
Dania merasa sangat bersalah, karena ulah perbuatannya namun I'am yang harus menanggungnya. Tak ingin diam saja, cepat Dania berusaha menolong I'am.
"Sudahlah May, hentikan." ucap Dania berusaha kembali merangkul May dari belakang.
"Lepaskan! biarkan aku menghabisinya!" bentak May pada Dania.
"Hey, tampan. Kenapa kamu diam saja, cepatlah pergi." ucap Dania pada I'am, masih terus menahan May.
"Hoh, baiklah." cepat I'am bangkit dan berlalu berjalan keluar toko.
"Hey ...! mau kemana kau, jangan pergi! lepaskan aku, Dan." May berusaha meronta melepaskan kedua tangan Dania yang merangkul erat tubuhnya.
sesaat I'am menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menatap May, sebelum membuka pintu.
"Aku tidak akan pergi jika kamu bisa sedikit tenang. berhentilah menyerang aku. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik." ucap I'am wajahnya terlihat sangat melas.
"Apa kau yakin, bisa bicara baik denganku?" ucap May ketus.
"Tentu saja, aku tidak mau lagi bertengkar denganmu. Aku akan berusaha mengalah denganmu sekarang."
Melihat amarah May sudah mulai sedikit tenang, perlahan Dania meleraikan kedua tangannya dari Bandan May.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan pintu tokoku sekarang?" ucap May ketus sambil berjalan pelan menghampiri I'am.
"Sebentar, aku coba lihat dulu, ya." sesaat I'am memperhatikan retakan pada daun pintunya. "Sepertinya tidak apa-apa, ini hanya retak sedikit saja. Aku rasa tidak perlu di ganti." sambung I'am sangat ringan bicara.
"plak ..." May mendaratkan telapak tangannya di dahi I'am. "Mudah sekali kau bicara. Jika itu di biarkan, semakin lama pasti akan semakin membesar. Sekarang kau harus menggantinya, aku tidak mau tau, ya."
"Kamu kan tau, aku tidak punya uang. Bagaimana aku bisa menggantinya." ucap I'am sambil mengelus dahinya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, itu urusanmu. Pokoknya kau harus cepat menggantinya. Jangan sampai pemilik toko ini melihatnya terlebih dahulu.
""Hah ... dia benar-benar sangat merepotkan." ucap I'am menggrutu sambil membuang pandangannya ke sisi kosong.
"Kau bilang apa?" tanya May menantang sambil mencengkram kera baju I'am. "Apa kau ingin aku hajar lagi? coba katakan sekali lagi kalau kau berani!" ancam May ketus, matanya membulat tajam
"aku tidak mengatakan apa-apa." sahut I'am wajahnya sangat polos.
"Kau pikir aku tidak punya telinga, aku mendengar apa yang kau katakan. Kau bilang aku merepotkanmu, kan. Apa kau tidak salah bicara. Hah! coba kau katakan sekali lagi.!" ucap May kasar.
"Kenapa kamu begitu menakutkan menjadi wanita. Yasudah, aku minta maaf. Sekarang berhentilah memarahi aku." ucap I'am terus mengalah.
"Sudahlah May, berhenti menyalahkannya. Sebenarnya ini semua salahku. Karena tadi aku sudah berusaha membohonginya, sampai dia merasa geram." Dania ikut bicara setelah melangkah menghampiri May.
"Kamu tidak perlu membelanya, Dan. Karena dia tidak pantas di bela." perlahan May meleraikan genggamannya dari kera baju I'am.
"Dania bicara yg sebenarnya, kenapa kamu tidak percaya juga." senggol I'am.
I'am sudah merasa sangat lelah berdebat dengan ibu mudanya itu.
"Ah, terserah denganmu mau percaya atau tidak. Aku tidak perduli." ucap I'am, berlalu ingin pergi secepatnya. Lama-lama I'am mulai tak tahan juga menahan rasa geramnya pada May.
"Hey, kau tidak bisa pergi begitu saja. Urusan kita belum selesai." ucap May berusaha menahan langkah I'am.
"Aku tidak mau lagi berurusan denganmu. Tidak akan pernah bisa selesai kalau berurusan denganmu. Aku lelah, kau itu sangat keras kepala. Kenapa kau tidak bisa mengerti bahasa manusia. Apa kau bukan manusia?!" bentak I'am kesal.
"Melihat I'am sudah mulai ikut kesal. Dania memutuskan untuk pasrah tidak mau lagi ikut campur.
"Hah ... Biarkanlah mereka berkembang. Tidak akan ada ujungnya kalau sudah begini." ucap Dania berjalan menuju salah satu kursi sambil menggelengkan kepalanya pasrah.
__ADS_1
"Hoho ... Berani sekali kau mengataiku, ya." ucap May pada I'am, matanya membulat tajam sesekali memukul badan I'am.
"Kenapa memangnya, Kau pikir aku takut. Kau itu hanya wanita lemah. Tidak pantas melawanku!" ucap I'am sambil menangkis serangan dari May.
"Kau itu benar-benar menyebalkan. Aku tidak terima, pokoknya kau harus mengganti kaca pintu tokoku sekarang!"
Meskipun I'am sudah sangat kesal dengan sikap May, namun rasa kesalnya itu hanya sesaat. Kali ini I'am benar-benar lemah karena perasaannya yang mulai menyukai May. Dia menyadari kalau May sangat terluka saati ini karena sikapnya.
Tak ingin membiarkan pertengkaran ini berlarut-larut, cepat dia melingkari kedua tangannya di leher May dan membenamkan kepala ibu mudanya itu di dadanya.
"Sudahlah May, tenangkan dirimu. Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud merusak tokomu. Aku kembali karena merindukanmu, bukan ingin bertengkar denganmu." ucap I'am pelan
Sementara di satu sisi, May yang berada dalam hangatnya dekapan I'am, tidak bisa memungkiri bahwa perasaannya saat ini bukan hanya kesal saja pada I'am. Namun sebenarnya dia masih menyimpan rasa Kawatirnya atas kepergian I'am.
"Kamu benar-benar menyebalkan, kenapa kamu pergi begitu saja. aku menunggumu, tapi kenapa kamu tidak kembali. Setelah kembali, kamu malah merusak tokoku. Kenapa kamu begitu jahat padaku." ucap May melepaskan rasa rindunya yang bercampur rasa kesalnya sambil memecahkan tangisannya dalam pelukan I'am.
"Kamu ini, ya. Kalau sudah berkicau, pasti panjang sekali bunyinya. Sepertinya, kamu itu lebih pantas menjadi ibu bingung dari pada menjadi ibu mudaku. He-he-he." ucap I'am menggoda May.
"Enak saja kamu bicara. Aku membencimu." ucap May ketus namun manja.
"Aku tidak perduli. Meskipun kamu membenciku, aku akan tetap menyukaimu. Sekarang aku tidak akan pergi lagi."
"Tapi aku sangat membencimu." Meskipun hatinya senang dengan ucapan I'am. Namun tetap saja May berusaha menutupi perasaannya dengan rasa gengsinya.
"Terserah, aku tetap tidak akan perduli." Sementara I'am yang selalu bertingkah sesuka hati, mana mau perduli dengan ucapan May. Tetap saja I'am berkokoh dengan keputusannya.
"Ah, sudahlah. Lepaskan aku sekarang." ucap May perlahan meleraikan tangan I'am yang melingkari lehernya.
"Sekarang bagaimana dengan pintuku?" sambung May
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Andai saja aku punya uang, aku pasti akan memperbaikinya sekarang?"
"Hah ... kau itu, selalu saja bicaranya berandai-andai. Sudahlah, nanti aku akan menggunakan tabunganku dulu untuk memperbaikinya. Kamu itu selalu saja merepotkan aku." ucap May mengeluh, berlalu berjalan menghampiri kursi kasir dan membuang bokongnya.