
Saat langkahnya sudah sampai di depan toko. I'am berusaha masuk ke dalam untuk beristirahat. Namun pintunya di kunci. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah May dan beristirahat di sana.
***
David yang sudah lama mengenal May. Sejak dulu dia sudah jatuh cinta pada May. Namun karena sudah terlanjur akrab sebagai sahabat. Dia tidak punya keberanian untuk mengutarakannya.
Sampai saat ini, David sama sekali tidak tahu perasaan May padanya. Dia takut cintanya merusak persahabatan, seandainya May tidak mencintainya. Karena itu dia hanya memendamnya saja.
Meskipun hanya sebatas sahabat, untuk saat ini baginya itu sudah lebih dari cukup. Karena bisa selalu dekat dengan May, itu adalah salah satu kebahagiaan dalam hidupnya.
Bibirnya tersenyum simpul, saat dia mengendarai motornya. Karena saat ini wanita yang ia cintai berada di jok belakang motornya.
"Kita mau kemana Dav?" tanya May.
"Aku akan membawa mu ke pantai. Karena menurutku, pantai adalah tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran."
Belum lama berjalan tiba-tiba ponsel May berdering.
"Berhenti sebentar Dav, aku ingin mengangkat telpon dulu." ucap May sambil menepuk-nepuk lembut punggung David.
Sejenak May turun dari atas motor. Dia kaget saat melihat layar ponselnya.
"Ya ampun ..." ucap May sambil menepuk dahinya. Aku tidak ingat, kalau hari ini pemasok bunga akan datang." sambungnya segera menyambungkannya.
"Halo Pak."
"Dimana saya harus meletakkan bunga-bunga nya. Tokonya terkunci, tidak ada orang satu pun disini."
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya akan segera kesana."
"Baiklah, cepat ya." ucap pemasok bunga dari seberang mengakhiri pembicaraan.
"Dav, Aku harus cepat kembali ke toko. Maaf ya, kita tidak jadi pergi hari ini."
"Iya, tidak apa-apa. Naiklah, aku akan mengantarmu kembali ke toko."
Segera David melajukan motornya memutar balik arah untuk mengantar May kembali ke toko.
Karena jaraknya belum terlalu jauh, selang beberapa menit mereka pun sampai di toko.
Cepat May turun dari atas motor dan menghampiri seorang pemasok bunga itu.
"Maaf ya Pak. Saya sudah membuat Bapak menunggu."
"Tidak apa-apa. Sekarang cepatlah buka pintunya."
__ADS_1
"Iya Pak. Sebentar ya." berlalu May mendekati pintu dan membukanya. Lalu dia membuang bokongnya di kursi dalam toko untuk menunggu pemasok menurunkan semua bunga-bunga yang sudah di pesannya.
"Ini uang pembayarannya, silahkan di hitung lagi Pak." ucap May setelah beberapa menit, menyerahkan uang pada pemasok itu.
"Sudah pas, kalau begitu saya permisi dulu, ya." ucap pemasok itu segera meninggalkan toko May.
"Hah ... toko aku penuh lagi dengan bunga." ucap May senang, sambil menyusun bunga-bunganya.
"Aku bantuin ya, May. Kamu tunjukan saja arahnya. Biar aku yang memindahkannya."
"Yakin kamu ingin membantuku?"
"Aku akan melakukan apa saja untukmu, yang penting kamu senang. Jangankan hanya memindahkan bunga-bunga ini. Jika kamu menyuruh aku untuk melamar mu, sekarang pun akan kulakukan." ucap David menggoda May.
"Ha-ha-ha. bicaramu terlalu berlebihan Dav."
"Iya maaf, aku hanya bercanda."
'Sepertinya, dalam hati May tidak ada cinta untukku. dia terlihat biasa-biasa saja. Padahal aku sangat mencintaimu May.' lirih David dalam hatinya, melamun menatap wajah May.
"Hei ..." panggil May. David tersentak dari lamunannya.
"Kenapa kamu diam saja. Katanya kamu ingin membantuku."
"Iya, aku akan membantumu. Baiklah, yang ini letakan dimana?" tanya David menyentuh salah satu bunga.
"Baiklah."
"Ini letakan di situ ya, yang ini di sana, yang ini di sudut situ, yang itu letakan di antara bunga yang sana." Terus May menggerakkan jari telunjuknya sampai David selesai memindahkan semua bunga-bunganya.
"Hah ..." David menghapus peluh keringat di dahinya yang bermunculan dan menggelengkan kepalanya membunyikan pergelangan lehernya. "Sudah selesai, kan?" tanya David.
"Iya, terimakasih ya. Ternyata kamu giat juga ya. Bisa memindahkan semua bunga-bunganya dengan cepat." ucap May tersenyum lebar.
"ini belum ada apa-apanya May."
"Wah, sombong juga kamu ternyata, ya." ucap May bercanda
"He-he-he. Sekali-sekali."
"Apa kamu lelah? sebentar ya."
May berjalan keluar toko menuju ke sebuah kios untuk membeli minuman. David membuang bokongnya di salah satu kursi di dalam toko. Tak lama menunggu, May kembali dan menyodorkan sebuah minuman untuk David.
"Ini, ambillah."
__ADS_1
"Wah, perhatian sekali kamu."
"Itu karena kamu sudah membantu ku. Kalau tidak, mana mau aku membelikannya."
"Ngomong-ngomong, kamu itu makin hari makin cantik saja ya, May." ucap David menggoda sambil tersenyum tipis.
"Hei, kamu jangan menggodaku ya. Jangan sampai kamu menyukaiku."
"Kenapa memangnya, kalau aku menyukaimu?"
"Kamu itu sahabat terbaikku. Jadi aku tidak ingin ada cinta di antara kita. Cinta itu hanya merusak persahabatan kita saja. Selama ini aku sangat nyaman dekat denganmu sebagai sahabat.
Mendengar alasan dari May, sekejap batin David langsung tersentak. Sesaat nafasnya seakan terhenti. Perlahan David menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Perkataan May membuat Hatinya hancur berantakan. Raut wajahnya langsung layu tak bersemangat. Rasa kecewa menyelimuti jiwanya, seakan dia seperti tak mampu lagi untuk menghadapi waktu, satu menit kedepan.
"Hei. Kamu kenapa diam?" ucap May sambil menepuk lembut bahu David.
"Ah, tidak. Aku sedang memperhatikan bunga itu. Sepertinya bunga itu paling indah di antara bunga-bunga lainnya.
ucap David mencari alasan, menutupi rasa kecewanya sambil tersenyum.
"Oh ... Aku pikir kamu sedang melamun."
Tengah asyik mengobrol, Lalu ada beberapa pelanggan yang datang masuk ke dalam toko.
"Sebentar ya Dav, aku layani mereka dulu." May bangkit dari duduknya menghampiri para pelanggan yang datang.
'Jika saja aku tahu dari dulu. Persahabatan menghalangiku untuk memilikimu. Aku tidak mau menjadi sahabatmu May.' lirih David dalam hatinya.
Sesekali David tersenyum sendu di balik rasa sedihnya. Matanya tak lepas terus menatap may lekat.
Alasan dari perkataan May membuat David merasa takut. Seakan dia tak bisa menerima jika saja ada pria lain yang berusaha memiliki hati May. Hal itu membuat dia tidak bisa menahan perasaannya lagi.
'Aku sudah terlanjur mencintainya. Perasaan ini adalah kebahagiaan aku. Aku harus bisa memilikinya.' gumamnya dalam hati sedikit egois.
Setelah selesai melayani pelanggan May menghampiri David kembali. May mengernyitkan dahinya heran melihat raut wajah David tiba-tiba berubah.
"Kamu kenapa Dav? apa kamu sakit? bukannya tadi kamu baik-baik saja, ya."
Perlahan David melemparkan tatapan tajam pada May. Tatapan David membuat jantung May seketika bertabuh tak beraturan.
"Kenapa kamu menatapku serius seperti itu. Ada apa denganmu? jangan membuatku takut." ucap May wajahnya sedikit meringis.
"Aku menyukaimu May."
"Apa!" May kaget mendengar perkataan David. "Kamu jangan bercanda David." sambungnya.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu. Tidak semua cinta bisa menghancurkan persahabatan. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya." ucap David wajahnya penuh keseriusan.
Sejenak May menarik nafasnya panjang dan menundukan pandangannya.