Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Epson.18


__ADS_3

Selang beberapa menit May kembali datang menghampiri I'am.


"Ini, pakailah dulu." ucap May berdiri di hadapan I'am sambil memberikan masker dan sarung tangan.


pertunjukan Menggledah tempat sampahpun di mulai setelah mereka sudah mengenakan masker dan sarung tangan.


***


David, tak mampu menenangkan dirinya ketika berada dalam kelas saat belajar. Rasa gelisah terus menggelitik pikirannya. Karena yang biasanya dia melihat May duduk pada kursi di sebelahnya, namun kini kursi itu kosong tanpa penghuni.


'Kenapa May bolos lagi hari ini? sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Apa dia sedang punya masalah, Sehingga harus menyita waktu kuliahnya.' lirih David dalam hatinya.


"Hah ..." sesaat David menghela nafasnya. 'Aku sangat mencintaimu, May. Aku berharap, kamu bisa menerima cintaku. Karena aku sungguh-sungguh ingin memilikimu. Jujur, sebenarnya aku sudah tidak sabar menunggu jawaban dari kamu, may.' sambungnya dalam hati, terpaku dalam lamunan.


***


"Cepat bongkar." perintah May. berdiri di samping I'am, memperhatikan isi tempat samaph yang sedang di bongkar I'am.


"Iya Sabar. Ini kan, sedang aku bongkar." ucap I'am sambil meraih satu persatu sampah mengeluarkan dari tempatnya.


May merasa tak sabar saat melihat jemari I'am yang seperti geli menyentuh sampah itu.


"kenapa lama sekali membongkarnya. Kamu sudah memakai sarung tangan, tapi kenapa masih seperti itu menyentuhnya."


"Ini aku sedang berusaha, sabarlah."


"Jika kamu terus seperti itu melakukannya, sampai besok juga tidak akan selesai." ucap May ketus.


"Hah ..." Sesaat I'am membuang nafasnya panjang. tak tahan mendengar ucapan May sedari tadi hanya menyuruh dan menyalakannya saja.


"Apa kau tidak bisa diam! Dari tadi kau terus saja menyalahkan aku.! Jika kau ingin cepat, bantu aku membongkarnya! Jangan hanya berdiri dan menyuruh saja tahunya!" bentak I'am geram berdiri menatap May.


"Baiklah, kalau begitu minggir kau!" balas May bentak sedikit mendorong badan I'am, menghampiri tempat sampah yang setinggi pinggangnya. "Kau lihat ini ya, baik-baik." sambungnya geram sambil menggretakkan giginya.


"Brak ..." May menggulingkan tempat sampahnya.


"wah ..." mata I'am membulat sempurna melihat tempat sampahnya. "He-he-he. Kenapa tidak dari tadi kamu menyuruhku seperti itu." ucap I'am sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah tertawa. Cepat kau bantu aku menumpahkan sampahnya." ucap May ketus.


"Iya, baiklah." ucap I'am segera meraih bibir atom plastik yang di jadikan tempat sampah dan menumpahkan semua isinya.


Setelah menumpahkan sampanya, merekapun melanjutkan pencariannya.


"Yang besar, cepat kamu kembalikan di tempatnya, ya. Biar aku bisa mencarinya terus." ucap May sambil membongkar tumpukkan sampahnya dengan ranting kecil.


"Iya, baiklah." ucap I'am sambil mengambil satu persatu sampah yang kasar dan meletakkannya kembali pada tempatnya.


"Bagaimana, ketemu tidak." sambung I'am sedikit tak sabar.


"Aku sedang mencarinya. Sepertinya tidak ada juga disini."


"Coba kamu cari yang benar. Mungkin terselip di dalam plastik-plastik itu."


"Coba ya, aku lihat dulu. jika tidak ada juga. mungkin kartumu sudah di makan bakteri." ucap May berusaha membodohi I'am.


"Ha-ha-ha. Ucapanmu itu tidak lucu. sangat tidak masuk akal." ucap I'am tertawa geli.


"Iya, aku juga tahu. aku kan, Hanya asal bicara saja." ucap May datar, matanya terus fokus mencari kartu I'am.


"May, coba kamu cium ini, bau tidak?" ucap I'am sambil meraih bungkus bekas makanan dan mendekatinya pada hidung May.


"Hoho ... Apa-apaan kamu ini. Cepat jauhkan dariku." ucap May, sedikit menjauhkan kepalanya.


"Ha-ha-ha. Bagaimana? bau tidak?" tanya I'am Sambil tertawa."


"Mainan kamu itu tidak lucu. Ini, coba kamu cium sendiri, bau tidak?" tanya May, berusaha membalas mendekati bungkus bekas makanan pada hidung I'am.


"Hoho ... Kenapa kamu ikut-ikutan?" ucap I'am, cepat menangkap pergelangan tangan May. Berusaha menahannya.


"Ha-ha-ha. Kamu sendiri tidak mau menciumnya. Tapi kamu menyuruh orang menciumnya. Sudah, cepatlah cium ini." May memaksa I'am untuk mencium bungkus bekas makanan sambil tertawa riang.


Namun I'am tak mau hanya diam pasrah. Dia terus berusaha menghindar, sesekali berlari memutarkan tempat sampah.


"Sudah, hentikan May ..." ucap I'am, ikut tertawa riang

__ADS_1


Sementara May, Tidak mau berhenti mengganggu I'am. Sebelum ia merasa puas.


"Tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu, sampai aku berhasil menempelkan bungkusan ini di hidungmu. Ha-ha-ha."


"Kamu itu jorok sekali, ya. Coba saja kalau bisa. Aku tidak akan mengalah darimu."


"Hoho ... Jadi kamu menantang aku? baiklah, aku akan membuatmu tidak nafsu makan."


Hingga sampai beberapa menit, keduanya masih terus mempertahankan posisinya masing-masing, Sambil tertawa riang. Sesekali I'am berlari pelan menuju halaman depan rumah, sambil menahan May yang terus mengejar dan mendesaknya.


Gelak tawapun semakin ramai, terlontar dari mulut mereka di tengah candaan yang terus bergulir.


"Ayo cepat, I'am ... Cium bungkusan ini."


"Aku tidak mau. Kamu saja yang menciumnya." ucap I'am terus menghindar, sesekali menghempas lembut tangan May yang membawa bungkus bekas makanan.


"May." panggil seseorang, tiba-tiba berdiri di hadapan mereka, May sedikit kaget melihatnya.


Sejenak, pergelangan tangannya masih di cengkram oleh I'am. Langsung dia menghentakkan tangannya, melepaskan dari genggaman I'am sambil menyeringai, melemparkan pandangannya pada Pemuda itu.


"Kamu sedang apa, May?" tanya David sedikit heran.


Sesaat suasana menjadi tenang, candaan yang sedari tadi bergelut dalam tawa, sekejap langsung menghilang terhempas entah kemana.


"He-he-he. Aku sedang membersihkan halaman saja." ucap May sedikit malu, karena tingkahnya bersama I'am tadi, mungkin terlihat aneh di mata David.


"Kamu jangan berpikir yang macam-macam, ya. Aku dan dia, tidak ada hubungan apa-apa." ucap May menjelaskan pada David. Sebelum David bertanya terlebih dahulu.


"Hem!" I'am tak terima ucapan May, matanya membulat sempurna mendengar perkataannya.


"Iya, tapi siapa, dia?" tanya David. Sesaat menatap I'am, kedua alisnya saling bertautan sambil mengingat sesuatu.


"Siapa bilang tidak ada hubungan. Kamu jangan pura-pura lupa. Bukannya kita sudah menjadi Ibu dan anak." sambar I'am ikut bicara, sangat polos.


"Diam lah kau, jangan membuat posisiku tambah rumit." ucap May pada I'am berbisik. Hanya menggerakkan bibirnya pelan dan menatap I'am sengit.


Saat May berusaha memaksa I'am untuk mencium bungkus bekas makanan. May sempat membuka masker yang menutupi setengah wajah I'am. Kini wajah I'am terlihat seutuhnya di depan David.

__ADS_1


Sesekali David memperhatikan wajah I'am, dan mulai curiga.


"Sepertinya aku pernah melihatmu?"ucap David pada I'am, menatap sedikit tajam. sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


__ADS_2