
Pagi ini, Putra telah bersiap pergi ke kantor.
Menjalani aktifitas seperti biasa sebagai supir kantor perusahaan.
Tak lupa sebelum berangkat, sarapan bersama Ibu dan anaknya adalah suatu keharusan.
Rossa selalu menyiapkan segala kebutuhan cucu dan menantunya.
Seperti memasak sarapan pagi dan membawakan bekal untuk mereka berdua.
Putra lebih senang jika membawa bekal dari rumah untuk makan siang, ketimbang harus jajan ke warung makan.
Selain hemat, makanan yang dimasak ibunya sendiri lebih enak dan lebih higienis tentunya.
"Boy, ayo cepat, kita sarapan dan berangkat sekolah". Seru Putra memanggil anaknya yang belum keluar kamar.
"Sebentar Yah,,,".
Tak berapa lama, Fadhil keluar kamar sambil menggendong tas sekolahnya.
Di ruang makan sudah ada Putra dan Bu Rossa.
"Fadhil mau makan apa, biar Nenek ambilkan."
"Fadhil mau nasi goreng Nek". Sambil menyodorkan piringnya ke arah Bu Rossa, lalu dengan senang hati Bu Rossa mengambilkan nasi goreng ke piring Fadhil.
"Kamu mau makan apa Nak?"
Tanya Bu Rossa ke Putra.
"Biar Putra ambil sendiri Bu, Ibu langsung makan saja". Tolak Putra halus sambil tersenyum yang di angguki oleh Bu Rossa.
Setelah selesai sarapan, Putra kemudian mengambil kotak bekal miliknya dan langsung dimasukkan ke dalam tas miliknya .
Sementara kotak bekal punya Fadhil sudah dimasukkan oleh Bu Rossa.
"Kami berangkat dulu Bu".
"Fadhil berangkat Nek..".
Tak lupa keduanya mencium tangan Bu Rossa.
"Hati-hati dijalan". Seru Bu Rossa.
"Assalamu'alaykum Bu,, Assalamu'alaykum Nek,," Pamit keduanya.
"Wa'alaykumsalam...".
Putra lantas mengeluarkan motor bututnya keluar teras.
Dan mulai menstarter motornya kemudian melaju meninggalkan rumah.
Setelah melihat cucu dan menantunya pergi, wanita paruh baya itupun gegas masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah.
Putra telah sampai di perusahaan tempatnya bekerja.
Ia segera memarkirkan motor bututnya dan bergegas ke ruang ganti untuk menyimpan tasnya.
Tak perlu lagi ganti baju karena memang baju dinas nya sudah dipakai dari rumah.
Baru mau keluar menuju tempat dimana mobil operasional perusahaan, Putra dikagetkan dengan teriakan teman seprofesinya.
"Put, buruan, Bos Besar sudah menunggu. Sebentar lagi mau otewe katanya.
"Ok, siap"!.
Putra segera saja langsung menuju mobil.
Dan standby didekat pintu masuk perusahaan.
__ADS_1
Ketika terlihat bos besar sudah keluar pintu perusahaan, Putra buru-buru membukakan pintu bagian penumpang.
Putra menundukkan kepalanya ketika bos besar akan masuk ke mobil.
Menutupnya, lalu Putra mengitari mobil untuk segera masuk kebelakang kursi kemudi.
"Mau di antar kemana Tuan Besar?"
"Ke restoran W dulu baru nanti ke "D' Green" kafe".
"Baik Tuan.."
Putra langsung saja menginjak pedal gas membelah jalanan yang agak padat.
Sekitar 30 menit, mobil telah sampai ke restoran W.
Putra dengan sigap membuka pintu mobil, mengangguk mempersilahkan Tuannya untuk keluar.
Sementara dirinya menunggu didalam mobil.
Didalam mobil, Putra memikirkan kejadian tempo hari yang semakin mengusik ketenangannya.
Pertemuannya dengan seorang wanita yang mirip istrinya, Melati.
Wajah bahkan suaranya pun sama persis.
Saat sedang asik dengan segala lamunannya, tiba-tiba terdengar suara jendela pintu di ketuk dari luar.
Putra tersentak kaget mendapati sang Bos Besar sudah selesai pertemuannya.
Putra bergegas membukakan pintu untuk sang majikan.
Dan langsung melajukan mobilnya ke "D' Green" kafe.
Jarak antara restoran dan kafe lumayan jauh.
Setelah sampai di depan kafe, pelataran kafe tempat untuk parkir ternyata sudah penuh dengan mobil maupun motor.
Ada juga beberapa sepeda, mungkin para Club Gowes yang mampir.
Akhirnya dengan terpaksa Putra memarkirkan mobilnya di seberang jalan yang agak teduh yang terdapat beberapa pohon yang rimbun.
"Tempat parkir penuh Tuan, terpaksa berhenti di sini."
"Tidak apa-apa Pak". Putra langsung membukakan pintu untuk majikannya.
"Saya antar Tuan?"
"Tidak usah, kamu istirahat saja, saya kebetulan agak lama disini."
"Oh,, iya Tuan".
Tuan Besar Darwin lalu melangkahkan kakinya menuju kafe.
Sementara Putra menutup pintu penumpang dan segera beranjak ingin istirahat sekaligus makan siang dengan bekal yang ia bawa tadi.
Baru mulai akan membuka pintu depan, Putra dikagetkan dengan siluet wajah yang sedang berpelukan dengan Tuan Besar Darwin.
Deg.
"Melati.." Gumam Putra.
Seketika pikirannya menerka-nerka, ada hubungan apa Tuan Besar Darwin dengan sosok yang mirip dengan Melati itu.
Apakah ini rumah Nona yang bernama Jasmin?
Kalau dilihat dari kejauhan, mereka terlihat sangat akrab sekali.
Seperti hubungan anak dan orang tua.
__ADS_1
Putra terus menerka-nerka.
Belum hilang keterkejutannya, Putra dihadapkan lagi dengan kedatangan sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan mobilnya.
"Tuan Bobby..?" Gumam Putra.
Terlihat Bobby segera turun dari mobil dan lekas menuju ke dalam kafe.
Disana Bobby juga terlihat memeluk sang Tuan Besar dan juga Nona Jasmin.
Memang putra tidak tau mengenai Bobby yang menjadi CEO dimana ia bekerja.
Ia hanya tau tugasnya untuk melayani sang Tuan Besar Darwin majikannya.
Yang lain ia tidak perlu tau.
Tak mau memikirkannya lagi, Putra lantas mengambil kotak bekal makanannya dan memakannya dengan rasa malas.
Biasanya Putra selalu menghabiskan makanannya, tapi hari ini separuhnya pun dia tidak habis.
"Lebih baik aku tidur dulu daripada memikirkan hal-hal yang membuat ku pusing."
Ia lantas memejamkan matanya dan mengarungi alam mimpi.
Satu jam sudah Putra tertidur, terdengar suara dering ponsel mengagetkannya.
Ia lantas segera mengangkatnya, yang ternyata dari Tuan Besar Darwin.
"Iya Tuan,,,".
"Sebentar lagi saya pulang Pak."
"Baik Tuan.."
Menunggu beberapa saat, Tuan Besar Darwin terlihat keluar ditemani oleh Nona Jasmin dan Tuan Bobby.
Setelah berpelukan dengan Jasmin, Tuan Besar Darwin lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pelataran kafe menuju ke arah mobil.
Putra telah sigap membukakan pintu belakang dan menutupnya lagi setelah memastikan majikannya masuk ke dalam mobil.
Sebelum Putra sempat mengitari mobil menuju kursi kemudi, ia terpaku sejenak menatap ke arah dimana Jasmin dan Bobby berada.
Keduanya terpaku melihat tatapan mata masing-masing.
Seolah ingin menyelami kedalam dunia mereka berdua.
Putra kemudian beralih menatap dimana tangan Bobby yang menggandeng mesra pinggang Jasmin.
Ia lantas menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak boleh berpikiran yang macam-macam.
Putra terus menyemangati dirinya sendiri bahwa Nona Jasmin sudah ada yang memiliki.
"Pak Putra..."
Suara sang bos menyadarkan lamunannya.
"I.. iya Tuan, sebentar.."
Putra langsung saja berlari masuk ke dalam mobil.
"Kemana lagi Tuan, ke kantor atau langsung pulang ke rumah?" Tanya Putra sopan.
" Sebenarnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor, tapi hari ini saya lelah sekali.
Saya ingin pulang, biarkan pekerjaan kantor asisten saya yang mengurusnya."
"Baik Tuan...".
Putra lantas melajukan mobilnya menuju kediaman Tuan Besar Darwin.
__ADS_1