
"Kamu ingin mengajakku bertengkar? jangan konyol. Kamu itu wanita, tidak pantas melawanku!" bentak I'am ketus.
"Hoh ... Berani sekali kau membentakku." ucap May matanya membulat sempurna dan mendacakkan kedua tangannya di pinggang.
May segera masuk mengambil ponsel I'am, dan meletakkannya di dada I'am keras.
"Ini ponselmu. Pergilah sekarang! Aku sudah sangat bosan melihatmu! Aku mau istirahat, jangan menggangguku lagi."
"Terimakasih!" ucap I'am ketus. Ia segera mengaktifkan ponselnya dan melihat sederet angka yang tertera dan mencari angka milik ibunya.
I'am membalikan badannya membelakangi May. Leher May sedikit memanjang, mencurikan pandangannya untuk mendengarkan pembicaraan I'am lewat telepon.
"Halo Ma."
"I'am! kamu ada dimana nak. Mama sangat kawatir denganmu. Cepat pulang, ya." ucap Mama panik berada dalam kamar.
"I'am gak bisa pulang Ma. Dompet I'am hilang. I'am sama sekali gak punya uang sekarang."
"Aduh ... kok bisa hilang. Bagaimana Mama bisa mengirim kamu uang, semua kartu kredit ada di dompet kamu, kan."
Belum selesai bicara, tiba-tiba ponsel I'am mati. karena saat di charge baterainya baru terisi beberapa persen saja. Tidak sanggup untuk menelpon lama. "Suruh saja Papa membayar orang untuk mencariku."
"Halo Ma, halo ...!" I'am melihat ponselnya sudah mati. I'am Sangat kesal, spontan dia membanting ponsel mahalnya itu ke lantai. Lalu dia melampiaskan kekesalannya itu pada May.
"Kenapa sudah kau cabut baru di charge!" Bentak I'am pada May.
Bentakan I'am sangat keras. Menusuk ke dalam hati May. tersentak May menarik nafasnya. Perlahan buliran air menghiasi bola matanya. Tamparan keras melayang pada wajah mulus I'am, hingga bercak merah.
"Sebelumnya, tidak ada orang yang pernah membentakku seperti itu. Tapi kamu, berani sekali membentakku seperti itu. Aku sudah menolongmu. Tapi sepertinya, kamu tidak tahu cara berterima kasih." Ucap May tegas. segera masuk dan menutup pintunya.
"Hei, tunggu." I'am mencoba menahan May. Namun keburu May menutup pintunya terlebih dahulu. Ia merasa bersalah karena perkataannya yang kasar membuat May berubah sedih dalam sekejap.
"Maafkan aku. Aku hanya terbawa emosi." ucap I'am berbicara dari balik pintu.
Selang beberapa menit tidak ada jawaban. I'am melihat serpihan ponselnya yang bertebaran di lantai. Dia mengumpulkan serpihan itu satu persatu, dan mencoba merakitnya kembali sambil duduk bersandar di dinding teras rumah May dengan wajah lusuh.
"Dasar manusia tak berkepala. Aku tidak mau lagi melihatnya. Hatiku benar-benar sakit di buatnya." ucap May menggrutu duduk di bibir ranjang sambil menghapus cairan bening yang membasahi pipinya.
Sesekali I'am menyisir rambutnya kebelakang dengan jemarinya. Bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
__ADS_1
***
"Papa ..."Teriak Mama I'am dari kamar lantai atas panik, cepat melangkah menuruni anak tangga menghampiri Papa sedang bersantai di ruang tv.
Mama membuang bokongnya di kursi, samping Papa, mencengkram lengan Papa menggoyang-goyangkan nya lembut.
"Papa, Mama sangat Kawatir dengan I'am. Tadi dia menghubungi Mama. Katanya dompetnya hilang, dia sama sekali tidak punya uang sekarang. Bagaimana ini Pa? Papa harus segera melakukan sesuatu. Ayo Pa ... Cepatlah lakukan sesuatu." ucap Mama panik ketakutan.
"Diamlah.!" bentak Papa.
sekejap Mama langsung terdiam jutek.
"Dia sudah dewasa. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Jangan terlalu di cemaskan. Dia ada dimana?" ucap Papa jaim.
"Dia belum sempat memberi tahu Mama. Ponselnya terputus. Saat Mama hubungi Ponselnya lagi sudah tidak aktif." ucap Mama mengerucutkan bibirnya.
Sesaat Papa menarik nafasnya panjang. Tanpa berkata lagi, Papa bangkit dari duduknya berlalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamar tidur dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Papa pura-pura memejamkan matanya saat Mama memasuki kamar dan membuang bokongnya di bibir ranjang sesekali pandangannya menatap kearah Papa. Lalu mama pura-pura menangis.
"Bagaimana nasib anakku sekarang. Di tidak punya apa-apa. Jika terjadi sesuatu padanya, lebih baik aku mati saja." lirih Mama mencari perhatian dari Papa.
***
Pagi.
May sudah bersiap untuk pergi mengantar kunci ke toko. Sebelum membuka pintu, perlahan dia menarik sedikit gorden jendela dan mengintip keluar. Lalu dia membuang nafasnya kasar. "Hah ... Sepertinya dia sudah pergi. syukurlah ..." ucapnya sambil mengelus dadanya.
Segera dia membuka pintu dan melangkah keluar rumah menuju toko. "Akhirnya hidupku tenang kembali. Semoga saja aku tidak bertemu dia lagi." sambung May riang sambil berjalan.
"Hey ..." May berhenti, matanya membulat sempurna. Kaget Mendengar suara I'am
"Kamu mau kemana?" ucap I'am berdiri menyandarkan badannya di balik pohon besar pinggir jalan.
May membalikkan badannya dan menatap I'am tajam. "Bukan urusanmu. jangan menggangguku lagi." ucap May ketus.
May melanjutkan langkahnya. I'am mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa menit. May berhenti kembali, sesaat membuang nafasnya kasar dan melemparkan pandangannya ke samping sisi kosong.
"Jangan mengikuti ku." bentak May sambil membalikan badannya.
__ADS_1
"Siapa yang mengikuti mu. Aku hanya berjalan di belakangmu."
May menyunggingkan sebelah bibirnya, wajahnya terlihat sangat kesal. "Di depan ada persimpangan. Jika memang kamu tidak mengikutiku. Belok lah ke kanan." ucap May, segera melanjutkan langkahnya kembali.
Sampai di persimpangan May Berbelok ke kiri. Namun I'am mengikuti May yang berbelok ke kiri. Kali ini I'am benar-benar membuat emosi May meledak.
Cepat May menghampiri I'am yang ada di belakangnya. "Apa kau tidak mengerti bahasa manusia! Atau kau tidak tahu arah kanan sebelah mana!" bentak May kasar.
I'am hanya diam, sama sekali tak menghiraukan perkataan May. Ia membuang pandangannya ke segala arah, memasang wajah polos.
"Aku sedang berbicara denganmu. Kenapa kau pura-pura tidak mendengar." May menggretakkan giginya alis matanya bertautan. "Kau benar-benar membuat ku sangat marah." sambung May, dan menendang tulang kering I'am.
"Auh ... Dasar kurcaci." ucap I'am menggrutu sambil mengelus-elus kakinya yang sakit.
"Jika tak ingin aku tendang lagi, berhenti lah mengikuti aku."
"Baru saja satu hari melihatnya, tapi rasanya seperti sudah satu tahun hidupku tersiksa. Dasar manusia tak berkepala." ucapnya menggrutu sambil berjalan melanjutkan langkahnya, sesekali menolehkan pandangannya ke belakang.
Sesaat I'am berdiri diam. Menunggu jarak May sedikit jauh darinya. Agar tidak ketahuan kalau dia mengikutinya.
Setelah May sedikit menjauh darinya. I'am melanjutkan langkahnya. Ia berjalan jinjit menyebrang dari pohon ke pohon. Agar pengintaiannya tidak di ketahui May.
Beberapa kali May menolehkan pandangannya ke belakang. Namun ia sudah tak melihat I'am lagi.
"Hah ... Akhirnya, pergi juga dia." ucap May riang bibirnya tersenyum tipis.
"He-he-he. Kamu tidak akan tau kalau aku masih mengikutimu." lirih I'am bersembunyi di balik pohon bonsai matanya terus mengintai May.
Awalnya May berpikir kalau I'am sudah tidak mengikutinya. Karena setiap menoleh kebelakang, ia tidak melihat adanya I'am lagi. Lalu tiba-tiba, ada perasaan dalam hatinya mengatakan. Seperti ada bayangan yang mengikutinya. Ia mulai curiga kembali bola matanya tajam melirik ke arah kanan dan kiri. Ia mempercepat langkahnya dan berlari kearah yang tak tentu. Berusaha menghilangkan jejak.
Mata I'am membulat sempurna dari balik pohon. wajahnya panik melihat May tiba-tiba berlari dengan sangat cepat. "Kenapa dia berlari. Sepertinya dia tahu aku mengintainya." Lalu I'am berusaha cepat mengejarnya.
Cepat May terus berlari menjauhkan jaraknya pada I'am. Setelah beberapa Menit berlari, Ia menghentikan kakinya di balik sudut toko yang ada di sekitarnya. Untuk membuang rasa lelahnya sesaat.
Perlahan I'am memperlambat langkahnya dan berhenti setelah kehilangan jejak May. "Hah ..." ia membuang nafasnya berat sambil menghapus peluh keringat yang bercucuran di dahinya.
Dia menoleh ke kanan dan kiri. sesekali memutarkan tubuhnya, mencari keberadaan May.
"Dasar wanita halus. meskipun kakinya pendek, cepat juga dia larinya."
__ADS_1
"Apa iya kakiku pendek? sepertinya biasa saja." ucap May mengernyitkan dahinya merasa heran, sambil memperhatikan kakinya, bersembunyi di balik sudut toko. "Dasar manusia tak berkepala. Berani sekali dia menghinaku. Argh ... Awas saja kau." Lirih May geram.