
"Apa Pak Putra menyukai kekasih saya?"
Deg...
Putra yang tadinya menunduk, kini sontak saja mengangkat kepalanya menatap sang CEO di depannya dengan terkejut.
"Ap.. apa Tuan?" Jawab Putra tergagap.
"Apa Pak Putra menyukai calon tunangan say?" Ulang Bobby.
Deg... Tunangan? Jadi Jasmin akan bertunangan dengan Tuan Bobby? Kata Putra dalam hati.
"Ti.. Tidak Tuan, sa.. saya tidak mungkin berani." Jawab Putra kembali menunduk. Dalam hati, ia merasakan nyeri di ulu hatinya. Entah karena apa.
"Tidak apa-apa Pak Putra. Anda jujur saja. Saya tidak akan melarang Anda untuk menyukai siapapun termasuk calon tunangan saya. Karena rasa suka itu tidak bisa dipaksakan dan kita tidak bisa memilih kepada siapa orang yang kita sukai." Kata Bobby tegas.
Putra masih menunduk. Kedua tangannya saling meremas di bawah meja. Enggan untuk menjawab. Takut nantinya salah dalam menjawab dan membuat kesalahpahaman.
Melihat tidak ada jawaban dari Putra, Bobby akhirnya menyuruh Putra untuk kembali bekerja. Ia sudah tau jawabannya dengan diamnya Putra.
"Baiklah Pak Putra, Anda boleh kembali bekerja." Perintah Bobby kemudian. Putra menatap kepada Bobby dan mengangguk, menunduk, lalu setelahnya ia keluar dari ruang putra dengan segala pemikirannya.
Di dalam ruangannya, Bobby yang memang belum beranjak dari sofa, menyandarkan tubuhnya sebentar, untuk mengurangi rasa pusing kepala yang tiba-tiba mendera. Ia memejamkan matanya, beberapa saat kemudian ia terlelap.
Malam hari, di "D Green" kafe.
Bib.. bib.. bib.. Suara dering ponsel mengagetkan Jasmin yang sedang rebahan di kasur. Dengan malasnya ia meraih benda pipih itu di atas nakas, lalu mengangkat panggilan telfon tersebut. Ternyata dari sang sahabat yang menghubungi.
__ADS_1
"Hallo Ell,, ada apa? Tumben malem-malem gini telfon?" Berondong Jasmin kepada sahabat di seberang telfon.
"Hallo Jas. Kenapa? Gak boleh apa gue malem-malem gini telfon loe?" Sungut Ellisa. Jasmin terkekeh geli.
"Yee, gitu aja ngambek. Awas, orang ngambekan, jodohnya jauh!" Kelakar Jasmin.
"Terus, terus, terusin aja sampek loe puas!" Ellisa menggerutu karena selalu di goda oleh Jasmin.
"Hahaha.. iya-iya maaf. Btw, ada apa Ell?" Tanya Jasmin menghentikan tawanya dan kembali bertanya ada apa Ellisa malam-malam begini menelfonnya.
"Gimana Jas penyelidikan mu tentang Melati? Sudah ada titik temu belum?" Tanya Ellisa serius.
"Gak ada Ell, udah coba aku tanya sama ibunya Melati, tapi katanya dia anak tunggal dan gak ada saudara lainnya. Padahal aku yakin banget tentang perasaan ku ini Ell". Terang Jasmin.
"Aduh, gimana ya Jas. Kalo kaya gitu, mau loe cari kemana lagi? Lebih baik loe minta bantuan Bobby deh Jas, biar ada yang nemenin. Jangan apa-apa loe lakuin sendiri. Punya pacar tu di gunain, bukan di anggurin". Cerocos Ellisa menasehati Jasmin.
"Aku gak mau ngerepotin mas Bobby Ell. Dia sudah lelah bekerja, masa aku juga harus minta bantuannya juga. Gak ah Ell.."! Tolak Jasmin.
"Iya Ell, akan aku coba. Kebetulan papa sama mama mau ada kunjungan keluar negeri. Nanti aku nginap di sana aja. Dan aku akan coba cari di ruang kerja papa atau di manapun itu. Tapi temenin ya Ell. Pliss...". Pinta Jasmin pada sahabatnya.
"Oke deh, demi sahabat gue tercinta. Apapun itu Sayang."
"Ya udah, aku tutup dulu ya telfonnya." Belum selesai Jasmin bicara, sudah di potong oleh Ellisa.
"Ehh,, ehh,, ini yang telfon siapa yang mau nutup siapa?" Gerutu Ellisa.
"Ish,, aku tuh mau telfon mas Bobby. Dari tadi siang gak ada kabar dari dia. Aku takut kenapa-napa sama dia. Gak biasanya dia kayak gini Ell." Terang Jasmin yang memang dari tadi gelisah tidak ada kabar dari Bobby.
__ADS_1
Jasmin langsung menutup sambungan telfonnya tanpa mendengarkan gerutuan dari sahabatnya, Ellisa. Ia kemudian mendial nomor sang kekasih.
Tut...tut...tut... Tidak ada jawaban. Dua kali masih tidak ada jawaban. Yang ke tiga kalinya, malah nomornya tidak aktif. Kemana mas Bobby sih? Gak biasanya dia seperti ini? Apa masih lembur di kantor? Gumam Jasmin dalam hati. Ia melirik jam di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya Bobby akan mengucapkan ucapan selamat tidur untuknya. Tapi hari ini, tidak ada angin tidak ada hujan, Bobby seperti hilang di telan bumi.
Sementara itu di perusahaan MZ Group ..
Bobby yang ketiduran dari tadi sore, terlihat terusik dengan deringan ponsel yang terus saja berbunyi. Ia melirik siapa yang sudah menghubunginya, ternyata dari sang kekasih. Ia memilih mengabaikannya. Sampai dering yang ke tiga kalinya, ia memutuskan untuk mematikan hp nya. Kemudian ia beranjak, mengambil jas serta kunci mobil dan keluar ruangan untuk segera pulang.
Keesokan paginya..
"Pagi mbak, pak Bobby nya ada?" Tanya Jasmin kepada sekretaris Bobby. Ya, Jasmin mendatangi kantor papanya untuk menemui sang kekasih karena dari kemarin tidak dapat di hubungi. Ia sengaja memasak untuk sarapan pagi bersama Bobby.
"Pagi juga Nyonya, maaf Nyonya pak Bobby nya belum datang". Jawab sekretaris itu.
"Belum datang? Ini udah jam berapa mbk, kok belum datang sih?. Gerutu Jasmin. Padahal ini sudah jam sembilan, tapi kekasihnya itu belum juga tiba di kantor.
"Maaf Nyonya, Pak Bobby ada meeting di luar. Makanya tadi beliau mengabari saya kalau datang siang. Karena dari rumah langsung pergi menemui klien. Dan tidak datang ke kantor dulu." Sekretaris Bobby menjelaskan. Ini sebenarnya yang kekasihnya itu aku atau sekretaris ini sih. Kenapa aku gak bisa tau kemana aja dan sama siapa aja dia pergi. Aku seperti orang bodoh saja. Gumam Jasmin kecewa pada dirinya sendiri.
"Ya sudah mbak, kalo gitu saya pulang saja." Pasrah Jasmin akhirnya.
"Nyonya gak tunggu di dalam ruangan saja. Mungkin sebentar lagi beliau tiba." Cegah sang sekretaris agar Jasmin mau menunggu atasannya sebentar lagi.
"Tidak usah mbak, saya pulang saja." Jasmin kemudian berlalu meninggalkan ruangan Bobby, setelah sang sekretaris mengangguk meng-iyakan.
Di lobby kantor, Jasmin bertemu dengan sang papa. Kelihatannya beliau juga baru datang.
"Papa,, baru datang?" Ucap Jasmin langsung menyapa Tuan Darwin.
__ADS_1
"Hai princess,, udah lama di sini?. Kenapa gak masuk aja?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang anak, Tuan Darwin malah balik bertanya pada Jasmin.
"Mas Bobby gak ada pa. Kata sekretarisnya lagi meeting di luar. Padahal aku udah masak makanan kesukaan dia buat sarapan bersama." Jawab Jasmin terlihat kecewa sambil mengerucutkan bibirnya. Tuan Darwin hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat anaknya.