimana Mas, Mas mau kan?"
Terlihat Bobby menghela nafas berat.
Ia pasti tak tega kalo melihat sang kekasih memohon seperti itu.
Tapi lebih tak tega lagi kalo membiarkan sang kekasih pergi tanpa dirinya.
"Ya sudah, kalo gitu diantar sama supir ya. Atau gak sama sekali!".
Jawab Bobby tegas.
Jasmin menganggukkan kepalanya antusias.
"Makasih Mas.."
Sahut Jasmin sambil menggandeng lengan Bobby dan bersandar manja di bahunya.
Bobby mengusap puncak kepala Jasmin gemas.
"Ya sudah, Mas balik ke kantor dulu ya. Kamu istirahat. Nanti kalo Mas udah gak repot, Mas temuin pak Putra di kantor."
__ADS_1
"Iya Mas, hati-hati. Sekali lagi makasih ya Mas".
Bobby mengangguk lantas mencium kening Jasmin dan berlalu meninggalkan kafe.
Jasmin bergegas menuju lantai atas kamarnya, setelah sebelumnya menyuruh karyawannya untuk membersihkan meja tadi.
Sementara itu, didalam mobil Bobby memikirkan ucapan sang kekasih yang ingin menemui Fadhil.
Banyak pertanyaan yang melintas di benak Bobby.
Untuk apa ingin bertemu dengan anak itu?
Apa yang disembunyikan oleh sang kekasih?
Pemikiran-pemikiran itu seperti berputar-putar di kepalanya.
Ah sudahlah, nanti pasti Jasmin akan cerita suatu saat nanti. Pikir Bobby.
"Put, lu dicari Tuan Bobby tuh, suruh ke ruangannya."
Salah satu kerabat Putra menghampiri diruang istirahat.
"Gue? Untuk apa Tuan Bobby ingin bertemu gue?"
Tanya putra sambil menunjuk ke dirinya sendiri.
"Gak tau gue, cepetan lu sono sebelum dimarahi".
"Ya udah gue ke sana dulu ya".
Sambil mengacungkan jempolnya, Putra gegas berlari menuju ruangan Bobby.
Di dalam perjalanan menuju ruang CEO, Putra berpikir apa yang membuat sang CEO sampai memanggilnya.
Apa jangan-jangan beliau tau kalo aku sering diam-diam mengawasi Nona Jasmin?
Ah.. rasanya Putra pengen mengutuk dirinya sendiri.
Setelah sampai didepan pintu bertuliskan CEO BOBBY HERONUSA, jantung Putra berdetak sangat kencang.
Ia takut apa yang dipikirkan tadi benar adanya.
Putra menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.
Setelah itu baru ia mulai mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok
Terdengar sahutan dari dalam.
"Masuk.."
Barulah Putra membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Tuan memanggil saya?" Tanya Putra.
"Oh, pak Putra. Mari silahkan masuk dan silahkan duduk."
Bobby yang sedang membaca berkas di kursi kebesarannya langsung berdiri ketika yang masuk ke ruangannya adalah Putra.
Dan kemudian ia duduk di sofa setelah mempersilahkan Putra untuk duduk.
"Ada apa ya Tuan memanggil saya? Apa saya melakukan kesalahan?"
Tanya Putra sedikit menunduk takut.
Bobby menanggapi dengan senyuman.
"Tidak pak Putra, Anda tidak melakukan kesalahan apapun."
Terang Bobby yang seketika membuat Putra mendesah lega sambil mengusap dadanya.
Bobby lagi-lagi mengulas senyum
__ADS_1
"Begini pak Putra, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada pak Putra".
Deg...