
Tiba-tiba ponsel May berbunyi. ia segera mengambil dan menyambungkannya.
"Halo May. kamu dimana? kenapa kamu lupa lagi mengantar kuncinya." ucap Dania dari seberang.
"Aku tidak lupa. Aku sedang berjalan ke sana. tunggu, ya." ucap May pelan.
"Ternyata kamu bersembunyi disini." ucap I'am menyandarkan belakang badannya di sudut toko sebelah May.
May kaget, matanya membulat sempurna mendengar suara I'am dari balik tembok.
"Percuma saja kamu bersembunyi. Nanti juga, kita akan bertemu lagi. karena aku akan pulang kerumah mu." I'am mengeluarkan kepalanya dari balik tembok sambil tersenyum lebar menatap wajah May sedang mengerucutkan bibirnya.
May tak menghiraukan perkataan I'am. Dia hanya melirikkan bola matanya tajam kearah wajah I'am dan membuang nafasnya kasar. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju toko kecilnya tanpa memperdulikan I'am.
I'am yang keras kepala itu tak peduli. Meskipun May sangat kesal padanya, ia tetap saja mengikuti langkah May dari belakang.
Tak lama May sampai di tokonya.
"Maaf ya dan, aku terlambat." ucap May memberikan kunci pada Dania.
Sesaat Dania menatap kearah I'am. dia menarik pergelangan tangan May sedikit menjauh dari I'am.
"Siapa pria itu? dia tampan sekali May." bisik Dania pada May sambil tertawa riang. "Apa dia pacar kamu? kenapa sebelumnya kamu tidak pernah cerita padaku." sambungnya.
"Pacar dari mana! kenal saja tidak."
"Lalu kenapa bisa bersamamu?"
"Sudahlah, berhenti bicara. Aku sudah terlambat datang ke kampus, aku pergi dulu, ya." ucap May sesaat menolehkan tatapannya kearah I'am dengan wajah sinis dan menyunggingkan sebelah bibirnya.
Lalu ia melanjutkan langkahnya, I'am pun berjalan kembali mengikutinya sambil melihat-lihat sekitar kota. Tiba-tiba perutnya terasa lapar.
"Hey ...! I'am memanggil May dari belakangnya.
Namun May hanya acuh, tidak mau memperdulikannya. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh.
I'am mempercepat langkahnya dan mencengkram pergelangan tangan May. "Hey ...! apa telingamu bermasalah."
May menghentakkan tangannya dari cengkraman I'am. "Sebenarnya apa mau mu? kenapa mempersulit hidupku."
"Aku tidak bermaksud mempersulit hidupmu. Saat ini aku tidak punya apa-apa. Aku masih bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang. Izinkan aku tinggal denganmu Beberapa hari saja. Sampai aku menemukan cara untuk pulang."
"Kalau begitu kamu pergi ke kantor polisi saja. katakan pada mereka, kalau kamu itu anak hilang."
"Apa ...! kata-kata mu itu sangat konyol. mereka pasti akan menertawakan ku, jika aku berkata seperti itu!" ucap I'am keras.
"Kenapa kau membentakku! Apa kau ingin ku pukul. Sudah ku bilang jangan membentak ku. Apa kau tidak punya kepala. Kau itu benar-benar tidak mengerti apa yang aku katakan, ya. Aku sudah berusaha lembut bicara denganmu. Seharusnya kamu menghargainya." ucap May ketus.
"Nada ucapanmu memang lembut. tapi perkataan mu itu sangat menghina."
"Aku hanya memberi saran, kenapa kamu merasa terhina."
"Hah ...! sudahlah, dasar keras kepala."
"Kau yang keras kepala.!" ucap May sambil menggretakkan giginya, wajahnya sinis.
__ADS_1
Langsung May berjalan berbalik arah kembali menuju toko kecilnya. Sesaat I'am melemparkan pandangannya memperhatikan setiap langkahan Kaki May. "Dasar. Menjengkelkan sekali dia."
Ia membuang bokongnya pada kursi yang ada dalam toko dan menghela nafasnya panjang. Tangannya menghapus peluh keringat yang bercucuran di dahinya.
"Kenapa kamu kembali May?" ucap Dania sedang merapikan bunga-bunga.
"Bagaimana bisa aku belajar, kalau pikiranku tidak tenang. dia selalu saja membuat ku kesal."
"Si tampan itu?" sebenarnya dia itu siapa? kamu belum sempat memberi tahu aku, tadi."
"Dia itu yang kemarin tidur di teras depan pintu rumahku. Dia itu sangat merepotkan sekali. Benar-benar membuat hidupku tidak tenang. Argh ...!" May sangat kesal, kedua tangannya mencengkram erat kepalanya, melampiaskan kekesalannya.
"Memangnya apa yang sudah di lakukannya, sampai kamu kesal begitu. Kalau aku perhatikan anaknya pendiam dan juga baik."
"Ha-ha-ha..." May tertawa bodoh. "Pendiam katamu! dia itu banyak bicara dan juga kasar."
selang beberapa menit, I'am datang masuk kedalam toko, dan berdiri di hadapan May.
"Dia lagi, dia lagi." lirih May, membuang pandangannya ke sisi kosong.
"Hey ... pinjamkan aku uang. Aku ingin membeli makanan."
"Aku tidak punya uang."
"Ayolah, nanti akan aku ganti. Aku sangat lapar."
"Sudah aku bilang, aku tidak punya uang. Apa kamu tidak mendengar. Jangan membuatku marah."
"Argh ..." I'am menggretakkan giginya.
Dania yang sedang berdiri di antara bunga-bunga, hanya terdiam menyaksikan pembicaraan May dan I'am.
"Siapa yang ingin membentakmu. Aku sudah berusaha bicara lembut. Kenapa kamu masih marah-marah juga."
"Sudahlah, lebih baik kamu diam saja."
'Bagaimana caranya? agar aku bisa bicara dengannya selayaknya manusia biasa.' lirih I'am dalam hatinya, sambil melangkah pelan berjalan di sekitaran bunga-bunga yang ada dalam toko.
Sesaat wajah I'am terlihat sangat konyol saat ide masuk ke dalam pikirannya. 'Mungkin dia akan baik padaku jika aku membantunya di sini. He-he-he.' sambungnya dalam hati.
"Apa ini semua bunga-bunga mu? bagaimana jika aku membantu memjualnya." ucap I'am sambil melihat-lihat bunganya.
"Tidak perlu. Aku lagi tidak butuh orang pekerja."
"Tenang saja, aku tidak akan meminta upah darimu. Kamu cukup memberikanku makanan saja. Bagaimana?"
belum sempat May mengatakan sesuatu, I'am langsung memotongnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh semua orang membeli bunga di sini." ucap I'am berlalu melangkah cepat keluar toko.
"Hey ...!" teriak May memanggil.
May berjalan menghampiri Dania.
"Kamu sudah melihatkan sekarang, seperti apa sifatnya." ucap May pada Dania. Dia itu selalu ingin menang sendiri."
__ADS_1
"Tapi menurutku, dia itu lucu. Sama sekali tidak menyebalkan." ucap Dania sambil tersenyum.
"Hem ... Seperti itu kamu bilang lucu." May menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya.
"Aku keluar dulu ya, May. Aku mau menemaninya." ucap Dania segera berjalan keluar menghampiri I'am.
"Dasar, kalian berdua itu sama saja."
***
"Halo. Pak"
"Ada pekerjaan untuk kalian. cepatlah datang ke perusahaan ku."
"Baik Pak."
Selang beberapa menit, seseorang yang di telepon Papanya I'am sampai dan menemuinya.
Tok ... tok ...
salah satu orang Bayaran mengetuk daun pintu ruangan kerja Papanya I'am.
"Masuklah" ucap Papanya I'am.
"Selamat pagi Pak." sapa dua orang bayaran.
"Ya, duduklah. Ada pekerjaan untuk kalian."
"Pekerjaan apa Pak."
Papa meletakan Poto I'am di atas mejanya. "Aku mau kalian telusuri seluruh kota yang ada di timur, dan kalian harus menemukan orang ini." ucap Papa menempelkan jari telunjuknya pada Poto I'am.
"Baik Pak. saya akan segera melakukan pencariannya."
Papa menyerahkan sejumlah uang dalam amplop dan Poto I'am pada orang bayarannya.
"Ini, ambillah, tapi ingat. jika kamu sudah menemukannya. Segera hubungi saya. Satu lagi, kamu cukup mengintainya saja, jangan sampai ketahuan. Apa kamu mengerti!"
"Siap Pak, saya mengerti."
"Kalau begitu. pergilah."
"Baik Pak, kami permisi dulu." ucap seorang pria bayaran itu berlalu meninggalkan ruangan.
'Semoga saja cepat ketemu' lirih Papa dalam hatinya, menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya pasrah. Meskipun kesal pada I'am. Namun ia tidak mampu menutupi rasa paniknya jika saat sendirian. Karena I'am adalah anak satu-satunya dan bakal menjadi penerus perusahaannya.
***
"Hai ... Bagaimana? apa kamu berhasil mendapatkan pembeli." ucap Dania pada I'am.
"Belum. Tapi aku akan terus berusaha sampai aku mendapatkan pembeli."
"Boleh aku berkenalan denganmu?" Dania menjulurkan tangannya kearah I'am.
"Tentu saja. Namaku Ilham, tapi panggil saja I'am."
__ADS_1
"Kalau aku Dania. Oya, sebenarnya kamu dari mana? kenapa kamu bisa bertemu dengan May?"