Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.16


__ADS_3

Setelah I'am selesai membasuh seluruh tubuhnya dengan air sekedar membersihkan tubuhnya, Ia keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dania sedang merapikan bunga-bunga di sekitarnya.


"Hei Dan, Mana ibu mudaku?" tanya I'am Pada Dania sambil menghapus sisa air yang masih membasahi rambut coklatnya dengan handuk.


"Hem, siapa ibu muda? Aku tidak mengerti siapa yang kamu maksud." jawab Dania sedikit bingung, berdiri di hadapan I'am.


"Si kaki pendek itu. Apa dia sudah pergi?"


"Oh ... May maksudmu. Iya, dia sudah pergi. Memangnya kenapa? kamu jangan cari gara-gara lagi dengannya."


"Siapa yang mau cari gara-gara. Aku kan, hanya bertanya. yasudah, tidak usah membahasnya. " ucap I'am berlalu melangkah menuju ke sisi dinding dan menggantungkan handuknya.


Lalu dia membuang bokongnya duduk di kursi kasir sekedar untuk bersantai sambil menemani Dania berjualan di toko.


***


Kepergian I'am dari rumah yang sudah berhari-hari membuat handuk kecil berwarna putih menghiasi dahi Mamanya yang terbaring lemas di atas ranjang.


"I'am ... I'am ..." Lirih Mamanya, tak berhenti terus menyebut nama anak kesayangannya. "Kamu dimana I'am? kenapa tidak pulang-pulang." sambungnya, sudah tak sanggup menahan rasa rindunya pada anak tunggalnya.


"Sudahlah, Mama jangan terlalu memikirkannya. I'am itu sudah dewasa, tidak akan terjadi apa-apa padanya. Papa sudah menyuruh seseorang untuk mencarinya. Kita berdoa saja, semoga I'am cepat di temukan." ucap Papa lembut sedari tadi Duduk di bibir ranjang menemani istrinya sedang sakit terbaring di atas ranjang.


"Mama ingin tahu kabarnya Pa. Cepat Papa hubungi orang suruhan Papa itu. Tanya padanya, apa mereka sudah menemukannya." lirih Mama melas.


Tak tega melihat keadaan istrinya saat ini, akhirnya sifat Papa yang jaim di depan Mama tak mampu berkutik lagi.


"Iya baiklah, Papa akan menghubungi mereka." ucap Papa berlalu meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


Langsung Papa membuka ponselnya dan mencari angka milik pemuda suruhannya itu.


"Halo Pak." ucap Pemuda suruhan dari seberang.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan jejaknya?" tanya Papa berdiri sedikit jauh dari ranjang.


"Sejauh ini kami belum menemukan jejaknya. Tapi kami akan terus berusaha untuk menemukannya secepatnya."


"Yasudah Kalau begitu. Cepat kabari saya jika kalian sudah menemukannya."


"Baik Pak."

__ADS_1


Sesaat Papa berdiam diri memikirkan sesuatu setelah menutup ponselnya. "Kemana perginya anak itu. Benar-benar sangat menyusahkan. Bisanya hanya membuat orang tuanya Kawatir saja." lirih Papa lembut, dan berlalu melangkah pelan menghampiri ranjang. Wajahnya terlihat sendu berdiri menatap istrinya.


Bagaimana Pa? Apa I'am sudah di temukan?" tanya Mama masih berbaring lemas di atas ranjang.


Papa tak mampu menggerakkan bibirnya. Dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepanya saja.


"Hem ..." sesaat Mama menghela nafasnya menerima jawaban dari Papa, dan melanjutkan sandiwara sinetronnya agar suaminya mau menuruti keinginannya.


"I'am anakku ... cepatlah pulang nak." lirih Mama dalam sandiwaranya, jurus untuk melumpuhkan hati Papa yang jaim sebelumnya.


***


Sejenak suasana dalam toko sangat hening meskipun kali ini Dania berjualan di temani I'am, karena kegilaan I'am dan May tadi seperti kapal pecah yang di hempas ombak.


Namun Dania si gadis riang itu tak betah terlalu lama mendiamkan I'am sedari tadi duduk bersantai menatap langit-langit toko.


Berlalu dia melangkah melewati jejeran bunga yang menghiasi dalam toko untuk menghampiri I'am.


"Hei I'am, kenapa kamu tidak pulang? Kamu sudah berhari-hari kan, tinggal di kota ini?" tanya Dania sambil membuang bokong pada kursi di depan meja hadapan I'am.


"Aku tidak punya uang untuk pulang." jawab I'am malas, masih menatap langit-langit toko menyandarkan punggungnya pasrah disandarkan kursi.


"Aku tinggal di kota seberang di sebelah Utara."


"Wah ... kota itu sangat jauh. ucap Dania sedikit kaget. "Lalu bagaimana kamu bisa sampai disini?" sambung Dania penasaran.


"Aku sudah lupa ceritanya." ucap I'am berusaha membohongi Dania. Sudahlah, kamu jangan bertanya lagi." sambungnya malas.


"Hoh, dasar. Kamu ini memang menyebalkan." ucap Dania Sambil tertawa getir, selalu merasa lucu melihat sikap I'am.


"Maaf, aku sedang malas bercerita. Saat ini aku sedang memikirkan Ibuku. Aku sedang merindukannya." ucap I'am pandangannya kosong sedari tadi Tak lelah menatap langit-langit toko.


"kamu sangat dekat ya, dengan Ibumu? Kalau kamu merindukannya, seharusnya kamu menghubunginya."


"Ponselku sudah rusak. Aku tidak bisa menghubunginya lagi." ucap I'am melas.


"Tenang saja. gunakan saja ponselku." ucap Dania segera meraih ponselnya dari saku. "Ini ambillah." sambungnya sambil menyodorkan ponselnya kearah I'am.


"wah ... Terimakasih ya." ucap I'am sekejap menegakan badannya dari sandaran kursi, dan cepat ia meraih ponsel dari tangan Dania. Wajahnya terlihat sangat senang.

__ADS_1


"Kamu baik sekali. Tidak seperti si kaki pendek itu, galak dan juga pelit." sambung I'am sambil tersenyum menatap Dania.


"Tentu saja, aku kan, wanita yang lemah lembut. Sudah, cepat hubungi ibumu." ucap Dania riang, mendengar pujian dari I'am.


Sejenak I'am terdiam memandangi layar ponsel yang di genggamnya.


"I'am, Kenapa diam? apa kamu tidak mengerti cara menggunakannya? ponselku itu sama saja seperti yang lainnya. Masa kamu tidak mengerti?" tanya Dania heran.


"Bukan, hanya saja aku tidak ingat nomor ponsel milik Ibuku." ucap I'am sedikit menyengir menahan malu.


"Hah." Dania menghela nafasnya sambil menepuk dahinya. "Masa nomor ponsel Ibumu sendiri tidak ingat." sambung Dania.


"Buat apa aku mengingatnya, kalau aku bisa menyimpannya di ponsel."


"Ya buat situasi seperti ini, bagaimana sih kamu."


"Tenang saja, tunggu sebentar, ya." ucap I'am berlalu pergi mengambil ponselnya.


Tak lama ia kembali membuang bokongnya pada kursi yang di dudukinya tadi.


"Aku selipkan sebentar kartu SIM ku di ponselmu ya. Aku hanya ingin menghubungi Ibuku saja." Sambung I'am.,,


"Yasudah, selipkan saja. Lama pun tidak apa-apa."


"Terimakasih ya, kamu memang benar-benar baik." ucap I'am sambil tersenyum.


Segera ia membongkar ponselnya untuk mengambil kartu SIMnya.


"Hah." I'am kaget sedikit bingung matanya membulat sempurna, melihat kartu SIMnya tidak ada di dalam ponselnya. "Kemana kartunya." sambungnya bingung.


"Kenapa?" tanya Dania heran


"Kartunya tidak ada." ucap I'am pelan.


"Kok bisa?"


Mungkin terjatuh di depan rumah May. Aku cari dulu ya." ucap I'am cepat segera bangkit dari duduknya berlalu berjalan keluar toko menuju rumah May.


"Yasudah cepatlah cari. Semoga saja bisa ketemu ya." ucap Dania sesaat melemparkan pandangannya memperhatikan I'am pergi.

__ADS_1


Hanya beberapa menit berjalan, I'am menghentikan langkahnya setelah sampai di rumah kediaman May.


__ADS_2