
Bugh...
Sebuah tinjuan menghantam wajah mulus milik seorang lelaki muda. Lelaki itu terjatuh, dan hidungnya mengeluarkan darah saat tinjuan keras yang di layangkan I'am ke wajah lelaki itu. Meskipun lawannya sudah terjatuh, dia tak berhenti menghujani tinjuan sampai lawannya tak berdaya. Tinjuan yang di lampiaskan I'am akhirnya berhenti saat teman-teman lawannya itu menarik dan mendorongnya menjauh.
"Jika ingin melawanku jangan satu-satu. 1 2 3, maju kalian semua!" ucap l'am menantang.
ketiga teman lawannya itu tak menghiraukan tantangan dari I'am. Melihat kondisi temannya sudah tak berdaya, cepat mereka mengangkat temannya dan menjauh pergi meninggalkan I'am.
***
"Perbuatan anak Bapak kali ini sudah sangat melanggar aturan. Saya harus men-DO anak Bapak dari kampus ini." ucap Rektor pada Bapak I'am.
Lagi-lagi Bapaknya harus tertunduk malu di depan Rektor karena kelakuan I'am.
"Iya, saya mengerti Pak. Kelakuan anak saya memang sangat keterlaluan. Tapi tolong jangan di DO Pak. Tolong kasih satu kesempatan lagi."
"Maaf Pak. Saya tidak bisa memberikan toleransi lagi pada anak Bapak. Saya tidak ingin ada korban lagi di kampus ini karena perbuatannya."
"Baiklah Pak, terimakasih kalau begitu. Saya permisi dulu." ucap Bapak I'am tertunduk malu, wajahnya memerah padam seperti singa sedang kelaparan saat menatap wajah I'am yang berdiri di sampingnya.
I'am meringiskan bibirnya dan memasang wajah takut. Tak sanggup melihat amarah Bapaknya, seperti ingin menerkamnya. Cepat ia menggunakan jurus langkah seribu meninggalkan ruangan Rektor dan menjauh dari Bapaknya.
"I'ammmmmmm ...! teriakkan Bapaknya dari ruangan Rektor dan segera berlari mengejar I'am.
I'am berlari secepat mungkin menembus pintu gerbang kampus keluar menuju arah kota. Lalu ia melihat ada mobil pickup di depannya, baru saja melaju. Ia berusaha mengejarnya dan melompat pada bagian belakang mobil pickup itu.
"I'ammmmm ...!" rasa lelah menghentikan langkah bapaknya untuk mengejar I'am. "Hah ..." Bapaknya menghela nafasnya dalam.
"Lihat saja nanti kalau pulang, akan aku habisin kau!" ucap Bapaknya melampiaskan amarahnya.
Tak lama ibunya I'am menghampiri Bapaknya.
"Dimana I'am Pa?" tanya Mamanya khawatir.
__ADS_1
"I'am sudah mati!" jawab Bapaknya kesal sambil membalikkan badannya dan berjalan kembali ke pekarangan kampus menghampiri mobil mewahnya.
"Papa, tunggu ...! ucap Mamanya menyusul.
"Pokoknya Mama ingin I'am pulang secepatnya. Papa harus membayar orang untuk mencarinya." sambung Mamanya.
"Ini semua karena Mama terlalu membelanya, karena itu dia menjadi anak nakal seperti ini. Sekarang biarkan saja dia di luar sana. Biar dia belajar hidup sendiri. Kalau dia tidak sanggup dia pasti kembali."
"Jangan dong Pa ...! Nanti kalau terjadi sesuatu sama I'am bagaimana? Aduh ... kepala Mama jadi pusing." ucap Mama sambil pura-pura menangis.
Sejenak Bapaknya menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah wajah Mama. Lalu Bapaknya tertawa geli dan melanjutkan langkahnya.
"Kenapa papa malah tertawa, apanya yang lucu?"
"Terjadi sesuatu pada I'am? Bapaknya tertawa lebar. "Tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Hanya akulah yang di takutnya dan bisa menyentuhnya dengan kasar." sambung Bapaknya, matanya membulat sempurna sambil tertawa.
***
Meskipun I'am baru saja di DO dari kampusnya dan membuat Bapaknya sangat marah. Tapi dia masih bisa tenang santai seperti tidak ada kejadian apa-apa. Dia membaringkan badannya terlentang di lantai bagian belakang mobil pickup. Kepalanya di tumpuhkan pada kedua telapak tangannya, sambil menikmati pemandangan indah langit biru siang hari. Di sepanjang perjalanannya tanpa arah.
Perjalanan yang panjang membuat ia kelelahan dan membuat matanya terlelap pulas hingga malam. "Ahh ..." dia merenggangkan badannya lalu dia kaget saat membuka matanya. Langit yang tadinya biru kini sudah menghitam gelap.
"Ada di mana ini?" ucapnya bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya. Tak lama mobilnya berhenti karena sudah sampai di tujuan. Pemilik pickup membuka pintu dan segera turun. Pemilik pickup itu kaget saat menolehkan pandangannya kebagian belakang mobilnya. Dia melihat I'am, dan segera menghampirinya.
"Hey ...!" ucap pemilik pickup sambil memukul dinding bagian luar mobilnya. "Siapa kamu? mengapa ada di sini?" sambungnya bertanya pada I'am.
Hobi I'am yang suka berkelahi membuatnya tak takut pada siapa pun. Dengan santai I'am mengangkat bokongnya dan turun dari bagian belakang pickup itu.
Dengan santai I'am menjawabnya.
"Kenapa aku ada disini. Ceritanya sangat panjang, Pak. kalau Bapak mau mendengarnya, lebih baik kita mengobrol di rumah Bapak saja. Bagaimana?" ucapnya mengibuli pemilik pickup itu. Tujuannya hanya untuk dapat menginap semalam di rumahnya.
"Aku tidak mau mendengarnya. Yasudah lah, lebih baik kamu pergi sekarang."
__ADS_1
"Yasudah kalau tidak mau mendengar." ucap I'am segera melangkah pergi.
"Sepertinya aku belum pernah ketempat ini." dia terus melangkahkan kakinya menelusuri kota asing ini. Tengah perjalanan perutnya terasa lapar. "Auh ..." suaranya merintih. Sesaat dia menghentikan langkahnya dan memegang perutnya. Wajahnya meringis menahan rasa laparnya. "Aku tidak tahu tempat ini. Kemana aku harus pergi membeli makanan." Lalu dia melanjutkan perjalanan sambil menoleh kearah kanan dan kiri mencari sebuah restoran. Tak lama dia melihat sebuah restoran di seberang jalan dan menghampiri masuk kedalamnya. Dia menduduki salah satu kursi yang ada di dalam.
"Pelayanan." panggilnya sambil melambaikan tangan.
Salah satu Pelayan yang ada disitu datang dan menghampirinya.
"Mau pesan apa mas? Ini menunya." ucap pelayanan itu sambil memberikan katalog menu.
I'am melihat-lihat menunya dan memesan beberapa makanan.
"Cepat ya." ucap I'am pada Pelayan itu.
Setelah beberapa menit dia menunggu, Pelayan itu datang kembali membawa beberapa makanan yang sudah di pesannya dan meletakkan di mejanya.
Tak tahan dia melihat hidangan makanan yang ada di depan matanya, segera dengan lahap dia menyantapnya hingga semua makanan habis tak tersisa. "Ahh ..." Dia menikmati segarnya air yang mengalir di tenggorokannya setelah selesai makan.
Tak ingin dia terlalu lama di restoran itu, segera dia ingin membayar makanan nya. "Pelayanan!" panggilnya. Tiba-tiba wajahnya terlihat panik, peluh keringat mulai membasahi dahinya saat kedua tangannya tidak menemukan dompet yang tadinya ada di sakunya. 'Bagaimana ini! dompet ku tidak ada.' gumam dalam hatinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pelayanan itu setelah sampai di mejanya.
"Hem ... Toilet ada di sebelah mana, ya? aku ingin membuang air kecil." ucap I'am mencari alasan.
"Oh ... Anda bisa pergi ke sebelah sana. Lurus saja lalu belok ke kiri. jawab Pelayanan itu menunjukan kearah sisi menuju toilet.
"Baiklah, terimakasih." ucap I'am.
'Sepertinya aku harus menggunakan jurus langkah seribu agar aku selamat dari tempat ini.' lirihnya dalam hati.
setelah pelayanan itu meninggalkannya, dia bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Lalu pelayanan itu menoleh kearahnya. Heran, kenapa bukan pergi ke toilet, malah pergi menuju pintu keluar.
"woy ...! teriak Pelayanan itu cepat mengejarnya.
__ADS_1
Dengar suara teriakan, tanpa menoleh kebelakang I'am melangkahkan kakinya secepat mungkin berlari keluar dan menjauh dari restoran itu. Tak mau rugi, pelayan itu berlalu mengejarnya.