
"Kamu ingin kemana?" ucap I'am bertanya pada May.
"Aku sangat suka pergi ke wahana. Aku sering kesana kalau ingin berlibur."
"Baiklah, aku akan membawamu kesana sekarang. Apa tempatnya jauh?"
"Tidak terlalu jauh, tapi sebaiknya kita pergi naik taksi saja. Agar cepat sampai."
"Yasudah, kalau begitu kita cari taksi dulu." ucap I'am berjalan sambil menggendong ibu mudanya menuju area pinggir jalan tempat biasa menunggu taksi.
Baru beberapa langkah berjalan ada yang memanggil I'am dari dalam mobil. I'am menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Hey, kamu mau kemana." ucap Ika setelah keluar dari dalam mobilnya dan berdiri di hadapan I'am.
"Tadi aku sudah mencarimu di toko. Tapi kamu tidak ada. Ternyata kamu ada Disni." sambung ika., sekilas melemparkan pandangannya pada wajah may yang masih berada di atas punggung I'am.
"Hey, cepat turunkan aku" ucapnya May pelan merasa canggung pada kehadiran Ika.
Perlahan I'am meleraikan ibu mudanya itu dari punggungnya.
"Siapa dia?" tanya Ika, raut wajahnya terlihat sedikit tidak suka melihat May.
Sesaat I'am merangkul bahu May dengan satu tangannya sambil tersenyum tipis.
"Dia yang pernah aku ceritakan padamu. Namanya May. Dia lah wanita yang aku sukai." sejenak I'am melemparkan pandangannya ke arah May, sambil tersenyum manis.
May langsung memalingkan wajahnya melihat ke arah I'am, saat mendengar pernyataan yang keluar dari bibir tipis I'am.
Tak sengaja tatapan pandangan mata I'am dan May saling bertautan. May melepaskan senyuman manis dari bibirnya. Perkataan I'am membuat hati May merasakan cinta yang luar biasa dengan penuh kehangatan.
Sesaat suasana menjadi hening. hati Ika seperti sangat terpukul melihat sebuah kemesraan yang ada tepat di depannya.
"Hah." Ika menghela nafasnya berat sambil membuang pandangannya pada sisi kosong, melepaskan rasa kecewanya.
"Untuk apa kamu mencari aku?" tanya I'am. pada Ika.
"Tadinya aku ingin mengajakmu mengobrol santai sambil meminum secangkir teh. Tapi sepertinya, kamu sedang tidak ada waktu. Mungkin lain kali saja kita pergi." ucap Ika sambil tersenyum sendu berusaha menutupi rasa kecewanya, dan berlalu melangkah menuju mobilnya.
Sesama wanita, May bisa merasakan ada sedikit rasa kecewanya karena cemburu dalam hati Ika. May merasa tidak enak dengan Ika.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." ucap May menghentikan langkah Ika. "Jika ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan I'am, pergilah." ucap May berusaha mengalah dengan Ika.
"Hey, kamu bicara apa." ucap I'am tidak terima dengan ucapan May.
"Sudahlah, tidak apa. Kamu pergi saja dengannya. Kita kan bisa pergi lain waktu."
"Enak saja kamu bicara, aku tidak mau." ucap I'am sedikit kesal dengan May.
"Sudah, tidak apa-apa. Kalian pergi saja. Aku tidak mau menggangu hari kalian." ucap Ika mengalah.
"Yasudah, kalau begitu kami pergi dulu, ya." ucap I'am pada Ika sambil menarik pergelangan tangan May.
"Tunggu dulu." ucap May menahan tarikan I'am.
"Ada apa lagi?" tanya I'am.
"Aku tidak enak saja dengannya."
"Ah, sudah biarkan saja dia." ucap I'am sambil berusaha menggendong May kembali di punggungnya.
May sedikit kaget, tiba-tiba I'am memaksa untuk menggendongnya kembali.
"Hey, apa yang kamu lakukan. Cepat turunkan aku." ucap may merasa canggung di gendong depan Ika.
Sesaat May menolehkan pandangannya kebelakang ke arah Ika.
"Maaf kan aku ya!" ucap May merasa tidak enak dengan Ika.
Ika hanya bisa tersenyum sendu membalas perkataan May. Tak sadar cairan bening menghiasi bola matanya ketika Ika melihat kemesraan sederhana yang di lakukan I'am pada May tepat di hadapannya perlahan semakin jauh dari pandangannya. Sejenak Ika tersenyum tertawa getir.
"Jika saja aku yang terlebih dahulu mengenalmu. Mungkin saat ini aku yang sedang berada di atas punggung kamu I'am." ucap Ika merasa iri dengan May.
Setelah beberapa meter berjalan I'am menurunkan May dari punggungnya untuk menunggu taksi.
tak lama berdiri ada taksi yang ingin melintas di hadapan mereka. Cepat May melambaikan tangannya menghentikan taksinya.
taksi pun kembali melaju mengantarkan I'am dan May ke wahana yang ingin mereka kunjungi.
Menit demi menit berlalu. Gerbang wahana pun sudah terbuka lebar menyambut kedatangan mereka. Taksi berhenti tepat di depan gerbang wahana. Sesaat wajah I'am dan May terlihat sangat senang saat sudah turun dari taksi.
__ADS_1
"Wah ..." ucap May dan I'am serentak ketika melihat wahana yang ada di hadapan mereka.
"Kamu lihat itu, banyak sekali kan permainannya. Aku ingin mencoba semuanya." ucap May sangat senang.
"Kalau begitu ayo cepat kita masuk." ucap I'am segera berjalan sambil menarik tangan May.
"Kamu ingin mencoba yang mana dulu?" tanya I'am setelah berada di dalam wahana."
"Yang mana dulu, ya. Hem ..." ucap May sejenak berpikir sambil mengetuk dagunya dengan jemarinya. "Aku bingung. Aku mau naik semuanya." sambung May.
"Hah ... Kamu itu terlalu banyak berpikir, makanya bingung. Ayolah, aku akan mengajakmu naik tornado dulu." ucap I'am berlalu berjalan sambil menarik May.
I'am dan May berdiri tepat di depan permainan tornado setelah membeli tiketnya.
"Ayo kita naik" ucap I'am mengajak May.
"Tunggu sebentar." ucap May datar
"Apa yang kamu tunggu?"
"Aku takut. Nanti kalau terjatuh bagaimana? aku belum mau mati." ucap May melas.
"He-he-he." Sesaat I'am tertawa kecil. Lalu I'am menyeletik lembut dahi May.
"Dasar payah. Kamu ini bagaimana, bukannya kamu ingin mencoba semuanya tadi. Kenapa sekarang kamu takut. Lagi pula, permainan itu ada sabuk pengamannya. Kamu tidak akan terjatuh."
"Tetap saja aku takut, aku tidak mau. Kita main yang lain saja." ucap May segera ingin pergi.
"Hey, kamu mau kemana. Kamu tidak bisa pergi begitu saja. aku sudah membeli tiketnya." ucap I'am sambil menarik tangan May, dan memaksakan May membuang bokongnya di salah satu kursi tornado.
"Sabuk pengamannya sudah terpasang kuat. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Kamu duduk diam saja." ucap I'am berlalu berjalan dan berdiri di pinggir area tornado.
"Hey, kenapa kau tidak ikut." ucap May sangat panik.
"Aku temani kamu dari sini. selamat bersenang-senang ya, May." ucap I'am sambil tertawa lebar.
"Hey, kau mengerjai aku, ya! Awas kau ya! Akan aku hajar kau!" bentak May kesal.
I'am tak berhenti ketawa merasa puas karena berhasil mengerjai May untuk bermain tornado. Sesaat I'am melambaikan tangannya pada May, dan tornado pun di mulai.
__ADS_1
"Ahhhhhhhh ..." May menjerit sekuat tenaganya saat tornado mulai bergerak.
"Dasar I'ammmm ... Sialan kau ...!" teriak May memecahkan jeritannya melampiaskan rasa takutnya.