Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu

Ku Temukan Dirinya Dalam Dirimu
Bukan siapa-siapa


__ADS_3

Setelah dari rumah Putra, Bobby bergegas menuju rumah sakit dimana Fadhil dirawat. Ia akan menjemput Jasmin pulang. Sesampainya di rumah sakit, ia bertanya pada resepsionis lalu setelahnya langsung menuju kamar rawat Fadhil.


Di depan pintu, Bobby urungkan niatnya memasuki kamar rawat Fadhil karena mendengar suara tawa yang bahagia dari dalam. Ia mencoba mengintip ke dalam lewat pintu kaca kamar rawat dan ternyata yang sedang bercanda dan tertawa bahagia adalah dari Jasmin dan Putra.


Padahal, ketika bersama dirinya Jasmin jarang sekali bisa tertawa lepas seperti itu. Ia menghela nafas kemudian ia keluarkan, begitu beberapa kali hingga rasa sesak di dada perlahan hilang.


Bobby kemudian mengetuk pintu dahulu sebelum masuk kamar, walau ia merasa marah, tapi ia juga mempunyai etika dalam berkunjung.


Tok,,,tok,,,tok,,,


Yang ada di dalam sontak mendongak ke arah pintu. Sedetik kemudian, Putra bergegas membuka pintu. Betapa terkejutnya Putra mendapati majikannya ada di depannya kini. Begitu juga dengan Jasmin.


Mungkinkah beliau tahu tadi aku sedang bergurau dengan Jasmin? Apakah kedatangannya akan menjemput Jasmin pulang? Bagaimana nanti Fadhil kalau Jasmin pulang? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Putra. Ia terlihat terlonjak kaget ketika Bobby membuyarkan lamunannya.


"Selamat malam pak Putra". Sapa Bobby basa-basi sekaligus membuyarkan lamunan Putra. Putra lantas mengangguk dan menunduk.


"Se... selamat ma... malam Tuan." Jawab Putra tergagap saking gugupnya.


"Boleh saya masuk?" Tanya Bobby lagi.


"Si...silahkan Tuan. Nona Jasmin kebetulan juga di dalam." Sahut Putra lagi.


"Mas, kamu tau aku di sini?" Jasmin menyapa Bobby pada saat Bobby baru masuk ke ruangan Fadhil. Jasmin menghampiri Bobby lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya duduk di sofa.

__ADS_1


"Kalau begitu saya keluar beli kopi dulu Tuan, untuk jadi teman mengobrol". Putra lantas keluar dari ruangan. Tetapi sebelum sempat keluar ruangan Bobby menginterupsinya.


"Tidak usah repot-repot pak Putra, karena saya akan segera pulang dan membawa tunangan saya pulang."


Deg ...


Seperti terhantam batu dada Putra, ketika Bobby menekankan kata 'tunangan' kepadanya. Ia sadar, memang Jasmin bukan siapa-siapanya.


"Oh,, baiklah kalau begitu Tuan." Ucap Putra kikuk.


"Sayang, kita pulang sekarang, ini sudah malam." Bobby menatap Jasmin dan mengajaknya untuk pulang.


"Iya mas, aku pamit dulu sama Fadhil." Jasmin lalu melangkah ke arah tempat tidur Fadhil dan berbicara padanya.


"Gak mau ma, Fadhil maunya mama disini aja. Fadhil mau di temenin sama mama." Fadhil merengek dan hampir menangis. Ia mencengkeram tangan Jasmin dengan erat. Jasmin menoleh ke arah Bobby mengedipkan matanya meminta untuk menolongnya.


"Fadhil, sekarang biarkan mama pulang dulu ya. Om janji besok Om akan antar kan lagi mama kesini." Bobby pun mencoba untuk membujuk Fadhil.


"Gak mau Om. Om, Fadhil mohon, biarin mama disini dulu temani Fadhil ya Om." Ucap Fadhil sambil terisak. Bobby akhirnya tersentuh, dan tidak tega membiarkan Fadhil terus menangis.


"Ya sudah, mama malam ini boleh nemenin Fadhil di sini, tapi Fadhil harus janji sama Om, kalau Fadhil akan segera sembuh ya." Ucap Bobby kemudian tapi ditegur oleh Jasmin.


"Mas....". Bobby mengedipkan matanya lalu mengangguk membiarkan Jasmin tinggal.

__ADS_1


"Om pulang dulu ya." Pamit Bobby sambil membelai rambut Fadhil dengan sayang.


"Iya Om, terimakasih." Fadhil senang akhirnya mamanya bisa menemaninya di rumah sakit.


"Fadhil, mama anter om Bobby ke depan dulu ya." Pamit Jasmin pada Fadhil yang di angguki olehnya. Kemudian Jasmin menggandeng tangan Bobby keluar dari ruangan. Setelah menutup pintu, Jasmin protes atas keputusan yang diambil oleh tunangannya itu.


"Mas, kok mas ngebolehin Jasmin tidur disini sih?" Protesnya.


"Gak pa-pa sayang, kamu juga kelihatan masih khawatir sama Fadhil kan? Lagian mas juga gak tega buat Fadhil jadi nangis gara-gara mau bawa kamu pulang. Padahal disini yang berhak atas kamu itu kan mas. Tapi mas gak mau disebut jadi orang yang egois." Bobby memberi pengertian pada Jasmin sambil tersenyum dan mengusap puncak kepala Jasmin dengan sayang. Jasmin terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Makasih ya mas, mas udah percaya sama aku." Ucap Jasmin masih terus menggandeng tangan Bobby dan enggan melepasnya.


"Iya sayang, sama-sama. Ya sudah sekarang kamu masuk, mas mau pulang dulu." Bobby lantas mengecup puncak kepala Jasmin sayang dan segera berlalu meninggalkan Jasmin yang masih terpaku di depan pintu ruang rawat Fadhil. Setelah dirasa Bobby hilang dari pandangan, barulah Jasmin kembali masuk kedalam.


Bobby yang telah berada di parkiran mobilnya berhenti sejenak dan memikirkan akan pulang atau menemani Jasmin di rumah sakit ini dari jauh. Setelah beberapa saat menimbang, akhirnya ia memutuskan untuk tinggal dan mencari kafe di dekat rumah sakit karena sedari tadi siang perutnya belum terisi apa-apa. Ia akan memantau Jasmin dari kamar sebelah yang ditempati Fadhil dan akan menyewanya. Tidak sulit untuk seorang Bobby menyewa tempat di rumah sakit ini mengingat ia adalah seorang CEO muda berbakat yang namanya telah dikenal banyak orang.


Bukan maksud Bobby tidak percaya pada Jasmin tunangannya, akan tetapi ia tidak percaya dengan laki-laki yang sekarang ini berada satu ruangan dengan tunangannya itu. Karena laki-laki itu pasti mempunyai rasa yang lebih terhadap tunangannya walaupun di mulut berkata tidak. Tapi di mata lelaki itu, sudah jelas menunjukkan ketertarikan kepada tunangannya mengingat wajah Jasmin yang mirip sekali dengan mendiang istri lelaki tersebut.


Maafkan aku sayang. Gumam Bobby.


Sementara itu, Jasmin yang menunggu Fadhil tidur, ia sendiri malah ketiduran di samping Fadhil dengan duduk dan tubuhnya ia sandarkan di kasur Fadhil. Melihat Jasmin yang tidur sambil duduk seperti itu, Putra berinisiatif untuk memindahkan Jasmin ke sofa yang lebar dan muat untuk tidur. Ia kemudian membopong Jasmin ala bridal style dan melangkah menuju sofa. Jasmin merasa terusik, tapi tidak sampai membangunkan tidurnya. Ia malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Putra yang mana malah membuat jantung Putra berdetak sangat cepat. Sesampainya di sofa, Putra enggan menidurkan Jasmin ke sofa, karena ia ingin berlama-lama menggendong Jasmin dalam keadaan intim seperti ini. Toh, tak ada orang lain yang berada di sana. Hanya ada ia, Jasmin dan Fadhil yang sudah terlelap tidur.


Ia pandangi lekat wajah Jasmin, dan dua kata untuknya, cantik dan mirip. Ia hanya tersenyum. Dirasa tangannya sudah mulai kebas, Putra akhirnya meletakkan Jasmin ke sofa dan menyelimutinya. Ia belai wajah cantik Jasmin, dan sebelum beranjak ia sempatkan untuk mengecup kening Jasmin lama. Kemudian ia menuju sofa lainnya untuk tidur juga.

__ADS_1


Putra tak tahu, di depan pintu ada sosok yang memperhatikannya dengan tangan terkepal kuat sampai-sampai buku-buku jarinya memutih.


__ADS_2