
May merasa tubuhnya sudah sangat lemas, wajahnya sudah memerah. Namun sedetikpun May tak mampu menghentikan jeritannya. tornado membuat dia sangat takut.
Setelah beberapa menit, penderitanya yang sudah membuat jantungnya seperti copot akhirnya berakhir.
Sesaat May tersandar lemas di sandaran kursi yang ia duduki, Sambil menunggu sabuk pengamannya terbuka.
Sesaat I'am tertawa lebar berdiri di hadapan May sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
"Bagaimana, apa kamu sangat senang?" tanya I'am masih belum bisa menghentikan tawanya melihat May merasa lucu.
"Senang apanya. Gara-gara kau, aku tidak bisa merasakan jantungku lagi sekarang. Apa kau sengaja ingin membuat aku mati!" ucap May ketus.
"He-he-he. Sudahlah, ayo cepat turun. Apa kamu ingin naik lagi?" ucap I'am menggoda May.
May bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan I'am. May menyunggingkan sebelah bibirnya sambil melirikkan bola matanya sengit menatap wajah I'am.
Sejenak I'am mengelus ujung kepala May sambil tersenyum.
"Kenapa kamu menatap seperti itu. Apa kamu kesal padaku?"
"Jauhkan tanganmu." ucap May sambil menghempas tangan I'am dari atas kepalanya.
"Ihh ..." May sedikit kesal sambil memukul dada I'am beberapa kali. "Apa kamu puas sudah berhasil mengerjai aku. Kamu itu sangat menyebalkan." sambung May.
"Aku belum puas, dan aku masih ingin mengerjaimu." ucap I'am sambil tersenyum.
"Coba saja kalau kamu mengerjai aku lagi.' ucap May berlalu melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan I'am.
Sejenak I'am masih tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu melihat May.
"Hey, tunggu aku." ucap I'am berlari kecil menghampiri May. "Sekarang kamu mau main apa lagi?" sambung I'am sambil menyenggol bahu May.
"Aku tidak mau main lagi. Gara-gara kamu, kepalaku jadi pusing sekarang."
"Hey, Itu ada es krim. Aku akan membelikannya untukmu. Kamu duduklah sebentar di sini ya. Aku akan segera kembali." ucap I'am berlalu pergi menghampiri penjual es krim.
Tak lama May menunggu, I'am kembali dengan membawa dua es krim, dan menyodorkan salah satu es krimnya di hadapan May sambil membungkuk.
__ADS_1
"Ini untukmu." ucap I'am memberikan es krim.
Saat May ingin meraih es krimnya, cepat I'am menyentuhkan sedikit ujung es krimnya pada hidung May.
"Hidungmu seperti badut. He-he-he. biarkan saja jangan di hapus." ucap I'am sambil tertawa kecil.
"Ihh, dasar kau. benar-benar menyebalkan, ya." ucap May sambil menghapus es krim yang menempel di hidungnya.
"Ini ambilah." ucap I'am memberikan es krimnya sambil membuang bokongnya di kursi samping May.
"Terimakasih, ya." sahut May sambil tersenyum.
"Bagaimana rasanya, enak tidak?" tanya I'am setelah May memakan es krimnya.
"Enak. oh iya, kamu kan, sudah punya uang. Lalu apa kamu akan pulang secepatnya?"
"Tidak, aku masih ingin tinggal lama di sini."
"Kenapa kamu ingin tinggal lama di sini?"
Sesaat I'am melemparkan pandangannya kearah May.
"Bukan begitu, aku hanya sekedar bertanya saja." ucap mau menutupi rasa cemasnya.
"Oya, keluargamu di mana? kenapa kamu tinggal sendiri di sini?" tanya I'am sedikit penasaran tentang May.
"Keluarga aku tinggal di kota sebelah timur juga. Letaknya ada di sebelah kota ini. Tapi jaraknya lumayan jauh. Karena itu aku tinggal di sini, agar dekat dengan kampus kuliah aku."
"Apa kamu sering pulang ke sana?"
"Tidak terlalu sering. Aku tidak banyak uang untuk sering-sering pulang. Kadang aku pulang tiga bulan sekali, pernah juga sampai 5 bulan aku baru pulang."
"Apa kamu banyak saudara?"
"Tidak, aku cuma 2 bersaudara. Aku punya adik laki-laki, tapi dia tidak nakal sepertimu. Dia itu pahlawan keluargaku. Saat dia berada di sekolah tingkat akhir. Bapak aku meninggalkan kami karena kecelakaan. Semenjak ekonomi keluargaku tidak stabil. Akhirnya adikku memutuskan untuk kerja di sebuah pabrik. Menggantikan posisi bapak aku untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Aku tidak bisa mengandalkan dia terus. Bagaimana pun dia juga punya masa depan. Karena itu aku berkeinginan untuk berjuang di sini sambil melanjutkan studi aku. Agar aku bisa menjadi orang yang berhasil." ucap May sendu.
"Hah ..." May menghela nafasnya berat setelah bercerita, berusaha menepiskan rasa sedihnya karena kerinduannya pada Bapaknya.
__ADS_1
"Oya, siapa wanita tadi? Kenapa kamu bisa mengenalnya. Bukannya kamu tidak punya siapa-siapa ya di kota ini."
"Aku juga baru mengenalnya. Dua malam yang lalu dia kecelakan ringan. Malam itu tidak ada siapa pun. Aku melihatnya dia sedang pingsan di dalam mobilnya. Lalu aku coba untuk menolongnya. Setelah itu kami berteman."
" Jadi kamu baru mengenalnya juga."
"Sudahlah, sekarang kita main lagi saja." ucap I'am sambil menarik tangan May bangkit dari duduknya.
"Kamu mau main apa lagi?" tanya I'am sambil berjalan pelan di area wahana.
"Aku tidak mau main yang extrim. Aku takut."
"kamu tenang saja. Aku tidak akan mengerjai kamu lagi. Kita akan bermain bersama."
"Tapi tetap saja aku takut."
"Sudahlah, lupakan saja rasa takut kamu. Aku akan berada di sampingmu, ayo." ucap I'am memaksa May bermain.
Seiring waktu, satu persatu mereka mencoba semua permainan yang ada di wahana. Gelak tawa pun terus menerus tercipta dari bibir mereka yang menambahkan keramaian.
Tak terasa matahari mulai terbenam menyisakan warna jingga di ujung sana.
Seharian I'am mengajak May bermain di wahana namun I'am Masih belum puas membuat ibu mudanya tersenyum.
"Terima kasih ya, Kamu sudah membuat aku merasa bahagia hari ini." ucap May setelah selesai bermain permainan yang terakhir, sambil berjalan pelan di samping I'am.
Sesaat I'am mengelus ujung kepala May.
"Iya, tapi aku belum puas membuatmu bahagia hari ini. Aku mau membawamu ke satu tempat lagi." ucap I'am sambil menatap wajah May.
"Kamu ingin membawaku kemana lagi. hari sudah mau malam. Lain kali kita pergi lagi."
"Tidak bisa, Karena aku sudah merencanakan sesuatu buat kamu malam ini. Pokoknya kamu harus ikut aku." ucap I'am sambil meraih pergelangan tangan may.
"Kita berjalan saja ya, sambil mengulurkan waktu." sambung I'am.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya May penasaran
__ADS_1
"Aku mau mengajakmu ke taman pusat kota. Pasti nanti kamu akan Senang." ucap I'am sambil melemparkan senyuman manis.