Kupeluk kau dalam doaku

Kupeluk kau dalam doaku
Eps.8


__ADS_3

'Bagaimana ini? apa yang harus aku jawab. Aku sudah menganggap kamu seperti kakakku sendiri Dav.' lirih May dalam hatinya.


"Kenapa Kamu diam May. Apa kamu sama sekali tidak menyukaiku. Apa aku sangat tidak pantas untuk menjadi pendampingmu."


"Bukan begitu Dav." ucap May merasa tidak enak.


"Lalu kenapa kamu tidak menjawab. Aku ingin menjadi sahabat sekaligus pacarmu, May. Aku pasti akan membuatmu bahagia. Tolong beri aku kesempatan." ucap David terus mendesak, raut wajahnya terlihat melas.


"Sepertinya aku butuh waktu untuk menjawabnya, Dav."


'Kamu itu sahabatku, Dav. Aku tidak pernah menyukaimu. Bagaimana cara menolak cintanya. Di satu sisi aku tidak ingin melukainya.' lirih May dalam hati sambil memegang sudut dahinya. Seakan pikiranya tak mampu lagi mencerna perkataan yang di lontarkan oleh David.


"Baiklah, aku mengerti, kalau kamu tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku akan memberi waktu sampai kamu benar-benar siap. Aku tidak akan pernah lelah untuk menunggu jawaban dari kamu, May."


May bingung tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya menjawab perkataan David dengan senyuman tipis.


Seketika suasana menjadi Hening. Sesekali David menatap May, sejak tadi hanya diam duduk di sampingnya. Karena merasa tidak ada kenyamanan lagi dalam toko karena perkataannya, akhirnya David memutuskan untuk pergi.


"Sudah menjelang sore, kalau begitu aku pulang dulu ya, May. Jangan lupa kabari aku jika kamu sudah punya jawabannya."


"Baiklah, hati-hati, ya." sahut May datar.


David bangkit dari duduknya melangkahkan kakinya keluar toko dan menunggangi motornya yang parkir di depan toko.


Setelah memperhatikan setiap langkah David pergi meninggalkan tokonya. May merebahkan punggungnya pada sandaran kursi pasrah dengan pandangannya yang kosong.


"kenapa hubungan kita menjadi rumit seperti ini Dav. Seharusnya kamu tidak boleh jatuh cinta padaku." lirih May sendu.


Sepanjang waktu kepergian David, May hanya duduk melamun. Memikirkan perkataan David yang membuat dia dilema.


Hingga sore menjelang, Dania datang kembali ke toko setelah pulang dari kampus.


"Hay May. Kamu kenapa? apa si tampan itu buat masalah lagi? tanya Dania, sambil membuang bokongnya di kursi samping May.


"Tidak." ucap May sendu.


"Lalu kenapa kamu tidak bersemangat seperti ini?"


"Pikiranku sangat lelah Dan. Aku bingung." ucap May masih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi pasrah.


"Bingung kenapa? kalau kamu punya masalah, ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu."


"May menarik pandangannya ke arah Dania.


"Tadi David mengungkapkan perasaannya padaku. Dia bilang, dia menyukaiku."


"Hah ...! Dania kaget. "yang benar kamu. Lalu masalahnya apa?" sambungnya.

__ADS_1


"Aku sudah lama berteman dengan David. Aku menyayanginya hanya sebatas sahabat. Tapi aku juga tidak tega, jika harus menolak cintanya. dia pasti akan terluka."


"Tapi kamu harus bisa mengambil keputusannya, May. Jika kamu terus ganyungkannya, bukan hanya kamu saja yang akan tersiksa. David juga pasti akan tersiksa karena menunggu harapan dari jawaban Kamu."


"Iya, aku tahu itu. Tapi aku belum siap jika harus menolaknya sekarang. Takutnya dia akan malu bertemu denganku dan berusaha menjauh."


"Aku mengerti posisi kamu saat ini memang sangat rumit, May. Tapi kamu harus terus semangat. Agar kamu tetap kuat untuk melewati semua ini. Ayo semangat May! semangat ...! teriak Dania riang.


"Ayo May, katakan semangat." ucap Dania meraih pergelangan tangan May mengangkatnya sedikit ke atas, berusaha menghibur May.


"Semangat ...!". ucap May sambil melemparkan senyuman lebar seakan terpaksa.


"Ayo kita katakan bersama-sama." ucap Dania.


"Semangat ...! ucap May dan Dania serentak. sambil tertawa lepas. Terus dan terus mereka melakukanya.


Sehingga tawa canda Dania dan May meramaikan suasana dalam toko. Semua Bunga-bunga yang ada dalam toko pun seakan ikut tersenyum menyaksikan tawa mereka, dan masalah May pun sesaat terlupa dari pikirannya.


Langit yang tadinya cerah, kini perlahan mulai menggelap. May mengunci pintu tokonya, bergegas untuk pulang.


"Aku duluan ya, May." Pamit Dania berlalu melangkah berjalan.


"Iya, hati-hati ya, Dan." ucap May, sejenak melemparkan pandangannya pada Dania.


Setelah Dania perlahan menjauh dari pandangannya. dia pun juga melangkahkan kakinya menuju pulang dengan arah yang berbeda.


"Aku pikir sudah benar-benar pergi orang ini. Ternyata masih di sini juga. Sangat merepotkan sekali. ucap May menggrutu.


May melanjutkan langkahnya menghampiri daun pintu rumahnya, tanpa menghiraukan I'am yang sedang terbaring di lantai teras.


suara kunci saat May membuka pintu membangunkan I'am dari tidurnya.


"Kamu sudah pulang. Tadi aku melihatmu pergi dengan seorang pria. Apa dia pacarmu?"


"Diam lah, pikiranku saat ini sangat kacau. Aku lagi tidak ingin bicara." ucap May segera masuk kedalam rumah.


"Apa yang terjadi dengannya. Aneh sekali tingkahnya. sebentar jadi galak, sebentar jadi pendiam." ucap I'am heran.


Malam.


May berbaring lemas di atas ranjang setelah membasuh tubuhnya dengan air, sekedar menghapus penatnya hari ini, seharian berjualan.


Ia masih memikirkan perasaan David padanya.


"Apa aku harus menerima cintanya saja. Tapi sepertinya percuma, jika aku menjalaninya karena kasihan. Pada akhirnya, dia pasti akan tetap terluka juga. Hah ... Rasanya kepalaku benar-benar ingin mau pecah." lirih May sendu.


"Aku tidak bisa tenang di sini. Aku tidak bisa berpikir lebih luas. Lebih baik aku jalan-jalan sebentar di luar." sambungnya bergegas bangkit dari atas ranjang.

__ADS_1


May meraih tasnya yang terletak di atas ranjang dan segera melangkah keluar kamar menuju pintu depan rumah, dan berjalan keluar.


"Kamu mau Kemana?" tanya I'am yang masih duduk di teras rumah May.


"Bukan urusanmu." ucap May terus melangkahkan kakinya.


Baru beberapa langkah, May berhenti dan melemparkan pandangannya pada I'am. "Pergilah dari sini. Jika ada orang yang melihatmu di sini. Aku bisa di usir dari tempat ini."


I'am bangkit dari duduknya, berjalan mendekati May.


"Kamu benar-benar tidak mengerti posisi ku, ya. Aku masih bingung dengan tempat ini. Aku harus pergi kemana?"


"Terserah kamu mau pergi kemana. yang penting jangan di rumahku."


I'am menundukkan pandangannya. "Baiklah, aku akan pergi. Maaf, jika aku sudah merepotkanmu." ucap I'am sendu perlahan melangkahkan kakinya melintasi May yang berdiri di hadapannya.


Meskipun May wanita yang keras. Namun ia masih memiliki hati yang lembut. Tak tega dia melihat posisi I'am saat ini yang tersesat di kotanya.


"Tunggu." ucap May menghentikan langkah I'am.


Sesaat I'am tersenyum lebar, matanya membulat sempurna merasa senang, mendengar suara May berusaha menghentikan langkahnya. Lalu dia merubah raut wajahnya kembali sedih saat membalikan badannya menatap kearah May.


"Ada apa." ucap I'am sendu, pura-pura sedih.


May berjalan menghampiri I'am. "Jika kamu mau, Sementara kamu bisa tinggal di tokoku. Bagaimana?"


"wah ... Tentu saja aku mau. Kenapa sebelumnya aku tidak berpikir seperti itu, ya." ucap I'am riang sambil tertawa kecil.


"Karena kamu itu bodoh." ucap May ketus.


"Sama saja denganmu. Kamu itu kadang-kadang saja pintarnya."


"Hem!" ucap May melirikkan bola matanya sengit pada I'am.


"He-he-he. Jangan marah. aku hanya bercanda. Sudahlah, jangan melihatku seperti itu. Mana kuncinya."


May meraih kunci dalam tasnya. "Ini, simpan baik-baik. jangan sampai hilang. aku tidak punya duplikatnya."


"Tenang saja. Aku tidak akan menghilangkannya. Oya, kamu mau kemana? apa kamu ingin membeli makanan, aku ikutnya?"


May mengernyitkan dahinya sesaat sambil melirikkan bola matanya ke atas menatap wajah I'am yang ada di depannya.


'Aku keluar ingin mencari ketenangan. Jika dia mengikutiku, bagaimana aku bisa tenang.'' lirih May dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam. Apa yang kamu pikirkan. Ah ... sudahlah, ayo kita pergi." ucap I'am sambil menarik pergelangan tangan May.


"Hei ... Kamu ini, ya. Selalu saja bertingkah sesuka hati." ucap May kaget sambil berjalan seiring langkahan kaki I'am yang berjalan menarik tangannya.

__ADS_1


__ADS_2