Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Menunggu


__ADS_3

"Oh,, ayo kita tunggu di ruangan papa aja." Ajak Tuan Darwin. Jasmin menggeleng.


"Gak usah deh pa, aku mau pulang aja. Oh ya, kapan jadinya papa dan mama berangkat ke luar negerinya?" Tanya Jasmin tentang keberangkatan orangtuanya ke luar negeri.


"Lusa papa berangkat Princess. Kenapa? Kamu mau ikut? Atau mau di belikan apa?" Tanya Tuan Darwin beruntun.


"Aku mau nginep di rumah pa. Boleh kan? Sekalian aku mau ajak Ellisa." Terang Jasmin. Tuan Darwin mengernyitkan dahinya, seperti pernah mendengar nama itu.


"Itu loh pa, sahabat aku waktu SMA. Kan dia sering main ke rumah waktu dulu". Jawab Jasmin seolah tau apa yang sedang papanya pikirkan.


"Oh,, yang dulu rambutnya suka di kepang dua itu ya, yang pakek kacamata?" Tuan Darwin mengingat-ingat sahabat anaknya itu. Jasmin hanya mengangguk.


"Ya boleh dong Princess. Itu kan juga rumah kamu. Kamu bebas datang kapan aja atau mau nginep kapan aja. Kamu nya aja yang gak pernah pulang." Cibir Tuan Darwin.


"Iya pa iya. Maafin Jasmin karena udah jarang banget pulang. Ya udah, Jasmin pulang dulu pa." Tuan Darwin mengangguk. Jasmin mencium punggung tangan papanya kemudian beranjak meninggalkan Tuan Darwin.


Di dalam perjalanan keluar menuju ke dapan gedung kantor, Jasmin melihat Putra yang sedang mengecek kendaraan tidak jauh dari sana. Ia kemudian berinisiatif untuk menghampiri Putra. Dan menyerahkan makanan yang tadi untuk Bobby ke Putra. Dari pada mubazir tidak ada yang memakannya.


"Hai mas, sedang sibuk?" Sapa Jasmin pada Putra.


"Jasmin... eh,, Nona Jasmin. Ada apa non?" Tanya Putra sedikit terkejut mendapati Jasmin berada di depannya saat ini.


"Ini Mas, aku bawa bekal sarapan. Tadinya sih aku mau kasih ke mas Bobby. Tapi Mas Bobby belum dateng. Jadi aku mau pulang. Kebetulan ketemu mas disini, jadi lebih baik makanannya mas makan saja ya. Dari pada mubazir gak di makan." Terang Jasmin panjang lebar.

__ADS_1


"Tidak usah non. Kasih saja ke Tuan Bobby. Sebentar lagi pasti beliau datang." Tolak Putra secara halus. Sebenarnya ia tak tega menolak pemberian dari Jasmin, tapi untuk menghindari salah paham dengan majikannya, ia sengaja menolaknya.


"Gak pa-pa mas. Aku temenin makan ya. Masa kamu tega sih biarin aku bawa pulang lagi bekal ini?" Paksa Jasmin sambil mengerucutkan bibirnya. Putra yang melihat itu jadi tersenyum sendiri. Jasmin kalo lagi ngambek sangat menggemaskan. Ia tanpa sadar malah mengacak rambut Jasmin. Setelah sadar, ia buru-buru melepaskannya.


"Maaf non, saya tidak sengaja". Putra menundukkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.


"Iya, gak pa-pa mas." Jawab Jasmin tersenyum. Mereka tidak menyadari bahwa Bobby yang memang baru datang melihat interaksi keduanya. Bobby lantas menghampiri mereka setelah menghembuskan nafas dengan sangat berat untuk menghilangkan rasa sesak di dada.


"Sayang, udah lama?" Sapa Bobby kepada Jasmin. Jasmin dan Putra sontak saja menoleh ke arah sumber suara. Mereka terkejut atas kehadiran Bobby yang tiba-tiba berada di sana.


"Mas,, kamu kemana aja sih? Aku dah dari tadi nungguin kamu. Katanya kamu ada meeting di luar." Berondong Jasmin kepada Bobby. Bobby hanya tersenyum menanggapi.


"Maaf, mas gak tau kalo kamu mau kesini. Ada apa? Dan ini? Apa ini buat mas?" Bobby menunjuk ke arah bekal yang di bawa Jasmin.


"Tak apa non, itu buat Tuan Bobby saja. Tadi saya sudah membawa bekal sendiri dari rumah." Sahut Putra menolak agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Tuan Bobby.


"Tidak apa-apa pak Putra. Pak Putra ambil saja bekalnya. Kan sudah di kasih ke pak Putra. Gak baik menolak rejeki. Kebetulan tadi saya juga sudah sarapan bareng klien tadi." Bobby menjelaskan sambil tersenyum agar tidak terjadi kecanggungan diantara mereka. Jasmin lalu menyerahkan bekal makanan itu ke Putra.


"Terimakasih non dan Tuan. Kalo begitu saya permisi dulu." Putra gegas berpamitan agar cepat terhindar dari situasi yang menurutnya menegangkan. Ia kemudian berlalu dari hadapan Jasmin dan Bobby.


"Mau mas antar pulang?" Tawar Bobby.


"Boleh mas. Tapi apa mas gak sibuk?" Tanya Jasmin pada Bobby karena ia takut mengganggu kerjaan Bobby. Bobby menggeleng.

__ADS_1


"Gak pa-pa. Untuk kamu, mas akan lakuin apapun sayang." Ucap Bobby yang sudah berkaca-kaca.


"Terimakasih mas. Yuk kita jalan." Ajak Jasmin kemudian. Mereka lalu menuju mobil, setelah itu perlahan meninggalkan kantor menuju rumah Jasmin.


Di dalam mobil ...


"Mas, kemarin kemana aja sih? Aku telfon gak di angkat? Lalu gak aktif. Apa mas lembur di kantor? Sampai-sampai mengabaikan aku?" Sungut Jasmin sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Bobby tersenyum sesekali melihat ke arah Jasmin dan jalanan secara bergantian.


"Maaf sayang. Kemarin mas ketiduran dan hp nya mati karena mas lupa mengisi daya. Baru tadi pagi mas taunya kalo kamu telfon mas setelah mas hidupin hp nya." Jelas Bobby. Ia tak mungkin bilang pada Jasmin kalo sebenernya ia sengaja mengabaikan Jasmin.


"Ya tapi kan bisa tadi pagi setelah mas hidupin hp nya telfon aku. Aku khawatir tau gak mas. Aku nungguin kabar mas dari tadi malem!" Sungut Jasmin.


"Maaf. Tadi pagi mas buru-buru mau meeting. Jadi gak sempet telfon kamu. Maafin mas ya". Pinta Bobby memelas.


"Iya mas, gak pa-pa. Tapi jangan di ulangi ya". Jawab Jasmin kemudian ia tersenyum begitupun dengan Bobby.


"Oh ya mas, nanti pas papa mama ke luar negeri, aku mau nginep di rumah mereka mas. Gak pa-pa kan?" Tanya Jasmin.


"Ya gak pa-pa dong sayang. Kamu kan emang gak pernah nginep di sana. Itu kan juga rumah kamu." Jasmin mengangguk.


"Aku minta temenin Ellisa mas, biar ada temen ngobrol gitu." Bobby mengangguk.


"Iya sayang, nanti aku bantu kamu siapin semuanya dan antar kamu sampai ke rumah."

__ADS_1


"Iya mas, terimakasih." Bobby menanggapi dengan senyuman. Di sepanjang perjalanan menuju kafe, Mereka terus mengobrol sampai-sampai mereka tidak menyadari kalo ternyata sudah sampai di pelataran kafe.


__ADS_2