Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.10


__ADS_3

Setelah melihat isi menu, May memesan makanan serta minumannya. Tak lama menunggu, Pelayan itu kembali dengan membawa makanan yang sudah di pesan May dan meletakkan di atas meja.


"Selamat menikmati." ucap Pelayan itu berlalu pergi.


Sejenak I'am heran, melihat minuman yang di hidangkan.


"Yang benar saja kau. Kenapa minumanku hanya Air putih." ucap I'am iri.


"Memangnya kenapa? kamu alergi dengan air putih?"


"Bukannya begitu. Hanya saja minumanmu itu lebih enak dariku. Kamu memesan jus, lalu kenapa aku hanya air putih?"


"Tadi kan aku sudah bertanya, kau bilang terserah. Lagian ini kan hanya minuman, kenapa kau jadikan masalah. Kamu itu seperti anak kecil. Tahu tidak!" ucap May geram.


"Yasudah, kalau tak ingin minuman ini jadi masalah. Air putih ini untuk kamu, dan jusnya untuk aku." ucap I'am ikut geram sambil menukar minuman yang terletak di mejanya.


"Hoho ... Enak sekali kau. tidak bisa! jus ini milikku!!" May mencengkram pergelangan tangan I'am berusaha menahan tangannya yang sudah menggenggam erat gelas jus itu.


"Pokoknya jus ini untukku." ucap I'am melawan.


Sesaat mereka saling menarik gelas jus itu. Sampai I'am membuat kesabaran May habis.


"Letakan atau aku pukul kau!" bentak May keras. Perlahan rona kemerahan muncul di kedua pipi May menahan malu. Ketika dia tersadar, suaranya mengundang beberapa mata milik seseorang di sekitarnya terdiam memperhatikan mereka.


Perlahan May meleraikan genggamannya dari tangan I'am mengalah. "He-he-he. Maaf." ucap May malu pada beberapa orang yang ada di sekitarnya.


"He-he-he. Akhirnya jus ini jadi milikku." I'am meneguk sedikit jusnya. "Ah ... Segar sekali rasanya." sambungnya sambil menggelengkan kepalanya seakan menyindir.


"Kamu ini benar-benar tidak tahu malu, ya. Apa kamu tidak melihat, orang-orang di sekitar memperhatikan kita." ucap May pelan.


"Malu kenapa? Aku tidak kenal sama mereka. Untuk apa memperdulikan mereka."


"Kau ini, benar-benar menyebalkan."


"Apa kamu merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka. Baiklah. Hei ..." panggil I'am pada salah satu pengunjung yang sedari tadi memperhatikan mereka aneh. "Kenapa kau memperhatikan kami. Apa ingin aku colok matamu." sambung I'am menantang."


spontan May mencubit pinggang I'am


"Auh, Kenapa kamu mencubitku."

__ADS_1


"Maaf Mas, dia hanya bercanda." ucap May pada pengunjung itu sambil tersenyum malu.


"Kau itu sudah membuatku malu. Jangan lagi membuat masalah di sini. Atau tidak, matamu yang aku colok pakai sendok."


"Aku hanya ingin membelamu. Kenapa kamu marah."


"Kamu tidak perlu membelaku. Karena yang salah itu kamu, karena sudah mengganggu ketenangan mereka. Lebih baik kamu diam saja dan cepatlah makan. Aku sudah tidak mau lama-lama disini."


"Dari tadi aku sudah mau makan. Tapi kamu bicara terus." ucap I'am berlalu meraih alat makannya.


"Yasudah, cepatlah makan! jawab saja kalau di beri tahu.!" sahut May judes.


Tanpa bicara lagi, I'am menyantap makanannya. Tengah menyantap, Tiba-tiba punggung I'am terasa gatal. Ia meletakkan alat makannya dan berusaha menggaruk punggungnya.


"Hei, setelah makan." Belum sempat I'am mengucapkan perkataannya, May langsung memotongnya.


"Sudah aku bilang diam kan, cepat habiskan makananmu. Jangan banyak bicara." ucap May sambil menyantap makanannya.


I'am menyunggingkan bibirnya sengit sesaat kearah May. Ia tak melanjutkan makannya, karena sibuk dengan punggungnya yang gatal.


May meletakkan alat makannya setelah selesai makan. Ia meraih tisu yang ada di atas meja dan menghapus bekas makanan yang menempel di bibirnya sambil melihat kearah makanan I'am.


"Kamu ini sangat cerewet, ya. Aku tidak mau memakannya lagi. Perutku sudah kenyang."


"Kamu itu sudah besar. Tapi tingkahmu itu seperti anak kecil. Apa selama ini ibumu selalu memanjakanmu?"


"Tentu saja, aku ini anak satu-satunya. Jadi ibuku sangat menyayangiku." ucap I'am masih sibuk dengan punggungnya yang gatal.


"Pantas saja kamu itu selalu bertingkah sesuka hati. Tapi saat ini kamu tinggal denganku, jadi kamu jangan bertingkah manja seperti dengan ibumu. Atau aku akan menendangmu. Apa Kamu mengerti." ucap May tegas.


"Ya, aku mengerti. Ibu muda."


"Apa kamu bilang? Aku bukan ibumu. jangan panggil aku ibu."


"Kamu memang bukan ibu aku. Tapi saat ini kan, kamu yang mengurus aku. Jadi kamu itu ibu angkat. Karena kamu masih muda, jadi aku akan memanggilmu ibu muda. He-he-he. Bagaimana?" ucap I'am sambil memainkan kedua alisnya pada May.


"Enak saja, aku tidak mau!"


"Itu urusanmu kalau tidak mau. Yang penting, aku akan tetap menganggap kamu sebagai ibuku." ucap I'am bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah makan itu.

__ADS_1


"Hey ... Kamu mau kemana? tunggu aku!"


"Cepatlah bayar. Aku akan menunggumu di luar." I'am terus berjalan keluar tanpa menoleh.


"Argh ... Dasar. selalu saja ingin menang sendiri." ucap May menggrutu sambil mengambil uang dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.


Lalu ia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya cepat menyusul I'am yang sudah menunggunya di luar.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya I'am pada May, sedang berjalan pelan di sampingnya


"Terserah kamu mau kemana. Aku mau pulang." ucap May berjalan sedikit cepat di depan I'am.


"Hey, kita pergi ke toko baju Sebentar ya. Bajuku ini sudah gatal-gatal, aku harus menggantinya."


"Hah ..." May menghentikan langkahnya sejenak sambil meremas kepalanya dan menghela nafasnya. "Kamu itu benar-benar membuatku pusing. Kenapa ada manusia sepertimu di dunia ini." sambungnya wajahnya seperti mau menangis.


"Ayo lah, aku sudah tidak tahan. baju ini sudah sangat gatal."


"Asal kamu tahu saja, aku tinggal disini biaya sendiri. Biaya kuliahku besar, toko bunga itu aku menyewanya. Di tambah lagi, kamu itu banyak permintaan. Aku tidak punya banyak uang untuk semua itu."


"Kamu tenang saja, aku tidak memintanya cuma-cuma. Nanti aku akan membantumu menjualkan bunga mu, dan aku pasti akan mengembalikan semua uangmu yang sudah aku pakai."


"Kamu itu ringan sekali kalau bicara. Kamu tidak mengerti posisiku."


"Aku bukannya tidak mengerti, tapi baju ini benar-benar sudah sangat gatal."


"Kamu itu tidak pernah mau mengalah ya."


"Mengalah bagaimana? coba saja kamu yang memakainya. Pasti kamu juga tidak akan tahan."


"Iya baiklah! aku akan membelikanmu pakaian. Tapi ingat ya, ini yang terakhir kalinya kamu meminta sesuatu dariku." ucap May mengalah.


"Iya, aku janji tidak akan meminta apapun lagi darimu." ucap I'am sambil tersenyum.


"Hem." May membuang nafasnya, tidak tahu harus berkata lagi.


'Tingkahnya benar-benar membuatku seperti punya satu anak. Bagaimana caranya aku bisa memulangkannya. Apa aku harus mengambil sedikit tabunganku. Tapi tidak mungkin, sebentar lagi aku harus membayar sewa toko dan membayar uang semester.' gumamnya dalam hati sambil menundukkan pandangannya.


"Kenapa masih berdiri saja. Ayo kita pergi." ucap I'am menarik tangan May.

__ADS_1


"Kamu ini, selalu saja tidak sabar ya, kalau sudah menginginkan sesuatu." ucap May sambil berjalan seiringan dengan langkahan I'am berjalan sambil menarik tangannya.


__ADS_2