Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Kamu...


__ADS_3

"Sayang, tadi kamu kemana saja nak? Ya Alloh, Ayah cari kamu kemana-mana gak ada, cuma ada tas kamu aja?" Seru Putra yang langsung mengurai pelukannya dan menatap mata sang anak semata wayangnya.


"Fadhil udah nemuin mama Yah, Fadhil udah nemuin mama, Alhamdulillah Yah"! Pekik Fadhil girang sambil melompat-lompat. Putra terkejut dengan perkataan sang anak. Mama? Siapa? Padahal mamanya Fadhil sudah tenang disana. Pikiran Putra seketika berperang. Hingga sebuah suara yang sangat putra kenal menyapa ayah dan anak tersebut.


"Maaf tuan, apakah anda ayahnya Fadhil?" Putra menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Putra mendapati sang istri berdiri dihadapannya. Melati masih hidup? Lalu jasad siapa yang dikubur 2 bulan yang lalu?Sementara itu, Jasmin juga terkesiap setelah melihat ayah dari bocah itu. Jantungnya berdetak cepat melihat ketampanan ayah dari bocah itu. Rahang tegas, kulit putih dan jangan lupakan hidung yang seperti perosotan itu. Merupakan mahakarya Tuhan yang tidak boleh di sia-siakan. Padahal selama bersama kekasihnya Bobby, Jasmin tidak pernah merasakan detak jantungnya berdetak cepat seperti itu. Pasalnya Bobby juga tidak kalah kerennya dengan ayah dari bocah itu.


Lamunan Jasmin tiba-tiba terhenti ketika tubuhnya mendadak sudah ada di pelukan dada bidang pria itu. Pria yang membuat darahnya berdesir, jantungnya berdetak cepat dan ayah dari bocah yang memanggilnya mama. "Melati sayang, kamu masih hidup? Alhamdulillah, kenapa kamu sekarang gak pakek hijab sayang. Ayo kita kembali kerumah, kami semua merindukanmu". Jasmin masih syok mendengan penuturan dari pria itu.


Oh, jadi nama ibunya Fadhil adalah Melati. Tapi kenapa semua menganggapnya sebagai Melati? Padahal jelas-jelas dia itu Jasmin.


"Sayang, ayo cepat kita ant..." Belum sempat selesai bicara, Bobby dikejutkan oleh sang kekasih yang dipeluk pria lain. Seketika itu Bobby langsung menghampiri dan mengurai pelukan mereka berdua.


"Maaf, anda siapa ya, kenapa memeluk kekasih saya?" Todong Bobby dengan mendelik seraya menatap tajam Putra.


"Ke..kekasih??" Tak menyangka bahwa sosok Melati adalah kekasih orang yang berhadapan dengannya.


"Iya, Jasmin kekasih saya sekaligus calon tunangan saya". Ungkap Bobby.


Dan siapa itu Jasmin? Jadi wanita yang sama persis dengan istrinya itu bernama Jasmin?. Tapi kenapa mirip sekali dengan Melati?.


"Ma.. maaf Tuan, saya kira Nona ini adalah istri saya". Dengan berbagai banyak pertanyaan di kepalanya, Putra lantas menoleh ke arah Fadhil. "Sayang, sekarang waktunya kita pulang."


"Gak mau Yah, Fadhil masih mau sama mama, kalau pulang juga bareng sama mama".


Deg.


Pantas saja Fadhil memanggil mama pada wanita itu, wajahnya begitu mirip seperti kembar. Apa mungkin Melati punya saudara kembar? Tapi tidak mungkin, karena Melati adalah anak tunggal. Putra masih berkecamuk memikirkan itu semua.


"Tuan, apakah anda ayah dari Fadhil?"


Tanya Bobby membuyarkan lamunan Putra.


"Iya benar Tuan, saya ayahnya Fadhil. Terimakasih karena sudah menjaga anak saya."


Putra lalu beranjak ingin menggendong Fadhil.


"Saya dan kekasih saya turut berduka cita atas meninggalnya ibunya Fadhil, Tuan."


"Maksud Tuan??" Selidik Putra sambil menoleh kearah Bobby dan Jasmin secara bergantian.


"Maaf Tuan, tadi saya sudah lancang menanyakan kemana ibunya Fadhil pergi, dan Fadhil menjawab bahwa ibunya telah pergi ke surga." Sahut Jasmin.


"Terimakasih Tuan dan Nona, maafkan anak saya yang juga telah lancang memanggil Nona dengan sebutan mama karena....".

__ADS_1


Putra menggantung ucapannya sambil melirik ke arah Jasmin.


Yang ditatap menjadi salah tingkah.


Bobby yang mengetahui Putra melirik ke arah Jasmin pun berdehem keras.


"Ehhmm... karena apa Tuan?"


Putra tersentak kaget karena ketahuan melirik kearah kekasih orang.


"Karena wajah Nona Jasmin sama persis dengan mendiang istri saya, seperti kembar bagai pinang dibelah dua". Dengan cepat Putra menyahut menutupi kegugupannya.


Bobby dan Jasmin sempat melongo, mendengar penuturan dari Putra.


Bagaimana bisa mereka dikatakan kembar.


Padahal Jasmin adalah putri tunggal dari pasangan Darwin Mozeela, pemilik MZ Group dan Isabell Mozeela.


"Kalau Tuan dan Nona tidak percaya, saya bisa menunjukkan foto istri saya".


Sambil merogoh benda pipih dari dalam saku, Putra lalu menunjukkan foto Melati.


Betapa terkejutnya Jasmin dan Bobby saat melihat siluet gambar yang ditunjukkan Putra pada mereka.


Hanya saja sosok Melati tampak ayu dengan balutan gamis dan hijab walaupun tak memakai riasan.


Dan dirinya tak memakai hijab


Saking terkejutnya Jasmin sampai menutup mulutnya dan menoleh kearah Putra.


"Pantas saja Fadhil memanggilmu dengan mama, Sayang. Wajahmu sama persis seperti ibunya Fadhil". Sahut Bobby sambil mengelus puncak kepala Jasmin dengan sayang.


Hal itupun tak luput dari penglihatan Putra.


Seketika dadanya berdenyut nyeri menatap orang yang mirip dengan istrinya itu di belai mesra tepat dihadapannya.


Entah perasaan apa ini.


Yang jelas Putra seakan-akan tak rela jika orang yang mirip dengan istrinya itu diperlakukan sangat manis oleh orang lain.


"Iy..iya Bob,. Maaf sebelumnya Tuan, ibunya Fadhil meninggal karena apa ya kalau saya boleh tau?" Tanya Jasmin sambil menolehkan wajahnya kearah Putra.


"Namanya Melati,dia meninggal 2 bulan yang lalu saat sedang ke pasar.

__ADS_1


Dia ditabrak oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


Tidak ada yang tahu mengenai kecelakaan itu, karena saat itu waktu masih pagi.


Belum banyak orang yang berlalu lalang.


Dan sekaligus CCTV didaerah itu juga belum ada.


Kami sudah melaporkan kejadian itu ke kantor polisi, namun sayang sampai sekarang kasus itu seakan-akan tertutup begitu saja."


Belum selesai Putra melanjutkan ceritanya, cairan bening sudah berhasil menetes begitu saja.


"Maklum Tuan, kami memang orang yang tidak berada, jadi mungkin pihak kepolisian enggan untuk mengungkap kejadian itu karena keterbatasan biaya". Terang Putra sambil menghapus air matanya.


"Maaf Tuan dan Nona, saya jadi kebablasan."


"Entah mengapa kalau menceritakan tentang istri saya, saya jadi kehilangan kendali".


Sementara itu, Bobby dan Jasmin mendengarkan dengan seksama cerita dari Putra.


Tak terasa air mata Jasmin juga ikut luruh karena cerita itu.


Cepat-cepat ia mengusapnya.


"Tidak apa-apa Tuan,, perkenalkan nama saya Jasmin Putri, anda bisa memanggil saya Jasmin."


Sahut Jasmin sambil menyodorkan tangannya.


Putra membalas jabatan tangan Jasmin.


Seketika keduanya seperti tersengat aliran yang menggetarkan jantung mereka.


Mata mereka saling beradu, menatap manik hitam masing-masing.


Lama mereka berjabat tangan.


Hal itupun tak luput dari pandangan Bobby.


Hati Bobby seperti tercubit.


Jasmin saja tidak pernah sampai menatap ke arah manik matanya.


Tapi dengan pria yang baru saja dikenalnya, bisa lama-lama menatap seperti ada rasa kekaguman.

__ADS_1


Ada apa ini???


__ADS_2