
"Mamaa...!" Fadhil berteriak sambil berlari ke arah Jasmin dan langsung memeluk erat Jasmin. Jasmin pun lantas membalas pelukan Fadhil.
"Fadhil kangen sama Mama".
"Iya sayang, mama juga kangen sama Fadhil." Jasmin mengurai pelukannya. Rasanya ia begitu sayang banget sama Fadhil, seperti ada getar yang tak bisa di jelaskan di hatinya.
"Yuk, sekarang kita pulang. Mama sudah masakin makanan yang enak buat Fadhil."
"Asiiik... ayo Ma." Fadhil lompat-lompat kegirangan. Jasmin lalu menuntun Fadhil menuju ke mobil. Mereka berdua masuk setelah di bukakan pintu oleh sang supir.
"Pak, kita langsung ke daerah M ya". Jasmin memberi tahu sopir untuk langsung mengantar mereka ke rumah Fadhil.
"Baik non". Pak sopir langsung melajukan mobilnya.
"Fadhil, kamu hafal kan jalan ke rumah kamu? Jasmin bertanya pada Fadhil.
"Iya ma, Fadhil hafal kok!"
"Anak pintar..." Jasmin mengelus kepala Fadhil dengan sayang.
Sekitar 30 menit mobil melaju, kini mobil yang dikendarai oleh Jasmin dan Fadhil telah sampai di depan gang sempit. Pak sopir menghentikan mobilnya dan gegas memberitahu sang majikan.
"Di depan gang sempit non, jadi mobil tidak bisa masuk ke dalam."
"Oh, begitu ya pak. Ya sudah, mobil di parkir di sini saja pak. Kita jalan kaki saja untuk masuk. Tolong dibawakan ya pak bag-bag ini." Pinta Jasmin kepada supir.
"Baik non". Pak supir segera mengambil beberapa bag berisi makanan itu, kemudian membawanya.
"Fadhil, kita keluar ya. Mobilnya gak bisa masuk sampai rumah kamu."
"Iya ma.." Jasmin segera menuntun Fadhil keluar dari mobil dan bergegas melewati gang sempit menuju rumah Fadhil yang diikuti oleh pak sopir di belakangnya.
Setelah sekitar 5 menit berjalan menyusuri gang, tibalah mereka di depan pagar sebuah rumah sederhana yang ditempati oleh Fadhil.
"Ini ma rumah Fadhil. Ayo kita masuk ke dalam." Fadhil menyeret Jasmin agar segera mengikutinya untuk memasuki pagar. Jasmin hanya mengikuti dengan pasrah.
"Assalamu'alaykum Nek, Fadhil pulang". Seru Fadhil dengan keras.
Bu Rossa yang memang sedang baru keluar rumah membawa secangkir kopi untuk dinikmati di teras rumahnya, menoleh ke asal suara sambil tersenyum karena tahu yang memanggil adalah sang cucu.
__ADS_1
"Wa'alaykumsa....." Belum sempat meneruskan menjawab salam, Bu Rossa di buat terkejut dengan kedatangan sang cucu yang menggandeng orang yang mirip sekali dengan Melati, anaknya.
Bu Rossa reflek menjatuhkan dirinya ke kursi yang ada di belakangnya yang otomatis juga menjatuhkan secangkir kopi yang tadi ia bawa.
Praaang.....
Hal itupun tak luput dari penglihatan Jasmin dan juga Fadhil.
"Nenek...!" "Ibu...!" Pekik Jasmin dan Fadhil bersamaan. Mereka lantas segera berlari menghampiri Bu Rossa.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Jasmin dengan raut wajah khawatir kepada Bu Rossa dan langsung berjongkok di depan wanita paruh baya tersebut. Yang ditanya diam saja sambil mengamati wajah itu. Tangan Bu Rossa menggapai wajah yang mirip Melati.
"Melati..." Gumam Bu Rossa yang sudah membelai wajah Jasmin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf ibu, saya Jasmin". Terang Jasmin membuat Bu Rossa melepaskan tangannya dari wajah Jasmin.
"Maafkan saya Nak, kalian begitu mirip".
Apakah ini saatnya aku mengungkap semua kebenarannya. Tapi itu bukan kuasa ku. Aku harus bagaimana? Bu Rossa berpikir dalam hati.
"Iya ibu, tidak apa-apa". Jawaban Jasmin membuyarkan lamunan Bu Rossa.
"Iya ma. Fadhil ke dalam dulu ma, nek." Panggilan Fadhil sontak membuat Bu Rossa di buat terkejut untuk yang ke dua kali. Mama?
"Maaf ya ibu, Fadhil memanggil saya dengan sebutan mama. Bukan maksud saya untuk mau menggantikan sosok mbak Melati, tapi Fadhil gak mau manggil saya dengan sebutan tante." Jasmin menjelaskan.
Terdengar helaan nafas dari Bu Rossa. Sudah sejak kapan Jasmin tahu kalau ibunya Fadhil adalah Melati. Bu Rossa sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Apakah mungkin karena ini, beberapa waktu lalu Putra terlihat aneh? Pikir Bu Rossa.
"Tidak apa-apa Nak Jasmin. Wajar saja kalau Fadhil memanggil kamu dengan sebutan mama, kamu memang persis dengan Melati. Saya saja juga begitu". Terang Bu Rossa.
"Sebenarnya kedatangan saya kemari untuk.....".
"Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu Nak Jasmin, kasihan nanti kalau Fadhil makan siangnya kelamaan menunggu." Belum sempat selesai bicara, Bu Rossa sudah lebih dulu menyela. Bu Rossa seakan tau apa yang membuat Jasmin sampai datang kemari.
"Baiklah ibu. Tapi saya bersihkan dulu pecahan gelas ini". Pinta Jasmin ingin membersihkan pecahan gelas yang tadi dijatuhkan oleh Bu Rossa.
"Tidak usah Nak, nanti biar saya saja yang bersihkan." Jawab Bu Rossa melarang.
"Tidak apa-apa bu, nanti lupa. Kasihan Fadhil kalo nanti main ke teras dan belum di bersihkan, bisa-bisa mengenai Fadhil." Belum selesai membersihkan sisa pecahan gelas, terdengar pekikan tertahan dari Jasmin.
__ADS_1
"Aww..." Jasmin terkena pecahan gelas itu.
"Anda tidak apa-apa Non?" Tanya pak supir gegas mendekat.
"Tidak apa-apa pak". Jawab Jasmin.
"Ayo nak, kita obati di dalam". Sahut Bu Rossa yang di angguki oleh Jasmin.
"Pak, tolong tas nya di masukkan ke dalam ya." Perintah Jasmin kepada sang supir.
"Baik non". Yang di angguki oleh pak supir dan langsung membawa tas yang berisi makanan itu ke dalam setelah Bu Rossa dan Jasmin masuk.
"Taruh sini saja pak" Jasmin menyuruh meletakkan tasnya di meja. Sementara Bu Rossa masuk ke dalam kamar mengambil kotak obat.
Setelah beberapa saat, Bu Rossa keluar dengan membawa kotak obat di tangannya.
"Sini nak, tangannya di obati dulu." Bu Rossa mengulurkan tangannya untuk mengobati tangan Jasmin.
"Terimakasih bu, maaf kalau sudah merepotkan ibu."
"Tidak apa-apa nak". Jawab Bu Rossa sambil tersenyum.
Fadhil terlihat ke luar dari kamar, dan langsung menghampiri nenek dan mamanya di ruang tamu. Fadhil yang mengetahui tangan mamanya di balut plester langsung saja menanyakannya.
"Mama kenapa? Kok tangannya di kasih plester?"
"Gak apa-apa Sayang, cuma luka kecil. Nanti juga sembuh sendiri." Jawab Jasmin menenangkan.
"Sebaiknya kita makan dulu, Fadhil cuci tangan dulu nak". Sahut Bu Rossa.
"Baik Nek." Fadhil segera berlari ke arah dapur.
"Mari nak, kita makan dulu". Bu Rossa mengajak Jasmin.
"Iya bu, ini tadi saya juga bawa makanan yang saya masak sendiri." Jasmin mengangkat tas yang berisi makanan yang ia bawa.
"Seharusnya tidak perlu repot-repot."
"Tidak merepotkan kok bu". Mereka akhirnya berjalan menuju ke meja makan yang di sana sudah ditunggu oleh Fadhil.
__ADS_1