
May sedikit kaget meliat Dania tiba-tiba memasuki toko dengan terburu-buru.
"Kenapa kamu kembali, Dan?" tanya May.
"Aku hanya ingin mengambil tas aku saja. sudah ya, May. Aku pergi dulu."
"Hey, sebenarnya kalian mau kemana?" tanya May merasa sedikit heran.
Namun Dania terus berjalan cepat meninggalkan May tanpa menghiraukannya.
"Huhhf ... Dasar, sama saja dia dengan I'am. Di tanya malah pergi saja. Aku tidak yakin kalau mereka pergi ke kampus." ucap May pelan merasa heran.
***
"Kenapa lama sekali." ucap I'am setelah Dania kembali menghampirinya.
"Iya maaf. Sekarang cepat kamu hubungi ibu kamu." ucap Dania berusaha mengalah.
tak sabar I'am ingin menjalankan sebuah idenya. Cepat dia menghubungi ibunya. Hanya beberapa detik ibunya pun langsung menyambungkan panggilannya.
"Halo nak, ada apa?" ucap ibunya dari ujung
"I'am lagi butuh uang Ma, Tolong kirimkan I'am uang, ya. Nanti I'am kirimkan nomor rekeningnya. "
"Iya, secepatnya nanti Mama kirimkan uangnya. Jaga diri kamu baik-baik, ya."
"Yasudah kalau begitu ya, Ma." ucap I'am mengakhiri pembicaraan.
"Bagaimana?" tanya Dania ingin tahu.
"Beres. Mamaku akan segera mengirimnya. Sekarang cepat antarkan aku pada pemilik toko itu."
Yasudah, ayo." ucap Dania segara berjalan menuju rumah pemilik toko.
"Kamu yakin ingin membelinya? apa nanti uangnya cukup?" tanya Dania sambil berjalan di samping I'am.
"Hahg ..." I'am kaget mendengar ucapan Dania seakan menyepelekannya.
"Kamu Jangan merendahkan aku. Perusahaan Papaku itu sangat besar. semua perusahaan mengenalinya. Bahkan Papaku sering berkerja sama dengan perusahaan di luar negeri."
"Masa iya. Jadi kamu anak dari seorang CEO?" Tanya Dania sedikit tidak percaya.
"Hah ... I'am menghela nafas merasa malas meladeni ucapan Dania.
"Sudahlah, lebih baik kamu itu tidak usah bicara. Pertanyaanmu sangat membosankan." sambung I'am ketus.
Sesaat Dania menyunggingkan sebelah bibirnya mendengar ucapan I'am yang membuatnya sedikit geram.
***
Setelah melayani beberapa pengunjung yang membeli bunga di tokonya. May kembali sedikit Merapikan bunga-bunga nya agar bunganya terlihat selalu segar.
Ketika sedang merapikan bunga, May teringat dengan keadaan David.
"oh iya, kenapa tadi David tidak masuk kelas, ya. Coba aku hubungi saja, ah." ucap May segera mengambil ponselnya di atas meja kasir.
__ADS_1
May membuka ponselnya dan mencari angka milik David.
"Halo May." ucap David dari ujung setelah menyambungkan panggilannya.
"Kamu kenapa tidak masuk kelas? apa luka wajahmu masih memburuk?" tanya May.
"Oh, tidak. Aku hanya sedikit kurang sehat saja. Tapi aku baik-baik saja kok."
"Kamu tidak sedang membohongiku kan?"
"Tidak May. Sepertinya kamu begitu Kawatir dengan aku. Apa kamu sudah mulai menyukaiku? tanya David menggoda May.
"Hem." May sedikit kaget, merasa terjebak.
"Kamu itu bicara apa. Aku Kawatir karena kamu itu sahabat aku. Kamu selalu ada buat aku. Jadi mana mungkin aku biasa-biasa saja jika terjadi sesuatu sama kamu. Biasanya juga aku sering perduli padamu, kan."
"Kamu bilang seperti itu. Apa itu artinya, kamu menolak perasaan aku?"
Sesaat May mengelus dahinya. mendengar ucapan David kelapa May sedikit pusing.
"Bukan seperti itu, Dav. Aku mohon mengertilah. Aku cuma tidak ingin ada cinta di dalam persahabatan kita. Aku berharap kamu bisa terus menjadi sahabat sekaligus menjadi kakak aku."
"Hah." David menghela nafasnya, berusaha untuk bersikap dewasa.
"Baiklah, jika seperti itu keputusanmu. aku akan coba ikhlas untuk menerimanya." ucap David lembut sambil tersenyum sendu. berusaha menahan rasa kecewanya.
"Maaf ya, Dav. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tapi aku memang tidak bisa menyukaimu." balas May lembut berusaha menjaga perasaan David.
"Iya, kamu tenang saja. Aku juga tidak mau memaksamu untuk menyukaiku. Aku sadar, kalau cinta itu tidak harus saling memiliki. Meskipun aku tidak bisa memiliki hatimu, setidaknya aku bisa memilikimu sebagai sahabat. Bagi aku, itu sudah lebih dari cukup."
"He-he-he." sesaat David tertawa kecil. "Kamu jangan takut, aku tidak akan menghindari kamu. Karena aku juga takut kehilanganmu."
May merasa lega setelah mendengar ucapan David yang sepertinya tanpa rasa kecewa.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga persahabatan kita tidak pernah terpisahkan, ya."
"Iya, aku akan selalu menjaga persahabatan kita dengan baik." ucap David, tenang sambil menepiskan rasa kecewanya.
"Yasudah, nanti aku akan datang ke rumahmu, ya. Aku ingin melihat keadaanmu. Kamu jangan kemana-mana." ucap May mengakhiri pembicaraan.
***
"Di mana rumahnya, apa masih jauh." tanya I'am pada Dania.
"Sudah dekat, itu rumahnya yang berwarna putih." ucap Dania sambil menunjuk ke arah rumah yang di tuju.
Tak lama melangkah, mereka sampai tepat di depan rumahnya. Kebetulan pemilik tokonya ada di depan rumahnya. Mereka langsung berbicara.
"Permisi Pak." ucap Dania pada Pemilik toko.
"Iya, ada apa, ya." sahut pemilik toko.
"Kami ingin bertanya, tentang toko yang Bapak sewakan kepada May, apakah kami boleh membelinya? kami ingin membelinya untuk May."
"Oh, kalau itu maaf. Saya tidak menjualnya."
__ADS_1
"Kenapa?" senggol I'am ikut bicara.
"Saya memang tidak ingin menjualnya."
"Kalau aku membelinya dengan harga yang mahal, apa bapak mau menjualnya? tanya I'am berusaha menawar tokonya.
Sesaat pemilik toko paruh baya itu memutarkan bola matanya mencoba mempertimbangkan pertanyaan I'am.
"Baiklah, kalau harganya cocok saya akan menjualnya." ucap pemilik toko itu.
"Kalau begitu, aku akan membeli toko Bapak dengan harga 300 juta, bagaimana?"
Sesaat Bapak paruh baya itu kembali memikirkan tawaran I'am. Tak sabar menunggu keputusannya, cepat I'am menambahkan tawarannya.
"Sudahlah, Bapak tidak usah berpikir. aku akan naikin 500 juta, bagaimana?" ucap I'am tak sabar menunggu keputusan.
"Hey, kamu ini, sembarangan sekali kalau menawar." senggol Dania pelan pada I'am.
"Sudah, kamu diam saja. Ini urusan aku."
"Kamu itu terlalu terburu-buru mengambil keputusan."
"Biarkan saja, yang penting cepat selesai."
"Orang tuamu itu susah payah mencari uang. Kamu malah menghabiskannya dengan mudah."
"Kamu tidak usah mengajari. Mereka mencari uang itu untuk hidupku."
"Bukan begitu maksud." belum sempat Dania menyelesaikan perkataannya, I'am langsung menutup mulut Dania dengan telapak tangannya.
"Kamu membuat lama saja." ucap I'am ketus pada Dania.
"Baiklah, saya akan menjualnya padamu." senggol pemilik toko itu.
Kedua alis I'am naik keatas merasa senang, mendengar keputusan dari Bapak paruh baya itu.
"Terimakasih Pak, Aku akan segera membayarnya. Kalau begitu kami pergi dulu. Nanti kami akan kembali lagi." ucap I'am sambil menjabat tangan Bapak paruh baya itu, dan segera pergi berjalan menuju bank.
########
Bab 31.
Beberapa menit berjalan I'am dan Dania Sampai di bank. Cepat I'am menyuruh Dania untuk mengecek isi buku tabungannya.
"Selamat siang." sapa salah satu pegawai bank ramah.
"Siang mbak. Tolong cek-in isi tabungan saya, ya. Saya ingin mengambilnya." ucap Dania.
"Baik tunggu sebentar, ya. Saya akan mengeceknya."
"Isi semuanya ada 1 miliar. Mbak mengambil berapa?" tanya pagawai pada Dania.
Dania kaget matanya membulat sempurna ketika mendengar sejumlah uang dalam tabungannya.
"Kami ingin mengambil 500 juta. Tolong cepat di siapkan, ya. ucap I'am pada pegawai itu.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar. Silahkan duduk dulu." ucap pegawai itu.