
"Apa!!" Tuan Darwin langsung berdiri dari kursi kebesarannya sambil menggebrak meja kerjanya sehingga ada beberapa berkas yang jatuh akibat getaran meja. Ia kemudian menumpukan tangannya pada meja, dan memandang ke arah lawan bicaranya saat ini.
Ya, Bobby menceritakan kejadian Jasmin yang bertemu Firman kemarin di restoran, yang mengakibatkan Darwin murka.
"Apa masih kurang dia mendekam di penjara selama dua puluh tahun? Seharusnya dulu aku menghukumnya dengan hukuman mati karena telah berani menghilangkan nyawa seseorang. Dan seseorang itu adalah dari keluarga Mozeela". Geram Darwin dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mengingat kejadian yang sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Kejadian yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
"Apa motif sebenarnya dia mendatangi putriku sekarang?" Bobby hanya diam mendengarkan, namun juga berpikir.
"Perketat penjagaan Jasmin di manapun dia berada Bob. Papa tidak mau kejadian dua puluh tahun lalu kembali terjadi pada putriku. Papa percayakan keselamatan Jasmin padamu. Papa yakin kamu tau apa yang harus kamu lakukan".
"Baik Pa, aku akan memperketat penjagaan pada Jasmin." Jawab Bobby lalu melanjutkan bicaranya.
"Kalau untuk motif om Firman, aku yakin Pa ini soal harta warisan mendiang kakek". Jelas Bobby pada Darwin. Darwin lantas menatap Bobby.
"Harta warisan?" Tanya Darwin bingung.
"Iya Pa. Papa kan tau sendiri, Om Firman hanya mendapatkan lima persen dari seluruh harta warisan kakek. Sedangkan Papa, mendapatkan sisanya semuanya. Mungkin Om Firman merasa itu tidak adil." Bobby menjelaskan panjang lebar. Darwin hanya diam mendengarkan lalu kembali menyahut.
"Tapi kan kamu tau sendiri Bob, kalau Firman itu bukan anak kandung dari kakek, tapi anak yang di pungut oleh kakek." Darwin membantah pernyataan Bobby.
__ADS_1
"Itu memang benar Pa. Kita tak tau sifat manusia yang serakah akan harta, akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Walaupun Om Firman tau kalau dia bukan anak kandung kakek. Yang dia tau, kalau om Firman juga adalah anaknya kakek." Darwin duduk dengan sedikit terhuyung, merasakan pening di kepalanya. Bobby dengan cepat langsung membantu Darwin.
"Papa tidak apa-apa? Apa sebaiknya kita ke dokter?" Tanya Bobby terlihat khawatir dengan keadaan ayah angkatnya sekaligus calon mertuanya. Darwin menggeleng.
"Tidak perlu Bob, Papa tidak apa-apa." Darwin menolak.
"Kalau begitu Papa istirahat saja di kamar. Urusan pekerjaan, biar Bobby yang menghandle Pa. Untuk urusan Om Firman, Papa jangan terlalu dipikirkan juga. Biar masalah ini Bobby yang tangani. Kalau perlu, Bobby akan jebloskan lagi Om Firman ke dalam penjara Pa." Ucap Bobby tegas tanpa ada keraguan di dalam ucapannya. Darwin hanya bisa pasrah. Ia percaya bahwa anak angkatnya itu akan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi keluarganya.
"Iya Bob, Papa percayakan semua padamu." Bobby lantas menuntun Darwin ke dalam kamar yang ada di ruangan kerja Darwin, dan menyuruh sang Papa untuk istirahat. Setelah memastikan sang Papa tidur, Bobby lantas keluar dari kamar meninggalkan Papanya untuk istirahat.
Sepeninggal Bobby, Darwin membuka matanya kembali. Ia tadi hanya pura-pura tidur agar Bobby segera meninggalkannya sendiri di kamar. Ia menatap langit-langit kamar, lalu sedikit bergumam.
Tak terasa, air mata lolos begitu saja dari matanya. Dan Darwin langsung tertidur setelah merasakan sakit kepala yang menderanya.
Sementara itu di D'Green kafe, Jasmin yang baru turun dari kamar, merasa terkejut ketika mendapati banyaknya orang berpakaian hitam di depan pintu masuk kafe, di pelataran, di bahu jalan bahkan di dalam kafe.
"Ini sebenarnya ada apa sih"? Gumam Jasmin. Tak ingin penasaran lebih lama, ia bertanya pada salah satu pekerjanya.
"Mbak, ini ada apa ya, kok ada banyak orang yang berpakaian hitam di kafe kita?"
__ADS_1
"Iya Non, katanya itu orang suruhan pak Bobby. Kalau untuk alasannya saya sendiri kurang tau Non." Jawab salah satu karyawan Jasmin.
"Owh, ya sudah kalau gitu mbak, terimakasih". Jasmin berlalu dari kafe menuju kamarnya. Di raihnya benda pipih itu di atas nakas, lalu menghubungi seseorang.
"Hallo Mas, ini ada apa Mas? Kok banyak bodyguard di kafe Jasmin?" Cerosos Jasmin tanpa jeda. Di seberang sana terdengar Bobby terkekeh.
"Kok malah ketawa sih Mas? Ada apa? Aku risih tau Mas. Gimana nanti kalo ada pelanggan aku yang risih juga?" Omel Jasmin pada Bobby.
"Sayang, dengerin Mas dulu. Setelah rapat selesai, nanti Mas akan ke kafe dan menceritakan semuanya padamu. Kalau di ceritakan lewat telpon, nanti kamu gak akan paham Sayang." Bobby memberi pengertian pada Jasmin.
"Ya sudah kalau gitu Mas, aku tunggu di kafe. Assalamu'alaykum."
Tut...tut...tut...
Bobby di seberang hanya terkekeh, belum juga menjawab salam sudah di matikan saja. Wa'alaykumsalam, gumamnya. Bobby lantas melanjutkan rapat yang tertunda karena panggilan dari anak sang bos.
Sebenernya ada apa sih ini, Jasmin jadi tidak tenang di dalam kafe. Ia memutuskan untuk turun lagi dan melihat bagaimana para pelanggannya di kafe, apakah merasa nyaman atau tidak.
Setelah berkeliling, ternyata tidak ada dari sekian banyak pelanggan yang merasa terganggu atau tidak nyaman karena adanya penjagaan yang ada di kafe. Mungkin mereka pikir itu adalah untuk keamanan kafe. Jasmin bisa bernafas lega karena itu, dan memutuskan untuk ke dapur sambil menunggu sang tunangan ia akan membuat masakan kesukaannya.
__ADS_1