
Ketika I'am sedang berjalan Sekedar mencari tempat istirahat. Tak sengaja dia melihat ada sebuah mobil yang menepi di pinggir jalan menabrak pohon. Tak ingin penasaran, cepat dia menghampiri mobil itu.
Lalu I'am melihat ke dalam mobil dari luar kaca pintunya. Dia langsung kaget ketika seorang gadis yang mengendari mobil itu sedang tak sadarkan diri. Cepat dia membuka pintu mobilnya, dan ingin menolongnya.
"Hey, sadarlah." ucap I'am sambil menggoyangkan lembut bahu gadis itu.
Karena malam sudah sangat larut, dan jalanan pun sangat sunyi. Jadi I'am merasa sangat panik.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? hah, ada-ada saja. Sudah malam begini ada saja yang terjadi."
"Hey, cepatlah sadar." sambung I'am kembali menggoyangkan bahu gadis itu."
I'am terus berusaha menyadarkannya, sesekali ia menepuk lembut pipi gadis itu. Karena hanya kecelakaan ringan, cuma membuat kepala gadis itu sedikit terbentur setir. Gadis itu hanya terpingsan sesaat. Tak lama usaha I'am berhasil, gadis itu tersadar dari pingsannya.
"Hey, kamu sudah sadar? Lain kali hati-hatilah jika mengendarai mobil. Sudah malam begini, merepotkan aku saja." ucap I'am ketus, segera melangkahkan kakinya kembali berjalan.
Sesaat gadis itu menangis. I'am langsung kaget matanya membulat sempurna. Cepat dia melemparkan pandangannya ke arah gadis itu.
"Hey, kenapa kamu menangis?" ucap I'am heran sedikit takut.
Gadis itu semakin menguatkan tangisannya. I'am menjadi sangat panik. Cepat dia menangkupkan telapak tangannya menutupi mulut gadis itu berusaha meredam suara tangisannya.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu malah semakin menangis?" ucap I'am ketus, sudah mulai kesal.
"Aku akan membuka mulutmu, dan berhentilah menangis. Aku tidak mau ada orang yang melihat kita, dan mereka menyangka aku berusaha macam-macam denganmu. Apa kamu mengerti?" ucap I'am berusaha menenangkannya.
Perlahan I'am meleraikan telapak tangannya dari mulut gadis itu. Sesaat gadis itu diam saat I'am melepaskan tangannya dari mulutnya.
"Baiklah, sekarang cepatlah pulang. Malam sudah sangat larut." ucap I'am segera kembali melangkahkan kakinya berjalan.
Baru beberapa langkah I'am berjalan, gadis itu memecahkan tangisannya kembali. Lagi-lagi I'am terkejut karena ulah gadis itu. Cepat dia menghampirinya.
"Kenapa kau menangis lagi! Aku sudah menolongmu, kenapa kau malah menyusahkan aku! Saat ini aku sudah sangat lelah, jika kau punya masalah, cepat katakan! bentak I'am sangat kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu menolongku. Kenapa kamu menolong aku! aku berusaha ingin mati. Tapi kenapa kamu menolongku.!
"Hah ..." sesaat mata I'am membulat sempurna, merasa heran mendengar ucapan gadis itu. "Ada-ada saja. Kenapa wanita di kota ini semuanya aneh." ucap I'am menggrutu sambil menundukkan pandangannya. Seakan tidak sanggup lagi berpikir.
"kamu sudah tidak waras. Sudahlah, terserah denganmu saja. Aku tidak perduli. Matilah, jika kamu sudah bosan hidup." ucap I'am malas, berlalu berjalan meninggalkan gadis itu.
"Hey, kamu mau kemana? aku akan menangis lagi." teriak gadis itu.
"Terserah ...! Aku sudah pusing dengan hidupku. Aku tidak mau tambah pusing hanya karena memikirkanmu." balas I'am terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
Tahu sendirilah. seperti apa gaya I'am. Tidak mau susah dengan hidupnya, apa lagi dengan hidup orang lain. Di tambah lagi dengan gayanya yang selalu bertingkah sesuka hati, begitu juga dengan ucapannya yang suka bicara sembarang meskipun bicara dengan seorang wanita. I'am sama sekali tidak perduli.
"Hey, tunggu." Gadis itu berusaha mengejar I'am.
"Ada apa lagi. Kenapa mengikutiku. Aku mau istirahat, jangan mengganggu aku. Cepat pergi dan matilah sana. nyalakan mobilmu, dan tabrakan pada pohon yang besar itu." ucap I'am ketus sambil menunjukkan Pohan besar yang ada di seberang jalan.
ucapan I'am bukannya membuat gadis itu sakit hati mendengarnya. Tapi malah membuatnya tersenyum. Meskipun ucapan I'am terdengar kasar, namun karena terlontar apa adanya, ucapannya itu menyiratkan keluguan pada wajahnya.
"Kenapa sekarang, kamu malah tersenyum. Kamu benar-benar sudah tidak waras, ya?" ucap I'am semakin heran.
Sesaat I'am memutarkan bola matanya, teringat pada ucapan yang pernah mengatakan kalau wajahnya sangat lugu dan terlihat lucu.
'Ucapannya barusan kenapa bisa sama dengan May. Apa iya, wajahku ini lugu?' gumam I'am sesaat dalam hatinya.
"Hey, kenapa kamu diam, aku sedang bicara denganmu." sambung gadis itu.
"Iya, aku mendengarnya. Memangnya, apa yang sudah membuat kamu sedih?"
"Kamu ingin mendengarnya? kebetulan, karena saat ini aku sedang butuh seseorang untuk mendengarkan kesedihanku. Agar bebanku bisa sedikit berkurang. Ayo, ikut aku sekarang." ucap gadis itu sambil meraih tangan I'am dan menariknya berjalan menuju mobilnya.
"Hey, kamu mau membawa aku kemana?" tanya I'am sambil berjalan seiring dengan langkah kaki gadis itu yang berjalan menariknya.
"Kita akan mengobrol di mobil."
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin mengobrol, aku mau istirahat sekarang."
"Kita akan istirahat sambil mengobrol di mobil. Tunggu sebentar di sini, ya. Aku mau membenarkan posisi mobilku dulu."
Gadis itu memarkirkan mobilnya di hadapan I'am.
"Naiklah." ucap gadis itu sambil membukakan pintu mobilnya.
Meskipun I'am malas meladeninya, namun karena tidak enak hati mau tidak mau I'am pasrah melakukannya juga.
"kamu tahu, selama ini aku tidak tahu harus cerita pada siapa, setiap aku punya masalah dengan pacarku. Karena aku tinggal sendiri di sini mengembangkan usahaku. Karena terlalu sibuk sampai aku tidak sempat mencari teman. Malam ini aku sangat sedih. Aku sudah tidak sanggup menahannya. Pikiranku sangat kacau, hatiku benar-benar sangat hancur. Ketika tadi, aku menangkap basah pacarku sedang bermesraan dengan wanita lain. Aku pikir dia sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi ternyata, dia sudah menghianatiku." ucap gadis itu sendu sambil menangis.
"Jadi karena masalah itu, kamu ingin mati? Kamu itu benar-benar sangat bodoh. Sudah, lupakan saja. Jika dia bisa bahagia dengan wanita lain, kenapa kamu tidak bisa bahagia dengan pria lain. Kenapa kamu malah memilih untuk mati. Balaslah dia sesuai dengan apa yang sudah dia lakukan padamu." ucap I'am terlalu polos.
"Begitu ya, jadi aku harus membalasnya."
"Tentu saja. Tapi kalau kamu tidak mau membalasnya, Tinggalkan saja dia. Buat apa kamu menangisinya, dan sampai ingin mati. Dasar bodoh."
Sesaat gadis itu tersenyum lucu mendengar ucapan I'am yang lepas begitu saja tanpa di pertimbangkan dulu
"Kenapa kamu malah tersenyum? bukannya kamu sedang sedih?" tanya I'am.
"Bagaimana aku bisa sedih, kamu sendiri sama sekali tidak terharu dengan cerita ku. Masalah aku sangat berat, tapi kamu mendengarnya begitu sepeleh. Tingkah Kamu terlihat lucu di mata aku. Perkataan kamu itu terdengar sangat ringan. Sepertinya hidupmu tidak pernah ada beban, ya?"
"Siapa bilang hidupku tidak punya beban. Kamu tidak tahu keadaanku saat ini. Mungkin jika Ibuku melihat keadaanku sekarang, dia pasti akan menangis. Hanya saja aku tidak mau memikirkan beban hidupku. Jika masih bisa hidup bebas, kenapa harus di Bebani. Lupakan saja masalahmu." ucap I'am sangat ringan.
"Kamu ini sangat aneh. Andai saja aku bisa hidup seperti kamu, mungkin hidup aku akan selalu senang."
"Mudah saja jika kamu ingin hidup sepertiku. Jika ada masalah yang membuatmu sedih, buang saja masalah itu dari pikiranmu. Lakukan sesuatu yang menurut hatimu menyenangkan. Kesenangan yang kamu dapatkan pasti akan membebaskan hidupmu dari masalahmu." ucap I'am begitu ringan.
"Terimakasih, ya. Aku merasa bebanku sudah berkurang sekarang. Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu malam ini. Kamu seperti memberikan semangat baru dalam diriku." ucap gadis itu sembari melemparkan senyuman, merasa senang.
"Baguslah. jika kamu sudah merasa senang sekarang. Aku pergi dulu, ya."
__ADS_1
"Kamu mau pergi kemana? biar aku antar, ya?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin mencari tempat istirahat saja. Sebaiknya kamu pulanglah sekarang. Ini sudah sangat malam." ucap I'am berlalu turun dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya pergi.