
"Dasar kurcaci, Sembarangan sekali dia ingin merebahkan tubuhnya. Apa kamu ingin tidur di jalanan. He-he-he." ucap I'am lembut. Sejenak menatap wajah manis May yang tersandar di dadanya, sambil tersenyum lucu.
"Apa kamu sangat lalah, May?" ucap I'am pada May yang sedang pingsan dalam dekapannya. "Baiklah, Sesuai dengan perkataanku dulu. Kapanpun kamu lelah, kakiku akan selalu siap untuk menggantikan kakimu, May." Sambungnya lembut.
Lalu, segera I'am melingkari kedua tangan May di lehernya dan berusaha menggendong tubuh kecil Ibu mudanya yang sedang pingsan di punggungnya.
"Istirahatlah di punggungku ya, May. Aku akan mengantarmu pulang." ucap I'am sesaat memanjakan May yang sedang bermimpi di punggungnya.
I'am pun mulai melangkahkan kakinya pelan menuju rumah May. Perlahan bibir I'am tersenyum simpul, wajahnya sembari menyiratkan kebahagiaan. Apa yang sempat dia rasakan di pusat kota tadi, kini dia merasakannya kembali bersama May.
Tengah berjalan, sejenak I'am melemparkan pandangannya ke hamparan langit hitam sedikit mendung. Hanya ada beberapa bintang saja yang menghiasi langit malam ini.
Lalu bintang itu mengingatkan I'am pada perkataan May yang berusaha membohonginya.
((. "Eh, Coba kamu lihat bintang itu. Terang sekali sinarnya." ucap May menunjuk ke arah langit, berusaha membohongi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Yang mana?" ucap I'am matanya liar berusaha melihat bintang yang di maksud May.
"Yang itu ... Masa kamu tidak bisa melihatnya."
"Mereka sangat banyak. Aku tidak tahu, bintang yang mana kamu tunjuk."
"Ha-ha-ha ... Ha-ha-ha." May tertawa terbahak.
"Kenapa kamu tertawa? apanya yang lucu." ucap I'am sedikit heran.
"Aku tidak tahan melihat wajahmu yang sangat lugu itu. kamu itu sangat lucu sekali. Ha-ha-ha." ))
Sesaat I'am tersenyum lucu sambil menggelengkan kepalanya setelah mengingat perkataan May.
"Dasar May, Senang sekali dia kalau membodohi orang. Tapi kalau dia yang di bodohi, Pasti dia langsung seperti singa kelaparan."
"Argh ..." I'am menyunggingkan sebelah bibirnya, mencoba meniru wajah May sedang galak.
"He-he-he." I'am kembali tertawa lucu sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama berjalan sambil menggendong Ibu mudanya, Akhirnya I'am sampai di rumah May,
"Hah." sesaat I'am membuang nafasnya berat sekedar melepas lelahnya, ketika menghentikan langkahnya tepat di teras rumah May.
__ADS_1
Lalu I'am menurunkan May perlahan dari atas punggungnya dan membuangkan bokong may pada kursi yang ada di teras.
Sesaat I'am menarik tatapannya lekat pada wajah manis May, sambil melemparkan senyuman tipis.
"Tidurlah yang nyenyak, agar beban di benakmu bisa berkurang." ucapnya sambil mengelus lembut ujung kepala May.
"Untuk sementara ini, aku tidak mau membuatmu marah. Aku pergi dulu ya, May." ucapnya lembut segera melangkahkan kakinya meninggalkan May sendiri di depan rumahnya.
Baru beberapa langkah I'am melangkahkan kakinya, ada perasaan dalam hatinya cemas dan tak tega. Jika harus meninggalkan May sendiri di depan rumahnya dalam keadaan pingsan.
Sejenak dia menghentikan langkahnya dan menolehkan pandangannya kebelakang menatap wajah May.
"Bagaimana ini? masa iya, aku harus meninggalkannya dalam keadaan seperti ini." ucapnya tak tega.
"Hah ..." sesaat dia menghela nafasnya. "Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, aku harus menunggunya." sambungnya kembali melangkahkan kakinya masuk ke teras.
Lalu dia membuang bokongnya di lantai sedikit jauh dari hadapan may, dan menyandarkan punggungnya pada permukaan dinding teras.
sejenak I'am terdiam memperhatikan May yang sedang duduk di kursi sambil tertidur. Namun langkah kakinya yang sedari tadi tak berhenti bergerak membuat dia merasa sangat lelah.
Perlahan matanya pun berusaha untuk terpejam, tapi sesekali dia tersadar, dan terus menggagalkan tidurnya, karena dia takut jika tertidur, dia tidak bisa bersembunyi kalau May bangun terlebih dahulu.
"I'am." ucap May lirih dalam tidurnya, hanya mengigo.
Lagi-lagi I'am tersadar dan gagal tertidur. Ketika tersentak mendengar suara May yang memanggil namanya.
"Ah ... Apa dia sudah terbangun?" ucapnya sambil memperhatikan May.
Lalu dia berusaha melihatnya dengan jarak yang lebih dekat sambil membungkuk memperhatikan wajah May.
"Tapi matanya masih terpejam. Ternyata di hanya mengigo saja. Dasar, membuatku kaget saja." ucapnya sambil mengelus dadanya.
"Sedang tidur saja masih bisa membuat aku takut. Apa lagi kalau sudah terbangun. Mungkin kicauannya bisa juara umum kalau ikut kontes burung. He-he-he." sesaat I'am tersenyum geli meledek May.
Lalu dia kembali membuang bokongnya di lantai yang tadi dia duduki. Tak lama I'am melihat tubuh kecil May mulai bergerak kedinginan. I'am mulai cemas.
"Sepertinya dia kedinginan." ucapnya sesaat tatapannya liar berusaha mencari sehelai kain.
"Tidak ada kain apapun disini. Tidak mungkin jika aku menyelimutinya dengan bajuku lagi." sambungnya berusaha menggunakan otaknya untuk berpikir.
__ADS_1
Namun kali ini dia mendapatkan sebuah ide. Sebelum dia melakukan idenya, dia berusaha mencari kertas dan alat tulis untuk menulis sebuah pesan untuk May.
I'am berusaha membongkar isi tas May untuk mencari selembar kertas. Tapi dia tidak menemukannya. Lalu dia melihat sebuah lipstik dalam tas May.
I'am mengambil lipstiknya dan menulis sesuatu pada daun pintu rumah May.
Lalu dia mengambil batu sedikit besar dan melangkah berjalan kepinggir jalan untuk melakukan idenya.
"Brrak ..."
sebuah batu sedikit besar mendarat pada daun pintu rumah May. Suara itu membuat May tersentak dari tidurnya.
"Ah ...suara apa itu? kenapa aku ada di luar. apa yang terjadi denganku." ucapnya sesaat heran sambil mengusap kedua matanya.
Lalu May berusaha mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Perasaan, tadi aku baru saja berjalan keluar dari toko. Kenapa sekarang aku sudah tertidur di sini? apa iya, aku terpingsan? Lalu siapa yang membawa aku kesini, ya?"
"Hah ... Aku tidak mengerti. Sudahlah, lebih baik aku masuk saja sekarang." May segera bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri daun pintu rumahnya.
Sesaat I'am sempat memperhatikan May dari balik pohon sedikit besar, berada di pinggir jalan depan rumah May. Memastikan apakah May benar-benar sudah tersadar.
Setelah itu I'am segera melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Ibu mudanya itu.
Sesaat May kaget melihat ada tulisan di permukaan daun pintunya.
"Siapa yang menulis ini?" ucapnya dan mencoba membacanya.
( Kamu itu suka sekali tidur sembarangan. Cepatlah masuk, di luar sangat dingin. Jagalah dirimu baik-baik. )
I'am, apa kamu yang menulisnya?" sejenak May melemparkan pandangannya pada setiap sisi depan rumahnya. Matanya liar berusaha mencari keberadaan I'am.
Tak puas hanya berdiam saja. May melangkahkan kakinya berjalan ke depan. Namun yang di lihat hanya jalanan kosong yang sedikit gelap dan sangat sunyi.
"Jika memang kamu yang mengantar aku pulang. Itu artinya, kamu masih ada di sekitar sini. Syukurlah kalau begitu, aku tidak perlu mencemaskan kamu lagi, I'am." ucap May lembut bibirnya tersenyum senang.
"Sekarang aku bisa istirahat dengan tenang." sambung May sambil berjalan memasuki rumahnya dan melanjutkan tidurnya dalam kamarnya.
***
__ADS_1
Fransiska, seorang wanita pengusaha muda yang biasa akrab di panggil Ika. Saat ini Ika sedang mengalami kecelakaan ringan di pinggir jalanan saat mengendarai mobilnya. Keadaannya mencoba mencuri pandangan I'am yang tengah berjalan sedang mencari tempat untuk sekedar istirahat malam ini.