Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.27


__ADS_3

"Kamu tau sendiri kan, seperti apa May. Hancurkan saja pintunya kalau kamu berani. Aku akan segera menghubunginya." ucap Dania Sedang menunggu sambungan dari May.


"Kau itu benar-benar sangat menyebalkan. Apa kau senang melihat aku bertengkar dengannya."


Sesaat Dania tak menghiraukan I'am, karena May sudah menyambungkan panggilannya.


"Halo May, apa kamu masih di kampus?" tanya Dania sedikit tergesa-gesa.


"Iya, aku masih di kampus, Ada apa Dan? Kenapa berisik sekali di sana, apa yang sedang terjadi?" ucap May dari seberang. Suara I'am dan daun pintu yg sesekali di tepuk-tepuk I'am terdengar samar-samar di telinga May.


"Si tampan itu, sedang berusaha ingin menghancurkan tokomu, May."


"Hey, kau jangan asal bicara. Jangan membuatnya salah paham." teriak I'am ikut bicara.


"Apa!" mata May membulat sempurna, kaget mendengar perkataan Dania.


informasi dari Dania membuat istirahat may di kantin terusik. amarahnya bergejolak seperti gunung meletus. Tak sabar ingin melindungi tokonya dari ancaman I'am, cepat dia segera melangkahkan kakinya berlari menuju tokonya.


Sejauh ini I'am masih mampu menahan rasa kesalnya.


"Cepatlah buka pintunya, Dan! jangan sampai menunggu kesabaran aku habis, ya!" bentak I'am geram.


"Tunggulah sebentar, aku pasti akan membukanya. Kamu tenang saja di dalam." ucap Dania sangat gelisah, menunggu May belum datang juga.


"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Aku bukan anak kecil yang harus di kurung seperti ini!"


Tiba-tiba ada beberapa pengunjung yang datang ingin membeli Bunga di toko May. I'am merasa lega dan senang ketika melihat pengunjung itu berjalan menuju toko ingin masuk.


"Hah ... Akhirnya aku selamat juga. He-he-he." ucap I'am sambil tertawa kecil merasa senang.


Sementara Dania sedikit bingung dengan kedatangan pengunjung itu, Tapi dengan cepat Dania mendapatkan sebuah ide. Dania berdiri di hadapan para pengunjung itu mencoba menahan langkahnya.


"Maaf ya, semua bunganya sudah di boking. Mungkin kalian bisa datang lagi besok." ucap Dania sangat sopan pada pengunjung itu.

__ADS_1


"Oh ... Baiklah, kalau begitu kami pergi ke tempat lain saja." ucap salah satu pengunjung itu segera berjalan pergi.


"Iya, sekali lagi saya minta maaf, ya." balas Dania sambil menganggukkan kepalanya.


"Hey, hey ..." I'am kaget mendengar ucapan Dania.


"Apa yang sudah kau katakan. Kenapa kau membohongi mereka!" sambung I'am heran dengan Dania.


"He-he-he." Dania hanya menyengir membalas ucapan I'am.


Tingkah Dania kali ini membuat amarah I'am benar-benar terpancing.


Sambil menatap tajam wajah Dania yang menyengir, I'am menyunggingkan sebelah bibirnya dan menggretakkan giginya sangat geram.


"Kau ..." ucap I'am ketus. Nafasnya terengah-engah dan telapak tangannya menggempal sangat erat sangat geram melihat Dania.


Tepat, ketika May menghentikan langkah kakinya di depan toko bunganya. I'am pun melepaskan tinjauannya mendarat pada permukaan dinding kaca pintu toko. Tinjuan kerasnya membuat sedikit retakan pada permukaan pintu kaca.


Begitu juga dengan May dan Dania. Hanya saja mereka kaget karena melihat retakan pada daun pintu tokonya.


May sangat tidak terima dengan apa yg sudah terjadi pada daun pintu tokonya. Tatapan matanya begitu tajam memandang wajah I'am. Rasa geram, memaksakan May menampilkan jejeran giginya menggertak sangat rapat sambil bernafas terengah-engah dadanya bergerak naik turun. Wajahnya sangat sengit seakan ingin cepat-cepat saja melipat-lipat tubuh I'am yang besar dan tinggi itu.


"Argh ..." May sangat geram, kedua telapak tangan nya menggempalkan sangat erat.


Sementara I'am hanya bisa meringiskan wajahnya merasa bodoh menyadari kelakuannya. Tatapan matanya menyiratkan rasa takut dan bersalah memandang May yang sudah sangat ingin menerkamnya.


Ketika Dania sudah membuka pintunya. Perlahan I'am melangkahkan kakinya pelan berjalan mundur berusaha menghindari May yang terus berjalan pelan di hadapannya.


"Ka - ka - kamu, ja - jangan marah dulu. Aku tidak sengaja melakukannya." ucap I'am terbata ketakutan.


"Argh ..." wajah May sudah seperti singa yang sangat kelaparan.


"Ini semua salah Dania. Kamu tidak boleh marah begitu saja padaku. Jika dia tidak mengurungku di dalam, mungkin aku tidak akan melakukannya." I'am terus berusaha beralasan, menenangkan amarah May.

__ADS_1


Amarahnya May yang sudah bergejolak menguasai dirinya. Sehingga apapun alasan I'am tak mampu lagi membuat dia bisa menerimanya.


bibir May sudah tidak mampu lagi bergerak untuk melontarkan kata. Karena yang ada di benaknya saat ini, ingin cepat menghabisi I'am.


Kaki I'am tertahan permukaan kursi saat dia berjalan mundur. Membuat langkahnya tak mampu lagi menghindari May yang ada di hadapannya. I'am semakin panik, rasa takut dalam pandangannya semakin tidak karuan. Jantungnya bertabuh semakin cepat, sudah tidak bisa menghindar.


"Hey.! I'am terkejut saat May mendorong kencang tubuhnya hingga bokong I'am mendarat di atas kursi yang ada di belakangnya.


"Ahh!!!"May teriak melepaskan amarah nya sudah meledak, meronta-ronta menghujani I'am dengan pukulan.


"Hentikan May. Aku sudah tidak ingin bertengkar denganmu." ucap I'am sambil melindungi Wajahnya dengan kedua tangannya, terduduk pasrah.


"Aku akan menghabisimu! kau sudah merusak tokoku! Aku tidak akan memaafkanmu! Ahh ...!!!" teriak May tak berhenti terus memukul I'am.


Sementara Dania hanya terbodoh melihat I'am dan May kembali konflik di depannya.


"Hey, Dan. kenapa kau diam saja. Semua ini kan, salahmu. Cepat tolong aku. lakukanlah sesuatu. " ucap I'am panik.


"Ah, iya." Dania sedikit bingung. Lalu cepat Dia menghampiri May dan merangkul tubuh May berusaha menghentikan serangannya pada I'am.


"Sudah May, hentikanlah. Dia tidak sengaja melakukannya." sambung Dania.


Sesaat May menghentikan serangannya.


"Apa! kau bilang dia tidak sengaja! Jelas-jelas dia melakukannya dengan sadar! dia pasti dendam padaku. Karena itu dia ingin menghancurkan tokoku." bentak May ketus.


"Untuk apa aku dendam padamu. Kenapa kamu selalu berprasangka buruk padaku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Hanya saja tadi aku sangat kesal. Semua ini karena Dania." ucap I'am membela diri.


"Ah ...! Diam kau! tidak usah beralasan." Belum puas melampiaskan amarahnya pada I'am. May kembali meronta menyerang I'am sedang duduk pasrah di hadapannya.


"Aku bicara yang sebenarnya. Dania yang salah. Jika kamu ingin marah, marahlah pada Dania." ucap I'am sambil melindungi wajahnya dari serangan May.


Meskipun May sedari tadi menyerangnya, namun I'am masih ingat dengan ucapanya, bahwa dia tidak ingin lagi membuat May marah. Karena itu dia berusaha menahan amarahnya. Memilih pasrah menghadapi ibu mudanya itu.

__ADS_1


__ADS_2